
Kanaya kaget melihat ayahnya sudah berdiri di hadapannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Nick pada putrinya.
Nick heran melihat putrinya berjalan-jalan di kediaman sahabatnya.
"Mhm, enggak apa-apa, Yah. Lagian aku bosan di kamar," jawab Kanaya.
"Mhm, suami kamu di mana?" tanya Nick pada putrinya.
"Di kamar, Yah," jawab Kanaya.
****
Sore ini Kania dan ibunya tengah berada di dapur, mereka membantu pelayan untuk memasak.
Kania memang hobi memasak, kelihaiannya dalam memasak mengalahkan keahlian ibunya.
Dia memang suka memasak sejak duduk di SMA.
Di setiap waktu libur, Kania selalu sibuk di dapur, berbagai makanan dicobanya hingga akhirnya dia memiliki keahlian dalam memasak.
"Nia, bagaimana suamimu?" tanya Lisa pada putrinya.
Lisa penasaran dengan hubungan putrinya dan sang suami.
Dia ingin tahu kelanjutan hubungan putrinya dan menantunya.
Seketika Kania menghentikan kegiatannya yang kini sedang memotong wortel, dia menoleh ke arah ibunya.
Lisa juga membalas tatapan putrinya.
"Bu, aku bersyukur dan berterima kasih pada ibu dan ayah yang sudah menjodohkan aku dan Bang Raja, saat ini aku sedang berusaha mencintai bang Raja, dan aku akan berusaha meraih cintanya agar rumah tangga ini menjadi rumah tangga yang sakina mawadah warahmah hingga maut memisahkan kami," tutur Kania.
Kania sudah mantap hati untuk tetap memperjuangkan rumah tangganya, karena sejak kecil Kania memiliki impian untuk menikah cukup satu kali seumur hidup.
Lisa menatap dalam putrinya, dia tak menyangka Kania mulai tulus dengan pernikahan tersebut.
Lisa menitikkan air matanya, dia bersyukur saat mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh putrinya.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Ibu dan ayah bersyukur jika kamu sudah mulai menerima Raja sebagai suamimu," lirih Lisa terharu.
Kania tersenyum pada wanita yang sudah melahirkannya.
"Bu, aku mohon do'akan Kania, semoga rumah tangga ini dapat menjadi jalan ibadah buat aku," ujar Kania.
Lisa menganggukkan kepala, dia pun memeluk putrinya.
"Ya Allah, hanya engkaulah yang maha membolak-balikkan hati, maka kami berharap terapkanlah hati Raja menerima putri kami sebagai istrinya," gumam Lisa di dalam hati.
"Ibu, jangan nangis. Aku bahagia menjadi istri Bang Raja," ujar Kania tersenyum lebar.
Setelah itu Kania pun kembali melanjutkan acara memasak dibantu oleh sang ibu.
Setelah masak Kania kembali ke kamarnya, dia melihat sang suami tengah bersandar di sandaran tempat tidur.
__ADS_1
"Sayang, apa yang tengah kamu lakukan?" tanya Kania pada Raja.
Raja yang sedang asyik memainkan ponsel, menutup ponselnya.
Dia melihat istrinya yang kini tengah penuh dengan keringat.
"Kamu habis ngapain?" tanya Raja.
"Apa?" tanya Kania lagi.
"Kamu habis ngapain?" tanya Raja mengulangi pertanyaannya.
"Apa?" tanya Kania lagi.
Kania sengaja mengulangi pertanyaannya karena Raja belum memanggilnya dengan sebutan yang diinginkan oleh Kania.
Raja menautkan kedua alisnya.
"Aku tidak bisa mendengar apa yang kamu ucapkan," ujar Kania ketus.
"Huhhft." Raja menghela napas panjang.
"Baiklah," lirih Raja.
"Kamu habis ngapain, Sayang?" tanya Raja mengulangi pertanyaannya.
Kania mengembangkan senyuman bahagia.
"Adek habis berperang," jawab Kania.
"Sayang, aku mau mandi dulu, ya," ujar Kania.
Lalu Kania melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Raja hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri.
Setelah itu Raja pun kembali duduk di atas tempat tidur, dia kembali sibuk dengan ponselnya.
Setelah jam berlalu, Kania keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk putih yang melilit tubuhnya, sambil mengelap rambut panjangnya yang basah.
Raja yang tadi asyik dengan ponselnya kini memandangi lekuk tubuh istrinya, kulit putih yang mulus terekspos kelas di hadapan Raja.
Seketika jantung Raja berdebar dengan kencang, dia tak menyangka istrinya berani melakukan hal itu di hadapan sang suami.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Raja kaget pada istrinya.
Kania melangkah mendekati sang suami.
"Ada apa, Sayang?" tanya Kania pada suaminya.
Kini Kania ikut duduk di atas tempat tidur di samping sang suami.
Dengan jelas Raja dapat melihat kulit mulus sang istri, dia dapat melihat leher jenjang yang dimiliki oleh sang istri.
Raja semakin gugup dengan apa yang dilakukan oleh sang istri.
__ADS_1
"Sa-sayang, a-apa yang akan ka-kamu lakukan?" tanya Raja gugup.
"Apakah apa yang aku lakukan saat ini salah?" tanya Kania berusaha menggoda sang suami.
"Aa- ti-ti,--" Raja tidak tahu apa yang akan dikatakannya.
Tubuhnya kini bergetar hebat saat melihat keindahan tubuh sang istri.
"Sayang, apa yang aku lakukan saat ini adalah pahala, karena inilah yang diinginkan oleh seorang suami," ujar Kania.
Kania tersenyum di dalam hati saat melihat wajah Raja yang kini memerah bagaikan udang rebus.
Dia pun berdiri lalu melangkah menuju lemari, dia pun mengenakan pakaiannya tanpa ada rasa malu di hadapan sang suami.
Mata Raja semakin memanas melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Raja tidak sanggup melihat apa yang sudah dilakukan istrinya, akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dari kamar.
Tubuhnya kini sudah panas dingin, pikirannya kini sudah berisi rekaman apa yang baru saja dilakukan sang istri.
Sebagai seorang pria, Raja tak memungkiri keindahan tubuh sang istri.
Kini dia melangkah menuruni anak tangga dengan langkah gugup dan tak tentu arah hingga akhirnya dia pun menabrak tubuh ayah mertua.
"Raja, apa yang kamu lakukan?" tanya Reza heran melihat apa yang dilakukan oleh Raja.
Reza heran melihat menantunya yang kini melangkah seperti orang yang baru saja kesurupan.
"Astaghfirullah," lirih Raja.
Kini Raja mengusap wajahnya.
"Apa yang terjadi? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Reza mengkhawatirkan keadaan menantunya.
"I-iya, Yah. A-aku ba-baik saja," lirih Raja masih gugup.
Reza menautkan kedua alisnya, dia bingung apa yang terjadi, tapi dia tidak lagi bertanya karena dia tidak ingin Raja semakin gugup.
"Mhm, ayo ikut ayah," ajak Reza pada menantunya.
Reza mengajak Raja melangkah menuju taman belakang villa.
Sesampai di kursi taman Raja langsung duduk lalu menghela napas panjang, pria itu memegangi dadanya menenangkan dirinya.
Perlahan pikirannya mulai tenang, tak berapa lama seorang pelayang membawakan es lemon tea untuk mereka berdua.
Sebelum mereka sampai di taman, Reza menyuruh pelayan membawakan air minum untuk mereka.
"Minumlah terlebih dahulu," ujar Reza.
Raja langsung meminum minuman dingin yang dibawa oleh sang pelayan hingga habis tanpa tersisa membuat Reza semakin penasaran apa yang baru saja terjadi pada sang menantu.
"Mhm, oh iya. Besok kita akan berangkat ke Padang pagi-pagi sekali," ujar Reza pada sang menantu mengabari rencana mereka.
Bersambung...
__ADS_1