
Angga masuk ke ruangan Sera, ia dapat melihat istrinya masih terbaring dengan selang tertancap di tangan membuat hatinya teriris tak tega. Angga berjalan perlahan mendekati brankar. Sera merasakan seseorang datang, ia pun menoleh dan di liatnya sang suami tengah menatapnya sendu. Sera tersenyum kecil walau dengan paksa namun Angga senang dapat kembali melihat senyum di wajah istri kecilnya itu.
"Mas," panggilnya lirih dengan suara lemah.
"Sssttt, jangan banyak bicara dulu ya." cegah Angga pelan.
"Aku nggak apa-apa Mas, di mana Sherly?" ucap Sera bertanya keberadaan anaknya yang bernama Sherly, nama sudah mereka siapkan saat waktu hamil dulu.
Deg....
Jantung Angga bak di sambar petir, ia takut jika istrinya mengetahui mengenai anaknya yang pertama telah tiada pasti keadaan kesehatannya tidak baik. Dan berdampak ke pikiran sehingga mengakibatkan ASI tidak keluar, padahal masih ada bayi yang harus di susui. Angga ketakutan jika itu terjadi,namun ia harus mengatakannya walau sebenarnya tidak ingin mengatakannya. Karena cepat atau lambat Sera juga pasti akan mengetahuinya.
"Sherly sehat sayang, dia sangat cantik. Sama seperti kamu," ucap Angga memuji kecantikan anaknya, Sera tersenyum mendengarnya, ia bersyukur anaknya sehat.
"Tapi Sherla?" Angga ragu untuk mengatakannya, ludahnya seakan kelu untuk berucap.
"A-anak kita, Sherla. Dia su-sudah ...." Benar-benar tidak bisa bicara, rasanya sangat berat untuk mengatakannya, matanya bahkan sudah berkaca -kaca. Ia memalingkan wajahnya tal ingin Sera melihat jika dirinya tak kuasa menahan air mata.
Sera mengelus lengan suaminya, Angga menoleh dan Sera tersenyum walau hatinya sangat terluka. Ia tahu mengenai Sherla, anaknya. Dari alam itu bukanlah hanya sekedar mimpi, ia tau itu nyata sebab itulah ia mencoba ikhlas dan tabah.
"Sherla sudah bahagia berada di sisi Allah, ini sudah menjadi keputusannya, kita tidak bisa mencegah takdir yang sudah di gariskan untuk umatnya. Kita hanya bisa berdoa, mendoakan orang -orang yang telah pergi meninggalkan kita agar selalu di terima di sisinya. Termasuk anak kita, Sehrla," ucap Sera.
Angga menatap serius istrinya, dari mana Sera tau mengenai Sherla. Padahal waktu setelah melahirkan kedua putri mereka, Sera di nyatakan koma dan di saat itulah Sehrla pergi. Jadi kedua tidak sempat bertemu. Dan sekarang baru sadar, bahkan suster tidak mengatakan apapun. Lalu tahu dari mana istrinya itu mengenai tentang anaknya. Angga terus menatap Sera penuh tanya.
"Sayang kamu?"
"Aku gak apa-apa, Mas. Aku ikhlas dengan kepergiannya, karena Allah sudah memberikan jalan yang terbaik untuk umatnya. Walau hati sedih, sakit saat kehilangan. Namun semua pasti ada hikmahnya," ucap Sera mencoba tersenyum walau sebenarnya hati sangat sedih.
Angga mengangguk, walau sebenarnya bukan itu yang ingin ia tanyakan. Tetapi melihat senyum istrinya ia pun lebih baik tidak kembali bertanya mengenai dari mana tahu tentang kematian anak mereka. Mungkin inilah ikatan batin antar ibu dan anak.
"Terima kasih sayang, maafkan aku karena tidak bisa menjadi yang baik dan siaga. Aku benar-benar minta maaf." lirih Angga mengecup tangan Sera merasa bersalah.
"Tidak Mas, ini bukan salah kamu. Akulah yang salah karena terlalu ceroboh. Andai aku lebih hati-hati lagi, mungkin anak kita ...."
"Ini semua sudah menjadi takdir, seperti yang kamu bilang tadi. Jangan menyalahkan diri sendiri lagi ya. Karena semua salah aku."
"Iya salah kamu," jawab Sera.
"Iya salah aku, maka dari itu kamu istirahat oke. Sebentar lagi dedek bangun loh terus minta susu," ucap Angga menatap arah dada Sera.
__ADS_1
Sera menyilang kan kedua tangannya." Dasar mesum."
Angga terkekeh, ia senang karena Sera tidak seperti yang ia bayangkan. Ia tahu sebenarnya hati istrinya itu sangat sedih. Tak ada seorang ibu yang rela kehilangan anaknya. Sesedih, sedih hatinya, pasti jauh lebih sedih hati istrinya. Namun ia bangga karena Sera bisa menerima kenyataan ini. Dan tabah menghadapi semuanya.
Leo memperhatikan kedua orangtuanya daru balik jendela kaca. Ia lega papahnya bisa memenangkan Sera agar tidak bersedih atas kehilangan salah satu adiknya. Ia tersenyum lalu menjauh dari ruangan itu karena tidak ingin mengganggu mereka berdua. Leo pamit pada eyang, Bobby dan Dewi yang ada di ruangan anak sedang melihat cucu mereka. Ia ingin pergi kerumahnya Keyra karena wanita itu sudah ia paksa pulang karena Adam butuh istirahat di tempat yang nyaman seperti rumah.
Leo melajukan mobilnya, sehingga cepat sampai di rumah Keyra. Ia turun lalu mengetuk pintu rumah yang cukup besar itu.
"Leo, masuklah." Vira membuka pintu dan mengajak Leo masuk. Dengan sopan Leo masuk dan duduk di ruang tamu, di sana sudah ada Wisnu.
"Leo, bagaimana keadaan mamah kamu? Apa sudah sadar?" tanya Vira ikut duduk di ruang tamu di samping suaminya.
"Alhamdulillah sudah Tante," jawab Leo, semenjak cerai dengan Keyra ia kembali mengubah nama panggilannya.
"Syukurlah, semoga dia bisa tabah dan ikhlas dengan perginya anak pertamanya," ucap Vira iba.
Wisnu dan Vira sudah mendengar kabar mengenai Sera dan kematian anaknya. Mereka turut berduka cita. Dan merasa sedih atas kepergian bayi mungil tak berdosa itu.
"Sampaikan salam kami pada orang tua kamu. Besok kami akan datang berkunjung," ucap Wisnu.
"Iya Om, pasti. Terima kasih sebelumnya."
"Kok masih panggil om dan tante sih? Kembali panggil papah mamah dong," ujar Vira.
"No, Mamah. Lagi pula papah sama Mamah udah merestui hubungan kalian. Mamah senang akhirnya kamu bisa mencintai keyra. Dan kalian memutuskan rujuk kembali itu adalah suatu tindakan yang tepat. Adam juga bisa mendapatkan kasih sayang orang tua yang lengkap dari ayah dan ibu kandungannya." lirih Vira tersenyum senang.
"Papah minta tolong sama kamu Leo, hanya kamu yang bisa membahagiakan Keyra. Tolong jangan sakiti dia. Dia sudah banyak menanggung luka dari kami sehingga ia nekat berbuat seperti itu pada kamu, Angga dan Sera. Semuanya itu karena ke egois kami. Tolong buat dia bahagia," sela Wisnu memohon, ia sangat bersalah atas dosanya pada Keyra.
"Insyaallah, Om. Eh ... Pah," jawab Leo." Leo tidak bisa berjanji, namun Leo akan membuktikan jika Leo bisa membahagiakan Keyra, karena sekarang Leo benar-benar mencintainya."
Vira dan Wisnu tersenyum sembari mengangguk. Ia lega sekarang karena ada yang bisa menjaga dan melindungi Keyra, mencintai dan menyayangi anaknya itu.
"Terima kasih, kami percaya sama kamu Nak. Sekarang temui lah, dia ada di kamar bersama Adam," ucap Vira.
"Terima kasih Mah. Kalau begitu Leo ke kamar dulu."
Leo menaiki tangga menuju kamar Keyra. Ia membuka pintu kamarnya pelan. Ia tersenyum melihat Keyra yang sedang menyusui anaknya.
"Apa dia mau tidur?" bisik Leo tiba-tiba di samping Keyra.
__ADS_1
"Ya Allah Le, kamu benar-benar bikin aku kaget," kaget Keyra memukul lengan Leo. Sedangkan Leo hanya terkekeh pelan.
"Anak Papah anteng banget sih. Gantian bisa kales woy." Leo menusuk-nusuk lembut pipi gembul Adam yang masih menyusu.
"Jangan di ganggu, Adam mau tidur siang dulu ih." Omel Keyra memukul tangan Leo. Leo mengerucut sebel.
"Gimana keadaan Sera, udah sadar?" tanya Keyra, duduk di shopa. Adam sudah tidur nyaman di box bayi nya.
Leo mengangguk, Keyra lega mendengarnya.
"Kapan aku bisa bertemu dengannya, aku kangen."
"Besok aja ya, sekarang jangan dulu. Biarkan dia istirahat, Lagi pula pasti dia masih sedih."
"Aku tau, siapapun pasti bakalan sedih jika anaknya tiada. Aku pun tidak terbayang jika itu terjadi pada Adam."
Leo memperhatikan Keyra yang matanya sudah berkaca -kaca membayangkan jika terjadi pada Adam.
"Maafkan aku ya, aku egois sehingga kamu melahirkan aku tidak ada di samping kamu. Malah orang lain yang setia mendampingi kamu. Aku lelaki pengecut bukan?" lirih Leo merasa bersalah.
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Aku senang pada akhirnya kamu bisa menerima aku. Dam aku sangat senang," ucap Keyra tulus.
Leo memeluk Keyra erat." Maaf ya, aku terlambat menyadari perasaan aku. Dan aku juga minta maaf karena acara melamar kamu jadi tertunda. Aku harap kamu gak marah, karena keadaan yang tidak mendukung."
Leo menatap Keyra, tadinya ia berencana setelah seminggu di Jakarta, ia meminta Angga, Sera dan eyang melamar Keyra kembali. Dan menikah kembali secepatnya. Namun musibah datang begitu cepat sehingga ia terpaksa menunda sampai keadaan kedua orangtuanya membaik setelah kepergian salah satu adiknya.
"Hey, kamu malah memikirkan itu. Aku juga tau lah. Mana mungkin kita bahagia sedangkan mereka masih berduka. Aku bakalan sabar kok menunggu, asal kamu gak kecantol aja sama wanita lain," ucap Keyra, ia bercanda sembari terkekeh.
Mendengar kecantol, leo jadi ingat sama Nadira. Bagaimana dengan kabar wanita itu. Di kantor dia sudah tidak lagi bekerja. Ia juga sangat penasaran kemana perginya Nadira.
"Key."
"Hem."
"Besok pulang dari rumah sakit, temani aku ke rumah seseorang yuk. Ada yang ingin aku jelaskan sama dia," ucap Leo.
"Siapa?" tanya Keyra, melihat wajah serius Leo.
"Nadira."
__ADS_1
***
Note. Maaf typo, hp eror. Keybort nya bleng. 🙏🙏