
"Kalian sedang apa?" Abian membuka pintu seraya menentang makanan di tangannya. Sesat masuk pemandangan tak sedap ia dapatkan.
"Mas Abian," sapa Keyra, ia. dapat melihat raut wajah masam dari lelaki itu.
Abian menaruh barang bawaannya ke meja dan melangkah lebar menghampiri Leo dan Keyra yang masih gendongan itu.
"Berikan Keyra padaku," pinta Abian dingin. Leo menoleh wajah Keyra kemudian tersenyum. Senyuman sulit di artikan.
"Kata nenek moyang ku, bekerja jangan setengah -setengah. Jika setengah -setengah nanti kau berewokan," kata Leo, dan membuat Abian mendengus geram.
"Itu mitos Leo, aku berewokan tumbuh dengan sendirinya, bukan karena kerja setengah -setengah. Cepat, berikan saja dia padaku," geram Abian.
Ketiga, sesaat menoleh arah box bayi mendengar suara tangisan Adam.
"Kau urus Adam, biar aku yang membawa Keyra ke kamar mandi," perintah Leo.
"Kau saja, kau kan bapaknya. Lagi pula kau sudah menyerahkan Keyra padaku, untuk apa kau masih mau menyentuh yang sudah kau buang."
Keyra yang tak tahan lagi, ia pun kesal pada keduanya.
"Apa kalian gak bisa cepat? Aku bisa pipis di sini jika kalian terus berkelahi. Sudah, aku gak mau di gendong oleh siapapun, aku masih bisa jalan sendiri." Keyra turun paksa dari gendongan Leo, ia berjalan ke. kamar menjadi dengan susah payah.
"Ini salah mu." kesal Abian lalu menghampiri Adam.
"Hey, ayolah. Aku tadi hanya ingin memanasi kau saja. Tidak tau jika dia bakalan marah," ucap Leo mengejar Abian.
"Ck, aku pikir kau menjilat ludah mu kembali," desisnya sinis.
"Ayolah, aku hanya ingin memastikan jika kau benaran memiliki rasa padanya. Aku bisa tenang saat pulang nanti sore. Setidaknya Adam masih punya kau."
__ADS_1
Abian menatap Leo yang nampak serius. Leo benar-benar menyerahkan Keyra dan Adam padanya.
"Kapan kamu pulang?" tanya Abian.
"Nanti sore, dan akan kembali ke sini lagi akhir pekan. Selama aku jauh darinya, tolong jaga dan lindungi dia. Aku percayakan Adam padamu."
***
Hari berganti dengan cepat. Saat ini Seorang ibu hamil tengah bersiap-siap. Wanita itu merias dirinya di depan kaca, walau tubuh mulai berisi, perut semakin buncit, bahkan kedua pipi semakin tembem. Namun, kecantikannya tetep sama, dan semakin membuat suami semakin jatuh cinta di setiap harinya.
" Sayang, kamu mau ke mana berdandan cantik begini. Aku cemburu loh," ucap sang suami memeluknya dari belakang mengelus perutnya yang semakin membuncit.
"Enggak terlalu cantik kok, kan mau ke rumah sakit buat USG. Masa iya kumel, gak dandan 'kan malu Mas."
Angga menghapus make'up di wajah Sera dengan tisu basah.
"Mas, kok malah di hapus?" Sera ingin menangis, sudah susah payah berdandan apa lagi proses pembuatan alis, cukup memakan waktu untuk hasil yang sempurna.
Sera kesal, dirinya bakalan menjadi bahan omongan orang jika terlihat jelek. Tak sepadan dengan suaminya yang tampan.
"Tapi kamu bakalan jadi incaran para predator jika melihat istrimu jelek. Mereka bakalan senang karena merasa lebih cantik dari istrimu Mas. Aku gak mau itu terjadi," ucap Sera, waspada tidak ada salahnya.
"Hey, secantik apapun wanita di luar sana, tapi menurutku kau tetep yang paling tercantik sayang. Dan hati, cinta, semua milikmu seorang. Jadi, tidak akan ada yang berani merebutku darimu," ucap Angga yakin.
"Bohong! Pokoknya aku gak mu keluar rumah jika gak pake make'up, aku gak pede. Lebih baik diam di rumah dari pada di ejek, udah gendut, jelek pula. Pokoknya gak mau." Kekeh Sera, ia duduk di kasur dengan wajah cemberut tak mau melihat suaminya.
Angga menghembuskan nafasnya, dirinya terlalu posesif dan cemburu. Ia tidak ingin mata laki-laki memandangi istri cantiknya, sebab itulah ia tak mau Sera keluar rumah terlalu cantik. Melihat istrinya cemberut Angga pun mengalah.
"Baiklah, tapi hanya bedak saja. Itupun cukup tipis, dan gak pake apa-apa lagi."
__ADS_1
Sera menghabuskan nafasnya kasar, nasib memiliki suami posesif.
"Iya-iya, menyebalkan banget sih. Aku cantik juga buat siapa, kan kalau istri cantik dia sendiri yang gak malu saat keluar bareng. Menyebalkan," gerutu Sera memakai bedaknya kembali, Angga tersenyum puas melihatnya dan. kembali memeluknya dari belakang.
"Kau emang istriku tercinta, apa sudah siap?"
Sera mengangguk, walau perasaan gugup saat USG nanti. Namun, ia juga tak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anaknya. Perempuan atau laki-laki tidak masalah, yang penting sehat. Dan sangat tak sabaran menantinya di dunia. Apalagi setelah melihat beby Adam membuatnya kian tak sabaran.
Angga dan Sera sudah berada di rumah sakit sekarang, keduanya memasuki ruangan dokter Karin dengan wajah ceria. Angga membantu Sera berbaring, mengecupnya lembut sembari menunggu dokter yang masih menyiapkan perlengkapan.
"Apa kamu gugup?" tanya Angga menggenggam tangan Sera.
"Sedikit," jawab Sera singkat.
Dokter Karin membuka sedikit baju Sera mengangkatnya ke atas, bagian perut yang diperiksa akan dioleskan gel, dan kemudian dokter akan menggerakkan stik pengontrol bernama transduser di atas perut tersebut.
Pemeriksaan USG biasanya dilakukan untuk memeriksakan segala macam hal yang terkait dengan kehamilan untuk mengetahui jenis kelamin bayi, memantau kondisi bayi dalam kandungan secara keseluruhan, hingga mencari masalah pada tubuh ibu hamil yang bisa me-resikokan kehamilannya.
"Dingin," ucap Sera merasakan dingin dan geli, saat dokter menggerakkan stik pengontrol di atas perutnya. Dokter Karin menanggapi hanya dengan senyuman.
"Lihatlah, ini beby kalian. Selamat ya Dokter Angga, Ibu Sera. Kalian memiliki dua putri, mereka sehat dan sangat aktif," jelas doker Karin masih memperlihatkan perkembangan kedua janin di layar monitor.
"Alhamdulillah sayang, kita memiliki dua bayi perempuan," ucap Angga senang, namun ia masih belum sadar dengan ucapannya.
Sera mengangguk, bahkan air mata mengalir melihat layar monitor 4G tersebut menampilkan kedua bayinya.
"Iya Mas, kita memiliki ... tunggu, maksud Dokter, kami memilih bayi kembar?" Sera pun baru menyadarinya, ia tatap kembali layar monitor tersebut, kedua tangan menutup mulutnya, rasa tak percaya jika ada dua bayi di dalam rahimnya.
"Apa! Jadi kami memiliki bayi kembar?" Angga pun baru menyadari, ia mendekati layar monitor itu dari dekat dan memperhatikannya agar lebih jelas.
__ADS_1
Dan benar saja, ada dua bayi di sana yang nampak jelas dengan bentuk yang sudah utuh. Angga menyentuh layar itu dengan tangan gemetar. Air mata bahagianya mengalir. Angga pun terduduk berlutut di lantai. Sangking bahagianya ia bahkan sampai bersujud syukur pada yang maha kuasa atas keajaiban terjadi pada dirinya. Ia menangis di dalam sujud itu sambil mengucap rasa terima kasih yang sangat dalam pada sang maha pencipta yang telah mempercayakan dua malaikat sekaligus kepada dirinya dan juga istrinya.