Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Teman baru


__ADS_3

Setelah dipikir-pikir Dara lebih mementingkan pekerjaan nya ketimbang masa lalunya dengan Devan yang kini menjadi atasannya itu. Biarlah waktu terus berjalan yang tak tau entah sampai kapan dan endingnya akan seperti apa. Karena mayoritas utama bagi Dara adalah mencari uang yang banyak agar ibu dan anaknya tercukupi kehidupan mereka. Biarlah dia sendiri yang menanggung beban, toh memang di awal dirinya pula lah yang memulai sehingga dia harus siap untuk menghadapinya.


" Semangat, Dara. Go, go kerja." Dara terus menyemangati dirinya agar tidak terlalu larut dalam pikiran di luar kerjaan. 


" Sudah waktunya makan siang." Dara menghentikan kerjaan nya, perut sudah sangat lapar tentu harus segera di isi supaya semangat kembali terpenuhi. Bagaimana bisa fokus bekerja jika perut dalam keadaan kosong.


" Hey …" 


Dara menoleh, dia cukup kenal suara itu. Dan benar saja yang memanggilnya adalah Maya. Karena hanya Maya yang dia kenal di kantor ini jadi Dara harus mengakrabkan diri padanya.


" Mau ke kantin?" Tanyanya, Dara mengangguk sambil tersenyum.


" Bareng aja yuk, aku juga mau ke kantin." 


Keduanya berjalan bersama, sudah terlihat sangat akrab sekali padahal baru beberapa kali saja bertemu. Namun sudah merasa sangat nyaman dan saling menyambung jika di ajak mengobrol.


Maya adalah wanita karir yang berusia 29 tahun, dia adalah seorang janda tanpa anak di tinggal pergi selamanya oleh suami membuatnya sulit untuk membina kembali rumah tangga. Padahal sudah hampir tiga tahun dia menjadi seorang janda, karena cintanya pada mendiang suami sangat dalam membuat hati tertutup dalam-dalam. Maya orangnya sangat ramah, namun dia juga tak mudah akrab dengan seseorang apalagi jika baru kenal. Namun ketika bersama Dara entah dia merasa sangat cocok padanya dan ingin terus berteman pada wanita itu.


" Aku seneng deh kamu gak jadi ngundurin diri," kata Maya saat keduanya sudah duduk di kantin. Suasana kantin lumayan ramai, banyak para karyawan makan di sini karena makanannya lumayan enak. 


" Kamu tau kan jika di perusahaan ini lumayan terkenal." Dara mengangguk.


" Nah, sebenarnya kalau keluar dari sini tuh pasti bakalan susah dapat pekerjaan dengan jabatan yang sama lagi. Andai saja bos besar kita tuh nggak kurang seonas. Pasti sekretaris lama gak bakalan pada di pecat," ucapnya bercerita.

__ADS_1


" Memangnya kenapa banyak yang di pecat Mbak?" Tanya Dara penasaran. 


Maya menghela nafasnya. " Ya karena bosnya galak, jadi sekretaris nya gugup saat bekerja sehingga melakukan kesalahan, tapi ada juga sih yang gak proporsional." 


Dara hanya manggut-manggut saja. 


" Tapi jika kamu serius bekerja dan sabar menghadapi bos kita yang super galak dan dingin itu. Aku yakin kamu bakalan bisa membuat dia tidak berani memecat kamu," kata Maya memberikan semangat. 


" Ya kalau bisa sih pepet aja, kali aja kecantol, kami kan cantik," lanjutannya. 


Keduanya pun tertawa sambil menikmati makam siang mereka.


" Tapi Mbak betah aja kerja disini, pasti gajinya dah gede banget," ledek Dara seraya terkekeh.


Di terima kerja dan lolos interview sudah sangat beruntung. Apalagi posisi menjadi sekretaris direktur banyak orang yang ngincar. Sangat di sayangkan jika keluar begitu saja.


" Iya Mbak, aku bakalan berusaha semaksimal aku. Apalagi aku butuh banget uang buat keperluan anak sekolah," kata Dara.


" Wah kamu sudah punya anak? Gak kelihatan loh, aku kira tadinya kamu masih gadis," ucap Maya jujur, apalagi melihat wajah Dara yang sangat cantik dan bodynya juga sangat bagus sehingga tidak menyangka jika sudah memiliki anak.


" Hehehe, Mbak Maya bisa aja. Anak aku sudah berumur lima tahun. Mana mungkin aku masih terlihat seperti gadis." Dara terkekeh.


" Udah besar aja ya anak kamu, terus suami kamu kerja dimana?" 

__ADS_1


Pertanyaan Maya membuat Dara terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.


" Aku gak punya suami," jawabnya pelan.


" Jadi kamu janda beranak satu, wah sama dong kita. Cuma bedanya aku belum punya anak udah di tinggal pergi selamanya." 


Dara tersenyum miris, "Janda." Apa dirinya bisa di sebut seorang janda? Sedangkan menikah saja. Dan jika di sebut masih seorang gadis, tapi dirinya sudah melahirkan seorang anak. Entahlah, julukan apapun yang bakalan orang katakan padanya nanti dia akan terima dengan lapang dada, toh kenyataan memang seperti itu bukan.


" Aku turut berdukacita," kata Dara ikut sedih. 


Maya tersenyum tulus lalu keduanya kembali bercerita, bertukar cerita sehingga tak terasa jam istirahat sudah hampir usai. Saatnya kembali bekerja, keduanya kembali ke kantor bersama lagi. 


Saat hendak masuk ke kantor, Maya dan Dara terkejut seketika di belakang mereka ada Devan yang baru saja masuk. Keduanya menyapa sama seperti para karyawan lainnya. Dara membungkuk setengah badannya, dia melihat sepasang sepatu berdiri dihadapannya.


" Keruangan saya!" Suara datar dan sangat dingin membuat bulu Roma merinding siapa saja yang mendengar begitu juga dengan Dara yang sakarang ini jantungnya berdetak kencang. 


" Baik, Pak!" Jawab Dara proposional. Devan pergi setelah mengatakan itu, bahkan setika Dara menjawab lelaki itu sudah melangkah agak jauh darinya. 


Maya menyengol Dara dengan siku sehingga wanita itu menoleh padanya.


" Semangat." Maya memberikan semangat, Dara mengacungkan jempol lalu menaiki lift menuju lantai 21. 


" Demi anak dan mamah Dara, kamu harus bertahan." 

__ADS_1


__ADS_2