
Alex berkaca-kaca matanya seketika memandangi wajah istrinya yang lagi-lagi sedang menahan rasa sakit ketika kontraksi kembali. Dadanya terasa sesak, ngilu bagaikan di sayat-sayat silet. Rasa tak tega, andai dirinya bisa menggantikan rasa sakit itu. Ia rela kok asal istri nya itu tak lagi merasakan kesakitan seperti sekarang ini.
Di tambah lagi mendengar ucapan Sherly yang mengatakan seolah menyampaikan kata-kata terakhir. Ingin rasanya ia menangis, namun dirinya harus kuat supaya istrinya kuat seketika melawan maut yang mulai ada di depan mata.
"Ya Allah, berikan kan lah kekuatan untuk istri ku, tolong jangan ambil dia dari hidupku, begitu juga dengan anak kami! Biarkan kami hidup sampai usia tua bersama anak-anak dan cucu-cucu kami, sampai tibanya engkau mengambil kala itu. Aku mohon ya Allah, selamat kan lah istri dan anakku." Dalam hati Alex berdoa. Lelaki itu sekejap memalingkan wajahnya ke arah samping untuk menyeka air mata yang hendak jatuh tanpa izin.
Setelah air mata itu hilang dari kelopaknya, Alex kembali memandang wajah istrinya. Tanyanya mengusap peluh yang sudah berjatuhan di kening yang indah itu.
"Dok! Kenapa bayi nya masih belum mau keluar juga? Mau sampai kapan kalian menunggu? Apa gak liat penderitaan istriku?" ucap Alex tak sabaran. Hatinya benar-benar tidak kuat melihat istrinya yang sangat menderita itu.
"Sabar Pak! Istrinya anda masih d alam bukaan 8, jadi kita masih harus menunggu sampai bukaan 10," jelas dokter tersebut.
"Apa? Tapi dia sudah sangat kesakitan begitu? Apa gak ada obat untuk menenangkan nya?" tanya Alex begitu khawatir.
Dokter perempuan tersebut tersenyum pada Alex sambil menghembuskan nafasnya." Begitulah kodrat wanita, merasakan sakit ketika lahiran. Adalah puluhan pahala balasannya, sebaiknya anda berdoa saja semoga persalinan nya nanti di mudahkan tanpa adanya hambatan," ucapnya sambil menepuk pundak Alex.
Alex terlihat lesu, ia kembali memandang wajah istrinya dengan tatapan sendu. Begitu berat menjadi seorang wanita, begitu besar pengorbanan mereka. Jelas saja jika syurga ada di bawah telapak kaki ibu. Sungguh laknat nya manusia, jika tega menyakiti hati seorang istri, istri yang telah berjuang mati-matian melahirkan sang buah hati, darah daging sendiri. Sungguh berdosa sekali manusia jika sampai menyakiti perasaan seorang ibu, karena mereka juga serupa dengan istri ya itu sudah berjuang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, termasuk Alex.
Tangan yang nampak gemetar itu kembali menyeka keringat di kening Sherly.
"Mas." Suara terdengar lirih, tetapi masih saja tersenyum sangat indah memandangi dirinya. Sekuat apa wanita di dunia ini. Nampak terlihat sangat menderita, tetapi sama sekali tak menunjukan kesakitan sama sekali di hadapan suaminya.
"Jangan khawatir oke, aku tidak apa-apa. Inilah proses anak kita yang hendak keluar," ucap Sherly dengan nada serak berusaha menenangkan suaminya yang malah ketakutan.
"Maafkan aku ...." Alex tak kuasa, ia ingin menangis saat ini juga.
__ADS_1
"Aku gak apa-apa. Justru aku bahagia karena sudah di berikan kesempatan Oleg Allah untuk melahirkan, masih merasakan sakitnya ketika kontraksi. Aku bahagia Mas," ucap Sherly tulus, bahkan wajah yang sedang menahan rasa sakit itu lagi-lagi tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.
"Aku sangat mencintaimu, tolong berjuanglah, demi anak kita. Demi aku." lirih Alex meminta penuh harapan dengan padangan sendu menatap istrinya.
Sherly tersenyum, dengan mata terpejam ia menggenggam tangan Alex yang berada di pipinya.
"Insyaallah Mas, jika Allah menghendaki. Aku pun sangat berterima kasih karena memang sangat mengharap. Akan tetapi, jika Allah berkata lain, kita tidak bisa melawan takdir Mas. Hanya bisa sabar dan ikhlas, berharap suatu saat nanti kamu bisa memiliki, is ...."
Belum sempat Sherly melanjutkan ucapannya. Alex langsung menutup mulut istrinya itu dengan bibirnya.
Alex mencium Sherly supaya tak melanjutkan kata-kata yang ia tak suka dan tak ia inginkan seumur hidupnya.
"Jangan katakan itu lagi, aku mohon sayang. Aku sungguh tidak sanggup."
Alex tak kuasa lagi menahan tangisnya. Ia terisak di hadapan sang istri, tak peduli ada dokter dan para perawat di sana yang kini hanya menjadi penonton dan juga ikutan sedih.
Sherly mengangguk, air matanya leleh tapi bibirnya tersenyum sambil menggenggam tangan Alex erat bahkan ia kecup. Dan Alex pun juga ikut mengecup tangan Sherly yang ada di tangan nya. Lalu beralih ke kening.
"Iiihh, aduh aku mules banget, gak kuat lagi," ujar Sherly merasakan sesuatu hendak keluar dari tubuhnya.
"Kamu mau buang hajat?" tanya Alex.
"Bukan, tapi sudah waktunya mau melahirkan. Semuanya, bersiap!" ucap sang dokter.
"Baik Dok!" jawab tim medis lainnya yang membantu.
__ADS_1
"Apa! Mau melahirkan? Aduh gimana nie, apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya Alex panik.
"Tenang Pak!" ucap Suster.
"Aduh, aku harus gimana? Nanti istri saya apa bakalan kesakitan? Terus, terus ..."
"Pak, diam lah. Kalau anda tidak bisa tenang, sebaiknya keluar!" tegas suster itu menegur Alex. Keributan yang di ciptakan olehnya akan mengganggu konsentrasi dokter maupun Sherly yang hendak melahirkan.
"Oh, maaf. Panik," ucapnya sesal. Alex kembali menghampiri istrinya.
Anggota yang lain sudah berada di luar sedari tadi. Hanya Alex yang di perbolehkan masuk selaku sebagai suami. Tugasnya supaya bisa memberikan dukungan dan semangat pada Sherly. Tapi jika Alex nya marah bikin rusuh, Terpaksa dirinya juga harus keluar.
"Nanti Mbak Sherly ikutin arahan saya ya. Jika saya bilang ngeden, Mbak Sherly harus siap ya," ucap dokter yang kini mulai bersiap.
"Dan anda Pak Alex, tolong berikan dukungan untuk mbak Sherly. Beri dia semangat," lanjutnya memberi tugas pada Alex.
"Baik, Dok!' tegas Alex menjawab. Ia menarik nafasnya metralkan dirinya supaya tidak gugup dan tega melihat perjuangan istrinya.
"Sayang, kamu pasti bisa, kamu pasti kuat. Aku yakin kamu bisa, kamu adalah wanita yang kuat, wanita yang hebat yang pernah aku kenal. Aku ..."
"Eh?"
Semuanya berhenti melakukan aktivitasnya. Dan pandangan semuanya orang yang ada di ruangan itu tertuju pada satu arah begitu pun juga dengan Sherly, yang tadinya sakit malah ikutan terhenti juga.
"Lah, pingsan?" ucap semuanya serempak.
__ADS_1
Sherly menepuk keningnya, suaminya itu bukanya menjadi penyemangat untuknya, eh malah pingsan tanpa pamit. Benar-benar dah, menyusahkan.Untung bayinya gak brojol bapaknya pindang gara-gara gak kuat.