
Setelah obrolan di kampus tadi, Dara memutuskan langsung pulang karena harus bersiap-siap untuk menyiapkan sebuah menu makan malam spesial baginya. Bagaimana tidak, yang akan menjadi tamunya adalah lelaki yang selalu ada di dalam hatinya, bagaimana pun ia tidak bisa melupakan cinta nya itu, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, semua usaha telah ia lakukan untuk bisa mendapatkan hati Devan, namun semuanya sia-sia sehingga kata menyerah pun ia kibarkan. Akan tetapi, ada satu yang membuatnya sangat inginkan, sesuatu yang ada di dalam diri Devan, sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Sudah dipikirkan matang-matang oleh Dara, dan keputusan itu seakan mendukung dirinya.
" Mbok tolong bantu Dara masak ya, nanti ada tamu istimewa," ucapnya kepala sang pelayan sekaligus pengasuh dan sudah ia anggap ibu kedua bagi Dara.
" Wah, gak biasanya ada tamu istimewa?? Kata Mbok Darmi penasaran karena selama ini dia belum pernah melihat anak asuhnya itu bersemangat sekali.
Dara jadi senyum-senyum malu sambil membayangkan wajah cinta bertepuk sebelah tangan ny itu.
" Nanti Mbok juga tau," jawabnya sembari mengeluarkan isi dalam kulkas.
Dara dengan lihainya memotong sayuran, bahkan ia tidak merasakan perihnya seketika berhadapan dengan bumbu dapur yang paling jahat sejagat raya, tidak terluka, tidak pula lagi berkelahi, namun mampu membuat siapa saja bisa menangis seakan memiliki dendam yang sangat amat dalam, siapa lagi kalau bukan si bawang merah.
" Sini biar Mbok aja yang mengupas bawahnya," pinta mbok Darmi.
" Nggak usah Mbok, Dara bisa kok. Udangnya sudah di bersihkan?" Mbok Darmi mengangguk. Dara kembali mengupas bawang merah kembali hingga selesai barulah ia mencuci nya.
Mbok Darmi pun blender semua bumbu yang sudah siap. Ternyata Dara ingin membuat udang balado di campur pete dan bahan lainnya, bukan hanya itu saja ada beberapa masakan lain seperti sayuran hijau, atau seafood lainnya yang bener-bener terlihat sangat istimewa nantinya untuk seseorang istimewa juga tentunya.
" Emmm, akhirnya selesai." Dara tersenyum bangga, ia melihat meja makan sudah penuh dengan hidangan dari masakan tangannya sendiri.
" Kamu mandi gih, biar Mbok yang membersihkan dapur."
" Baiklah, maaf merepotkan ya Mbok," kata Dara jadi hak enak karena sudah mengotori dapur.
" Sudah jadi tugas nya, Mbok."
Dara tersenyum, lalu ia berjalan menuju kamarnya dengan ekspresi bahagia.
" Jangan lupa dandan yang cantik ya cah ayu," ledek mbok Darmi berteriak di dapur.
" Iih, apaan sih Mbok." Wajah Dara terlihat merah karena malu, namun seketika semuanya hilang mengingat tak ada gunanya untuk berdandan. Toh tidak ada bedanya di mata Devan. Dara masuk ke kamar lalu meletakkan mengambil sesuatu di dalam laci mejanya.
" Cuma ini satu-satunya bisa mengambil sesuatu berharga miliknya. Maafkan aku Devan, salah kan saja pada cintaku yang terlalu besar ini. "
Dara menarik nafasnya lalu menghelanya panjang dengan mata yang terpejam, ia tahu ini perbuatan salah, dan ia sangat yakin Devan akan semakin membenci dirinya. Namun ia tidak peduli, toh tidak akan pernah bertemu lagi kela pikir Dara, yang ia pikirkan hanyalah rencananya ini berhasil dan segera pergi dari negara ini setelah mengambil sesuatu yang ia inginkan.
Sementara Dara masih menyiapkan diri, sebuah mobil terparkir rapi di kediaman rumah Dara, ia melihat sekeliling n
tampak sepi seakan tak berpenghuni. Dengan gagah ia turun dari mobilnya, malam ini ia terlihat sangat tampan dengan kemeja putihnya, siapa lagi jika bukan Devan.
Devan menepati janjinya untuk datang ke kediaman Dara, setelah gadis itu mengirimkan alamat rumahnya melalui pesan wa. Melihat ketulusan gadis itu memohon agar dirinya mau datang untuk makan malam bersama membuat hatinya goyah. Ia tidak ingin membuatnya kecewa apalagi hari ini adalah hari terakhir keberadaan di Indonesia. Devan mengetuk pintu, lalu di bukalah oleh mbok Darmi.
" Siapa ya?" Tanya nya, tentu tidak mengenali Devan karena baru pertama kalinya lelaki itu datang.
" Dara nya ada? Tadi saya di rumah untuk datang kesini?" Jawab Devan sopan.
" Oh, jangan-jangan sampean toh tamu yang di maksud nak Dara?" Mbo Darmi melihat dari bawah sampai keatas.
" Apa ini pacarannya Dara yo? Oalah guanteng tenan iki," batin mbok Darmi tersenyum.
" Saya Devan, temannya Dara!" Devan memperkenalkan diri.
__ADS_1
" Oh iya, ya udah masuk dulu. Tapi tunggu sebentar ya nak Dara nya masih mandi." Mbok Darmi mempersilahkan Devan masuk lalu menyuruhnya duduk di ruang tamu.
" Saya panggilkan nak Dara nya dulu ya." Devan mengangguk ramah, kemudian mbok Darmi menaiki anak tangga dan memanggil Dara.
" Nak, Nak Dara tamunya sudah datang!" Panggil mbok Darmi sembari mengetuk pintu.
" Eh, sudah datang ya Mbok?" Dara buru-buru membuka pintu. Kemudian mbok Darmi tersenyum ngeledek.
" Pacarnya guanteng tenan, pintar kamu," katanya ngeledek.
" Apaan sih, Mbok. Dah ah Dara turun dulu." Wajah Dara kembali merah. Ia merapikan rambutnya sejenak lalu turun dan menemui Devan yang sedang menunggu.
" Hai … maaf ya lama," kata Dara, gadis itu terlihat cantik malam ini. Dengan memakai dress piece membuatnya terlihat anggun, dan feminim berbeda seketika sehari yang selalu terlihat sedikit tomboy.
Devan sedikit terpana menatapnya.
" Ehem … mau ngobrol dulu atau mau langsung makan?" Kata Dara gugup, jujur saja ia tampak canggung saat ini karena Devan menatap dirinya sedari tadi.
Devan kemudian berdehem, lalu ia menormalkan sikapnya kembali.
" A- aku sudah lapar sih soalnya sengaja gak makan dari siang tadi, hehehe," lanjut Dara kemudian ia menggigit bibir bawahnya. Devan kembali memperhatikan itu sekilas.
" Baiklah, mari langsung makan saja," jawab Devan, Dara mengangguk lalu berjalan lebih dulu kemudian di ikuti oleh Devan menuju meja makan.
" Silahkan, maaf ya kalau masakanya cuma ini aja," kata Dara. Devan melihat hidangan di meja makan yang lumayan banyak.
" Kamu yang masak semuanya?" Tanya Devan setelah duduk.
" Dibantu sama mbok Darimi juga," jawab Dara cepat. Lalu mengambilkan sepiring makanan untuk Devan, Dara melakukannya dengan senang hati layaknya seorang istri.
" Terima kasih," ucap Devan, Dara tersenyum lalu ia mengambil untuk dirinya sendiri kemudian keduanya sama-sama makan bersama tanpa ada yang membuka obrolan hanya suara sendok yang berbunyi saja terdengar.
" Rumah kamu sepi? Orang tua kamu pada kemana?" Akhirnya rasa penasaran Devan ia sampaikan juga.
" Oh, mereka di London. Maka nya aku mau nyusul kesana," jawab Dara sembari mengunyah makanannya lagi. Devan mengangguk-angguk lalu suasana kembali hening.
Setelah setengah jam keduanya selesai makan, Devan merasakan ada yang aneh pada dirinya. Ia merasakan kepanasan dan kepalanya mulai pusing.
" Devan, Dev kamu kenapa?" Tanya Dara, gadis itu mengeluarkan ekspresi panik.
" Gak tau, ada yang aneh sama tubuhku." Devan tanpa sadar membuka kancing bajunya bagian atas lalu ia kibas-kibas karena merasa panas.
" Apa kamu memiliki alergi?" Tanya Dara kembali, gadis itu menuntun Devan pindah ke sopa.
" Tidak." Seketika mata Devan tidak sengaja melihat ke arah dada Dara yang terlihat bagian belahannya membuat Devan menelan ludahnya.
" Dev, kamu berkeringat!" Dara duduk di samping Devan, gadis itu menyentuh leher Devan lalu menyeka keringatnya.
Merasakan sentuhan tangan Dara yang menyentuh kulitnya membuat Devan menoleh dan menatap gadis itu lekat
" Apa yang sudah kau berikan padaku, Dara!" Devan mulai menyadari yang terjadi pada dirinya, kesadaran mulai hilang kendali.
__ADS_1
" Maafkan aku Devan, maafkan aku." Cuma itu yang di jawab oleh Dara.
" Aku mencintaimu Devan, namun sayangnya cinta ku selalu bertepuk sebelah tangan. Sebab dari itu aku memilih menyerah dan memilih pergi supaya hati aku tidak merasakan sakit saat melihat mu."
Devan sangat emosi sekali, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa akibat obat perangsang yang di berikan oleh Dara, namun ia masih dalam keadaan setengah sadar.
" Hanya ini yang aku inginkan darimu Devan, aku tidak bisa memiliki jiwa dan raga mu, maka sesuatu yang berharga milik mu harus aku miliki."
Dara langsung mencium bibir Devan dan dengan beraninya duduk di pangkuan laki-laki itu. Devan yang di berikan obat perangsang sudah on sepenuhnya. Keduanya berciuman sangat ganas. Dara menuntun Devan menuju kamar di lantai bawah sambil berjalan ciuman itu tidak lepas dari keduanya hingga pintu kamar pun tertutup rapat.
Pagi harinya, sekitar jam sembilan pagi. Karena sinar matahari begitu terang membuat perlahan kedua mata Devan terbuka. Lelaki itu bangkit dari tidurnya sembari memegangi kepala yang masih terasa pusing.
" Eeughh, kepala ku." Devan melenguh lalu ia melihat sekeliling terasa asing.
" Dimana aku?" Devan ingat jika tadi malam ia pergi ke rumahnya Dara dan makan malam bersama.
" Dara!" Mengingat nama Dara Devan langsung marah, ia ingat saat gadis itu berani memberikan dirinya obat, setelah ia tidak ingat apa-apa lagi karena kesadarannya hilang kendali sepenuhnya.
Devan bangkit dari tempat tidur, akan tetapi melihat dirinya yang tanpa sehelai benang membuat amarahnya semakin meningkat, ia melihat bercak darah di kasur namun Devan tidak peduli toh yang korban adalah dirinya.
" Dara! Dara dimana kau?" Teriak Devan menggema di rumah itu, ia sudah memakai kembali pakaiannya.
" Dara!" Kembali berteriak karena tak menemukan gadis itu.
" Nak Devan!" Mbok Darmi menghampiri, wanita paruh baya itu tak mau ikut campur. Ia melakukan apa yang diperintahkan oleh majikannya.
" Ini ada titipan dari nak Dara." Mbok Darmi menyerahkan sebuah amplop ketangan Devan.
Devan melihat amplop ditangan nya, ia menatap mbok Darmi hendak bertanya.
" Nak Dara sudah berangkat ke bandara jam tujuh tadi pagi," ucapnya seakan tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Devan.
" Brengs*k! " Devan mengumpat lalu pergi begitu saja dengan langkah cepat.
" Brengs*k kau Dara!" Devan memukul stir mobilnya lalu melaju kencang pergi menuju bandara berharap pesawat gadis itu, belum berangkat.
" Dara!" Panggilan itu membuat lamunan Dara mengingat kejadian lima tahun lalu tersadar, ia tersenyum menoleh pada sang mama.
" Makan dulu yuk," ajak sang mama lau wanita paruh baya itu berjalan mendekat.
" Kasihan cucu nenek, pasti kecapean," ucapnya melihat Nikco tidur dengan nyenyak. Dara hanya tersenyum saja.
" Besok kamu mulai kerja?" Tanya Liana mama Dara.
" Iya Mah, Alhamdulillah lamaran aku di terima jadi besok aku bisa langsung interview," jawabnya senang.
" Syukurlah kalau begitu, maaf ya. Gara-gara Mamah dan Papah kamu jadi repot menjadi tulang punggung," sesalnya sedih.
Dara menyentuh tangan Liana lembut.
" Tidak perlu minta maaf kok Mah, justru Dara yang meminta maaf karena sudah menyusahkan Mamah mengasuh Nikco. Asal Mamah dan Nikco sehat itu sudah cukup buat Dara."
__ADS_1
Liana meneteskan air matanya lalu keduanya berpelukan untuk saling menyemangati.
Flashback off …