Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, menyesal


__ADS_3

"Aku brengsek? Lalu kau apa?" Tanya balik Alex santai dengan senyuman remeh menatap Devan.


"Kau memang brengsek om, dia pacar aku. Teganya kau merebutnya dariku!" Devan semakin kesal, ia kembali memukul Alex hingga lelaki itu tersungkur di lantai.


Ratna hanya bisa teriak berhenti sambil menangis. Sedangkan Bagas mencoba menghentikan.


"Devan berhenti ....' bentak Bagas. Devan yang hendak melayangkan tinjuan nya ke waja Alex pun langsung berhenti.


"Dia yang salah Opah, dia sudah merebut Sherly!" bantah Devan.


"Apa tidak bisa bicara baik-baik? Apa kau seorang jagoan, preman?' bentak Bagas lagi pada Devan.


"Kenapa Opah menyalahkan Devan? Dia yang salah, kenapa kalian justru membela pada orang yang salah." Balas Devan berteriak emosi.


" Itu karena kau jauh lebih brengsek dari aku Devan. seharusnya kau sadar diri mengapa Sherly lebih memilih ku dari pada dirimu! Kau tega-teganya mempermainkan perasaan nya, ikut taruhan demi sebuah motor. Apa kau pikir kau bukan seorang bajing yang pantas dia pertahankan?" Sahut Alex menimpali membuat Devan bungkam.


"Apa benar kamu melakukan itu Devan?" tanya Ratna. Devan masih bungkam dengan wajah tertunduk.


"Jawab, Devan. Apa kau menjadi orang yang bisu sekarang?" lanjut Ratna menatap tajam, ia tidak menyangka jika cucunya berbuat jahat seperti itu. Pantas saja Sherly marah, karena ia juga sangat marah mendengar nya.


Plaaaaak... Karena emosi, Ratna pun menampar cucunya tersebut.


"Kau memang pantas mendapatkan ini, tidak usah marah-marah. Di sini kau yang salah, bahkan jika Omah menjadi Sherly. Omah akan melakukan hal yang sama, kau laki-laki brengsek!" omel Ratna, tidak peduli jika anaknya nanti marah padanya karena sudah berani memarahi Devan. Namun ia tidak akan berpihak pada orang yang salah. Devan pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya agar tidak lagi melakukan semena-mena lagi pada perempuan.


"Alex dan Sherly sebentar lagi akan menikah, keputusan ini sudah bulat. Kamu jangan coba-coba untuk mengacaukannya. sebaiknya kamu pulang, renungi kesalahan kamu, dan ikhlas lah Sherly untuk om kamu, karena dia lebih pantas untuknya dari pada kamu!"


Devan hanya menatap sendu omahnya, tidak bisa berbuat apapun sekarang ini. hanya penyesalan yang ada dalam dirinya. mengapa ia lakukan itu dulu, tergiur oleh motor dan pergaulan bebas hingga kini ia harus kehilangan wanita yang penting dalam hidupnya.


"Anggap ini sebagai pelajaran buat kamu Devan. Jangan ulangi lagi perbuatan tak terpuji itu pada wanita manapun. mereka bukan barang, apa lagi sebuah permainan. mereka tidak pantas di sakiti, apalagi tak di hargai. Ingatlah dari mana kau lahir?Hanya wanita yang bisa melakukan itu. Tidak ada wanita, maka kau tidak akan lahir di dunia ini, camkan itu!" Nasehat Bagas menepuk pundak cucunya.


Devan hanya tertunduk malu plus sedih. Yang tak pernah ia bayangkan kini terjadi dalam hidupnya. Mengapa begitu sakit, banyak wanita yang sudah ia permainan kan hatinya, namun tak sampai sesakit ini. Sherly memang wanita yang berbeda, ia akui itu sebab itulah ia jatuh cinta padanya, hanya saja tidak mau mengakui saat masih bersamanya.

__ADS_1


Devan menyerat kakinya dengan susah payah hendak pergi dari rumah omah nya.


"Devan." Alex memanggilnya hingga langkah itu terhenti namun tak berbalik.


"Sherly sangat mencintai mu. Hanya saja ia terlalu kecewa dan sakit hati atas perbuatan mu padanya sehingga ia memutuskan untuk menikah dengan Om. Om harap kamu bisa menerima ini semua, dan Om berjanji untuk membahagiakannya memberikan yang terbaik untuknya, menjaga dan melindunginya." Alex meyakinkan Devan jika dirinya pantas untuk menjadi suami Sherly.


"Semoga kamu dapat mengambil hikmahnya." Kemudian pergi meninggalkan Devan yang hanya diam mematung dengan seribu tusukan di hatinya, sakit rasanya ternyata namun tak berdarah.


Devan melajukan motornya dengan kecepatan. Penyesalan tidak dapat mengubah apapun, ini salahnya. Ia memang pantas mendapatkan ini semua, kehilangan yang berarti dalam hidupnya. Mungkin ini yang di namakan karma yang memang berlaku, bukan hanya sekedar mitos.


"Alex ...." Ratna menatap kepergian Devan, ia sedikit khawatir. Takut Devan kenapa-napa di jalan.


"Tidak apa? Devan sudah dewasa, Alex yakin dia tidak akan melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri. Dengan kejadian ini, harap dia bertaubat tidak lagi menjadi lelaki brengsek ke setiap wanita.'


Ratna hanya mengangguk penuh harapan, cucunya itu masih labil, masih ingin bermain-main tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang telah di tersakiti, terutama kaum wanita yang menjadi korban untuk kepuasan dirinya.


Devan kembali pulang ke rumahnya dengan raut wajah lesu, sedih, hancur layaknya mayat hidup yang tak punya tujuan hidup.


Ratna sudah memberitahu semuanya pada anak dan mantunya atas perbuatannya Devan hingga kekasihnya berakhir ingin menikah dengan Alex. Karin selaku ibu Devan pun murka, merasa tidak becus mendidik anaknya.


Plaaaaak .... Pertama kalinya Devan mendapat tamparan dari ibunya. Devan tidak menyangkal, karena ia tau apa penyebabnya.


"Masih mau main-main lagi?" tanya Karin dengan nada dingin. Devan hanya diam membisu menatap ibunya.


"Sudah beberapa banyak yang sudah kamu sakiti?" tanya Karin lagi.


"Kamu menyakiti mereka itu sama saja kamu menyakiti hati Mamah. Mamah juga seorang wanita Devan. Mamah saja sangat sakit saat di bentak sedikit oleh papah kamu. Apa lagi ...." Karin tak melanjutkan ucapannya, ia menagis, tidak menyangka jika anaknya tega memperhatikan banyaknya hati perempuan.


"Kamu mau motor bukan?" Karin mengambil uang yang sudah di amplop berwarna coklat yang sudah ia siapkan.


"Pergi dan belilah motor yang kamu inginkan, tapi setelah itu pergilah dari rumah ini jika kamu tidak mau mematuhi peraturan Mamah dan Papah. Mamah minta maaf karena terlalu memaksa kamu menjadi anak yang baik, Sholeh, berkati pada orang tua, yang seperti kami harap ka."

__ADS_1


Karin menghapus air matanya, ia engan menatap anaknya.


" Sekarang kamu bebas melakukan apapun, Mamah merasa gagal mendidik kamu, Mamah merasa malu karena menjadi orang tua yang tidak berguna."


Devan menggeleng cepat, air matanya mengalir mendengar ucapan mamahnya.


"Maafkan Mamah karena selama ini selalu menuntut kamu ini dan itu, kami lakukan ini agar kamu menjadi lebih baik lagi. Maaf jika kami tidak memikirkan perasaan kamu, kami tidak meminta pendapat lebih dulu, kamu apakah kamu setuju atau tidak. Kami terlalu egois bukan?"


Devan spontan langsung berlutut di kaki ibunya. Bahkan ia sujud dengan tangisnya. Devan merasa bersalah, ia selalu mengabaikan perintah mamahnya saat meminta dirinya menjadi anaknya lebih baik lagi, menuntut ilmu agama agar lebih dalam lagi. Ia mengabaikan itu semua karena merasa terlalu cerewet, sehingga ia melampiaskan kekesalannya dengan bergaul bebas demi kesenangan diri. Devan menyesali semua perbuatannya.


"Mah, Devan minta maaf. Devan mohon ampun, Devan salah, Devan siap menerima hukum apapun dari Mamah. Tapi Devan mohon jangan menangis lagi." Devan bersujud di bawah kaki ibunya, memohon ampun dengan isak tangisnya yang pecah.


"Berdirilah Devan," ujar Karin. Namun Devan menolak sebelum mamahnya itu memaafkan dirinya.


Karin menghapus air matanya." Mamah sudah memaafkan kamu Nak, berdiri lah."


Devan pun berdiri dengan wajah tertunduk malu.


******


tiga hari kemudian ....


Pesta pernikahan sudah siap semuanya dengan sempurna. Walau sederhana namun cukup mewah. Devan memutuskan pergi untuk beberapa hari ke luar kota karena malu untuk hadir di pesta pernikahan kekasihnya, eh ralat mantan kekasihnya.


Kini Sherly sudah di dandani oleh penata rias di kamarnya. Air matanya sesekali mengalir hingga penata rias itu kembali mengolesi bedak di wajahnya.


"Jangan menangis Mbak, sayang make'up nya loh. Udah cantik banget gini. Kan ini hari bahagianya Mbak," ucap penata rias itu sambil mengolesi bedak kembali pada wajah Sherly.


"Maaf," lirih Sherly dengan suara serak.


"Udah gak apa-apa, senyum dong. Bentar lagi pengantin prianya datang. Pasti ganteng banget deh soalnya Mbak Sherly nya sangat cantik."

__ADS_1


Sherly hanya tersenyum tipis, apa.ia bahagia hari ini? Hari dimana yang paling di tunggu-tunggu, hari pernikahan yang paling di nanti dan hari paling bahagia. Sherly hanya dapat tersenyum miris pada dirinya sendiri menyerahkan takdirnya berharap ada kebahagiaan dalam pernikahan nya kelak.


__ADS_2