
Sore harinya. Alex dan Sherly bergegas menuju rumah sakit setelah keduanya di kasih kabar oleh Sera mengenai kecelakaan Adam pagi hari setelah pulang dari bandara habis mengantar kedua orangtuanya. Nasib naas tak ada yang tau, begitu juga tragedi yang sedang menimpa Adam hari ini yang sangat memprihatikan.
"Yang sabar ya sayang. Allah pasti memiliki jalan yang terbaik untuk Adam!" ujar Alex memenangkan istrinya yang tengah menangis tersedu-sedu di dalam mobil.
"Mau tenang bagaimana Mas? Aku ... aku sangat khawatir sama Adam. Dia masih muda, masa depannya masih panjang. Tapi sekarang dia ...." Sherly tak sanggup lagi membayangkan. Bagaimana jika Adam keburu sadar sebelum mendapatkan donor mata. Pasti lelaki itu sangat sedih, apalagi kedua orangtuanya yang baru saja sampai di negara Jepang.
"Insyaallah pasti pendonor mata akan segera di dapatkan. Aku janji," ucap Alex. Ia harus mencari secepatnya untuk mendapatkan si pendonor mata, berapapun harganya.
Sherly hanya bisa menangis sambil berdoa dalam hati. Tidak pernah menyangka jika musibah terjadi begitu sangat cepat menimpa anggota keluarganya. Tidak ada yang tau, karena semuanya itu sudah menjadi rahasia ilahi yang kapan saja, di mana saja, dan siapa saja akan terjadi bahkan termasuk dirinya sendiri.
Setelah sampai di parkiran rumah sakit. Sherly langsung keluar dari mobil begitu saja.
"Sayang pelan-pelan," kata Alex mengingatkan. Lalu ia segera turun juga mneyusul istrinya yang sudah berlari memasuki rumah sakit.
"Mamah, Papah." panggil Sherly dengan nafas ngos-ngosan akibat lari tadi.
" Di mana Adam?" Sherly hendak masuk, tetapi Angga mencegahnya.
"Jangan sekarang, ok. Adam masih belum sadarkan diri," ucap Angga. Lalu Sherly kembali menangis dan sang mamah memeluknya dengan perasaan sedih.
"Assalamualaikum Pah, Mah." Alex baru saja tiba, ia mencium tangan kedua mertuanya.
"Apa sudah mendapatkan pendonor mata?" tanya Alex langsung pada Angga.
Angga hanya menggeleng sedih. Tak segampang seperti mendapatkan pendonor darah. Karena menadapat mata harus pada orang yang baru saja meninggal dunia. Itu pun mesti dapat izin dari anggota keluarga yang tanpa ada paksakan.
"Tadi ada salah satu pasien yang meninggal. Papah sudah bicara baik-baik bersama tim dokter lainnya. Kami juga akan membayar berapa yang dia minta. Tetapi anggota keluarga pasien tetep menolak dengan alasan tidak ingin ibunya menjadi mayat tampa anggota tubuh yang cacat. Jadi Papah tidak bisa memaksanya," cerita Angga dengan raut wajah sendu. Alex hanya terdiam mendengarnya.
"Alex akan meminta tolong sama teman Alex di rumah sakit kota sebelah. Semoga ada rezekinya di sana," ujar Alex menghibur. Angga mengangguk dengan penuh harapan.
Alex meregoh kantongnya mengambil handphone. Ia pun menelpon salah satu sahabatnya yang kebetulan adalah anak pemilik rumah sakit kota sebelah.
__ADS_1
"Halo. Tumben lo telpon gue? Ada apa?" tanya sang sahabat.
"Dim. Gue minta tolong," ucap Alex.
"Ah elu, giliran ada maunya aja baru telpon gue," jawab cepat Dimas, sahabatnya Alex yang berupa dokter sekaligus anak pemilik rumah sakit tersebut.
"Gue serius, tolong banget kali ini," ujar Alex dengan nada serius membuat Dimas terdiam.
"Emangnya ada masalah apa? Insyaallah gue pasti bantu," ucapnya. Alex lega mendengarnya. Ia pun menceritakan mengenai ipar keponakannya. Alex pun meminta tolong pada Dimas supaya untuk mendapatkan donor mata di rumah sakitnya.
"Baiklah, nanti gue kabari secepatnya jika sudah mendapatkannya. Tapi lo juga harus kabarin gue jika sudah mendapatkannya supaya gue gak terus mencari," ucap Dimas setuju membatau Alex untuk mendapatkan si pendonor mata dari rumah sakitnya.
"Terima kasih banyak Dim. Tolong secepatnya."
"Hem, gue turut prihatin. Semoga secepatnya keponakan istri lo segera dapatkan pendonor mata."
Alex mematikan sambungan telponnya, lalu kembali menghampiri keluarga yang tengah bersedih sambil duduk di kursi tunggu tersebut.
"Apa sebaiknya abang sama kakak kita kasih tau tentang Adam!" ucap Alex. Kedua orang tua Adam berhak tau apapun alasannya.
"Tapi ...."
"Alex, biarkan mereka di sana dulu sampai mendapatkan pendonor mata 2-3 hari. Jika lebih dari itu barulah kita memberi tahu pada mereka," timpal Sera.
Alex melirik istrinya yang menganggukkan kepalanya pelan. Alex pun menarik nafasnya panjang lalu pasrah.
"Baiklah, Alex hanya khawatir saja sama Adam. Bagaimana jika dia sadar nanti dan mencari di mana kedua orangtuanya. Ia pasti sangat terpukul karena hal seperti ini hanya orang tua yang mampu menyemangati anaknya," ucap Alex. Masalah jalan-jalan ia masih bisa membelikan tiket kembali di lain waktu.
******
Dua hari telah berlalu. Adam masih belum sadarkan diri. Begitu juga dengan pendonor mata yang masih belum mendapatkannya.
__ADS_1
Di kota sebelah. Jaraknya sebenarnya gak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Adam di rawat. Hanya saja sudah beda kota. Di sana Jakarta Selatan, sedangkan di sini Jakarta pusat. Sebab itulah di sebut kota sebelah.
Di rumah sakit itu ada salah satu pasien yang baru saja meninggal dunia akibat usia yang tak lagi muda. Sebenarnya sebelum kepergin pasien tersebut. Dimas sudah berbicara masalah ini pada beliau di detik-detik terakhir nya.
Dimas meminta secara baik-baik, walau mendapatkan pukulan dari si anak paisen yang tidak setuju.
Flashback sebelum ajal menjemput.
"Permisi, bisa saya bicara sebentar?" ucap Dimas sopan pada keluarga pasien.
"Iya, ada apa ya dok?" tanya salah satu lelaki di sana.
"Ehem, perkenalkan. Saya Dokter Dimas, di sini saya ingin membicarakan sesuatu pada kalian terutama pada Ibu," ucapnya. Keluarga di sana kebingungan.
"Sebenarnya saya meminta maaf sebesar-besarnya. Sebenarnya bukan mendoakan, tetapi sebagai analisa kami sebagai dokter. Pasien tidak akan bertahan lama lagi, dan beliau juga tidak akan bertahan hidup jika bukan karena alat bantu medis ini. Dan di sini saya ingin mengatakan, jika seandainya beliau meninggal. Apakah ikhlas mata beliau di donorkan ke pada pasien yang membutuhkan matanya," ucap Dimas sangat sopan dan sangat hati-hati.
Tanpa kata lagi si anak pasien berjenis kelamin laki-laki tersebut langsung memukul wajah Dimas hingga lelaki itu tersungkur di lantai.
"Apa kau gila hah? Kau ingin mendoakan ibu saya cepat meninggal?" ucapnya penuh emosi tak terima. Sang istri menahannya supaya tak lagi memukuli dokter Dimas.
Dimas bangkit di bangtu oleh dokter lainnya.
"Ini bukan mendoakan Pak. Tapi perkiraan dokter jika beliau ...."
"Kalian bukan Allah, kalian hanya mengira saja. Tapi jika Allah maish memberikan umur panjang untuk ibu saya bagaimana? Ini pembunuhan namanya," ucap cepat lelaki itu marah.
" Tapi beliau sudah umur hampir saru abad Pak. Mau panjang umur bagaimana lagi? Apa anda ingin membuatnya menderita?" ucap Dimas berhasil membuat lelaki itu bungkam.
"Sedangkan beliau sudah hampir 1 tahun lebih di rawat di sini. Apa anda ingin membiarkan dia sengsara dengan usianya yang sudah tua? Dengan membiarkan hidupnya menderita dengan alat bantu medis itu?" lanjut Dimas kembali.
Tiba-tiba sang pasien bergerak. Wanita tua itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Dengan cepat Dimas dan anggota keluarga menghampiri.
__ADS_1
Dengan nafas terengah-engah. Tangan tua rentan yang keriput itu menggenggam tangan anaknya.
"A-anton. I-ibu bersedia," ucapnya terbata dengan suara sangat lemah.