Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 51


__ADS_3

"Pagi, sayang. Muuuuuuah."


"Hah, Om Angga!" kaget Sera saat membuka mata dan mendapati Angga di sampingnya.


"kyaaaaa, k-kenapa kamu gak pakai baju? Dan aku .... kyaaaaaaa, Om Angga! Kamu apain aku?" lanjutnya berteriak menutupi tubuhnya dengan selimut, syok melihat tubuhnya dan Angga sama-sama polos tampa busana.


Angga menaikan sebelah alisnya menatap bingung pada Sera.


Angga menyentil keningnya.


"Om, lagi. Emang aku nikah sama tante kamu apa?" rajuk Angga tak suka.


"Eh, iya maksudnya Mas. Tapi kenapa kamu dan juga aku gak pake baju? Jangan-jangan kamu melakukan sesuatu sama aku, ya?" selidik Sera.


Seakan lupa ingatan, apa yang terjadi tadi malam, bahkan tentang pernikahannya.


"Kenapa?Memangnya salah," jawab Angga sewot.


"Jelas salah lah, kenapa Om tega lakuin itu sama aku? Kita kan belum ni ...."


Belum sempat Sera melanjutkan ucapannya, Angga langsung mengulum bibir Sera, agar istrinya itu berhenti mengoceh.


"Sepertinya istri kecilku ini butuh daya pengisian, supaya ingatkan kamu kembali pulih," bisik Angga sudah mengubah posisinya menjadi di atas tubuh Sera.


Sera melotot kan matanya, daya ingatannya kembali, ia mengingat kejadian malam tadi bahkan hari pernikahannya. Wajah Sera pun memerah dan menjadi malu seketika.


"M-mas, aku sudah ingat. Maaf aku belum terbiasa, makanya lupa." lirihnya sambil mengigit bibir bawahnya memalingkan wajah kearah samping.


Angga mengangkat dagu Sera sehingga gadis itu menatap kearahnya.


"Oh, benarkah. Tetapi kamu tetep aku hukum karena kamu sudah berani melupakan pernikahan kita dalam satu malam." Angga tersenyum licik, ia mendekatkan kembali mencium Sera lagi.


"M-mas, kamu mau apa?" Sera gelagapan, jantungnya kembali berdegup kencang.


"Menurut, mu?" Angga tersenyum, tatapan menggodanya tak dapat di hindari. Lelaki itu kembali melakukan aksinya di pagi hari dengan semangat penuh enerjik menyantap sarapan paginya.


Sera pun pasrah, ia lupa sekarang sedang berhadapan dengan siapa? Binatang buas yang sudah lama terkurung, dan kini sudah bebas hingga menjadi liar tak terkontrol lagi, dan ia pun pasrah menjadi santapan makan malam, pagi dan siangnya hingga tak dapat turun dari tempat tidur kecuali hendak pergi ke kamar mandi itupun harus di gendong karena tak sanggup lagi untuk berjalan.


"Aku laper, apa kamu juga gak ngebolehin aku makan? Bunuh aja sekalian." kesel Sera, hampir sepanjang malam Angga tak ada henti -hentinya, dan di sambung lagi pagi hari, bahkan menjelang siang dan hanya di beri waktu jeda sebentar untuk beristirahat. Lelaki itu benar-benar balas dendam.

__ADS_1


"Heheheh, maaf sayang. Abis kamu nya enak banget sih, makanya aku selalu ketagihan," kata Angga membawa Sera kedalam pelukannya.


"Mas, aku laper ih. Bukanya di kasih makan malah peluk -peluk! Nanti pengen lagi gimana? Emang kamu gak laper apa." Sera mendorong suaminya kesel, menolak ajakan suami memang berdosa dan akan di laknat oleh Allah, namun jika keadaan laper, lelah, letih, lesu apa boleh untuk menolak? Sera harus belajar banyak lagi masalah mengenai hal semacam itu.


Angga terkekeh, lalu ia mengecup bibir manyun 5 senti itu sekilas. "baiklah-baiklah, aku pesanin makanan ya. Tapi jangan cemberut gitu dong." Angga mencolek dagu Sera.


"Tauk ah, kesel sama mas." rajuknya membelakangi Angga.


Angga tersenyum sambil geleng-geleng kepala, memang salahnya tidak memberi istrinya itu sarapan terlebih dulu, malah ia yang kenyang dari sarapannya.


Angga mengambil handphone miliknya lalu menelpon beberapa makanan dan di antar ke kamar hotel karena tak mungkin sekarang ini makan di luar dengan keadaan Sera yang nyaris tak dapat berjalan seolah lumpuh akibat ulahnya yang terlalu ganas.


"Aku mau mandi," pinta Sera merasa gerah.


"Baiklah tuan putri, Mas siapin air hangat dulu buat kamu." Angga turun dari tempat tidur lalu memakai bokser nya yang masih berserakan di lantai dari semalam lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Ayo sayang, mumpung air nya masih anget," ujar Angga keluar dari kamar mandi.


"Gendong ...,"pinta Sera manja. Angga tersenyum senang lalu mendekati istrinya dan menggendongnya ala pengantin.


"Iiih, mata kamu liatnya kemana?" Sera malu.


"Maaaaaas!" Sera tersipu malu, ia menyembunyikan wajahnya di dada Angga, saat ini ia tidak mengenakan apapun layaknya seorang baby yang masih polos di dalam gendongan suaminya.


Angga tertawa, lalu masuk kedalam kamar mandi dan menurunkan Sera ke dalam bathtub yang sudah berisi air hangat.


"Mau mandi bareng?" Lagi -lagi Angga menggoda.


"Pergi sana kau." Sera menyiram suaminya hingga lelaki itu mengelak lalu berlari sambil tertawa puas.


"Ngeselin banget sih, di kira orang keenakan apa? Capek gini, sakit tau," gumam Sera menenggelamkan tubuhnya hingga sebatas leher.


Beberapa menit kemudian, Angga sudah membereskan tempat tidur yang nyaris tak terbentuk lagi, dan sudah memungut pakaian Sera dan dirinya berserakan di lantai hingga menjadi rapih kembali. Angga tidak ingin memanggil pelayan hotel untuk membersihkan kamar karena tak ingin ada wanita atau laki-laki lain di antara dirinya dan juga sang istri, cukup kamar menjadi pribadi untuknya dan begitu juga di rumahnya sendiri, kecuali orang -orang tertentu yang dapat masuk seperti keluarga, misalnya.


Makan sudah datang, Angga menyambutnya di depan pintu, tak lupa membayar dan memberikan uang tips kepada kurir tersebut. Lalu Angga langsung menyiapkan semuanya dan hanya tinggal menunggu istri kecilnya itu keluar dari kamar mandi barulah mereka makan bersama.


Handphone Angga berdering, Angga memutar bola matanya malas melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut, lalu ia pun menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.


"Ada apa?" jawab Angga malas.

__ADS_1


"Ck, mentang -mentang abis main bola, jawab telpon dari gue aja malas amat. Udah berapa kali, gol?" tanya sang penelpon di seberang sana, dan siapa lagi kalau bukan mertuanya yang gak ada akhlaknya itu.


"Gak usah kepo deh, Bob!" saut Angga malas.


"Bab, Bob, Bap, Bop, lo. Eh gue ini mertua lo sekarang. Masih berani manggil gue nama? Gue pecat juga lo jadi mantu gue."


Angga menghela nafasnya malas, kalau bukan mertuanya sahabatnya itu, mungkin saja Angga sudah mengumpat kan nya saat ini.


"Iya, PAPAH ...,"ucap Angga menekan suaranya di bagian ahir," lagi pula ini pripasi kehidupanku sama Sera, jadi ... orang luar gak boleh tau bahkan termasuk keluarga dan ... PAPAH."


"Ceileh, sombong amat gaya lo. Eh tapi, gue geli lo manggil gue papah, hahahahhaa. Gak cocok banget tau gak!" Bobby menjadi tertawa geli, mendengar Angga memanggil dirinya dengan sebutan papah untuk pertama kalinya.


"Ck, nie bocah. Pengen banget gue plites kepalanya." batin Angga berusaha sabar.


"Udah deh, lagi pula Sera mau makan. Kasihan dia kelaparan!" ujar Angga mengganti topik dan ingin segera mengakhiri panggilan tersebut.


"Eh, lo apain anak gue ampe kelaparan gitu? Lo gak kasih anak gue makan?"


"Gak di apa -apain, cuma di kasih sarapan enak doang sama gue. Makanya sekarang kelelahan dan kelaparan minta makan nasi. Dah lah gue sibuk, bye."


"Eh, tunggu ...."


TUT ... TUT ....


"Sialan, dasar lelaki tua bangka ...." kesel Bobby karena ia belum selesai ngomong namun Angga sudah mematikan telpon sepihak.


"Oh, kasihan anakku yang malang." Mewek Bobby teringat anaknya.


"Sayang, ayo kita ke hotel!" teriak Bobby menghampiri bininya.


"Loh kenapa?" heran Dewi.


"Kita samperin anak kita, kasihan dia di siksa sama bocah sialan itu ampe gak di kasih makan, dan dia bikin anak kita kelelahan," ujar Bobby menarik Dewi masuk kedalam mobil.


"Mas, jangan gila deh. Anak kita itu sekarang udah nikah, ingat! Lagi pula kayak kamu gak aja dulu, emang kamu inget mau kasih aku makan kalau udah di dalam kamar. Memang ya dasar, semua laki-laki itu sama aja!" Dewi pun masuk kembali kedalam rumah dan meninggal Bobby yang mematung.


*******


Maaf ya kemaren gak up, dan hari ini gak sempet up 2 kali karena badan masih gak enak. Minta doanya supaya tempat aku di Kalimantan terkena banjir agar cepat surut. Terima kasih 😊😊

__ADS_1


__ADS_2