
"Tuan Takasi, kenapa anda belum menikah?" tanya Alex lagi.
"Karena belum menemukan wanita yang tepat," jawabannya jujur.
"Oh, mungkin karena kau terlalu sibuk dengan urusan bisnis sehingga tidak punya waktu mencari wanita yang tepat. Dan juga anda tidak memiliki niat," ucap Alex, Takasi mengerutkan alisnya.
"Karena anda selalu berpikir jika wanita hanya tertarik pada uang dan ketampanan anda saja, dan anda juga selalu memanfaatkan itu semua demi kepuasan hati anda sendiri. Sebab itulah wanita yang baik, tulus mulai mundur alon-alon dari hidup Anda," lanjut Alex seakan ucapannya itu ngelantur karena alkohol. Namun Takasi mencerna kata-kata Alex dengan baik.
"Kau berpikir jika semua itu sama, bahkan istri orang juga kau anggap sama. Kau terlalu banyak di kelilingi oleh wanita-wanita yang seksi dan menggoda. Setelah melihat wanita polos, lugu dan menggemaskan kau langsung tertarik padanya dan ingin mendapatkan nya. Heh, ku rasa kau tidak punya malu, kau pikir begitu mudah mendapatkan cintanya, penuh perjuangan dan kerja keras untuk mengejarnya, sekalinya dapat kau begitu dengan mudahnya mengatakan ingin memilikinya, kau lelaki brengs*k," ucap Alex, Takasi hanya diam saja karena ia tau jika yang di ucapkan Alex itu secara tidak sadar. Tapi begitu menusuk hati karena semuanya benar.
"Lo harus berkerja keras bro, jangan karena kau kaya lalu dengan mudahnya mendapatkan semua secara instan, sedangkan mie instan aja harus di masak dulu sebelum di makan. Jangan lo pikir semua istri orang itu sama, percayalah jika kau mendapatkan dengan cara muda, hidup lo tidak akan bahagia," ucap Alex, Takasi kaget. Awalnya Alex bicara sopan dan sangat formal tapi makin kesini makin tidak sopan. Namun Takasi suka Alex yang sekarang ini blak-blakan dan seperti akrab.
"Terima kasih bro, saya tau kamu menasehati saya secara tidak sadar. Dan saya sekarang sadar dan janji tidak akan merebut nya dari mu, mungkin kau benar saya harus kerja keras untuk mendapatkan cinta sejati, dan kamu juga benar jika uang bukan segalanya karena selama ini saya memang tidak bahagia, namun saya bisa menutupinya dengan uang yang saya miliki." Takasi kembali meneguk minumannya.
"Jaga dia baik-baik ya, saya hanya tertarik karena dia sangat menggemaskan belum pernah menemukan wanita seperti itu, tapi dia milik mu mungkin kau juga sangat susah payah mendapatkan nya, dan saya malah seenaknya ingin merebutnya dari mu, heh. Saya memang laki-laki brengsek, iya kan," ucap Takasi.
"Kau sudah mabuk, mari saya antar pulang. Pasti dia sangat khawatir melihat mu seperti ini, saya akan meminta maaf padanya," ucap Takasi tersenyum menatap Alex yang sudah mabuk.
"Selama ini belum pernah ada orang yang berani mengatakan secara langsung pada saya walau dalam keadaan mabuk, dan kau orang yang pertama melakukannya, kalian memang pasangan benar-benar menarik," ucap Takasi kagum. Alex sepertinya tulus ingin berteman padanya tanpa maksud tersembunyi, sedangkan ia justru ingin berbuat jahat. Ia malu pada dirinya sendiri.
"Sayang, sayang kamu di mana?" Alex mengigau memanggil istrinya.
"Kau mengigau. Ayo kita pulang, uuuh, kau berat sekali." Takasi memapah Alex.
"Tuan, biar saya yang melakukan nya," ujar Sasuke.
"Tidak perlu, kau siapkan saja mobil," perintah Takasi tegas.
"Baik." Sasuke membungkukkan setengah badannya lalu berjalan cepat untuk menyiapkan mobil. Sedangkan Takasi terus memapah Alex yang sudah mabuk menuju parkiran.
"Antar ke hotelnya," perintah Takasi, ia juga ikut mengantar agar bisa meminta maaf pada Sherly karena ulahnya Alex bisa sampai mabuk.
Dalam perjalan Alex terus mengigau memanggil istrinya. Ia pun menyandarkan tubuhnya di bahu Takasi.
"Hey, kau berat. Menjauhkan dariku," ucap Takasi sambil mendorong kepala Alex agar menjauh darinya.
"Sayang, kenapa kamu malah mengusir ku. Kamu jahat," ucap Alex menolak, ia malah memeluk perut Takasi menyandar kepalanya di dada yang bidang itu.
What .... Sasuke terbelalak melihat kejadian itu dari pantulan cermin. Ia ingin tertawa namun mati-matian mencoba untuk menahannya.
"Astaga Alex hey sadarlah, aku bukan istrimu." Takasi terus mendorong Alex agar menjauh darinya, geli rasanya di peluk oleh laki-laki.
Alex membuka matanya setengah, bayangan yang ia lihat adalah wajah cantik istrinya yang sedang tersenyum padanya.
"Sayang, kenapa kamu cantik sekali. Rasanya aku ingin menciummu," ujar Alex menyentuh pipi Takasi.
Sasuke sakit perutnya akibat menahan tawa, ini kali pertamanya ia melihat pemandangan yang sangat unik, bisanya ia selalu melihat tuannya bermesraan dengan para wanita penggoda. Namun kali ini oleh laki-laki, mana mungkin ia meletakkan pertunjukan ini. Dengan ide jail, Sasuke merekam kejadian itu secara diam-diam dengan handphone tersembunyi.
__ADS_1
"Alex sadarlah, aku Takasi woy bukan istrimu." Takasi terus mendorong tubuh Alex. Kan tetapi lelaki itu berontak malah semakin memepetkan pelukannya.
"Waaaa, Alex apa yang kau sentuh!" pekik Takasi saat tangan Alex meraba dadanya.
"Sayang, kenapa buah dada kesukaan ku kecil? Apa kamu mengoperasi nya," ujar Alex dengan tampang melas. Wajah Takasi langsung merona.
"Gila, ini gila. Alex kau sudah gila, enyahlah dari tubuhku," teriak Takasi, Sasuke hanya bisa tertawa diam-diam, ia tak ada niat sama sekali untuk menolong tuanya.
"Alex kau sudah gila, sudah tidak waras lagi. Aku laki-laki, jangan menyentuh ku." Takasi terus berontak, apa lagi saat ini Alex sudah duduk di pangkuan Takasi menghadap ke arahnya.
"Dari tadi kamu selalu saja ingin mengusir ku, apa kamu sudah gak cinta lagi sama aku," ucap Alex menangkup kedua pipi Takasi.
"Alex, menyingkirlah. Kau sudah gila, sinting. Lepaskan aku!" Takasi terus berontak.
"Mulutmu dari tadi cerewet sekali, dengan begini kamu gak akan bisa lagi mengoceh."
Alex mendekatkan kepalanya hendak mencium Takasi.
"Aaakkkkh Alex kau ingin mencium ku, kau benar-benar sudah gila ... Sasuke hentikan mobil nya," teriak Takasi yang menutup mulut Alex dengan kedua tangannya sambil mendorong agar tidak mendekati tubuhnya.
Sasuke hentikan mobilnya, padahal ia masih belum puas melihat pertunjukan yang tak biasa ini.
"Singkirkan dia dari tubuh ku, duduk kan dia di samping mu," perintah Takasi.
"Tapi Tuan, jika dia duduk di sebelah saya akan sangat bahaya. Bagiamana saat saya lagi menyetir dia melakukan hal yang sama pada saya dan itu akan membuat konsentrasi saya buyar dan pasti akan mengalami kecelakaan," ujar Sasuke.
"Tapi dia sudah gila, dia bakalan memeluk tubuhku dan bahkan ingin di ciumku. Geli di peluk oleh sesama laki-laki, saya masih normal Sasuke," ujar Takasi ingin muntah saat membayangkan bibir Alex menyentuh bibirnya.
"Terus gimana Tuan? Gak mungkin kita meninggalkan nya di sini bukan?" tanya Sasuke menahan tawanya, ia tak kuat melihat wajah pucat Takasi akibat ulah Alex.
"Ya nggak lah, saya bukan orang yang tegaan," jawab Takasi.
"Oh ya udah kalau begitu Tuan saja yang tinggal, biar saya saja yang mengantar tuan Alex ke hotel," ujar Sasuke memberi saran.
Takasi langsung menoyor kepala bawahannya itu.
"Sembarangan kalau ngomong. Kalau gitu kamu saja yang tinggal di sini, saya bisa menyetir sendiri," ujar Takasi sinis, Sasuke langsung membungkukkan badannya meminta maaf.
"Maaf Tuan, saya salah. Bagiamana kalau membiarkan tuan Alex duduk di belakang dan Tuan duduk di depan, dan biarkan saya yang menyetir," ujar Sasuke yang kembali memberi saran dengan badan yang masih membungkuk.
"Ya-ya, cepatlah kemudikan mobil mu." Takasi langsung menyetujui saran Sasuke, ia langsung masuk ke kursi penumpang bagian depan.
"Gila, gak lagi-lagi deh aku bawa dia minum. Sangat bahaya, dia gila, gak waras. Enak aja main peluk-peluk emang nya aku ini cowok apaan?" gerutunya kesal. Sasuke sudah kembali menjalankan mobilnya menuju hotel.
Alex membuka matanya sebelah mengintip. Ia tersenyum puas, dalam hatinya tertawa ngakak.
"Emangnya enak gue kerjain," batinnya bersorak.
__ADS_1
Ternyata Alex tidak mabuk, ia hanya berpura-pura mabuk. Alex sengaja supaya Takasi kapok mengajaknya minum lagi dan berharap tak mau dekat-dekat dengannya demi kepentingan pribadi. Alex rela dah merendah kan dirinya peluk-peluk sesama jenis, padahal dalam hatinya ingin sekali muntah, demi dah...
Setelah sampai di lobi hotel. Takasi turun dari mobil.
"Kau saja yang membantunya berjalan," perintah Takasi pada Sasuke, ia trauma.
Alex di papah oleh Sasuke memasuki lift menuju kamar Alex. Sesampai di depan pintu Takasi menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menekan bell.
Sherly yang sedang menonton tv sambil tiduran menunggu suaminya pulang. Dengan cepat ia membukakan pintu yakin jika itu adalah suaminya.
"Ya Allah Mas Alex, kamu kenapa?" pekik Sherly kaget melihat suaminya yang mabuk.
"Maafkan saya, ini semua salah saya. Saya yang memaksa nya agar mau menemani saya untuk minum," sesal Takasi meminta maaf.
"Ya ini semua salahmu! Ada aku saja di sini kamu masih berani mengajaknya tidak benar, bagaimana jika aku tidak ikut?" ujar Sherly marah menatap tajam Takasi.
Takasi terhayak, ia tak menyangka jika wanita yang ia lihat polos dan menggemaskan itu bisa setajam ini menatapnya seakan penuh kebencian.
"Cepat bawa masuk," perintah Sherly. Sasuke mengangguk lalu memapah Alex membawanya ke tempat tidur.
"Tolong jangan di ulang lagi, saya tau suami saya tidak akan menolaknya karena dia sangat menghormati anda sebagai rekan kerja nya," ucap Sherly tegas, ia berbicara tanpa melihat arah Takasi karena sibuk mengurus suaminya, melepaskan sepatu dan jas yang masih melekat di tubuh Alex.
Takasi hanya bungkam, ia tersenyum tipis. Wanita di hadapannya ini memang berbeda seperti wanita yang sering ia temui. Jika wanita lain hanya dengan ditatap saja sudah klepek-klepek. Tapi Sherly tidak, justru wanita itu tidak mau menatapnya balik. Alex sangat beruntung, pikir Takasi.
"Kalian boleh pergi, saya mau istirahat," usir Sherly. Sasuke ingin marah karena sudah tidak sopan pada tuannya. Namun langsung di pelototi oleh Takasi.
"Baiklah, sekali lagi saya minta maaf. Besok-besok tidak akan lagi mengajaknya minum-minum, tidak akan pernah lagi, percayalah," ujar Takasi kapok.
"Ya, lebih baik seperti itu. Suami saya jika mabuk mungkin akan melakukan hal gila, jangan sampai anda menjadi korbannya," ucap Sherly sangat serius.
Takasi langsung merinding, gak lagi-lagi. Cukup ini yang terakhir kalinya. Lelaki itu langsung berlari keluar dengan cepat, sedangkan Sasuke ternyata juga bergidik negeri dan langsung menyusul tuannya.
Sherly mengunci pintu, laku menghampiri suaminya.
"Sudah selesai aktingnya?" ucap Sherly sinis sambil tangannya di lipat di dada menatap tajam suaminya.
"Hehehe, sayang. Mereka udah pergi ya," ucap Alex kikuk, tubuh nya menciut tak berani menatap istrinya.
"Habis berapa banyak minum?" tanya Sherly mengintrogasi suaminya.
"D-dua gelas kecil aja, suer deh gak banyak," ucap Alex takut sambil mengangkat kedua jarinya hingga berbentuk V.
"Hem, jika aku gak menyuruh kamu berakting tadi apa bakalan minum banyak?" tanya Sherly lagi, dengan tangannya yang sudah gatal ingin menjewer kuping orang.
"Ya nggak lah, gak mungkin dong sayang. Percayalah aku gak akan minum banyak, please ya jangan marah," bujuk Alex. Ternyata semuanya itu suruhan Sherly agar Alex berakting melakukan hal gila supaya cepat pulang.
Awalnya Alex menolak, namun karena ancaman dengan tidak memberi jatah selama 1 minggu Alex langsung menyetujui dengan patuh. Saat Alek meminum dengan Takasi Alex di sanalah ia sibuk saling melempar pesan pada istrinya.
__ADS_1
"Cepatlah mandi sana, mulut kamu masih bau alkohol."
Alex tersenyum karena istrinya udah gak marah lagi. Itu artinya ia bisa mendapatkan jatah malam ini.