
"Udah woy bangun napa, rumah gue bukan penampungan buat orang pingsan berjamaah. Di masjid sono kalau mau berjamaah mah.' Angga membangunkan ketiga mahkluk hidup itu dengan cipratan air di gayung yang ia pegang.
Sera hanya geleng-geleng melihat kekakuan suaminya.
"Papah kamu unik ya, 'kan itu mertua nya sendiri, masa gak ada takut-takut nya. Kalau bagi orang itu, mertua layaknya seperti raja dan ratu, mesti hormat, sopan dan menurut,' bisik Alex pada Sherly melihat kelakuan Angga yang tak ada sopannya pada mertuanya.
Bahkan pada kedua orangtuanya, yang artinya calon besan.
"Jangan kaget, kedekatan mereka melebihi menantu sama mertua. Sahabat tapi gila, tiap kali ketemu selalu saja rusuh, tidak mandang apakah itu mertua atau menantu karena bagi mereka gak ada istilah status. dan sepertinya papah aku dengan orang tua kamu sangat akrab, paling 11 -12 sama papah dan opah," jawab Sherly." Bakalan lebih gempar lagi satu dunia, rusuh."
Alex manggut-manggut, ia bakalan hidup dengan lingkungan keluarga yang kurang seons sepertinya.
Terlihat normal namun kurang. Bisa jadi ia juga bakalan ikutan kurang juga. Tinggal dengan kedua orangtuanya saja bikin kepalanya cenat-cenut.
Lah sekarang malah masuk lebah hantu, serem-serem tapi kocak.
"Eh hujan." Ratna mulai sadar dengan wajah basah akibat di ciprat oleh Angga.
"Udah bangun," kata Angga santai yang terus mencipratkan air pada Bagas tanpa menoleh pada Ratna yang barusan sadar.
"Astaga, jadi ini perbuatan kamu Ngga!" pekik Ratna.
"Emang ada yang lain? Lagian pingsannya lama banget, kirain dah tak bernyawa lagi," jawab Angga asal ceplos dengan entengnya.
"Dasar kurang aja, nie rasakan." Ratna pun menyiram tubuh Angga dengan segayung air lalu beranjak.
Sera dan Dewi hanya terkekeh lalu memberikan handuk pada Ratna.
"Jangan di ambil hati ya Mbak, dia emang begitu orangnya," kata Dewi.
"CK, sudah untung di bangunin dengan cipratan air kecil. Dasar tak bersyukur," gerutu Angga bergumam.
"Kamu ngomong sesuatu Angga?" tanya Ratna.
"Apa iya? Kok aku gak denger ya kalau aku ngomong sesuatu," jawab Angga pura-pura.
"Ck, dasar ...." Ratna geleng-geleng, ia tak tersinggung sama sekali karena sudah lama mengenal sejak menjadi dokter pribadinya, jadi ia sudah tau sikap kekakuan Angga yang suka bergurau.
"Kalian berdua sangat hebat bisa bertahan lama dengan tingkah bocah dua laki tua itu. Saya kagum pada kalian," kata Ratna pada Dewi dan Sera.
"Karena mereka berbeda, dengan perbedaan itu lah mengapa kami bertahan dan malah semakin cinta," ucap Sera sembari tersenyum mengingat kelakuan suaminya yang lain dari yang lain. Ia menyukainya.
__ADS_1
"Benar, mereka itu unik," sela Dewi lalu ketiga ketawa.
"Pak Bagas bangun, kalau gak bangun jangan salah kan saya jika anda saya bawa dan menenggelamkan anda di Empang belakang rumah pak Mamat yang penuh ikan mirip lele itu," ancam Angga.
"Gak perlu, saya udah bangun," sahut Bagas cepat dan bergegas bangun lalu mengelap wajahnya yang basah.
"Oh, baguslah. Jangan pingsan lagi," ujar Angga sinis.
"Suka hatilah," jawab Bagas malas.
Sekarang hanya tinggal satu orang lagi, siapa lagi kalau bukan Bobby. Angga dapat mendengar suara dengkuran dari mulut sahabatnya itu. Lelaki itu bukan seperti orang sedang pingsan melainkan sedang tidur.
"Dasar belut sawah tukang tidur, nie rasakan jurus air badai love-love dari gue."
Alam mimpi Bobby, ia sedang menikmati indahnya di pinggiran pantai bersama istri tercinta. Di bawah senjanya matahari yang hendak terbenam. Keduanya sedang melakukan kis-kis romantis, namun tiba-tiba suara badai terdengar, ombak di lautan pantai itu bergelombang dashyat hingga menerjang dirinya.
Byuuuuuuuur....
Seketika Bobby langsung membuka kedua matanya lalu bangkit dari tidurnya dan langsung duduk dengan keadaan linglung.
"Siapa aku, dimana aku. Kenapa tempat ini seperti di rumah si otong sialan itu?" kata Bobby yang masih belum menyatu dengan nyawanya.
"Bangun woy, bisa-bisanya ya lo tidur, sialan." Angga mengangkat ember kosong itu dan langsung memasukkan nya ke kepalanya Bobby.
Semuanya pun hanya geleng-geleng kepala saja sambil menepuk keningnya.
Kini suasana menjadi serius. Bobby sudah berganti pakaiannya karena basah. Lantai juga sudah kering seperti semula lagi. Dan semuanya menjadi tegang serta gugup karena begitu sangat serius.
"Jadi, apa rencana kalian dengan semua yang sudah terjadi tanpa di duga ini?" tanya Bagas serius.
"Gimana lagi, mereka sudah melewati batas. Dan tidak baik jika tidak di nikahkan, takutnya sudah ada buah kecebong yang berkembang biak di ragam anakku," jawab Angga tegas.
Alex hanya menghela sambil melirik Sherly, nyatanya ia sama sekali tidak menyentuhnya sama sekali, pegangan tangan saja sekujur tubuhnya kaku. Tapi merasa heran dengan alasansan Sherly yang mengatakan jika dirinya sudah melakukan hal tak senonoh. Namun tak ada satupun dari anggota keluarga gadis itu yang menghajar habis dirinya, seolah sudah mengalami kejadian seperti ini. Alex terus bertanya-tanya dalam hatinya mengenai masalah ini.
"Lalu kapan rencana keduanya anak menikah?" tanya Bagas kembali.
"Minggu depan," sahut Ratna menimpali.
"Tidak," jawab Angga cepat.
Semuanya langsung menoleh arahnya.
__ADS_1
"Kenapa? Kita harus menikahkan mereka lebih cepat, bukan?" heran Ratna.
"Tauk, kayak gak pernah muda aja. Apa lagi kalau udah nyoblos sekali. Bawaannya pasti pengen nyombol terus walau tidak ada pilkada ... seperti siapa itu Ser, kalau udah nyoblos sekali bawaannya pengen nempel terus kayak perangko," kata Bobby melirik Angga sinis.
"Sebab itulah gue tidak mau mereka menikah minggu depan. Tapi besok lusa," jawab Angga enteng.
"Apa, kau gila Angga," pekik semuanya.
"Hey ...."
"Wah Lo kira nikahi gampang nya sama seperti hal nya dengan kawin? Kawin mah enak, tinggal masuk kamar kunci pintu rapat-rapat dan cukup hanya dua orang saja. Gak perlu rame-rame," ucap Bobby asal menjeplak mulutnya saat bicara tanpa disaring lebih dulu.
KRIK ... KRIK ... KRIK....
Hening seketika.
"Kenapa? Emangnya ada yang salah dengan ucapan gue?" bingung Bobby yang mendapati tatapan membunuh dari semuanya.
"Dasar otak mesum, kalau ngomong itu liat-liat tempat dong. Ada anak-anak di sini." Dewi menjewer kuping suaminya kesal.
"Aku gak denger," kata Adam mengangkat kedua tangannya.
"Halo, iya gue lagi ada acara keluarga nie." Alya langsung kabur dengan pura-pura menerima telpon.
"Dududududu ...." Si kembar Nico dan Rico bersiul -siul pura-pura tidak mendengar.
" Kawin itu apa?" tanya Adimas tidak mengerti apa-apa, lelaki berusia 10 tahun itu masih belum paham dengan ucapan opah Bobby.
"Anak kecil seperti kamu gak perlu tau kawin itu apa? Yang pasti enak, di jamin ketagihan. Tapi cukup tau kalau kamu sudah besar aja," ucap Leo pada anaknya.
"LEO ...." Para wanita melotot padanya hingga tubuh nya mengecil.
"Sial, salah ngomong deh gue."
Masih dalam perdebatan panjang dengan tanggal pernikahan Alex dan Sherly kapan akan di langsung kan. Sherly mengajak Alex kelaur dari rumah karena bosan. Dan mengajaknya duduk di bangku taman rumahnya.
"Kamu bosan ya?" tanya Alex.
"Ya begitulah, biar kan saja itu menjadi urusan mereka. Kita hanya perlu mengikuti saja apapun nanti hasilnya," jawab Sherly mersa lelah.
Alex memandang wajah Sherly lekat.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Devan? Mau menyesal sekarang sudah terlambat Sherly, kita pasti akan menikah dan tidak mungkin batal hanya karena kamu menyesali keputusan mu."
Sherly tersenyum menanggapi nya. Menyesal? Tidak, keputusannya sudah bulat, justru Devan yang akan menyesali perbuatannya kelak.