Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, menemani Yura


__ADS_3

Setelah kejadian itu, ayahnya Yura di rawat di rumah sakit. Dan Yuri memutuskan untuk kembali ke luar Negri untuk bekerja di sana. Dengan rasa malu dan rasa bersalah melihat keadaan sang Papah membuatnya sadar. Tetapi gengsi terlalu besar sehingga tak ingin meminta maaf pada Yuda dan Andin, apalagi pada Yura. Gadis itu pergi begitu saja seketika orang-orang sibuk berada di rumah sakit. Tak ada yang tau kepergiannya.


"Papah baik-baik aja, Mamah pulang ya, istirahat di rumah. Biar Yura yang akan menjaga Papah di sini," ucap Yura membujuk sang mamah supaya mau istirahat di rumah.


Sejak Yuda pingsan, Andin tak memikirkan dirinya sendiri. Wanita itu terlalu cemas hingga tak bisa memejamkan matanya sedikit pun saat berada di rumah sakit. Tampa rasa lelah ia selalu menjaga suaminya yang terbaring lemah di brankar pasien yang masih belum sadarkan diri.


"Mamah gak mau, sebaiknya kamu aja yang pulang dan istirahat. Badan kami masih belum sehat Nak, Mamah masih mau di sini menemani papah kamu," tolak Andin yang sangat keras kepala. Padahal kantung matanya sudah nampak hitam dan terlihat sangat lelah.


"Yura udah mendingan, Mamah jangan memaksakan diri. Yura takut jika Mamah juga jatuh sakit seperti Papah. Lalu siapa yang akan mengurus kita semua jika Mamah jatuh sakit karena kurangnya istirahat," ucap Yura sendu. Andin bungkam dengan tatapan kosong.


"Yura pasti akan menjaga papah dengan baik di sini. Yura janji akan memberi kabar Mamah jika terjadi sesuatu atau papah sudah siuman," bujuk Yura berharap sang mamah mau menuruti ucapannya.


Andin menoleh arah Yura yang sangat serius memintanya kembali untuk istirahat. Anaknya yang satu ini sangat berbeda sekali dengan kembarannya yang tak pernah memikirkan diri sendiri walau dalam keadaan tidak sehat.


Andin sangat bangga, setidaknya masih bisa menjadi ibu yang baik karena sudah membesar anak sebaik Yura, ia bahkan meneteskan air mata karena sangat menyesali perbuatan suami dan Yuri terhadap Yura yang begitu baik dan polos.


"Maafkan Mamah ya Nak! Mamah tidak bisa menjaga dan melindungi kamu sewaktu papah dan Yuri memojokkan kamu, menghukum kamu. Mamah hanya menjadi orang bodoh yang bisanya menonton, padahal kamu sangat menderita," sesal Andin sembari memeluk erat Yura.


"Yura mengerti kok Mah, dan lagian Yura baik-baik aja kok." Yura berusaha meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.


"Lupakan masa lalu, sebaiknya kita mendoakan papah supaya papah cepat sadar, dan segala penyakitnya di angkat oleh Allah dan kembali sehat wallafiat seperti sediakala," lanjutnya dengan tulus sembari menggenggam tangan ibunya.


Andin kembali menangis, betapa mulianya hati anaknya di hadapannya ini. Entah siapa yang yang mengajarkan itu padanya, walau sudah di sakiti. Tetapi tak ada niat sedikit pun untuk membelas dendam atau menaruh rasa benci. Ia merasa malu pada diri sendiri, bahkan jika ia menjadi Yura, belum tentu bisa sekuat dan setegar anaknya ini.


"Mamah kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" Yura panik.


"Mamah nggak apa-apa Nak, Mamah hanya terharu saja sama perkataan kamu. Kamu malah mau mendoakan papah yang sudah sering menyakiti kamu, lelaki yang bahkan tidak menyayangi kamu," ucap Andin.


"Mamah sangat bangga sama kamu Nak, andai papah kamu tau. Betapa mulianya hati anaknya yang ia buang. Mamah yakin papah akan sangat menyesal suatu saat nanti."


Andin kembali memeluk Yura erat. Sedangkan Yura hanya diam mematung dalam pelukan kan sang mamah.


"Ya udah kalau begitu Mamah pulang dulu ya. Besok pagi-pagi sekali Mamah datang."


Yura mengangguk sembari tersenyum.


"Kamu hati-hati di sini ya sayang, kalau ada apa-apa tolong segera hubungi Mamah secepatnya."


"Iya Mah, pasti. Mamah juga hati-hati di jalan ya, istirahat lah yang cukup, Mamah juga jangan sampai sakit. Jangan terlalu pikirkan papah di sini, karena keadaannya baik-baik saja." Yura berusaha meyakinkan supaya mamahnya itu bisa istirahat dengan tenang tanpa memikirkan kondisi Yuda di rumah sakit.


Andin mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Yura seorang diri di sana. Ia melangkah dengan sangat berat. Rasa hati tidak tega meninggalkan anaknya sendirian menjaga suaminya yang masih belum sadarkan diri.


Akan tetapi, tubuhnya memang tak bisa di bohongi. Rasa lelah, kantuk sangat menganggu. sekeras apa menahan semuanya tetap saja tidak bisa di sembunyikan sehingga sang anak menjadi khawatir padanya.


*****


Setelah kepergian Andin, Yura memijit keningnya yang terasa sangat pusing. Bohong jika dirinya baik-baik saja. Nyatanya tubuhnya itu sangatlah lemah, dan di bagian dada terasa sangat sesak. Sungguh menyiksa.


Tetapi ia harus kuat, supaya sang Mamah tidak mengkhawatirkan dirinya yang memang tidak baik-baik saja.


Di saat kepalanya tengah sakit, ia hanya bisa menahan sembari memejamkan matanya dan sedikit memijit-mijit kepalanya. Seseorang duduk di sampingnya perlahan sehingga ia tak merasakan jika ada kehadiran seseorang di sampingnya itu.


Orang itu menarik tubuh Yura, lalu menyandarkan kepalanya di bahunya. Tentu saja membuat Yura sangat terkejut lalu mendongak siapa yang sudah sangat lancang itu.


"Adam!" pekiknya terkejut." Kenapa kamu di sini?" tanyanya heran.


"Nemeni kamu," jawab Adam sembari tersenyum lembut.


"Tapi ini sudah malam? Sebaiknya kamu pulang, aku bisa sendiri kok," tolak Yura.


"Dan membiarkan kamu seorang diri di sini, tengah malam seperti ini?"


"Aku nggak apa-apa?.Nggak akan terjadi apa-apa. Ini rumah sa ...."


"Rumah sakit bukan berarti aman. Kejahatan tidak ada yang tau, melihat kamu sorang wanita duduk sendirian bahkan tidur, bisa saja itu mengundang kejahatan setan kan. Entah mengambil hp kamu, atau melakukan perbuat keji seperti melecehkan," ucap Adam.

__ADS_1


Bukanya seuzun. Tetapi kejahatan memang tidak ada yang tau dan tidak di sangka-sangka. Jangankan perbuatan manusia yang tak terpuji, para hantu rumah sakit pun bisa jadi menjadi tersangka pelaku kejahatan. Mereka mengganggu manusia dengan cara menakut-nakuti, sama saja dengan kejahatan, bukan?


"Ya tapi ...."


"Istirahat lah, biar aku yang menjaga kamu dan papah kamu. Kamu juga butuh istirahat Yura. Badan kamu panas, kamu juga harus sembuh supaya tidak mengkhawatirkan semua orang," ucap Adam tegas.


"Aku mana bisa istirahat dengan keadaan papah ku seperti ini," bantah Yura sangat keras kepala.


Adam menghembuskan nafasnya kasar." Kalau mamah kamu bisa, lalu kenapa kamu nggak bisa. Seharusnya mamah kamu kan yang sangat khawatir dengan kondisi suaminya? Bukankah kamu sendiri yang bilang untuk tidak perlu memikirkan kondisi papah karena beliau baik-baik saja! Lalu kenapa kamu sendiri tidak bisa melakukan seperti ucapan kamu? Itu artinya di rumah mamah kamu juga merasakan hal yang sama."


Adam harus tegas, jika tidak berkata seperti itu Yura mana mungkin menurut perkataannya. Untungnya tadi ia mendengar percakapan Yura dan ibunya sehingga ia bisa memutarbalikkan ucapan Yura sendiri untuk dirinya sendiri.


"Kamu juga harus sehat supaya demam kamu cepet sembuh. Mamah kamu pasti sangat sedih dan semakin merasa bersalah karena dia enak-enakan pulang ke rumah istirahat di kasur yang empuk, sedangkan kamu berjaga di sini dengan kondisi yang tidak sehat," lanjut Adam.


Yura terdiam sembari wajah tertunduk. Yang di ucapkan Adam ada benarnya. Ia tersenyum sembari menoleh arah Adam. Lalu mengangguk pelan pertanda setuju.


Adam pun tersenyum senang.


"Sini, istirahat lah." Adam menepuk-nepuk pahanya supaya Yura bisa tidur di sana.


Mata Yura melotot, ia menggeleng cepat dengan rona di wajah


"Nggak mau, aku tidur seperti ini saja."


Yura bersandar di kursi sembari membelakangi Adam. Wajahnya sudah merah bak tomat. Jangan sampai lelaki itu melihatnya.


"Jangan ngeyel kalau di bilangin. Sini cepat. Ini akan jauh lebih nyaman di bandingkan tidur seperti itu, leher dan badan kamu bakalan sakit semua." Paksa Adam, ia menarik tubuh Yuri hingga gadis itu jatuh ke pahanya.


"Jangan bergerak, tidurlah."


Yura spontan langsung diam. Ia bisa mencium aroma maskulin Adam di tubuhnya. Karena saat ini wajah Yura menghadap tepat ke arah perut Adam.


Dengan jantung berdebar, dada semakin sesak yang Yura rasakan. Tetapi, anehnya ia sangat tenang dan terasa hangat dan nyaman.


Adam tersenyum senang. Ia membelai lembut rambut Yura. Padahal dalam hatinya begitu gugup dengan jantung tak kalah berdetak nya.


Adam akan senantiasa menanti, dan menunggu sampai Yura benar-benar menjawab perasaannya. Selama itu ia juga akan menjaga dan melindungi Yura dengan segenap hati, dan menunjuk jika dirinya sangatlah serius ingin menjalani hubungan dengannya.


"Istirahat lah, aku di sini akan menjagamu. Selamat malam pujaan hatiku." Adam berbisik. Dengan memberanikan diri ia mengecup sekilas pipi Yura.


Setelah itu ia usap perlahan dengan senyuman yang sangat senang dalam hatinya. Ia melepaskan jaketnya, lalu ia selimuti tubuh Yura dengan jaket nya itu supaya gadis pujaan hatinya tidak merasa kedinginan.


Tanpa Adam sadari, ternyata Yura tidak benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan matanya saja, karena dengan kondisi yang kurang sehat ini membuat ia kesulitan untuk tidur. Dan tidak pernah menyangka bagi Yura jika Adam memperlakukan dirinya sangat lembut. Apalagi kecupan itu, benar-benar membuat hatinya bergetar. Kecupan lembut yang masih membekas di pipi membuat Yura semakin kesulitan untuk tidur, tetapi ia tetep memejamkan matanya berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Adam menciumku! Apa dia benar-benar menyukaiku? Atau hanya rasa simpati dan membalas Budi saja?" batin Yura. Ia tidak mau jika menjalani hubungan hanya karena balas budi atau rasa simpati saja. Ia ingin Adam benar-benar menyukai dirinya dengan tulus yang benar-benar dari hati.


Hari semakin larut. Jam juga sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Yura gelisah karena sesuatu ingin keluar dari tubuhnya. Ia membuka matanya lalu mendongak menatap Adam yang tertidur sambil bersandar di kursi tunggu. Yura tersenyum tipis menatap wajah gantengnya.


Perlahan Yura bangkit. Tetapi Adam dapat merasakan pergerakan dari Yura hingga lelaki itu terbangun dari tidurnya.


"Kenapa Yur?" tanya Adam sembari mengucek matanya.


"A-aku mau pipis," jawab Yura malu-malu. Adam tersenyum.


"Aku aku temani?" goda Adam sembari menahan senyumnya.


"Nggak perlu, makasih," jawab Yura cepat. Ia langsung bangkit lalu tergesa-gesa berjalan menuju WC rumah sakit.


Adam tersenyum melihat wajah malu-malu Yura yang sangat menggemaskan.


"Laki-laki itu, bisa-bisa dia menggoda ku," gumam Yura sambil memegang kedua pipinya yang masih merona.


Sesaat bulu kuduknya merinding melihat lorong rumah sakit yang sangat gelap. Suasana malam hari sangat berbeda dengan siang. Yura perlahan berjalan sembari menghidupkan senter di hp dengan jantung berdegup kencang dan bulu kuduk merinding. Namun Yura tetep melangkah karena sudah sangat tidak tahan ingin segera pipis.


Mendengar suara bunyi seperti pintu tertutup. Jantung Yura semakin berdegup kencang, ia sampai menghentikan langkahnya dan melihat sekeliling dengan tubuh gemetar ketakutan. Yura menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


Terdengar lagi suara seperti langkah kaki di tempat kegelapan. Tanpa pikir panjang lagi, Yura langsung berlari ngacir kembali ke tempat Adam duduk menunggu di depan ruang rawat sang papah.


Yura berlari kencang, setelah sampai ia langsung duduk dengan napas tersengal-sengal. Adam mengerutkan alisnya menatap Yura.


"Ada apa?" tanya Adam.


"Nggak apa-apa," jawab Yura bohong. Mana mungkin ia mengaku jika dirinya takut dan tengah menahan pipis nya.


Adam terus memperhatikan Yura yang duduk tak tenang. Resah, gelisah. Ia menghembuskan nafasnya lalu bangkit dan menarik tangan Yura.


"Ayo, aku temani kamu ke WC," ucap Adam.


"Hah?" Yura terhayak.


"Ayo, nanti kemu keburu pipis di celana," canda Adam.


Mata Yura melotot." Apaan sih, nggak kok," jawabnya bohong.


"Oh jadi nggak ya. Ya udah kalau nggak, kalau jadi penyakit jangan bikin keluarga khawatir ya, nahan pipis itu berbahaya loh," ucap Adam menakut-nakuti sembari memencengkan sebelah matanya.


Yura berpikir, dengan wajah memerah ia bangkit dari duduknya.


"Ayo, aku mah gak maksa ya," ucapnya, lalu berjalan lebih dulu.


Adam tersenyum senang, ia berjalan mengikuti langkah Yura dari belakang. Sesaat dalam perjalanan, lagi-lagi suara pintu yang tertutup sendiri membuat Yura langsung berlari di belakang Adam, dan bersembunyi di balik badannya takut sembari memegang baju belakang Adam kuat.


"Dasar penakut, rang itu cuma angin aja kok," ejek Adam. Yura pun memukul lengan Adam sebel.


Sesampai di depan pintu WC, Yura bergegas masuk, untungnya lampu menyala hingga dirinya tidak merasa takut saat sendirian di dalam WC. Sedangkan Adam menunggu di luar WC sembari memainkan hp nya.


Tak lama kemudian Yura keluar, ia lega setidaknya tidak sampai ngompol di celana karena ketakutan dan menahan pipis nya. Bersyukur ada Adam di sini menemani dirinya.


"Udah selesai?" tanya Adam. Yura mengangguk malu.


"Kamu tunggu di sini apa mau balik duluan? Aku mau pipis dulu," ucap Adam.


"A-aku tunggu di sini aja," jawab Yura. Mana berani berjalan sendiri di lorong yang gelap.


"Ya udah." Adam menutup pintunya. Dan suasana menjadi gelap kembali karena yang lampu menyala hanya di dalam WC saja, sedangkan luar WC lampu padam dan sangat gelap.


"Adam, Adam buka pintunya," teriak Yura menggedor-gedor pintu WC. Adam yang baru saja membuka resleting celananya langsung segera menutup nya kembali dan membuka pintu.


"Yura, ada apa? Aku masih belum selesai ini!" ucap Adam.


"A-aku takut, di sini gelap Adam," ucap Yura lirih dengan wajah tertunduk.


"Terus gimana? Aku benaran mau pipis ini. Gak mungkin kamu ikutan masuk kan?" ucap Adam.


"A-aku masuk aja, nanti aku menghadap ke arah pintu. Dan janji gak akan mengintip," ujar Yura. Adam tertegun tak percaya.


"K-kamau benaran mau ikutan masuk?" tanya Adam memastikan.


"Iya, dari pada di luar. Aku takut gelap," jawabnya tanpa ragu.


Adam menghela nafasnya, ia mencoba untuk tenang sembari membuang kotoran dalam tubuhnya dengan Yura bersama dirinya dalam ruangan yang sama.


"Tenang lah bro, jangan tergoda. Ingatlah, aku masih berjuang mendekati dirinya ini, jangan macem-macem kamu," batin Adam mengingat adeknya yang sudah bangun tegak namun bukan keadilan.


"Kamu udah selesai?" tanya Yura mendengar suara air. Adam menyiram cw dan membasuh tangannya.


"Iya udah," jawab Adam."Aduh sesak banget nie celana." Batinya bergumam.


Yura cepat-cepat keluar dari WC, dan Adam menyusul. Kedua berjalan beriringan tanpa sekata patah pun. Keduanya nampak canggung.


****

__ADS_1


Pagi harinya, Andin datang ke rumah sakit sembari membawa baju dan makan. Ia terkejut melihat dua sejoli yang tengah tertidur duduk di kursi tunggu. Yura tidur dengan kepala bersandar di bahu Adam. Sedangkan Adam bersandar di kepalanya Yura. Kedua tangan saling berpegangan.


Andin tersenyum melihatnya. Ia bersyukur karena ada Adam yang menemani Yura di sini tadi malam. Tak ingin membangunkan mereka berdua, perlahan Andin masuk ke ruangan suaminya dan membiarkan keduanya masih dalam tidur.


__ADS_2