Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 101


__ADS_3

Setelah tak sadarkan diri cukup lama, wanita itu membuka matanya perlahan. Lelaki yang menolongnya masih setia menjaga kaget sesaat melihat kelopak mata itu bergerak. Dengan wajah ceria ia berlari membuka pintu dan langsung memanggil dokter secepatnya.


"Alhamdulillah, akhirnya Ibu sudah sadar," ucap sang dokter.


"Hem, aku di mana?" tanyanya dengan suara lemah.


"Anda berada di rumah sakit, Bu," jawab dokter tersebut.


"Rumah sakit? Memangnya aku kenapa?" sesaat ia melihat sekeliling dengan wajah bingung," eh, perutku? ... di mana anakku?"


Dokter wanita tersebut tersenyum, ia melihat kearah sang bayi yang masih tidur lelap di boxnya.


"Selamat ya Bu, bayi anda sehat. Dia sedang tidur di samping ayahnya."


Wanita itu nampak terkejut, bukan karena karena kelahiran bayinya, melainkan mendengar ayahnya yang di sebut oleh dokter. Ayah? Maksudnya siapa? Semakin bingung di buatnya.


"Tapi sayangnya lelaki itu tidak mau mengakuinya, dia bahkan selalu bilang kalau dia bukan suamimu. Lelaki memang menyebalkan," celoteh suster tersebut judes, ia nampak tak suka dengan lelaki, tidak tau masalahnya.


"Hah, siapa?" tanyanya kebingungan.


"Tuh, yang duduk di samping box bayi anda!"


Wanita itu menoleh kearah lelaki yang sedang duduk di samping box bayi dan tersenyum kearahnya.


"Ah, lelaki itu?" batinnya ingat," terima kasih," ucapnya sembari tersenyum kepada lelaki itu, dan di balas anggukan olehnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, sebaiknya Ibu di rawat dulu 2-3 hari di rumah sakit ini sampai benar-benar keadaan pulih, baru boleh pulang," ucap sang dokter setelah mengecek keadaannya.


"Baiklah, terima kasih banyak dok."


"Nanti suster Neni yang akan membantu Ibu untuk memberikan ASI pada putra mu, kalau begitu saya permisi, kalau ada apa-apa segera hubungi saya!"


"Iya dok, sekali lagi terima kasih."


Sang dokter mengangguk, lalu melangkah. Sebelum keluar ia berpamitan juga pada lelaki itu.


"Mari, Pak," ucapnya, dan di angguki oleh lelaki itu.


Setelah kepergian dokter dan suster, di dalam ruang tersebut kini hanya tinggal keheningan, lelaki itu nampak canggung. Ia tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"Em, saya ucapkan terima kasih banyak atas bantuan Mas untuk saya. Kalau gak ada kamu, saya tidak tau harus melakukan apa."


"Bukan apa-apa, sudah menjadi kewajiban setiap umat saling membantu. Saya akan melakukan hal yang sama pada setiap orang, jadi jangan sungkan," jawabnya tulus.


"Siapa namamu? Em, jangan salah paham. Aku hanya ingin tahu nama penolongku, bagaimana pun juga kamu tetep penolongku dan juga anakku."


"Abian Gilang Aditya, panggil saja Abian," jawabnya tegas.


"Aku Keyra," ucapnya memperkenalkan diri.


Abian mengangguk, lalu ia bangkit dari duduknya kemudian mendekati box bayi karena mendengar suara gumaman kecil.


"Apa dia bangun?" tanya Keyra berharap, ia tak sabar ingin menggendong anaknya.


"Hem, apa kau ingin menggendongnya?"


Keyra mengangguk senang, Abian dengan hati-hati mengangkat tubuh bayi tersebut.


"Hay ganteng, sekarang ibu kamu sudah bangun, apa kau haus hem?" ucapnya pada bayi tersebut lalu membawanya ke tempat tidur Keyra yang sudah bangkit dari tidurnya, duduk bersandar dengan mata berbinar menatap bayi mungil di gendongan Abian.


"Hati-hati," ucap Abian saat menyerahkan bayi mungil tersebut pada Keyra.


Dengan sangat hati -hati Keyra menerimanya.


"Hiks, anakku." Keyra terisak, ia menghujani kecupan di seluruh wajah kecil mungil tersebut.


"Tenanglah, kau membuatnya takut," ucap Abian pada Keyra yang masih terisak.


Keyra menghentikan tangisnya menatap sang anak yang menangis karena ulahnya.


"Maaf sayang, maafkan Mamah," sesalnya, kemudian mencoba menenangkan kembali.


Namun sang bayi masih juga menangis, Keyra na nampak panik di buatnya karena tak tau harus berbuat apa. Tak ada pengalaman mengasuh bayi, jadi ia bingung sekarang apa lagi tak ada mamahnya di sampingnya saat ini untuk membantu.


"Sepertinya dia mau minum susu, apa kau ingin memberikannya Asi?" tanya Abian.


Keyra membulatkan kedua matanya, bagaimana bisa lelaki ini sangat blakblakan. Tetapi yang di ucapkan benar, bayi menangis pasti ingin minum susu baru lah dapat diam. Tetapi apa yang harus ia lakukan sekarang? Di ruangan ini hanya ada dirinya dan juga Abian. Tidak mungkin ia memberikan ASI di hadapan lelaki asing yang sudah menolongnya tersebut, tapi kalau mengusirnya apakah itu sopan? Keyra nampak kebingungan.


"Aku akan keluar sebentar untuk membelikan mu makan, nanti aku tanya suster makanan apa yang sehat buat ibu menyusui," ucapnya lembut.

__ADS_1


Keyra bernafas lega, lelaki itu bukan hanya baik, namun juga begitu peka." Terima kasih."


Keyra tak tau lagi harus berkata apa membalas kebaikan lelaki itu, hanya ucapan terima kasih yabg mampu ia berikan sekarang. Berkatnya ia bisa melakukan persalinan dengan selamat. Berkat semangat dan dorongan kuat yang di berikan lelaki itu saat melahirkan membuatnya mampu memperjuangkan anaknya. Terima kasih untuknya, batin Keyra menatap punggung Abian keluar dari ruangan meninggalkan dirinya dan juga anaknya.


"Hey, kau haus sayang. Mau minum cucu ya." Keyra tersenyum menatap sang bayi, ia memberikan ASI nya, awalnya agak kesusahan karena sang bayi masih kesulitan mencarinya. Untung saja sang suster datang tepat pada waktunya hingga dapat membantunya sekarang.


"Terima kasih, Sus."


"Sama-sama, tadi suami Mbak datang mencari saya dan meminta saya membatu kamu memberikan ASI," ucap sang suster membuat Keyra tertegun.


"Su-suami? Tapi dia bukan suami saya Sus," jawab Keyra.


"Benarkah, pantes lelaki itu selalu membantah kalau saya bilang suami kamu. Tapi dia baik banget, bahkan setia menemani kamu, dan juga menenangkan bayi kamu saat menangis. Makanya saya menganggap jika dia adalah suami kamu."


Keyra juga merasa heran, kenapa lelaki itu sangat baik. Apa mungkin memang sifatnya yang selalu baik terhadap orang, atau memiliki sesuatu yang tertentu. Keyra juga tak bisa percaya begitu saja pada orang tak di kenal.


"Saya juga tidak tau Sus, tapi bersyukur karena dia saya bisa lahiran dengan selamat," ucap Keyra kembali menatap anaknya yang sedang menyedot dengan lahap.


"Lalu kemana suami kamu? Kenapa di saat genting seperti ini dia tidak ada, kalau ketemu saya marahin habis dia," ucap sang suster sangat tidak suka jika ada lelaki tak bertanggung jawab. Mungkin pengalaman pribadi.


Keyra hanya membalas dengan senyuman miris, tentu saja Leo tidak akan hadir. Secara, ia lahiran lelaki itu tidak tau, bahkan ia sendiri juga pergi dari kota dan tidak memberi tahu keberadaannya. Lalu siapa yang patut di salahkan.


***


Sementara itu, Angga datang ke kediaman Wisnu. Ia bermaksud untuk menanyakan tentang Keyra. Berharap Wisnu mau memberitahukan di mana keberadaan Keyra sekarang agar dirinya dan juga Leo dapat menemui anaknya tersebut.


"Assalamu'alaikum," salam Angga saat mengetuk pintu rumah tersebut.


"Wa'alaikumsalam," asisten rumah tangga Wisnu membukakan pintu. Angga bertanya, apakah Wisnu ada di rumah atau tidak padanya.


"Mari Pak, silahkan masuk. Saya akan panggilan pak Wisnu sebentar."


Angga mengangguk lalu masuk ke dalam dan duduk menunggu di rumah tamu, tak lama kemudian Wisnu datang setelan di beri tahu jika tamu tersebut adalah mantan besannya. Dengan cepat Wisnu melangkah lalu kedua berjabat tangan.


"Apa kabar, Mas?" tanya Angga basa basi.


"Ya seperti yang kamu lihat sekarang, alhamdulillah sehat," jawabnya santai, Angga pun manggut-manggut.


"Saya tidak bisa untuk basa basi lagi, namun kedatangan saya ke sini ini bertanya masalah Keyra. Mohon bantuannya dari Mas Wisnu!" Angga tak mau lagi basa basi, ia berkata langsung pada intinya.

__ADS_1


"Saya tau sekarang pasti Keyra sudah lahiran. Sebab dari itu saya ingin meminta Mas Wisnu mengijinkan saya dan Leo bertemu dengannya, ini demi anak yang tak bersalah, walaupun di antara kedua orangtuanya bersalah, tetapi anak teteplah anak. Dia butuh kedua orangtuanya. Maka dari itu saya mohon pada Mas Wisnu mengizinkan saya dan juga Leo bertemu dengannya," sambung Angga meminta dengan tegas penuh harapan. Hanya cara ini satu -satunya bisa bertemu dengan Keyra.


Wisnu menatap serius Angga, lelaki itu mencari kesungguhan di matanya.


__ADS_2