Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, kontraksi


__ADS_3

Alex bergegas masuk ke mobil dan menghidupkan nya.


"Sabar ya sayang, kita ke rumah sakit sekarang," ucapnya panik.


"Eh, mana orangnya?" Alex baru sadar seketika menoleh arah samping dan ternyata kosong melopong tak ada siapapun di sana.


"Loh, sayang kamu di mana? Jangan main petak umpet deh. Katanya mau melahirkan." Alex malah bergurau, baka ia mencari di bagasi mobilnya siapa tau istrinya itu main petak umpet di dalam sana.


Sementara itu, Sherly yang berteriak memanggil bi Ira karena sangat tak kuat menahan rasa sakit ketika kontraksi.


"Bi, Bi Ira tolongin Lily," ujarnya sekuat tenaga. Masih bisa bergerak, bahkan berjalan. Hanya saja rasa sakit kontraksi itu luar biasa nikmatnya.


"Astagfirullah, Mbak Lily mau melahirkan?" bi Ira bergegas menghampiri kamar Sherly setelah mendengar namanya di panggil.


"Iya Bi, tapi malam di tinggal sama suami sableng itu," ujarnya mengadu.


"Oh, jadi Mas Alex lari buru-buru tadi ngapain sambil bawa-bawa tas?" tanyanya.


"Entahlah, suami sableng namanya juga. Bukanya istri yang di bawa malah tas. Menyebalkan, astagfirullah." Sherly merasakan kontraksi lagi.


"Sakit lagi Mbak?" tanya bi Ira melihat Sherly sedang menahan dengan mengigit bibir bagian bawahnya.


"Sampai berapa lama sih Bi rasa sakit ini berhenti?" tanya Sherly mengatur nafasnya.


"Sampai bayinya lahir Mbak," jawab bi Ira yang kini sedang mengelus-elus pinggang Sherly agar rasa sakitnya berkurang.


"Lalu kapan bayinya lahir Bi? Rasa sakit ini sudah lumayan lama aku rasakan, bahkan dari kemaren," ucapnya.


Bi Ira tersenyum dengan tangannya yang masih terus mengelus pinggang istri dari majikannya itu dengan lembut.


"Kalau bukaan sudah memasuki 10, nah sekarang ini Bibi gak tau Mbak Lily sudah memasuki bukaan berapa."


Sherly kembali meringis, rasa sakit itu kembali ia rasakan.


"Sakit, Bi," keluhnya hendak menangis.


"Yang sabar ya, setiap wanita akan mengalami hal yang serupa pada saat hendak melahirkan. Namun semuanya akan mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah dan banyak pahala sebagai balasannya," ucapnya menyemangati Sherly.

__ADS_1


Sherly menengguk mencoba untuk tenang dan sabar dengan rasa sakit yang sangat luar biasa ini.


"Bi, Bi Ira." Alex berteriak memanggil ART rumahnya.


"Tuh suara Mas Alex, baru nyadar rupanya kalau bini gak di bawa," ujar bi Ira. Sherly menghela nafasnya sambil geleng-geleng dengan kelakuan suaminya itu.


"Bibi tak turun ke bawah dulu ya Mbak," pamit Bi Ira, Sherly mengangguk.


Bergegas bi Ira keluar dari kamar dan menghampiri Alex yang masih memanggil namanya itu.


"Ada apa Mas?" Bi Ira pura-pura tidak tahu.


"Liat istri saya?" tanya Alex." Tadi katanya mau melahirkan, tapi waktu di dalam mobil malah gak ada orangnya? Bisa-bisanya dia main petak umpet dalam keadaan perut besar," ucap Alex, antara polos atau bodoh.


Dan itu membuat bi Ira ingin sekali membelah kepala majikannya itu dan melihat ada apa sebenernya isi di kepalanya itu. Kenapa begitu sableng nya kok tak tertulungan.


"Orang mau melahirkan kok bisa-bisa nya kamu bilang main petak umpet yo toh Mas, Mas," ujar bi Ira geleng-geleng Kepala.


"Ya habisnya Lily gak ada Bi, aku udah bawa dia ke mobil tadi, tapi malah ilang kayak di telan bumi tanpa jejak," sahutnya yang ternyata masih belum menyadari kesalahannya.


"Noh, Mbak Lily ada di kamar sambil menahan rasa sakitnya," ujar bi Ira menunjuk kamar Alex dan Sherly.


Alex melihat arah pintu kamarnya dengan kening di kerutkan.


"Loh, kok malah balik lagi ke kamar? Gimana sih? Jadi mau lahiran gak sih?" heran Alex.


Astagfirullah, kok ada yo manusia kayak Alex. Benat-benar dah bikin darah tinggi, untung Sherly gak denger, coba kalau ada. Bisa-bisa brojol langsung tuh bayi.


"Kan Mas Alex gak bawa mbak Lily toh. Yang Mas Alex bawa tadi itu cuma tas Mas. Tas!" ujar bi Ira mengingatkan.


"Hah? Apa iya Bi." Alex pun garuk-garuk kepalanya tidak ingat. "Perasaan tadi yang aku bawa Lily deh, kok bisa berubah tas ya?"


"Jangan main perasaan Mas, perasan itu bisa menyakitkan hati. Mending liat aja sono, dari pada di amuk loh ntar, Bibi mah gak ikut-ikutan ya."


Bi Ira pun berlalu meninggalkan Alex yang masih kebingungan. Bi Ira berinisiatif untuk menelpon keluarga Alex dan Sherly tanpa harus di suruh.


Sedangkan Alex melangkah menuju kamar nya, dan benar saja jika sang istri ada di dalam kamar sambil selonjoran dengan wajah meringis menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku. Aku ...."


"Dah lah Mas, cepat bawa aku ke rumah sakit. Udah gak tahan banget ini," ucap nya cepat memotong ucapan Alex karena malas berdebat.


"Gak tahan kenapa?" tanya Alex dengan tampang bodohnya.


Sherly mencari sesuatu benda yang keras supaya bisa menumpuk kepala suaminya itu.


"Jangan bercanda Mas. Cepat bawa aja aku ke rumah sakit," kesel Sherly mencoba untuk menahan sabarnya.


"Sekarang?"


Astagfirullah, taubat ya Allah gusti. Pisau mana pisau. Sabar, sabar anggap aja ini ujian dari orang sableng.


"Astagfirullah Nak, nanti kamu jangan ikut-ikutan kayak Papah kamu ya, bisa darah tinggi lama-lama Mamah nanti," ucapnya sambil mengelus perutnya.


"Bi, Bi Ira." Teriak Sherly.


"Ya Mbak."


"Tolong bawa kepala Mas Alex ke dalam oven Bi. Biar otaknya itu cair," perintah Sherly kesal melirik sinis suaminya yang masih dengan gampang bodohnya.


******


Setelah adegan tak penting tadi susah di lewatkan. Kini Sherly berada di dalam ruangan persalinan. Anggota keluarga sudah hadir di sana untuk memberikan semangat pada Sherly yang akan melahirkan secara normal.


"Mah, sakit Mah," ucap Sherly, kini bahkan air matanya sudah mengalir deras. Rasa sakit itu semakin kian menyakitkan tubuhnya bagikan seluruh tulang-tulang nya patah.


"Sabar ya sayang, tidak lama lagi anak kamu akan segera lahir. Dan rasa sakit ini tidak akan terasa lagi," ucap Sera lembut sembari mengelus pucuk kepala anaknya dengan wajah tersenyum seolah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.


"Mah, Lily minta maaf jika punya salah. Lily mohon doa Mamah supaya Lily di lancarkan seketika melahirkan," lirihnya memohon maaf.


"Mamah sudah memaafkan semua kesalahan Lily, Lily adalah anak yang baim dan kuat. Lily pasti bisa untuk berjuang demi anak kamu yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu. Kamu pasti bisa," jawab Sera. Ia memberikan semangat pada anaknya.


"Insyaallah Mah, jika Allah mengizinkan Lily untuk terus bersama anak Lily. Tetapi jika Allah lebih sayang Lily dan memanggil Lily lebih dulu, Lily harap Mamah mau membantu Mas Alex untuk merawat anak Lily ya."


Jantung Alex rasa seperti di sambar petir mendengar lontaran Sherly yang seakan mengatakan perpisahan. Alex menolak keras andai itu terjadi, bagaimana dirinya bisa hidup tanpa istri yang ia cintai di hidupnya. Alex menggeleng cepat. Lalu langsung menghampiri Sherly dan memandanginya dalam.

__ADS_1


__ADS_2