Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, indah bulan madu


__ADS_3

"Sayang aku pulang," teriak Alex, dan langsung mengangkat tubuh istrinya dengan perasaan gembira.


"Akhirnya, selesai sudah pekerjaan ku di sini sayang. Kini waktunya kita menikmati bulan madu kita," lanjut Alex senang.


"Kyaaaa, Mas Alex turunin aku," pekik Sherly takut karena Alex memutar tubuhnya cukup kencang.


"Besok kita bisa menikmati waktu hanya berdua saja sayang, tanpa ada pekerjaan tanpa ada yang menggangu kita. Berduaan di kamar selama beberapa hari, ah rasanya tak ingin pulang lagi," ucap Alex dengan senyum nakalnya.


Sherly bergidik negeri melihatnya, mengerti maksud dari senyuman itu. Habis lah sudah, bisa-bisa dirinya tidak akan bisa bangun dari tempat tidur akibat tengkraman dari binatang yang sudah menjadi buas dan liar.


"Nggak mau, pokonya aku gak mau jika hanya berdiam di dalam kamar aja. Katanya udah janji mau ngajak aku jalan-jalan," ucap Sherly menolak. Masa jauh-jauh datang ke Jepang hanya diam di dalam kamar saja. Sedangkan selama di sini ia sudah sangat bosan masa mau di tambah lagi, mending ia gak usah ikut kalau tau begitu.


"Benar, tapi dengan satu syarat!" ucap Alex.


"Kok malah nawar sih, pake syarat segala," cemberut Sherly.


"Iya dong, syaratnya kamu harus bisa membuat si Ucok merasa puas malam ini. Jika si Ucok merasa puas kota akan jalan-jalan seharin full. Tapi kalau tidak, jalan-jalan nya cukup 2 jam saja, gimana? Deal?" ucap Alex dengan liciknya.


"Ih dasar nyebelin." Sherly memukul lengan suaminya.


"Mau gak?" tawar Alex licik.


"Dasar licik, mesum."


"Deal ...."


Sherly mengerucutkan bibirnya sebel." Iya, deal," ucapnya gak ikhlas.


Alex menyeringai, ia mengecup bibir istrinya yang manyun itu.


"Kyaaaa, Mas Alex apa yang kamu lakukan," teriak Sherly.


Setelah mengecup bibir Sherly, Alex langsung menggendong istrinya itu layaknya karung beras.


"Kita mulai dari sekarang, dengan mandi bersama," ucap Alex dengan tawa yang menggema.


"Dasar mesum, curang." Sherly terus berontak namun Alex hanya tertawa saja sambil terus melangkah menuju kamar mandi.


Setalah berada di dalam kamar mandi, Alex menurunkan Sherly tepat di bawah shower lalu menyalakan nya tanpa membuka pakaian terlebih dahulu.


"Ya Allah Mas, baju ku basah," pekik Sherly heran dengan suaminya itu.


Alex seakan tuli, ia malah menatap istrinya lekat. Memandangnya dari ujung kaki ke ujung kepala. Dengan baju yang tipis, terkena guyuran air membuat lekuk tubuhnya berbetuk dan menjadi transparan membuat Alex menelan ludahnya.


Alex memepetkan tubuhnya.


"Sayang kamu cantik sekali, bahkan lebih cantik dari bidadari," puji Alex dengan pandangan mata tak luput dari tubuhnya yang terlihat nampak seksi.


Wajah Sherly sudah merona, siapa yang tidak senang di puji. Apa lagi dengan suami sendiri, rasanya ingin melayang di udara.


"Kamu bisa aja Mas," ucap Sherly malu-malu.


Alex mengangkat dagu istrinya lalu mengusap lembut bibir ceri itu dengan ibu jari kemudian ia kecup, **** dan mengulumnya.


Sherly hanya bisa pasrah, kedua tangannya ia kalungkan ke leher suaminya dan saling membalas kecupan itu.


Setelah puasa bermain di bibir, Alex berpindah ke sisi leher yang yang nampak putih.


"Akh, Mas." Suara indah Sherly semakin membangkitkan gairah Alex. Lelaki itu merobek baju Sherly dengan paksa.


"Mas, kok di robek sih?" pekik Sherly Karena baju tidur kesayangan sudah menjadi belah dua. Tetapi Alex tak peduli, ia lebih memilih menghisap pucuk gunung kembar yang lunak itu dengan lahap dengan tangan yang sudah menyeludup masuk ke celana dan mengobak-abik bagian Saba hingga Sherly kembali bersuara.


Setelah puas dengan tangan, Alex memandangi istrinya yang kini sudah lemas karena sudah mencapai puncak hanya dengan tangannya saja. Alex tersenyum puas. Ia pun melepaskan pakaiannya hingga keduanya sama-sama sama-sama polos masih di posisi sama yaitu berdiri di bawah guyuran air shower.


"Apa kita berdiri?" tanya Sherly.


"Ya, kita coba gaya ini ya," ucap Alex lalu mengangkat sebelah kaki Sherly dan ia naikan ke pahanya kemudian giliran si Ucok yang memainkan perannya.


"Mas, kakiku pegel," keluh Sherly merasakan keram pada kakinya akibat kelamaan berdiri dengan hanya menggunakan satu kaki.


"Maafkan aku, kita ganti gaya lain ya," ujar Alex mencabut singkongnya. Lalu menyuruh Sherly menghadap ke tembok dengan sedikit membungkukkan setengah badannya dan ia kembali memasukkan si Ucok dari belakang.


Sherly hanya bisa pasrah, ia hanya bisa menikmati apa yang di lakukan oleh suaminya itu. Dengan tubuh yang gemetar Sherly mengerang sambil menyebut nama Alex pertanda ia mencapai puncak lagi.


"Lemes Mas," adu Sherly yang sudah tak sanggup lagi berdiri, kedua kakinya gemetar hebat.


Alex tersenyum, lalu ia kembali mencabut singkongnya.


"Woy, di cabut melulu. Lagi enak-enak nya nie," protes si Ucok kesal karena tak sabaran.

__ADS_1


Alex menggendong Sherly membawanya masuk ke dalam bak mandi. Ia menduduk kan Sherly di atas pangkuannya menyuruhnya untuk menyenangkan si Ucok.


Sherly lagi-lagi pasrah. Ia menggoyang-goyangkan pinggulnya, maju mundur cantik. Naik turun tangga eskalator. Hingga si Ucok terus berteriak ala tukang parkir. "Terus, terus. Maju, maju. Mundur, lagi, ya mundur lagi dikit. Terus mang jangan di stop!"


Karena Alex meminum jamu pemberian papah Bagas. Acara ritual mantab-mantab pun berlangsung lama hingga 2 jam berada di kamar mandi.


"Mas, apa masih lama?" tanya Sherly. Bibir nya sudah membiru akibat kedinginan. Alex melihatnya tak tega namun si Ucok masih saja bertahan.


"Maaf kan aku sayang, aku gerak cepat ya supaya cepat muntah si Ucok nya," ujar Alex. Dan ia pun memomoah dengan kecepatan hingga muntahan Ucok keluar ke rahim Sherly berharap segera tumbuh kecebong-kecebongnya di sana.


Setelah beristirahat sejenak di dalam bak mandi, Alex dan Sherly yang masih terengah-engah nafasnya mereka. Keduanya mandi bersama saling membersihkan diri. Namun tetep saja tangan nakal Alex masih pengang si kembar itu.


"Mas, kondisi kan tangan mu napa. Istirahat dulu, kasih nafasnya kek," kesel Sherly sambil memukul tangan yang nakal itu.


"Bukan aku sayang, tapi tangan aku loh yang melakukannya," bantah Alex.


"Modus," ketus Sherly lalu keluar dari bak mandi lebih dulu.


"Astagfirullah, pinggang ku sakit. Kakiku juga, lemes banget." Ingin melangkah, nyatanya tidak sanggup sangking lemes kakinya itu. Sherly terduduk di lantai kamar mandi.


Dengan cepat Alex keluar dari bak mandi mengambil handuk dan ia lilitkan ke pinggangnya. Kemudian Alex mengambil kan handuk untuk istrinya yang belum sempat di ambil oleh Sherly. Alex membalut tubuhnya lalu menggendongnya.


"Duduklah di sini, biar aku yang mengambilkan baju untuk mu," ujar Alex, Sherly mengangguk.


Setelah selesai berpakaian, Alex mengambil handuk kecil lalu ia menyuruh istrinya duduk di atas pangkuannya.


"Duduk sini, biar aku mengeringkan rambut mu," perintah Alex. Sherly patuh.


Dengan lembut Alex mengeringkan rambut istrinya.


"Rambut kamu lembut banget, wangi lagi," ujar Alex." Jangan di potong ya, biarkan panjang saja seperti ini, aku suka."


Sherly mengangguk pelan. Ia tersenyum senang.


Setelah selesai mengeringkan rambut. Alex mengajak istri berbaring di tempat tidur menjadikan lengannya bantal untuk kepala istrinya supaya ia dapat memeluknya erat.


"Kamu pasti lelah ya?" tanya Alex.


"Hem, lelah plus ngantuk," jawab Sherly sambil membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.


"Tidur lah, di pelukan ku. Supaya nanti jika tengah malam Ucok minta tambah, kamu udah gak lelah lagi," ucapnya sambil menahan senyumnya.


Mentari pagi sudah bersinar cerah. Sherly rasanya tak dapat menggerakkan badannya. Lemas, lesu, kurang tidur hingga kedua kantung matanya berwarna hitam seperti panda akibat Alex lagi-lagi meminta tambah bahkan sampai 5 ronde. Mana setiap maen lama. Gimana gak remuk nie badan, ia hanyalah manusia biasa bukan?


"Mas, pinggang ku sakit. Kalau begini mah mana bisa jalan-jalan hari ini," keluh Sherly mewak.


"Kasihan istri ku, sini aku pijitin ya," ujar Alex merasa kasihan. Ini semua salah Ucok.


"Salahin aja terus," jawab Ucok sinis.


"Nggak ah, nanti kamu malah grepek-grepek lagi," tolak Sherly menatap curiga. Pijit plus-plus akan menambah sakit pada pinggang nya.


"Yaelah, seuzun aja kamu. Aku juga mana tega sayang, sini deh benaran aku pijitin. Aku gak bakalan boong," ujar Alex meyakinkan.


"Baiklah, pijitnya yang benar ya."


Sherly menengkurep kan tubuhnya. Alex begitu pelan memijit pinggang Sherly.


"Enak Mas, kok kamu bisa pijit sih?" tanya Sherly.


"Bisa lah, apa sih suami mu ini yang gak bisa?" jawabnya sombong. Sherly memutar bola matanya malas.


"Gimana, udah enakan 'kan?" tanya Alex.


"Hem, udah mendingan lah. Oh iya jangan lupa kaki ya Mas, pegel juga nie. Dan habis itu tangan juga ya," ujar Sherly ngelunjak.


" jiiiaah, di kasih hati malah minta jantung. Untung cinta," gumam Alex, Sherly hanya bisa menyengir kuda.


*****


Siang harinya, badan sudah mulai enakkan. Alex mengajak Sherly keluar dari hotel sesuai janjinya untuk mengajak istrinya itu jalan-jalan sampai puas.


Sherly dapat udara segar ia sangat bahagia, rasanya seperti baru keluar dari penjara.


"Em, segernya." Sherly menghirup udara segar di kota Jepang.


Ia memperhatikan orang-orang yang banyak berjalan kaki di bandingkan menggunakan kendaraan.


"Kita mau kemana dulu nie Mas?* tanya Sherly.

__ADS_1


"Mau ke tempat bunga Sakura?" tanya Alex.


"Hah, Sakura? Mau-mau, mau pake banget Mas, ayo kita ke sana," ujar Sherly semangat tak sabaran sambil menarik tangan suaminya.


Alex hanya bisa tersenyum melihat raut wajah senang istrinya itu.


Saat dalam perjalanan, kedua bertemu dengan Takasi dan juga Sasuke.


"Eh, Tuan Takasi?" sapa Alex.


"Hey, wah kalian mau jalan-jalan ya," jawab sambil menatap Sherly. Alex langsung merangkul istrinya posesif.


"Di larang pandang-pandang istri orang," ucap Alex sinis menutupi wajahnya istrinya.


"Pandang boleh kali, merebut baru gak boleh," jawab Takasi santai. Alex langsung melotot tajam. Dan Takasi tertawa.


"Canda, CK. Dasar suami posesif," ejeknya.


"Tentu saja, apa lagi pada orang yang tadinya mau jadi pembinor," sindir Alex ketus.


"Kan sudah taubat, gimana sih. Dahlah pergi sana, nikmati bulan madu kalian, hotel akan saya perpanjang bayaran nya anggap saja sebagai hadiah," ucap Takasi berlalu sambil melambaikan tangan.


"Terima kasih Tuan, semoga cepat mendapatkan istri," teriak Alex.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka sambil bergandengan tangan.


Takasi menoleh arah mereka, ia merasa iri melihat suami istri itu bergandengan tangan dengan mesrah. Bahkan terlihat aura love-love pada keduanya.


"Tuan, apa sebaiknya kita pergi makan saja. Saya laper," ucap Sasuke. Namun Takasi tidak mendengar, ia terus memandang punggung Alex dan Sherly yang mulai menjauh.


"Kapan tangan ku di gandeng oleh seseorang yang tulus sama aku seperti itu ya?" ujar Takasih sedih. Kebanyakan wanita merangkul lengan nya saat berjalan seakan tak mau lepas. Terlihat jelas jika itu tidak tulus.


"Tenang Tuan, masih ada saya yang akan menggandeng tangan Tuan," ujar Sasuke menggenggam tangan Takasih tulus.


"Sasuke apa yang kamu lakukan? Menjauh lah dari ku, iuh ... geli banget," teriak Takasi sambil mengibar-ngibaskan tangan nya merasa geli di pegang-pegang oleh Sasuke.


"Saya kan normal Tuan, saya menggenggam tangan Tuan untuk mengatakan jika saya akan selalu setia dan tulus berada di samping Tuan. Mau duka, mau pun suka," ucapnya tulus.


"Ya tapi tetep aja jangan pegang-pegang. Nanti orang berpikir yang bukan-bukan bodoh," omel Takasi.


Sasuke hanya menghela, selalu saja salah.


"Darling," panggil seseorang. Sasuke dan Takasi menoleh.


"Hanny, kamu ngapain di sini?" tanya Sasuke pada pacarnya.


"Habis jalan-jalan sama teman-teman aku, kamu mau aku kenalin sama mereka?" tanyanya


"Boleh deh."


"Ayo." Pacar Sasuke menarik tangannya dan meninggalkan Takasi yang bengong menatapnya.


"Woy bencong, lo bilang bakalan setia sama gue dalam keadaan apapun. Nyatanya sekarang lo malah ninggalin gue sendirian, dasar gak setia lo," kesal Takasi. Bisa-bisa ia di tinggal. Dan bete tambah bete pula sekarang.


Takasi menendang botol bekas ke sembarang arah.


"Woy, kalau buang sampah liat-liat dong," teriak seseorang.


"Salah sendiri kenapa berdiri di depan tong sampah," jawab Takasi santai.


"Dah salah nyolot lagi, baju gue kotor nie," ucapnya marah.


Takasi tak menjawab, ia mengeluarkan dompet dari kantong lalu mengambil lembaran uang dari dalam dompet.


"Lo butuh ini kan, nie ambil," ucapnya sombong sambil memberikan segepok duit mata uang Jepang ke tangan gadis itu


Gadis itu tersenyum dingin lalu menatap Takasi.


"Nie makan tuh duit. Gue gak butuh duit lo, yang gue butuh kata maaf dari lo," ucap gadis itu sinis menunjuk dada Takasi, menatapnya tanpa rasa takut apa lagi terpesona seperti gadis pada umumnya.


"Woy, lo jangan kurang ajar ya sama tuan gue." Sasuke datang-datang langsung mencengkram tangan gadis itu kuat.


Buag ... tanpa kata, gadis itu menendang perut Sasuke dengan dengkulnya.


"Ck, dasar gila. Kalian berdua itu sama, sama-sama gak punya etika, menyebalkan!" ucap gadis itu sinis lalu pergi begitu saja tak peduli dengan Sasuke yang meringkuk kesakitan.


"Gadis sialan, awas kau," ucap Sasuke kesal.


"Keren, gadis seperti dia tipe gue. Cocok nie buat di jadikan istri, gak suka duit pula ... Sasuke lo harus culik dia dan bawa ke gereja langsung, dan suruh Naruto sama Kamaru menyiapkan pernikahan kami hari ini juga," perintah Takasi seenaknya jidat.

__ADS_1


"Apa? Menikah!"


__ADS_2