
Pagi harinya pun tiba, dalam pancaran sinar mentari pagi yang sudah mulai bersinar. Ayam berkokok pun sudah lewat. Tetapi seseorang masih masih dalam alam mimpinya yang baru bisa tidur selepas subuh tadi menjelang pagi di bawah selimutnya yang cukup tebal. Siapa lagi kalau bukan Sherly yang tidak bisa tidur malam hari karena terus kepikiran masalah Alex yang sebenarnya ada apa.
Terlebih lagi soal nota kalung itu yang harganya tidaklah murah, jika bukan untuk dirinya lalu untuk siapa? Gak mungkin untuk mamah mertuanya bukan? Karena jika iya pun gak perlu kan pake rahasia-rahasiaan segala, toh ia juga tidak akan melarang Alex untuk membelikan sesuatu untuk orang tua terlebih lagi pada ibu yang sudah melahirkan dirinya.
Samar-samar ia mendengar ketukan pintu, perlahan Sherly membuka mata dan melihat arah jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Ia yakin ketukan itu pasti suaminya.
"Sayang, sayang tolong bukain pintunya."
Benar saja, suara itu terdengar lirih dan serak. Pasti lelaki itu juga tidak bisa tidur tadi malam bahkan sepertinya habis menangis. Tetapi hati Sherly masih merasa sakit hati karena ketidak jujuran suaminya itu pada dirinya.
"Sayang."
Terdengar lagi suara lirih itu, Sherly menarik nafasnya lalu ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari lalu mengambilkan baju kerja untuk suaminya.
Sherly membuka pintu, Alex bernafas lega yang nampak bahagia akhirnya istrinya itu mau membukakan pintu untuknya setelah semalaman ia menunggu di depan pintu kamar.
"Sayang ...."
__ADS_1
"Ini baju kerja kamu, kamu mandi aja di kamar sebelah. Kalau berangkat kerja hati-hati di jalan, dan jangan lupa untuk sarapan. Aku masih mengantuk mau lanjut tidur lagi," ucap Sherly dingin, ia menyerahkan baju kerja Alex tanpa melihat ke arahnya.
Alex menatapnya sendu, istrinya masih marah padanya. Ingin memeluknya erat, tetapi takut wanita yang ia cintai itu semakin marah padanya.
"Sayang, aku ...."
Belum sempat berucap, Sherly sudah menutup pintu kamarnya kembali dan bersandar di balik pintu sembari memegangi dadanya yang terasa sesak. Sebenarnya sangat rindu dengan suaminya itu, tapi ego sangatlah besar hingga seperti ini lebih baik supaya sadar jika dirinya sendang marah.
"Sayang maafkan aku," lirih Alex dengan nada sedih. Ada sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan sebelum waktunya tiba. Sekarang ia harus bersabar seperti ini demi kebaikan semuanya.
Sherly menghapus air matanya, ia membuka lemari dan mengambil beberapa bajunya lalu ia masukan ke dalam koper. Sherly ingin menenangkan diri dulu di rumah kedua orangtuanya. Mungkin saling menenangkan diri masing-masing akan lebih baik untuk rumah tangga mereka.
"Sayang kamu mau ke mana?" tanya Alex panik seketika melihat istrinya keluar dari kamar membawa koper.
"Untuk sementara aku tinggal di rumah papah dulu Mas," jawab Sherly yang masih Engan menatap suaminya.
Mata Alex membelalak kaget.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya lagi.
Sherly baru mau melihat ke arah dengan ekspresi dingin.
"Selama kamu masih menyembunyikan sesuatu dari aku, lebih baik kita pisah ranjang aja dulu. Aku capek Mas, aku paling benci dengan kebohongan apa lagi main rahasia-rahasiaan seperti ini. Apa kamu sengaja mau membuat aku mati penasaran, hah?" ucap Sherly tegas.
Alex menggeleng cepat." Nggak sayang, please jangan seperti ini."
"Seperti ini apa? Bukannya kamu yang membuat aku seperti ini, hah?" Sherly emosi. Ia ingat anak di dalam perutnya sehingga ia kembali mencoba sabar. Sherly pun menarik nafasnya dalam-dalam kemudian ia keluarkan perlahan.
"Dah lah Mas, mungkin pisah ranjang adalah jalan yang terbaik sampai kamu banar-benar mengatakan semuanya sama aku, jika aku mendengar suatu yang tidak baik dari orang, bersiaplah bertemu di meja hijau," lanjutnya lirih sembari menahan rasa sesak di dada. Sherly cepat-cepat mengusap air matanya yang sudah mengalir tanpa permisi itu.
Lagi-lagi Alex di buat terkejut dengan ucapan istr6. Ia pun langsung menahan Sherly pergi dengan memeluknya erat dari belakang.
"Nggak, kamu gak boleh ngomong seperti itu. Kamu juga gak boleh pergi! Aku minta maaf, aku akan mengatakan semuanya, tapi tolong jangan pernah katakan ingin pisah lagi dari aku, aku banar-benar gak sanggup jika hidup tanpa kamu," ucap Alex yang sudah menangis hingga baju belakang Sherly basah kena air matanya.
Mungkin berkata jujur adalah pilihan yang tepat dari pada ia harus kehilangan istrinya. Hidupnya ada pada Sherly, jika wanita itu pergi dari hidupnyau untuk apa lagi ia hidup. Alex gak mau itu terjadi apa lagi sampai bertemu di meja hijau atau sidang perceraian.
__ADS_1