Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Kembali ke tanah air


__ADS_3

" Sayang, apa barang-barang kamu cukup cuma segini aja?" tanya wanita cantik itu pada anaknya.


Dira saat ini sedang berkemas barang-barang yang akan ia bawa untuk pulang ke tanah air dimana tempat yang selama ini ia tinggal dan tempat dimana goresan luka di hatinya tercipta. Akan tetapi, ia sekuat tenaga untuk mengubur rasa itu semua hanya karena tidak memiliki lagi tempat tinggal di negara asing. Satu tahun yang lalu ayahnya mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan nyawanya melayang setelah pengobatan semua sudah di lakukan hingga harta benda semuanya habis tanpa sisa.


Setelah tak memiliki apapun lagi di kediaman barunya di Singapura. Dara pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia bersama ibu yang kini tengah depresi akibat di tinggal pergi oleh ayahnya. Dara sangat sedih, tetapi ia tidak ingin menunjukkan semua itu di depan ibu terutama anaknya. Ia harus menjadi wanita yang kuat supaya bisa menjadi untuk sandaran ibu dan anaknya. Tak ada pilihan lain, ia harus bekerja, untungnya rumah di Indonesia tidak di jual saat itu, jadi ia masih ada tempat untuk berteduh saat ini, setidaknya ia masih bersyukur akan hal itu.


"Apa nanti Nicko bisa bertemu dengan Papi ketika kita di sana?" tanya Nicko polos.


Jantung Dara berdetak, rasanya sangat sakit mendengar lontaran anaknya membahas soal papinya. Dara pun menatapnya sendu, ia bingung bagiamana cara untuk menjelaskan pada anaknya tersebut.


"Maaf ya Mi, Nicko janji gak bakalan tanya lagi soal papi. Tapi Mami jangan sedih."


Dara langsung memeluk anaknya, ia sangat beruntung mendapatkan seorang anak yang begitu sangat peka.


"Maafkan Mami ya Nicko, jika Nikco nanti sudah mengerti. Mami bakalan bercerita mengenai papi kamu Tapi tidak sekarang," bujuknya memberi pengertian. Sulit rasanya untuk mengungkapkan kebenaran apalagi pada anak keusia Nicko yang masih belum mengerti apa-apa.


"Iya Mi, yaudah yuk kita berangkat," ajaknya. Dara mengangguk lalu menghampiri ibunya.

__ADS_1


"Mah, aku kita pulang. Pulang ke rumah lama kita," bujuk Dara pada ibunya, Liana.


"Dimana Papah kamu? Kenapa lama sekali mandinya," tanya Liana masih tak bisa menerima kenyataan jika suaminya itu sudah tiada. Sungguh rasanya sangat sakit Dara melihat keadaan ibunya, ingin ia berteriak, menangis, tetapi tidak mungkin ia lakukan, ia harus kuat.


"Papah sudah tenang di sana, sebab dari itu ayo kita pulang supaya papah tidak sedih." Dara berusaha membujuk.


"Omah, nanti opah marah loh kalau kita telat. Bisa jadi Opah sudah menunggu kita." Kini giliran Nicko yang membujuk, lelaki berusia 5 tahun itu menggenggam tangan wanita yang rapuh itu.


"Kamu benar, opah sekarang mungkin sudah menunggu. Ayo kita berangkat sekarang!" Dengan semangat Liana berlari menuju mobil.


Dara hanya menatap sedih sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


Dara tersenyum lalu memeluk anaknya erat. "Berbohong demi kebaikan tidak apa, Allah pasti mengerti," ucapnya lalu mengajak Nicko menyusul Liana yang kini sudah menunggu di dalam mobil.


Sebelum masuk ke mobil, Dara menoleh pada rumah yang sudah di jual tersebut. Dimana sudah memberikan kehidupan untuk beberapa tahun bersama ibu dan ayahnya. Sangat sedih mengingat kenangan indah yang selama ini ia harapkan untuk berkumpul bersama keluarga. Tetapi, takdir berkata lain.


"Selamat tinggal, ayah ...."

__ADS_1


****


Pesawat mendarat dengan selamat, Dara menghembuskan nafasnya panjang, sudah 5 tahun ia meninggal Indonesia. Dan sekarang kini ia kembali, apa kehidupan seperti dulu sudah berubah. Mengingat akan kisah dulu membuatnya tersenyum rindu pada kedua sahabatnya. Tetapi senyum itu hilang seketika setelah melihat seseorang melintas dalam benaknya.


"Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya ... mari buka kehidupan baru bersama ibu dan Nicko di kota ini. Fokus pada tujuan, kerja menghidupi keluarga!" Tekad bulat Dara sambil mengepal tangannya menyemangati diri sendiri.


"Mah, apa jemputan kita sudah datang?" tanya Nicko yang sudah merasa lelah.


"Kita naik taksi sayang, sabar ya." Dara mengusap kepala anaknya dengan senyum memberi semangat.


"Kamu tunggu di sini sebentar sama omah ya, Mamah mau cari taksi dulu." Nicko mengangguk. Dara pun memanggil taksi.


Sementara itu, seoarang laki-laki berjalan sambil memainkan hpnya sehingga jalanan tidak terlalu lalu fokus bahkan sampai-sampai dirinya menabrak seseorang.


"Om kalau jalan itu pake mata dong, jangan pake kaki!" Suara seorang anak kecil membuat lelaki itu membungkuk.


"Apa kamu terluka? Maaf ya tadi Om gak sengaja," ucapnya sambil mengusap kepala anak kecil itu.

__ADS_1


"Eh, kenapa wajahnya gak asing ya?" batin lelaki itu menatap lekat wajah anak kecil tersebut.


__ADS_2