
Jantung Dara berdegup saat Devan meminta datang keruangan. Gugup, takut yang Dara rasakan saat ini. Namun dia harus profesional sehingga meneguhkan hatinya, anggap saja tidak pernah kenal. Ya, itulah yang terbaik untuknya juga untuk dirinya.
Dara berjalan sedikit lambat, sementara Devan sudah jauh di depan. Hingga keduanya sama-sama berdiri di depan lift yang berbeda. Saat Dara hendak menekan tombol lift karyawan dengan cepat Devan mencegah.
" Ikut dengan ku!" Suara dingin nan datar tanpa ekspresi bahkan tidak menoleh arahnya. Dara menarik nafasnya dalam-dalam kemudian berjalan perlahan hingga di tempat berdiri di belakang Devan.
Saat pintu lift terbuka, kaki Devan yang panjang melakah lebih dulu barulah Dara mengikuti jejaknya hingga keduanya sama-sama sudah berada di dalam lift yang sama.
Devan berdiri agak kebelakang, sementara Dara berdiri di depannya. setelah itu pintu lift tertutup keduanya sama-sama terdiam tak ada satupun yang mengeluarkan suara hanya ada kesunyian yang terdengar.
" Tenang darah tenang tahan nafas," ucap Dara dalam hatinya, tahan nafas agar tidak terlihat gugup.
Sementara Devan tatapan matanya tajam memandangi tubuh belakang Dara tanpa mau mengalihkan pandangannya ke arah lain entah apa yang dia pikirkan tak ada yang tahu.
" Ck … sungguh menyebalkan," batin Devan kesal. Setelah pintu lift terbuka Devan lagi-lagi berjalan lebih dulu melalui Dara yang tak menatapnya sama sekali. Sikapnya tampak tenang, tentu membuat Devan semakin kesal di buatnya.
" Huuuuf …" Dara menghembuskan nafasnya lalu berjalan mengikuti atasannya itu.
Devan duduk di kursi kebesarannya, dalam ruangan tentu sudah rapih kembali dan semua dokumen sudah tertata rapih di meja. Devan menyandarkan punggungnya dengan kaki menyilang, tangan di lipat ke dada pandangan tertuju pada Dara yang sudah berdiri tak jauh dari mejanya itu.
" Keruanganku sekarang, dan bawakan apa yang aku perintahkan tadi," kata Devan di telepon. Dara masih diam di tempat mengamati.
__ADS_1
" Lo mau ngapain sih? Nambahin kerjaan gue aja."
Seorang laki-laki datang sambil membawa tumpukan berkas yang banyak ditangannya, Dara menoleh kebingungan.
Tumpukan berkas itu ditaruh di atas mejanya Devan sambil mengoceh entah apa yang di ocehkan.
" Gila pegel tangan gue." Keluhnya sambil meregangkan otot tangannya. Laki-laki itu menoleh arah Dara.
" Pucuk di cinta ulam pun tiba," katanya kaget saat melihat Dara. Devan langsung menatap Ridho.
" Eh kamu cewek yang tadi kan yang di dalam lift?" Katanya girang menghampiri Dara.
" Iya, Pak." Dara mengangguk sambil tersenyum ramah, dia tidak tahu apa hubungan laki-laki ini dengan atasnya. Karena terlihat sangat akrab Dara pun menghormatinya.
" Hai, kenalin. Aku Ridho!" Laki-laki itu adalah Ridho, dia menyodorkan tangannya pada Dara, wanita yang ingin dia kenal.
" Dari tadi aku tuh nyariin kamu loh, pengen kenalan," lanjut Ridho, Dara hanya tersenyum menanggapinya.
" Dara …" singkat padat Dara memperkenalkan diri, menyambut jabatan tangan Ridho lalu melepaskannya cepat.
" Dara! Nama yang cantik, sama seperti orangnya," puji Ridho dengan gombalan recehnya. Kemudian teringat sesuatu, matanya melotot akan kesadarannya.
__ADS_1
"D-Dara! Dara, jadi kamu Dara yang itu?" Ucapnya kaget, dia menoleh arah Devan kemudian menghampirinya.
" Jangan bilang dia Dara yang itu?" Ucapnya lagi bertanya pada Devan. Devan tak menjawab pandangan tajamnya hanya tertuju pada Dara.
" Oh ya tuhan, kok bisa sih?" Ridho mengacak-acak rambutnya tak percaya, baru ingin mendekati ternyata wanita incarannya adalah masa lalunya sahabatnya itu.
Dara mengerutkan keningnya menatap Ridho kebingungan, Dara yang itu apa maksudnya? Tentu Dara bertanya dalam hati. Dia kembali menatap Devan yang masih menatapnya tajam, Dara seketika menunduk takut seakan tertangkap basah sedang selingkuh.
Brak … Devan memukul tumpukan dokumen itu.
" Kerjakan semuanya, batasmu hanya 2 hari. Jika tidak selesai silahkan pergi dari perusahaan ini. Perusahaan ini tidak ingin membuang-buang waktu pada orang yang tak berguna." Perintahnya tegas tanpa ingin dibantah.
" Devan, lo serius?" Kaget Ridho atas tugas berat yang diberikan Devan untuk Dara.
Dara tersenyum lembut kemudian melangkah maju untuk mengambil tumpukan berkas tersebut.
" Terima kasih atas kepercayaan anda, akan saya usahakan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini." Dara mengangkat semua dokumen itu, jumlahnya ada banyak kira-kira 20 berkas.
" Biar aku bantu, ini berat." Dengan cepat Ridho mengambil berkas di tangannya Dara.
" Terima kasih, tapi saya bisa Pak," tolak Dara, namun Ridho tak mau mendengar dia tetap mengambil dengan paksa.
__ADS_1
" Biar aku antar, mana mungkin aku membiarkan seorang wanita membawa yang berat-berat," ucapnya lalu berjalan lebih dulu, Dara tersenyum mengalah.
" Kalau begitu saya permisi." Pamitnya menunduk kemudian meninggalkan Devan yang kini tangannya sudah terkepal kuat di bawah meja.