Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, Trio wek -wek


__ADS_3

"Woy, durasi 3 menit! Cie, lagi kencan nie ye ...." ucap Angga menggoda.


CUIT ... CUIT .... Leo pun bersiul-siul ngeledeki.


"Ngapain kalian datang ke sini?" kesel Alex, bahkan sangat-sangat kesal dengan kedatangan tamu tak di undang itu layaknya kembar- kembaran nya si jelangkung.


"Mau numpang makan gratisan lah, mau ngapain lagi!" sahut Angga enteng.


"Awas kalian berdua, kami mau duduk." Leo mengusir adik dan adik iparnya itu dari tempat duduk mereka sendiri.


Kedua orang tak di undang itu pun memakan makanannya dengan lahap layaknya tak berdosa.


Sherly dan Alex hanya menganga, mematung menatap keduanya.


"Tapi ini kan makan malam kami berdua? Dan dari mana kalian tau kalau kami di sini, memesan restoran ini?" tanya Alex penasaran.


"Em, Mas. Sebenernya waktu kamu mandi, papah ada telepon. Ya udah aku bilang aja kalau malam kata ada dinner di restoran ini, tapi gak tau kalau mereka sampai datang," sahut Sherly menyesal karena sudah mengatakan pada Angga tentang rencana makan malam ini. Ternyata, jujur itu tak semua baik apalagi pada kepada keluarganya yang seharusnya ia tahu kelakuan sableng mereka.


"Ya udah gak apa-apa," jawab Alex, padahal dalam hati mah gendek banget. Tapi dengan istrinya mana mungkin bisa marah. Sabar ya Mas Alex ....


"Hey, jangan pula kalian habiskan makanan itu. Kami juga belum memakannya," ujar Alex melihat piring Angga dan Leo penuh.


"Ah, Lo jadi menantu jangan medit kali. Lagi pula ini kan sudah gratis, kau sewa restoran ini berarti bisa makan lah sepuasnya," sahut Leo santai.


"Tapi ...."


"Lagian kami belum pernah makan di restoran berbintang-bintang kayak gini. Biasnya kami kalau berkencan selalu di pedagang kaki lima di pinggir jalan sana, simpang empat lampu merah itu. Mumpung kau sewa nie toko, biar lah kami makan enak sepuasnya dulu, membahagiakan mertua itu ibadah!" ucap Angga. Alex pun langsung bungkam.


"Ya sudahlah Mas, ayo kita makan juga. Lain kali kita dinner diam-diam aja," ucap Sherly mengajak Alex bergabung dengan papah dan abangnya.


Alex pun pasrah, nasibnya yang memiliki keluarga dari istri sableng. Dirinya pun jadi ikutan gendeng. Hanya mampu sabar, anggap saja ini adalah ujian hidup.


Belum duduk dengan benar di kursi, tiba-tiba suara nyaring yang cempreng itu berteriak.


"Huy, kalian makan enak diam- diam ya. Gak ngajak-ngajak aku rupanya. Giliran makan siomay aja pamer, dasar kalian semua ya." teriak seseorang yang baru saja datang. Siapa lagi kalau bukan Bobby.


Alex dan Sherly menepuk keningnya. Nambah lagi orang sableng, pantesan aja sebelum berangkat tadi perasaan Alex rasa tidak enak. Rupanya para lalat pengganggu pada datang. Mau marah ya gak bisa, di pendam ya kok sesak. Tak ada jalan lain selian ikhlas.


" Set dah, bapaknya jelangkung udah datang aja," ejek Angga.


"Lo ya memang tidak setia kawan. Makan enak sendirian aja, gue juga mau lah," celetuk Bobby pada Angga. Ia duduk di meja di sebrang.


"Mang, sini kau," panggilnya pada pelayan restoran tersebut.


"Mang, Mang. Lo kira Mang tukang siomay, norak lo." Angga mengejek lagi.


"Suka-suka lah," sahut Bobby ketus.


"Eh, Mang. Kau buatkan aku makanan enak yang ada di warung makan kau ini. Yang banyak ya, jangan seuprit kayak itu." Bobby menunjuk makanan yang ada di meja Alex.


"Piring doang yang gede, tapi isinya kayak makan bayi. Kau buatkan aku semuanya yang menu yang kau masak di warung makan ini," sambungnya.


"Emang dasar norak, katrok, ndeso. Restoran woy, bukan warung makan. Biasa makan di pedagang kaki lima sih," ejek Angga lagi.


"Sama aja, ujung-ujungnya tempat makan juga, cuma orang kaya nyebutnya restoran. Padahal artinya sama aja dengan warung makan," bantah Bobby mengelak.


"Warteg kali warung makan mah," sahut Leo.


"Ah, diem lo. Ikutan aja urusan orang tua," omel Bobby pada Leo.


"CK, dasar aki-aki."


Alex dan Sherly tak dapat berkata-kata apa-apa lagi. Dinner malam ini hancur sudah. Padahal ia sudah memesan pemain biola supaya menyiapkan musik yang romantis untuk momen makan malam ini. Sekarang hanya bisa gigit jari saja, dan para pemain biola itu pun gak jadi memainkan musik mereka karena momen tak pas dengan kedatangan keluarga tak di undang.


"Woy, Mang. Kobokan nya mana, kobokan? Lo kira gue makan gak pake cuci tangan," ujar Bobby saat menu makanan sudah terhidang semuanya di atas meja.


"Di sebelah sana ada tempat pencuci tangan Tuan. Wastafel, anda bisa mencuci tangan terlebih dulu, lalu mekai sendok dan garpu untuk memakan makanannya," ucap ramah pelayan itu.


"Ah, kau ambilkan saja lah kobokan itu. Gak usah banyak protes, lagian makan daging sapi kayak gini lebih enakan makan pake tangan. Ribet kali harus pakai pisau dan garpu," ucap Bobby berbicara mengenai menu stik daging sapi BBQ.


"Baik Tuan."

__ADS_1


"Hey, jangan lupa tusukan gigi ya," pinta Bobby berteriak.


Alex geleng-geleng kepalanya, untung di restoran ini sudah ia pesan khusus untuk mereka berdua saja sehingga tak ada pengunjung yang datang. Coba kalau tidak? Entah mau di tarok kemana mukanya karena malu. Di kira warteg benaran kali ya.


"Buset, banyak banget Opah? Itu mah bayar lagi makanannya, beda sama yang ini," ucap Sherly, ia jadi malu sendiri pada suaminya atas perilaku keluarnya gak gak ada akhlak ini.


"Alah, dia kan kaya. Banyak duitnya, gak akan jatuh miskin jika cuma bayar makanan tak seberapa ini," sahut Bobby santai. Padahal makan di restoran ini harganya melejit untuk satu menunya, dan ia malah memesan lebih dari 10 menu. Bisa terkuras kantong Alex ini mah.


Bobby memakan makanan itu tanpa menunggu lama dengan lelapnya. Kapan lagi dapat makan enak, gratis pula pikirannya. Mana mungkin ia mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Untung saja tadi ia menelpon Leo, dan cucu nya itu memberitahunya jika mereka mau ke restoran tempat Alex dan Sherly dinner.


"Abang, kau kasih tau sama papah rupanya tentang masalah ku?" bisik Alex pada Leo, ia baru ingat saat Angga memanggil dirinya durasi 3 menit. Kalau istrinya itu menyadarinya, bisa gawat.


"Bukan aku," jawab Leo jujur.


"Kalau bukan Abang terus siapa? Mana mungkin papah tau dengan sendirinya kan?" penasaran Alex, jika bukan Leo lalu siapa lagi?


"Kau ada cerita sama siapa aja selain aku?" tanya balik Leo. Alex berpikir sejenak mengingat.


"Papah ku," ucapnya," oooh, dasar pak tua mulut ember, lemes banget mulutnya. Menyebalkan!"


Leo pun terkekeh, ia kembali memakan makanannya.


"Nyesel aku cerita, gak bisa banget jaga rahasia anak sendiri," gumamnya menggerutu.


"Eeeeg ... Alhamdulillah kenyang," ucap Bobby bersendawa lalu menyongkel gigi nya dengan tusuk gigi.


"Ah, harusnya aku pesan kopi hitam tadi. Rasa gak afdhol kalau abis makan gak minum kopi," gumam Bobby.


"Eh, pulang yuk. Kasihan bini gue ntar nyariin, lagian makanan di sini gak enak," ucap Bobby.


"Gak enak tapi habis total tanpa sisa, lalu gimana kalau enak? Bisa habis semua makanan yang ada di restoran ini kali ya," ucap Sherly geleng-geleng kepala.


"Ini mah terpaksa aja, sayang kalau gak habis, mubazir," sahutnya. Sherly memutar bola matanya malas.


"CK, dasar rakus," gumaman nya bedecih." Eh Dek, sini." Alex melambai pada salah satu pelayan restoran.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.


"Papah." panggil Sherly yang malu sambil melotot kan matanya.


Alex bengong dengan apa yang di pinta oleh mertuanya itu.


"Mubazir, bener apa yang di ucapkan Bobby. Gak baik buang-buang rezeki," sahutnya. Pelayan wanita itu hanya menahan senyumnya, lalu mematuhi perintah Angga.


"Kan lumayan bisa buat anak bini di rumah, nyesel tadi gak ngajak mereka datang kesini," batin Angga.


"Jangan di bungkus yang ini, bungkus yang baru aja," ucap Alex. Mana mungkin ia membiarkan mertuanya membawa pulang makanan sisa, bisa di cap menantu durhaka dirinya nanti.


"Eh, jangan. Yang ini di bungkus aja, terus yang baru di bungkus juga," sela Angga.


"Kan yang baru buat anak bini, sedangkan yang sisa ini, bisa ku makan lagi di rumah nanti," batinnya bersorak senang.


"CK, dasar Maruk, di kasih hati kau pun nambah minta nyawa," ejek Bobby.


"Mau juga lah gue kalau kayak gitu ... pesan 5 bungkus ya," ujar Bobby tak mau kalah." Lo juga mau kan Leo? Mau aja, kapan lagi coba," sambungnya, yang terakhir berbisik sambil menutup sebelah mulutnya agar tak di liat Alex.


"Gak apa nie Lex?" tanya Leo basa-basi.


"Hehehe, iya Bang gak apa, pesan aja," ucap Alex sembari tersenyum paksa, padahal dalam hatinya." Tekor, tekor ...."


Setelah beberapa lama, bungkusan pesanan mereka sudah siap semuanya. Bobby dengan cepat langsung ia ambil takut di ambil oleh Angga punyanya.


"Terima kasih banyak Lex, sering-sering lah lo kayak gini, tiap hari kalau perlu," kata Bobby tak tau diri.


"Enak kali Opah ini Loh, kalau tiap hari mentraktir makan di restoran ini, bisa gulung tikar lah perusahaan suamiku," komentar Sherly judes.


"Emang seberapa mahalnya sih? Eh minta nota nya dong." Bobby meminta pada pelayan restoran tersebut.


Pelayan restoran itu datang menghampiri sambil membawa bill bersama folder atau nampan kecil di tangannya.


"Ini Tuan." pelayan itu meletakkan bill tersebut di tengah-tengah atas meja. Dengan cepat Bobby melihat bon nya.

__ADS_1


"Alamak, cuma makanan seuprit ini doang bisa habis 9 juta?" kagetnya setelah melihat nominal tersebut.


Bobby melihat kembali, ia sangat kaget saat ada seharga 1.200 juta untuk satu menunya.


"Gila, ini mah benar-benar nguras kantong kalau makan di sini. Wah pantesan aja pemilik restoran ini pada kaya-kaya," komentar nya terkaget-kaget.


"Iyalah, namanya juga restoran mewah bintang 5. Ini salah satu dari 10 restoran mahal di kota Jakarta tauk," sahut Sherly menjelaskan.


"Pantesan makanan enak," bisik Angga pada Leo. Dan Leo manggut-manggut.


Alex tak berkomentar apa-apa, ia mengeluarkan dompet dari kantong celananya. Lalu mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkan pada pelayan yang masih berdiri di sana.


"Terima kasih Tuan. Tanda tangan di sini." Setelah selesai pembayaran, pelayan itu menyerahkan kwitansi dan kartu pada Alex kembali dan meminta tanda tangan.


"Udah semuanya kan? Ayo kita pulang," ucap Alex mengajak semuanya pulang, jangan lama-lama berada di restoran ini. Bisa-bisa nambah lagi nantinya.


"Ayo, pulang-pulang," ujar Bobby cepat.


"Udah kenyang aja lo baru minta pulang," ejek Angga.


"Ah, komentar aja lo kayak netizen. Dah lah, males kali gue bareng sama lo, bosen pula gue melihatnya. Di mana-mana ketemu, sengaja ya ngikutin gue?" ujarnya.


"Sembarang pula kau asal tuduh, lo itu yang ngikutin gue kemana-mana, jangan-jangan lo naksir sama gue?" balas Angga gan mau kalah.


"Idih, nazin tralala, tralili, trilulu. Amit-amit jabang bayi ya Allah, jangan sampai gue belok," geli Bobby tak dapat membayangkan.


"Dah lah, mending gue pulang. Nanti dingin makanan ku ini, ngeldeni lo yang gak jelas." Bobby masuk ke mobilnya dengan membanting pintu cukup keras.


"Dasar aki-aki tua, gue libas kepala lo mau? Sini woy, jangan kabur," teriak Angga, Bobby hanya menjulurkan lidahnya lalu menjalankan mobilnya pergi meninggalkan Angga yang mengamuk hendak mengacak-acak muka mertuanya itu.


"Sabar Pah, sabar. Kau juga aki-aki tua, sadarlah," ucap Leo.


"Kau pun sama, gak ada sopan-sopannnya sama orang tua. Dia sableng kau pun jangan ikutan gendeng, menyebalkan."


Leo membantu." kenapa pula aku yang jadi sasaran amukan dia, aneh memang aki tua satu ini."


Sherly dan Alex hanya jadi penonton saja, untungnya tak ada popcorn untuk mereka nikmati saat petunjuk Opera yang aneh bin ajaib tersebut.


"Mereka itu lucu ya, udah berapa lama mereka kayak gitu?" tanya Alex.


"Lucu dari mananya? Ngeselin iya, pening kepalaku melihat tingkah mereka, gak ada akur- akurnya, heran kali aku."


Alex terkekeh," Sudah berapa lama mereka kayak gitu?"


"Entahlah, tapi kalau kata mamah dan omah. Mereka kayak gitu dari SMA," ucapnya.


"Apa iya? Wah udah lama banget ya berarti. Tapi herannya kok mereka masih akrab aja, gak ada tersinggung-tersinggung nya dari semua ucapan mereka masing-masing, salut aku sama persahabatan mereka yang lain dari yang lain itu," kagum Alex.


"Iya, maka abang Leo juga ikut-ikutan. Cocok lah mereka di sebut trio Wek-wek. Dan aku perhatiin, papah Bagas juga tak jauh beda, kalau mereka berkumpul bikin heboh sedunia karena ulah mereka."


Alex tertawa membenarkan ucapan istrinya.


"Kamu pun jangan ikut-ikutan pula kayak mereka. Ku liat kamu dah menyerupai juga kayak mereka, 11 12. Udah pening kepalaku sama mereka, dan kamu jangan nambah pula kepalaku pening," sambung Sherly memarahi suaminya yang mulai rada-rada sableng.


"Mereka kan guru nya," gumam Alex.


"Apa?" Samar-samar Sherly mendengar.


"Nggak apa-apa, pulang yuk!" ajaknya kemudian.


"Apa kamu gak laper? Aku laper loh, tadi gak makan," manja Sherly.


"Laper sih, tadi aku juga gak makan. Keburu kenyang melihat mereka bertiga makan."


Sherly hanya tersenyum menanggapi nya." Kita makan dulu yuk, baru pulang."


"Makan bakso aja ya di abang-abang," saran Alex.


"Habis rupanya duit mu Mas?" tanya Sherly dengan senyum menggoda.


"Nggak kok, masih ada. Hanya kepengen makan yang bulat-bulat aja," jawabnya. Sherly pun langsung tertawa sambil merangkul lengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2