
Selama di perjalanan dalam pesawat, Sherly tertidur. Dengan hati-hati Alex mengelus pucuk kepalanya dengan tangan yang tak pernah lepas dari genggaman nya. Alex begitu lembut memperlakukan istrinya, penuh cinta dan kasih sayang. lelaki itu sudah sangat mencintai istrinya hingga tak sanggup jika berpisah walau hanya sedetik saja.
"Tidur lah sayang, aku akan selalu bersamamu. Jangan pernah untuk pergi dariku. selama napas ini masih berhembus, kamu hanya menjadi milikku. Mesti kau memaksa untuk pergi, aku akan memaksamu juga untuk tetap tinggal dengan cara apapun, karena kamu adalah milikku, istriku selamanya."
Perjalanan lumayan lama, namun Alex tetep terjaga agar istrinya nyaman dalam tidurnya. Ia tak bisa tidur dengan nyenyak dengan keadaan seperti ini, menjaga dan melindungi istri itu lebih baik.
Pesawat mulai mendarat, mau tak mau Alex harus membangunkan istrinya.
"Sayang bangun yuk, kita udah mau sampai," ujar Alex membangunkan pelan.
"Em, udah di mana kita Mas?" tanya Sherly sambil mengucek kedua matanya.
"Masih di pesawat, tapi akan segera mendarat, bangunlah."
Sherly mengangguk, ia membetulkan posisi duduknya.
"Minum dulu." Alex menyodorkan minuman gelas pada istrinya.
"Sudah berapa lama aku tidur Mas? gak kerasa jika sudah mau sampai," ucap Sherly.
"Selama perjalanan, memang kamu tadi pagi bangun jam berapa?" tanya Alex balik.
"Jam 4 subuh," jawab Sherly sambil menyengir pantas saja ia sangat mengantuk.
"Kamu terlalu rajin, sampai-sampai bangun pagi hanya karena takut ketinggalan pesawat," ejek Alex geleng-geleng.
"Ya kan sangat Mas. Dari dulu aku itu pengen jalan-jalan ke luar negeri, apa lagi ke Jepang, kan gak sabar pengen liat bunga sakura," ujar Sherly jujur. Alex tersenyum sambil mengelus pucuk kepalanya.
"Nanti setelah sampai hotel lanjut istirahat lagi ya."
Sherly mengangguk, betapa beruntungnya ia mendapat sosok suami seperti Alex. ia tak ingin menyia-nyiakan orang yang mencintai dirinya begitu tulus. Alex selalu berikan dirinya kelembutan layaknya seorang ratu.
Setelah turun dari pesawat dengan selamat. Alex dan Sherly berjalan di kerumunan banyak orang. Di sana Alex melihat ada papan namanya dan di bawah ada tulisan from Takasih. itu artinya rekan bisnisnya itu mengutus seseorang untuk menjemput nya. Alex menggandeng tangan Sherly menghampiri orang suruhan tuan Takashi.
"Halo, saya Alex," ucapnya kepada seorang laki-laki berkacamata hitam yang memegang papan nama. Tak lupa juga Alex memberikan kartu nama yang di berikan oleh tuan Takashi sebagai tanda pengenal saat di bandara nanti. karena hanya orang-orang yang beruntung saja dapat bertemu dengan sosoktuan Taksasi tersebut, lelaki muda yang sudah memiliki kekuasaan.
"Selamat datang Tuan Alex, dan ...."
"Istri saya, Sherly. Saya sudah memberitahu tuan Takasi jika saya membawa istri saya ke negara ini," ujar Alek menjelaskan.
"Baik, mari ikut saya. Saya akan mengantar kalian ke hotel yang sudah di sediakan oleh tuan Takasi," ucapnya ramah namun nampak tegas. Alex mengangguk lalu mengiringi langkah lelaki berkacamata hitam itu dari belakang.
"Silahkan masuk," perintahnya, sang supir memasukkan koper Alex dan Sherly kedalam bagasi mobil. Pengawal itu ikutan masuk dan duduk di depan samping pak supir.
"Wah ...." Sherly merasa kagum saat melihat pemandangan kota Jepang saat dalam perjalanan. Sama seperti yang ia bayangkan.
"Mas, nanti kalau kamu udah gak sibuk kita jalan-jalan ke sana ya!" ajak Sherly tanpa menoleh pada Alex karena ia masih kagum memandangi bangunan-bangun yang ada di negara Jepang ini.
" Iya sayang, pasti. Tapi sabar dulu ya, karena aku harus menyelesaikan pekerjaan aku selama 3 hari, setelah itu kemanan pun kamu mau aku pasti akan turuti," ucap Alex sambil mengecup tangan istrinya yang ia genggam sedari tadi.
"Hem, janji ya."
"Iya sayang, janji." Tentu saja Alex akan berjanji, membuat bahagia istrinya adalah mayoritas utamanya supaya Sherly selalu bersama dirinya dan tak akan pergi meninggalkan dirinya.
"Aseeek, makasih Mas." Sherly memeluk lengan suaminya kegirangan. Dan Alex langsung mengangkat tubuh Sherly hingga duduk di atas pangkuan nya. Kemudian Alex memeluknya erat.
Sang supir yang di kirim oleh tuan Takasi hanya diam seolah tak melihat apa-apa, walau jiwa jomblo nya meronta-ronta.
"Wah, jadi ini hotelnya." Lagi-lagi Sherly di buat kagum dengan kemewahan hotel tersebut.
"Nanti malam saya datang untuk menjemput kalian karena tuan Takasi ingin mengajak makan malam bersama," ujar pengawal berkata mata hitam tersebut.
"Baiklah, sampaikan terima kasih kami padanya," jawab Alex, pengawal itu mengangguk lalu pamit undur diri.
Sherly sibuk memperhatikan setiap inci di kamar hotel yang ia dan suami tempati, sangat mewah. Tuan Takasi begitu baik sampai menyiapkan kamar hotel mewah segala.
"Mas, sampai kapan kita menginap di sini?" tanya Sherly.
"Tiga hari aja, setelah proyek selesai aku akan memperpanjang nya jadi kita gak perlu pindah ke hotel lain lagi," ucap Alex.
__ADS_1
"Tapi, kan mahal," ujar Sherly khawatir, ia gak apa-apa pindah ke hotel yang biasa-biasa saja.
"Kenapa memangnya? Apa kamu pikir aku gak sanggup bayar?" tanya Alex.
"Bu-bukan begitu ...."
"Gak apa-apa, jangan khawatir. Aku gak akan jatuh miskin hanya karena menyewa kamar hotel ini, aku akan memberikan yang terbaik untuk mu selama aku bisa agar kamu aman dan nyaman. Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan asal jangan yang mustahil seperti meminta bulan dan bintang, namun jika kamu meminta nyawaku, aku akan berikan selama kamu bahagia,' ucap Alex lirih sambil mengelus pipi Sherly lembut dengan tatapan tulus.
Mata Sherly berkaca-kaca, ia sangat terharu dengan ucapan Alex yang sangat tulus. Betapa beruntungnya ia dapat di cintai dengan ketulusan yang sangat besar seperti Alex. Andai ia mengenal Alex lebih awal, mungkin sudah dari dulu ia bahagia.
"Makasih Mas, aku gak tau lagi harus berkata apa. Tapi aku sangat bahagia. Aku gak minta apa-apa, cukup kamu selalu ada bersamaku mencintai ku selalu seperti ini dengan kelembutan. Itu sudah cukup membuat aku bahagia Mas." Sherly menangis lalu memeluk erat Alex. Tangisan bahagia.
Alex tersenyum lalu membalas pelukannya mengecup pucuk kepalanya berkali-kali.
"Aku akan selalu mencintaimu, sangat mencintai mu. Terima kasih karena sudah mau hidup bersamaku, kita akan bersama berjuang. Susah senang, duka maupun suka, bahagia dan menderita, apa kamu bersedia berjuang bersama ku?"
Sherly mendongak menatap serius kedua bola Alex yang berwarna hitam pekat itu. Kemudian Sherly mengalungkan kedua tangannya hingga Alex sedikit membungkuk supaya ia dapat menciumnya.
"Iya Mas, aku mau," jawab setelah cukup lama mereka berciuman.
Blus ... wajah Alex langsung merona, sial. Alex langsung mencium nya lagi.
"Sudah cukup, sekarang aku mau mandi." Alex takut keterusan, ia takut istrinya akan bertambah lelah walau sebenarnya ia sangat menginginkannya saat ini.
"Ayo kita mandi bareng." Sherly menarik baju suaminya, ia nampak malu-malu.
Alex membelalakkan matanya tak percaya, Sherly sengaja memancing dirinya. Apa itu berarti ....
" Apa kamu sedang mengundang ku?" Alex memepetkan tubuhnya ke tubuh Sherly mengendus bau wangi leher istrinya yang putih itu.
"Aku sudah bersih Mas, lakukanlah sesukamu. Aku milikmu," ucap Sherly sambil memejamkan matanya menikmati kecupan demi kecupan yang Alex berikan.
Sit ... tanpa kata, Alex langsung menggendong istrinya seperti karung beras dan berlari cepat menuju arah tempat tidur lalu menghempaskan istrinya. Alex menaiki tempat tidur lalu merangkak ke atas tubuh Sherly.
"Sesuai keinginan mu istri ku." Alex kembali mencium bibir Sherly penuh nafsu.
"Eh, tunggu Mas." Sherly menghentikan Alex.
"Kamu gak minum jamu kuat dari papah dulu?" tanya Sherly.
Persetan dengan jamu, Alex sudah tak tahan lagi. Ia tidak peduku6mau 3 menit, 4 menit, 5 menit, yang penting buat adunan dulu karena sudah di ujung ubun-ubun.
"Gak perlu, aku gak mau kamu bertambah lelah. Kita harus istirahat setelah melakukan ritual ini karena nanti malam kita akan bertemu dengan tuan Takasi," jawab Alex.
Sherly hanya mengangguk, keduanya kembali berciuman. Entah sejak kapan tiba-tiba baju sudah berserakan di lantai. Alex begitu cepat jika soal membuka hingga keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.
"Aku mulai ya, aku akan melakukannya pelan-pelan," ucap Alex. Sherly hanya mengangguk. Hingga si Ucok sudah masuk sepenuhnya ke dalam gua yang gelap masih terasa sempit itu.
Alex mulai menggerakkan tubuhnya, dan si Ucok bisa maju mundur dengan lincah sambil mengobak- abis di dalamnya.
"Peluk aku sayang, aku gak mau menyakiti mu," pinta Alex dengan suara serak terdengar terengah-engah.
Sherly yang menggigit bibirnya bawah nya lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Alex dan memeluknya erat. Ia menahan suaranya agar tidak keluar dengan menggigit kembali bibir bawahnya.
"Jangan di tahan sayang, keluar kan saja suara kamu. Aku suka mendengar nya," pinta Alex kembali hingga suara indah terdengar dari mulut Sherly.
"Oh, punyamu begitu sempit sayang. Si Ucok sangat suka, oh my God." Alex terus berkicau tidak jelas sambil terus memompa tubuhnya.
Dan ternyata sudah lewat dari 3 menit, namun si masih bertahan. Alex bangga. 10 menit pun terlewatkan, hingga keduanya sudah berganti gaya. Alex meminta Sherly di atas.
"Oh sayang, goyang Inul lakukanlah," pinta Alex, Sherly seperti bukan dirinya, tidak ada pengalaman namun bisa begitu dengan lihai hingga Alex terus memanggil namanya.
Oh yes, oh yes ... oh no, oh no. Entah apa-apa yang di sebutkan oleh Alex, mulutnya tak bisa diam sama seperti tangannya. Kedua mata merem melek. Hingga Sherly keluar untuk pertama kalinya membuat seluruh tubuhnya bergetar dan Alex langsung memutar balik tubuhnya kembali lalu melakukan nya dengan cepat.
20 menit, mulai ada kemajuan. Keduanya kini sama-sama terkapar lemas dengan napas tersengal-sengal. Sherly tertawa melirik arah suaminya, durasi 3 menit sudah lewat.
"Kamu sudah berusaha keras Mas," ucap Sherly bangga.
"Ia, aku sudah melatihnya selama bulanan kamu datang. Papah Angga mengajariku," jawab Alex jujur.
__ADS_1
"Oh pantes, berjuru dengan ahli mesumnya wajarlah."
Alex terkekeh, ia memeluk istrinya yang masih berkeringat di sekujur tubuh. Berterima kasih pada papah mertua, walau ucapannya kadang pedas, selalu mengejek dan menindas namun sangat menyayangi dirinya. Sekarang ia mengerti mengapa persahabatan Bobby dan Alex sangat langgeng, rupanya sangat menyenangkan jika sudah bersama mereka.
" Untung tadi gak minum jamu dari Papah Bagas, coba kalau minum, mungkin belum keluar kali ya sampai sekarang," ujar Sherly sambil memainkan dada suaminya dengan ibu jari.
"Maka dari itu, aku gak mau kamu sampai gak nsia bangun dari tempat tidur. Bisa-bisa kita gak bisa bertemu sama tuan Takasi malam ini," jawab Alex.
Sherly mengangguk, ia terus memainkan jari telunjuknya di dada Alex yang di tumbuhi bulu-bulu halus hingga membuat Alex merasakan sensasi panas dalam tubuhnya kembali. Si Ucok sudah kembali bangun dengan segar semangat penuh enerjik.
"Sayang, si Ucok kayaknya mau lagi deh," bisik Alex.
"Nggak, baru aja istirahat belum 5 malah. Masih capek Mas, katanya mau istirahat!" tolak Sherly, badan memang terasa lelah habis dari perjalanan jauh langsung bertempur di tempat tidur, sekarang mau nambah lagi. Bisa patah semua tulang nya. Si Ucok malah ketagihan, minta di sunat.
"Abisnya enak sih, si Baba benar-benar top Cher deh." Puji Alex dengan tangan nakalnya mengelus-elus.
"Maaaaaas ...."
"Pegang doang. Itu pun tak boleh," ujarnya cemberut.
"Pegang sama elus beda ya Mas, dasar kamu ini." Sherly mencubit perut Alex yang kotak-kotak itu.
"Beda tipis doang, pelit amat," ujarnya kekeh.
" Awal pegang-pegang, entar lama-lama bikin adonan lagi," ejeknya.* Aku mau mandi, gerah banget."
"Ikuuuuuuut."
"Aaakh, Mas. Dasar mesum!"
Terjadi lagi di dalam kamar mandi, Alex mana tahan sekarang. Si Baba sudah seperti candu baginya.
******
"Udah siap?" tanya Alex setelah ia sudah berpakaian rapi dengan setelan jas hitamnya.
Sherly berdandan, wanita itu sangat pandai merias wajahnya sendiri. Layaknya make'up proposional, cantik walau tipis tidak menor seperti kebanyakan wanita pada umumnya jika berdandan. Kadang ada yang alis tebal melebihi ulat bulu, bibir merah ngejreng bahkan blason yang berlebihan di pipi. Alex tak suka dengan wanita berdandan yang berlebihan seperti itu, namun berbeda dengan istrinya. Walau tak dandan pun kecantikannya tidak berkurang dan ia justru semakin cinta padanya.
"Ayo Mas," ajak Sherly.
Alex lagi-lagi terpana melihatnya.
"Kamu cantik banget malam ini sayang, aku jadi ragu untuk membawa kamu," ujar Alex. Sherly menghembuskan nafasnya kasar, mulai deh posesif.
"Ayolah, mas-mas mata hitam sudah menunggu kita. Jangan biarkan tuan Takashi juga menunggu kita terlalu lama," ujar Sherly tegas. Alex mengerucutkan bibirnya sebel.
Sesampai di sebuah restoran ala Jepang. Pengawal yang di kirim oleh tuan Takashi itu memandu jalan menuju ruangan VIP yang sudah ada Taksasi di sana yang menunggu.
"Silahkan masuk Tuan, tuan Takashi sudah menunggu," ucap pegawal itu ramah, Alex mengangguk.
"Mas,. emang gak gelap ya malam-malam pake kaca mata hitam?" tanya Sherly sebelum mereka masuk keruangan.
Namun pengawal itu tak menjawab membuat Sherly malu sendiri.
"Huh, nyesel tanya," gumamnya.
"Halo Tuan Takashi, selamat malam," sapa Alex setelah berhadap dengan rekan bisnisnya.
"Selamat datang di Jepang, tuan Alex," ucapnya menyambut kedatangan Alex,. keduanya bersalaman tangan.
"Siapa wanita cantik ini?" tanya Takashi menatap Sherly.
"Istri saya, Sherly," jawab Alex.
"Hay, aku Takashi," ucap Takasih sambil menjulurkan tangannya. Sherly melirik suaminya sejenak, Alex mengangguk pelan sembari tersenyum.
"Sherly," jawabannya singkat.
"Selamat datang di Jepang, Sherly. Nama yang bagus, senang bertemu dengan mu."
__ADS_1
Saat Takashi hendak mencium punggung tangannya, dengan cepat Sherly menariknya lalu membuang mukanya ke arah lain. Takashi memandang dengan pandangan sulit di artikan.