Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, tabrakan


__ADS_3

Satu bulan kemudian. Kini Adam sudah mulai kembali kuliah walau belum di kasih izin mengemudi seorang diri. Adam ke kampus atau kemana pun ia selalu memesan taksi online.


Di lain tempat. Saat ini Sherly sedang menghampiri kedua sahabatnya yang nampak sedang bersedih. Apalagi pada Yura, Sherly pun menyipitkan matanya menatap sahabatnya itu.


"Lo kenapa?" tanya Sherly pada Yura.


Yura mendongak. Lalu ia mewek menatap Sherly.


"Sapu tangan kesayangan gue ilang," ucapnya sedih.


"Kok bisa? Lo udah cari di kamar lo?" tanya Sherly. Barang kesayangan seperti itu tak biasa hilang.


"Udah gue obrak-abrik sampai-sampai nyokap marah ma gue. Tapi sapu tangan gue tetep gak ketemu." Yura mengacak rambutnya prustasi.


"Udah sih, lagian cuma sapu tangan ini. Nanti beli lagi kan bisa," sahut Dara yang sudah bosan mendengar keluhan sahabatnya itu yang seolah kehilangan harta paling berharga.


"Nggak bisa, sapu tangan itu sangat penting buat gue. Itu hadiah dari nenek gue taun lalu. Dan sekarang dia udah gak ada, hanya sapu tangan itu satu-satunya benda berharga kenang-kenangan nenek buat gue. Setidaknya kalau gue rindu nenek gue masih bisa liat sapu tangan darinya. Tapi sekarang udah hilang, apa karena nenek juga udah gak ada makanya sapu tangan itu juga ikutan gak ada," ucap Yura panjang lebar sembari menangis.


Kenang-kenangan dari sang nenek juga hilang. Kalau ia rindu pada neneknya bagiamana?

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya. Nanti kita cari pelan-pelan ya, siapa tau ketemu kalau di cari bersama," ucap Sherly menghibur. Yura pun mengangguk.


"Lo mau ikut juga kan Dara!" kata Sherly.


"Iye," jawabnya singkat. " Gue mau ke toilet dulu ya, kalian duluan aja masuk," ucapnya, lalu bergegas pergi menuju toilet kampus. Sedangkan Sherly dan Yura berjalan menuju kelas mereka.


Dara berjalan sambil memainkan hp nya sehingga tanpa sadar ia bertabrakan dengan seseorang.


"Woy, kalau jalan itu pakai mata dong," omel Dara kesal. Ia belum melihat siapa yang menabrak dirinya.


"Salah, kalau jalan itu pakai kaki buka mata," jawab orang itu.


Dara pun mendongak. Kemudian expresi wajahnya semakin kesal setelah melihat siapa orang di hadapannya.


Orang itu menghela napasnya.


"Sorry," ucapnya pelan.


"What's? Gak salah denger nie gue. Lo benaran minta maaf?" Dara benar-benar tak percaya jika orang di hadapannya ini akan meminta maaf. Padahal sangat jelas jika orang itu terkenal tidak pernah meminta maaf walaupun salah.

__ADS_1


"Ah, dasar bodoh. Lo kan udah taubat ya, gara-gara di tinggal nikah ma sahabat gue," ejek Dara sambil tersenyum mengejek.


Devan yang mendengar itu hanya terdiam. Dara pun tertegun melihat ke bungkaman Devan yang tak membalas ucapannya sama sekali.


"Dah lah, gak penting juga." Dara pun cepat-cepat pergi. Sedangkan Devan hanya menghela nafasnya panjang kemudian melangkah pergi juga.


"Tu cowok kenapa beda banget sekarang. Semenjak Sherly nikah dia jadi anak yang pendiam," gumam Dara memikirkan perubahan Devan. Bahkan bukan hanya dirinya sebenarnya. Seluruh kampus pun sama.


"Tapi kalau dia gak jadi anak tengil, kalem begitu bagus juga. Kurma memang berlaku, syukurlah." Dara masuk ke WC.


Setelah beberapa saat ia pun keluar, dan di saat sedang berjalan. Lagi-lagi ia tabrakan dengan seseorang.


"Aduh, gila ye. Sial banget sih gue pagi ini," omelnya kesal sambil mengusap lengannya yang tertabrak dengan seseorang tadi.


"Eh ...." Dara memungut sesuatu di lantai.


"Kenapa sapu tangan ini ada sama Lo?" tanya Dara menatap orang itu.


"Kamu tau sapu tangan ini?" orang itu justru bertanya balik.

__ADS_1


"Iyalah, gue tanya sama lo. Kenapa sapu tangan ini bisa sama lo?" Dara kembali bertanya.


"Apa sapu tangan ini punya kamu?' tanya dengan serius.


__ADS_2