
"Siapa itu?" gumam Raju.
Raju pun melangkah menuju kamar saudara kembarnya, tadi sebelum dia tidur pura-pura tidur dia sudah menanyakan Raja letak kamarnya.
Raju mengendap-endap melangkah menaiki anak tangga, dia hendak menuju kamar Raja yang ada di lantai 2.
Tok tok tok.
Raju mengetuk pintu kamar yang dia yakin di dalam kamar itu adalah saudara kembarnya.
Tak berapa lama seseorang membuka pintu kamar.
Wanita itu sedang menggunakan masker wajah.
"Aaaaaaaa," pekik Raju kaget.
"Ssst." Wanita itu meletakkan telunjuknya di bibirnya sebagai petunjuk pada Raju untuk jangan ribut.
Di cahaya yang redup, si wanita melihat samar-samar wajah Raju, si wanita merasa kenal dengan wajah itu tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas karena pencahayaan yang redup di tempat itu.
Seketika jantungnya berdetak dengan kencang, dia merasakan sesuatu yang dulu pernah dirasakannya saat berdekatan dengan seorang pria yang dikaguminya.
"Ma-maaf, a-aku sedang mencari kamar adikku," ujar Raju mencari alasan.
"Oh," lirih si wanita lalu dia pun menutup pintu kamarnya.
Dia pun memegangi dadanya berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak tak keruan.
"Ah, itu pasti tamunya Ibuk dan Bapak," lirih Si wanita lalu dia melangkah menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dia tahu saat ini villa milik kedua orang tuanya sedang kedatangan tamu teman-teman dari kedua orang tuanya karena besok merupakan hari pernikahannya dengan pria yang sudah dipilihkan oleh kedua orang tuanya untuknya.
Saat ini dia tidak berminat untuk berkenalan dengan siapapun karena hatinya tengah risau.
Dia terpaksa menerima perjodohan yang telah ditetapkan oleh kedua orang tuanya karena dia sendiri tidak bisa memberitahukan pria yang dicintainya kepada kedua orang tuanya.
Saat ini dia tidak tahu di mana keberadaan pria yang dicintainya itu.
"Mungkin saat ini aku harus pasrah menerima keputusan dari bapak dan ibu, aku tahu dan yakin bahwa pria yang akan dijodohkan bapak dan ibu untukku adalah pria yang terbaik dipilihkan Tuhan mendampingiku dalam menjalani bahtera rumah tangga nantinya," gumamnya lalu dia pun memejamkan matanya.
"Sial, kenapa bisa salah kamar. Raja di mana, ya?" Raju bertanya-tanya Di mana keberadaan saudara kembarnya.
Akhirnya Raju kembali ke kamarnya, dia takut salah kamar lagi.
__ADS_1
Keesokan harinya semua orang berkumpul di ruang makan, kecuali Raja dan Kania.
Setelah shalat subuh Raja memilih menyusuri pantai seorang diri, saat ini hatinya sangat hancur dan kecewa dengan takdir yang telah ditetapkan Tuhan terhadapnya.
Hingga saat ini dia belum tahu rencana kedua orang tuanya yang akan menikahkan dirinya dengan wanita lain.
Pria itu berusaha menenangkan dirinya dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk menerima dengan ikhlas apa yang sudah terjadi.
"Ya Allah mungkin engkau tidak mentakdirkan aku hidup dengan wanita yang aku cintai, tapi akankah aku bisa menjalani hari-hari di dekatnya sebagai seorang kakak ipar?" lirih Raja.
Raja duduk di sebuah batu yang terdapat di pinggir pantai.
Dia kini masih saja merenungkan nasibnya.
Meskipun dia berusaha mengucapkan kata ikhlas tapi, ikhlas dengan hati itu tidak semudah dalam mengucapkannya.
"Sayang, Raja mana?" tanya Raffa pada istrinya saat menyadari putra sulungnya tidak berada di ruang makan untuk menyantap sarapan pagi.
Semua orang sibuk dengan diri masing-masing. Raju juga menyadari bahwa saudara kembarnya tak ada di ruang makan yang luas itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini dia sedang berusaha bersikap manis di semua orang.
Semua orang kini mengetahui bahwa dia dan Kanaya merupakan pengantin baru.
Kayla mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang makan tersebut, dia tidak mendapati putranya berada di sana.
"Rani, kamu tahu di mana Abangmu, Raja?" tanya Kayla berbisik pada putri bungsunya.
"Sejak kemarin malam aku tidak melihat Bang Raja, Ma." Ranisa menggelengkan kepalanya.
"Pa, apa jangan-jangan Raja tahu mau dinikahkan dengan Kania? Lalu dia kabur? Mau di mana kita taruh muka kita, Pa?" tanya Kayla pada sang suami.
"Hush, jangan ngomong yang aneh-aneh. Tidak mungkin Raja melakukan hal itu," bisik Raffa pada sang istri.
Raffa mulai panik, dia takut apa yang dikatakan oleh istrinya terjadi, tapi dia masih berusaha untuk tetap tenang.
Gita sedang asyik menyantap sarapan yang ada di dalam piringnya, dia memperhatikan gerak gerik Kanaya dan Raju yang masih kaku.
Gita yakin, putrinya dan menantunya masih dalam masa transisi. Mereka butuh waktu saling mengenal dalam ikatan tali pernikahan.
Usai sarapan, Raffa langsung berdiri dan keluar dari ruang makan. Semua orang memperhatikan apa yang dilakukan oleh Raffa, mereka heran melihat sikap Raffa.
Kayla ikut berdiri mengikuti langkah suaminya.
Raffa melangkah menuju kamar Raja yang ada di lantai 2. Dia masih ingat tadi malam putranya masuk ke dalam kamar yang sudah dipilihnya untuk putra sulungnya itu.
__ADS_1
Raffa kaget saat mendapati kamar Raja tidak ada orang, dia mencari Raja di setiap sudut ruangan itu. Dia juga tidak lupa untuk memeriksa kamar mandi, tapi sama saja dia tidak melihat keberadaan putra sulungnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Kayla saat mereka sudah berada di luar villa.
"Aku hanya ingin menghubungi Raja," jawab Raffa.
Raffa semakin panik saat dia belum juga melihat Putra sulungnya berada di kawasan villa.
Kayla pun diam setelah mendengar jawaban dari sang suami.
Dia menunggu panggilan sang suami tersambung dengan ponsel putranya.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Kayla pada suaminya setelah melihat panggilan belum juga tersambung.
"Ponselnya enggak aktif," jawab Raffa.
"Bagaimana ini, Bang? Pernikahannya akan kita laksanakan pukul 10.00." Kayla panik.
Raffa pun terdiam, dia menatap sang istri yang kini mulai gelisah.
Raffa memegang pundak sang istri.
"Kamu tenang dulu, ya. Aku yakin putraku tidak akan melakukan hal-hal di luar kendali kita, kamu yakin anak-anak kita akan mengikuti apa yang kita inginkan," ujar Raffa menenangkan hati istrinya.
Raffa masih saja menghubungi nomor ponsel putra sulungnya. Dia harus bisa menemukan Raja sebelum pukul 10.00.
Tak berapa lama, Lisa datang menghampiri Kayla yang kini sedang duduk di teras Villa bersama suaminya.
"Kay," lirih Lisa memanggil sahabatnya.
"Iya, Lis." Kayla berdiri lalu mendekati Lisa.
"Ada apa?" tanya Lisa.
"Mhm, Raja tidak berada di villa," jawab Kayla jujur.
"Mungkin dia lagi cari angin di taman belakang," ujar Lisa berusaha menenangkan sahabatnya.
"Semoga saja, dia tidak ke mana-mana," ujar Lisa tenang.
Lisa kenal betul bagaimana putra-putri sahabatnya itu. Mereka tidak mungkin membuat kedua orang tuanya kecewa.
"Ya sudah, kita tunggu saja Raja datang, semoga sebelum penghulu datang dia sudah berada di sini," ujar Lisa.
__ADS_1
"Entah ke mana anak ini? Sayang, coba kamu panggil Raju, mana tahu Raju tahu keberadaan kakaknya," ujar Raffa memerintah istrinya.
Bersambung...