
Kehamilan Sherly semakin bertambah besar. Tentu saja karena sudah menginjak 7 bulan, dan itu semakin membuat Alex posesif sekali. Dan tak lupa dengan selalu menjadi suami dan calon ayah yang siaga.
"Kamu lagi ngapain, sayang?" tanya Alex seketika melihat Sherly tengah membuka kulkas.
"Minum," jawab Sherly, ia hendak meraih botol yang berisi air putih di dalam kulkas tersebut. Namun, dengan cepat Alex mencegahnya.
"Jangan terlalu banyak minum air dingin, nanti gak sehat buat kandungan sama calon anak kita, minum air putih yabg biasa aja jauh lebih sehat," ujar Alex yang kembali menutup pintu kulkas dan menarik istrinya lembut menuju tempat meja makan.
" Duduk di sini, biar aku yang ambilakan," ucap Alex.
"Tapi kan aku amu minum air dingin Mas, cuacanya panas banget loh," rengek Sherly.
"No, minum air putih biasa lebih sehat." Bantah Alex.
"Tapi kan gak seger Mas," cemberut Sherly mulai kesal.
"Minum aja dulu, nanti aku siapin buah ya biar seger," ujar Alex enteng sembari memberikan secangkir air putih biasa pada Sherly.
"Ish, sebel bangat sih," gumamnya sembari menggerutu sebel, dan amat terpaksa meminum air putih biasa itu.
Alex tersenyum puas, ia mengambil buah-buahan lalu mengusapnya. Setelah di cuci bersih batu ia potong-potong kemudian buah pun siap di piring saji dan ia juga ikutan duduk di samping istrinya yang masih cemberut itu.
"Jangan cemberut gitu dong, nanti cantiknya ilang loh. Awak dulu."
Sherly membuka mulutnya yang di suapi oleh Alex.
"Nanti aku mau ke rumah Yura ya," ujar Sherly meminta izin.
"Mau ngapain?" tanya Alex sembari terus menyuapi istrinya.
"Ada deh, rahasia wanita. Mas gak perlu tau," jawab Sherly.
Alex menatapnya penuh selidik.
__ADS_1
"Kenapa gak Yura aja yang ke sini. Kenapa mesti kamu yang harus ke sana!"
Sherly memutar bolah matanya." Yura ity masih belum sehat Mas, masih tahap penyembuhan mana boleh ke luar," jawabannya ketus.
"Tapi kan kamu lagi hamil, ingat?" ucap Alex mengingatkan.
"Aku hanya hamil Mas, bukan sakit. Lagian aku bakalan hati-hati kok," kesel Sherly mulai on.
"Emang mau ngapain sih? Penting bangat emangnya? Nggak kan." Banyak banget alesan laki-laki ini supaya istrinya itu tak boleh kemana-mana.
Sherly menghembuskan nafasnya kasar." Aku mau curhat Mas," jawabnya mulai jengkel.
"Kenapa gak curhat sama aku aja, toh sama kan? Aaak, lagi." ujar Alex.
"Ya beda dong Mas." Sabar, sabar. Ingat lagi hamil, gak baik marah-marah.
"Beda apanya sih? Cuma mau curhat doang kan?" Lagi-lagi menjawab, ada aja yang membuat orang gemes.
Alex menghembuskan nafasnya, lelaki memang sudah di takdirnya selalu mengalah sama wanita. Tak ada pilihan lain selain memberi izin, dari pada ngambek sampai tujuh hari tujuh bulan purnama kan bisa berabe urusanya.
"Baiklah, tapi aku yang anter, jemput nanti aku juga yang jemput," ucap Alex mengalah.
Sherly tersenyum lebar dengan ekspresi wajah kembali ceria.
"Seriusan? Aaaah, kamu memang suami aku yang terbaik." Sherly senang lalu memeluk suaminya.
"Hem, tapi cuma satu jam aja," ucapnya enteng. Spontan membuat Sherly melepaskan pelukannya dan kembali memasang wajawah masam.
"Mana bisa begitu?" protes nya.
"Bisa aja," jawab Alex santai, ia kembali menyuapi istrinya buah yang terakhir karena sudah habis di piring.
"Mana bisa Mas, masa cuma ketemu terus curhat cepat tanpa jeda lalu pulang? Yang benar aja dong!" protes Sherly tak terima.
__ADS_1
"Mau apa nggak? Dari pada aku berubah pikiran lagi," jawabnya santai, lalu bangkit menaruh piring kotor ke pencucian piring.
"Astaga ... kutarik lagi deh kata-kata ku tadi yang suami terbaik. Benar-benar posesif, menyebalkan," gumam Sherly lagi-lagi menggerutu kesal.
"Aku denger loh sayang," teriak Alex dari dapur.
"Los!" jawab Sherly singkat dengan bibir manyun nya.
"Mau minum air putih lagi gak?" goda Alex seketika ia mengambil air putih untuk dirinya sendiri.
"Nggak!" jawab Sherly kesal, lalu bangkit dari tempat duduk dan berjalan sembari mengentakan kakinya menuju kamar.
"Jalannya biasa aja sayang, kasihan lantainya gak salah," canda Alex tengah menahan senyumnya. Istrinya kecilnya itu terlihat menggemaskan sekali.
Sesampai di rumah Yura. Dengan berjalan perlahan Sherly memasuki rumah sahabatnya yang nampak sepi.
"Assalamualaikum, Yura!" panggil Sherly, dengan perut buncit yang besar ia menaiki anak tangga pelan-pelan.
"Yura, kamu di dalam?" Sherly mengetuk pintu kamar Yura.
"Masuk ada Ly, gak di kunci kok." Terdengar suara serak dari arah dalam membuat Sherly khawatir. Dengan cepat ia membuka pintu. Dan benar saja seperti yang ia duga, jika sahabatnya itu habis menangis.
"Yura, kamu kenapa?" Inilah yang membuat Sherly ingin pergi ke rumah Yura, perasaannya tidak enak pada sahabatnya itu.
Sherly duduk di sebelah Yura yabg kini sedang bersandar duduk di sisi kasur dengan mata sembahnya. Pandangan sendu Sherly pada sahabatnya, ia pun langsung memeluknya merasakan kesedihan gadis itu.
"Aku yakin pasti ini cuma salah paham aja, aku percaya sama Adam." Sherly mencoba meyakinkan.
"Tapi ...."
"Sssst, jangan terlalu di pikirkan. Fokus aja sama kesehatan kamu, oke." Sherly mengusap rambut Yura yang kini sudah mulai tumbuh.
Yura mengangguk walau perasaan hatinya sedih. Kepikiran selalu, masih belum mendapatkan jawaban dari tunangannya yang kian membuat hati Yura semakin menjadi resah.
__ADS_1