
***
Jenna menatap datar pada wanita yang beberapa hari lalu menemuinya bahkan mengancamnya. Wanita itu lagi. Tolonglah, kehadiran Yura saja sudah membuatnya jengah sekarang ditambah lagi satu orang. Kenapa dunia sangat sempit seperti ini. Jenna tidak habis pikir.
Namun melihat raut wajah Lita yang seperti khawatir membuat Jenna bertanya tanya. Kenapa tante Lita menampilkan raut seperti itu? Apa ada yang di tutupi olehnya dan takut ketahuan oleh Jenna?
"Eliza, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Lita.
"Tentu saja mama," ucap Eliza tersenyum.
"Tante tinggal sebentar ya? Jenna ke kamar Zayn aja, panggil dia buat makan malam," ucap Lita. Jenna hanya mengangguk sekilas dan pergi dari sana. Sebelum Eliza menahan Jenna pergi, Lita lebih dulu menariknya keluar rumah diikuti oleh Rendra, suaminya.
Sedangkan Jenna berjalan santai naik ke lantai dua. Ia tidak tahu sebenarnya dimana kamar Zayn, namun Jenna terus berjalan mengikuti fellingnya. Sebenarnya ia kepo kenapa tante Lita seperti itu dan malah mengajak Eliza berbicara di ruangan lain. Sementara Jenna ia minta memanggil Zayn, ini bukan kebetulan saja kan?
"Sayang," panggil Zayn, pria itu baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Maaf lama ya? Biasa lah," ucap Zayn cengengesan.
"Ada seorang wanita kesini, namanya Eliza. Kamu kenal?" Tanya Jenna.
Terlihat kedua alis Zayn yang terangkat seperti terkejut. Namun wajahnya tidak berekspresi apa apa. Meskipun begitu, Jenna mengetahuinya jika Zayn juga terkejut sama seperti tante Lita tadi.
"E-eng-gak sayang. Aku gak kenal dia, emang dia siapa?" Tanya Zayn balik.
Jenna memutar bola matanya malas, Jenna sudah mengetahui semuanya dan pria ini juga kedua orang tuanya masih berkelit?
"Ya, terserah. Tante menunggu kita di bawah," ucap Jenna. Ia pun berjalan lebih dulu. Biasanya ia akan menunggu Zayn untuk merangkul pinggangnya baru mereka pergi, namun berbeda dengan saat ini. Jenna berjalan lebih dulu. Sedangkan Zayn, tentu saja pria itu tidak membiarkan Jenna turun begitu saja. Zayn mengejarnya dan meraih pinggang Jenna. Mereka berjalan menuju ke meja makan.
Jenna kira wanita bernama Eliza itu sudah pergi, tahunya dia masih ada disana dan ikut makan malam bersama. Bahkan wanita itu duduk di selah kursi kosong yang pastinya disediakan untuk Zayn. Jenna sebenarnya bosan, tapi ia harus menghargai tante Lita dan om Rendra. Mereka berdua adalah teman baik mami dan papinya.
__ADS_1
Zayn menarik kursi untuk Jenna duduk, namun saat ia akan duduk, Eliza menariknya lebih dulu agar Zayn duduk disamping wanita itu. Anehnya Zayn tidak menolak atau pun melawan.
"Jenna, mau tante ambilin apa?" Tanya Lita.
"Gak perlu tante, biar Jenna aja yang ambil sendiri," ucap Jenna tersenyum.
"Loh, kamu kan tamu utamanya disini. Biarin tante yang ambilin ya," ucap Lita memaksa. Ia mengambilkan daging udang dan ia masukan ke dalam piring Jenna beserta nasi juga.
"Iya bener, tamu harus dilayani bukan? Tamu kan orang lain yang datang ke rumah, sudah seharusnya kita melayaninya," ucap Eliza.
Jenna tidak berbicara dan memotong motong udang itu menjadi beberapa bagian. Tidak ada yang di makan, ia hanya menghancurkannya saja.
"Bagaimana pekerjaan kamu nak?" Tanya Rendra pada Jenna, namun Jenna hanya diam saja.
"Jenna?" Panggil Rendra.
"Becanda om, biasa saja. Tidak ada yang bisa Jenna lakukan selain menuruti kemauan papi, Jenna sadar diri, cuma anak satu satunya. Kalo enggak Jenna yang ambil alih, siapa lagi," ucap Jenna.
"Kamu benar. Tapi wanita itu kodratnya menurut pada suami sayang, suatu saat nanti setelah kamu menikah, Adam harus mencari pengganti kamu untuk menjadi direktur di perusahaan kalian," ucap Lita.
Jenna terkekeh, "Memangnya siapa yang mau menikah tante? Jenna? Bahkan Jenna tidak pernah berpikir sejauh itu."
"Lalu bagaimana kamu mendapatkan keturunan jika kamu tidak menikah?" Tanya Eliza.
"Apa penerus perusahaan harus dari keturunan sendiri? Tidak kan," ucap Jenna santai.
Lita yang sudah menyadari keadaannya pun berpikir keras bagaimana membuat Jenna tidak seperti ini. Niatnya ingin mengajak Jenna makan malam untuk membahas pernikahan wanita itu dengan Zayn. Tapi tamu tak diundang malah datang.
"Sayang, tante tahu kamu sudah dikecewakan oleh pria. Tapi tidak semua pria seperti itu, kamu harus tahu itu," ucap Lita. Ia mengelus pelan punggung Jenna.
__ADS_1
"Tidak semua pria seperti itu, tapi yang seperti itu sudah pasti pria kan tante? Kepercayaan Jenna memang sudah hancur dan mungkin sekarang kembali hancur," ucap Jenna. Netranya menatap datar ke arah Zayn.
Zayn yang di tatap seperti itu pun langsung berdiri dan menarik Jenna pergi dari sana. Namun Jenna menahannya dulu.
"Makan malam yang cukup berkesan. Maafkan sikap Jenna jika menyinggung om dan tante. Jenna pamit, sudah malam juga," ucap Jenna tersenyum.
Ia pun pergi dari sana setelah melepaskan cekalan tangan Zayn. Zayn tentu saja mengejarnya. Sedangkan Lita menggebrak meja dan menatap tajam ke arah Eliza.
"Jangan pernah mendekati calon menantu ku apalagi mendekati anak ku lagi. Aku tidak akan sudi menerima mu di keluarga ku, Eliza," ucap Lita. Ia pun pergi dari sana.
"Apa yang diucapkan oleh istri saya benar. Ini bukan hanya ancaman namun juga peringatan, jika anda berani melangkah lebih jauh, anda tahu akibatnya akan seperti apa," ucap Rendra. Ia pun pergi dari sana menyusul Lita, istrinya.
Sedangkan Eliza tertawa. Tidak salah ternyata niatnya datang kesini malam ini. Awalnya ia hanya berniat untuk menemui Zayn, tapi tidak disangka jika disana juga ada wanita itu. Ia pun pergi dari sana.
Sedangkan di luar, Zayn sudah memeluk Jenna. Terlihat raut wajah wanita itu yang berbeda dari biasanya. Ini salahnya, seharusnya ia menolak untuk duduk di sebelah Eliza tadi.
"Jangan marah, aku tahu aku salah. Maafin aku," ucap Zayn.
"Kalo udah tahu salah kenapa gak jujur dari awal?" Tanya Jenna.
"Aku udah jujur sayang, dia bukan siapa siapa aku," ucap Zayn.
"Oke kalo kejujuran kamu kayak gitu. Jangan salahin siapa pun nanti kalo kebenaran udah sampe di tangan aku. Yang harus kamu tahu, buat percaya sama orang lain lagi setelah dipatahkan itu sulit. Jadi aku harap kamu gunakan sebaik mungkin selagi kepercayaan aku masih ada," ucap Jenna.
"Sayang," ucap Zayn. Terlihat raut wajah sedih dan ketakuran bercampur di wajah Zayn. Jenna berjinjit dan mengecup pelan bibir Zayn. Hanya mengecup, tidak lebih.
"Aku pulang sama Anya. Dia udah nunggu di depan. Aku butuh waktu, jangan temuin aku dulu buat beberapa waktu. Aku sayang sama kamu."
Tbc.
__ADS_1