Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, menikah


__ADS_3

Alex sudah duduk di depan penghulu dan Angga tentunya. Dengan wajah tegang, gelisah, gugup menyelimuti dirinya. berkali-kali ia menarik napasnya panjang berusaha tenang agar tidak grogi saat mengucapkan ijab kabul nantinya.


"Nak Alex, apa sudah siap?" tanya penghulu.


"Si-siap Pak," jawab Alex membuat semuanya senyum mendengar suara gugup Alex.


"Hahahaha jangan gugup, kita sedang tidak lagi berperang kok. Santai saja," canda penghulu membuat Alex tersenyum malu.


"Hey bujang lapuk! Awas kalau kamu sampai salah ngucapin nama anak gue."


Ucapan Angga bukan membuat Alex tenang malah semakin membuat nya gemetar. Ibaratnya senggol langsung bacok. Alex menelan ludahnya kasar,


"Pengantin wanita silahkan duduk di samping mempelai prianya," perintah penghulu agar Sherly segera keluar dari kamar karena waktu sebentar lagi akan segera di mulai.


Sayang, ayo keluar." Sera mengajak Sherly, menggenggam tangannya erat. Sera dapat merasakan keringat di telapak anaknya, ia tahu jika Sherly sangat gugup sekarang ini.


"Nggak apa-apa, insyaallah semuanya berjalan lancar." Sera mencoba menenangkan. Sherly tersenyum kemudian mengangguk lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.


Langkah mereka membuat semua tamu undangan termasuk Alex menoleh ke arah sumber suara. Semua mata begitu terpana dengan kedatangannya yang layaknya seorang ratu, sangat cantik.


Deg ... Deg ...


Irama jantung Alex berdetak, yang tadinya sangat gugup kini berubah menjadi semangat membara. Melihat betapa cantiknya Sherly membuat dirinya ingin segera memilikinya, sebab itulah ia melupakan kegugupan tadi.


"Ayo Pak, akad sekarang aja," ujar Alex yang kini semangat 45.


"Wies sabar boy, waktu malam masih lama. Gak sabaran bangat pengen cepet kuda-kudaan,' ejek ayahnya Devan. Membuat Alex mengerutkan bibirnya yang kini di tertawakan oleh para tamu undangan.


"CK, dasar bujang lapuk karatan," timpal Angga tak kalah mengejek calon menantunya.


"Hey, itu ucapan gue. Bayar denda lo, dasar plagiat!" ucap Bobby berkomentar.


"CK, kenapa sekarang lo jadi mata duitan? Makin tua makin jadi, tobat cuy dah bau tanah," sahut Angga sinis.

__ADS_1


"Ceh ile ... gak sadar diri. Ngaca woy, ngaca." Bobby tak mau kalah.


"Ape lo? Berani ma gue?" Angga nantangin.


"Lo pikir gue takut, ayo sini sok atuh." Bobby menggulung lengan bajunya sudah mengambil kuda-kuda.


"Ayo, sini biar lo merasakan justru seribu bayangan ala Naruto ...," ucap Angga yang kini sudah mengambil posisi.


"Siapa takut, lo liat nie jurus anti badai tolak miskin ...."


SUUUUUUIT ... SUUUUUUUIT.


"Ye gue menang, ye, ye gue menang." Bobby bersorak sambil joget.


Angga hanya berdecak sewot melihatnya.


Para para tamu undangan menganga melihat keduanya. Ratna dan Bagas jangan di tanya lagi. Mereka sudah pingsan kejang-kejang saat ini syok melihat calon besannya bak anak kecil.


"Duh, menantu dan mertua itu lucu bangat ya. Seumuran kayak enak gitu,' komentar salah satu ibu-ibu di sana.


"Untung calon menantu Mbak Sera nggak seumuran juga dengan dokter Angga, kan lucu pasti sama deh nantinya kelakuan mereka kayak dokter Bobby dan dokter Angga."


"Aki-aki dong saumi anak saya Bu, ya jangan dong. Melihat mereka berdua saja sudah mau pecah kepala, jika di tambah lagi? Hadew ... gak tau lagi dah Bu," jawab Sera yang sudah pening.


Para ibu-ibu pun tertawa.


"Kalian berdua ini mau berantem atau mau menikahkan anak, cucu kalian? Atau ... kalian berdua aja yang aku menikahkan?" omel Dewi stres dengan kelakuan suami dan menantunya, gak ada damai-damai nya.


"Iiiiiuh, amit-amit. Masih demen apem sayang, bukan terong," jawab Bobby geli membayangkan jika dirinya di nikahkan dengan rivalnya.


"Dih, siapa juga yang mau. Ogah banget, jalan gaang punya gue masih sempit, ngapain gue harus mencari jalan yang berbelok," balas Angga sewot.


Dewi menghela nafasnya panjang menahan diri agar tidak ikutan jadi sinting seperti keduanya.

__ADS_1


Sedangkan Sherly sudah sangat malu, ingin sekali dirinya bersembunyi di lobang yang dalam.


"Udah Pak, pernikahan ayo segera di mulai. Jangan hiraukan papah dan opah saya," ucap Sherly yang sudah sangat malu. Alex hanya tersenyum melihat wajah calon istrinya yang sudah merah.


"Tau gitu aku karungin aja deh mereka tadi. Terus iket di pohon nangka biar gak bisa datang ke acar ini. Malu-maluin banget," batin Sherly menggerutu melotot horor keduanya.


Kini Angga sudah menjadi menjadi sangat serius di hadapan Alex. Tangan berjabat tangan saling berpegangan erat dengan mata saling bertemu.


Ijab kabul pun sudah terucap. Keduanya sama-sama berucap sangat lantang tanpa ada kesalahan apa lagi kegugupan. Hingga ucapan SAH terdengar.


Alex memasangkan cincin di jari manis Sherly dengan tangan yang gemetar. Panas dingin dapat di rasakan oleh Sherly. Namun Alex berusaha menenangkan dirinya.


Sherly mencium punggung tangan Alex, Alex pun hendak mencium kening Sherly yang kini sudah berstatus menjadi istri sahnya. Namun Sherly reflek menunduk hingga yang tercium hanya pucuk kepalanya saja.


"M-maaf." Sesal Sherly merasa bersalah, ia masih belum terbiasa apalagi dengan Alex, lelaki yang baru saja ia kenal.


"Tidak apa." Dengan tulus Alex tersenyum menggenggam tangan istrinya. Lalu acara selanjutnya pun berlarut hingga tanpa terasa waktu sudah jam 9 malam.


Kini keduanya sudah berada di dalam kamar Sherly yang sudah berubah menjadi kamar pengantin. Keduanya nampak canggung bahkan duduk saja berjauhan.


"Kamu ...." Keduanya berucap berbarengan.


"Kamu duluan aja." Berucap barengan lagi seperti sudah janjian. Hening kemudian.


"K-kamu mau mandi?' tanya Sherly memberanikan diri bertanya.


"Kamu sendiri gimana? Apa mau duluan?" Alex kembali bertanya.


" Aku nanti aja, soalnya mau menghapus make'up nya dulu."


Alex mengangguk, lalu ia berjalan menuju kamar mandi. Sherly dapat bernafas lega, sungguh cangung bangat berada satu kamar dengan lawan jenisnya.


"Ya Allah gugup banget, apa jangan-jangan nanti om Alex minta hak nya ya?" Sherly duduk geslisah sambil mengigit bibir bawahnya. " Tapi aku belum siap," batinya berkecamuk dengan irama jantung berdetak kencang serta rasa campur aduk dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2