Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 119


__ADS_3

Siang ini, Keyra tengah memasak di dapur. Sesaat lagi fokus dengan sayur yang ia potong. Tiba-tiba seseorang dari belakang mengejutkan dirinya.


"Lagi masak apa? Sepertinya enak," ucap seseorang dari belakang, berucap tepatnya di belakang telinga Keyra.


"Allahu akbar," kaget Keyra, spontan ia menoleh ke kanan di mana sumber suara di sana. Dan ... entah rezeki atau musibah, seketika kejadiannya begitu cepat. Pipi Keyra menempel tepat pada benda kenyal, alias bibirnya Leo.


Keyra menjadi patung tak bergerak dengan tangan mengelus pipinya dan mata terbelalak kaget. Sedangkan Leo hanya tersenyum melihat Keyra yang nampak syok. Antara percaya dan tidak.


"Hey, masakan kamu gosong," ucap Leo membuyarkan Keyra sehingga wanita itu menjadi gelagapan dan salah tingkah.


"I-ikan ku gosong," panik Keyra mencari spatula nya keliling.


Leo tertawa ngakak melihatnya. Padahal Keyra tidak sedang memasak ikan, bahkan tidak menghidupkan kompor. Ia hanya berbohong karena ingin mengerjai Keyra yang lagi bengong tadi. Namun, tingkah wanita itu membuatnya ingin terus melihat tingkah yang sekarang ini, lucu dan gemes di matanya.


"Aku bercanda, tenanglah," ucap Leo meraih tangan Keyra. Wanita itu langsung menatap Leo intens.


"kamu semakin gemes sekarang, kenapa berbeda banget saat waktu kita bersama. Apa mungkin karena aku yang tidak pernah melihatmu?" batin Leo yang masih memegang tangan Keyra.


"A-aku mau masak," ucap Keyra canggung, wajahnya benar-benar merah bak tomat sekarang, dan memalingkan wajahnya berharap Leo tidak melihatnya.


Leo tersenyum, ia menarik dagu Keyra perlahan agar sejajar dengan wajahnya. Mata keduanya saling berdua pandang hingga cukup lama. Entah ada angin lewat apa sehingga mendorong kepala Leo sampai mendekat ke wajah Keyra dan sudah tak ada lagi jarak di antara mereka.


Keyra membulatkan matanya, dengan tubuh tegang. Bibirnya sekarang sudah beradu dengan bibir Leo. Melihat Keyra menutup mata, lelaki itu memperdalam ciuman nya. Namun tak ada balasan dari Keyra, dan tidak pula menolaknya.


"Aku sudah lapar, aku akan menunggumu di meja makan bersama anak kita," bisik Leo lembut, kemudian ia mengecup sekilas bibir Keyra kembali dan mengacak rambutnya gemes kemudian berlalu meninggalkan Keyra yang mematung dengan mata mengerjab-ngerjab taj percaya.


"L-Leo mencium ku?" gumam Keyra menyentuh bibirnya masih tak percaya, detak jantungnya nyaris meledak layaknya bom atom yang sudah berdetak kencang.


Keyra melanjutkan masaknya dengan pikirannya melayang, masih terasa hangatnya bibir itu di bibirnya. Oh tidak, Keyra butuh mandi air dingin sekarang.


Setelah menyelesaikan masakan yang cukup lama kali ini ia masak karena kejadian panas itu cukup membuatnya bengong terus -menerus antara percaya dan tidak. Tetapi Keyra juga berpikir, ada apa dengan Leo, kenapa lelaki itu menciumnya bahkan sangat lembut. Keyra ingin sekali bertanya, namun ia mengurungkan niatnya karena takut ke geeran.


Keyra tersenyum melihat Adam yang cekikikan karena Leo terus bercanda dengannya. Bayi mungil yang ia lahir dulu kini sudah bertumbuh menjadi anak yang sehat, pintar dan aktif. Tubuh Adam agak sedikit berisi, dengan pipi tembemnya membuat siapa saja ingin mencubit pipi itu jika melihatnya. Pernah suatu hari pipi Adam sampai merah karena terlalu sering di cubit gemes sama tetangga, dan ketika itu pula Abian melihatnya, dan langsung marah lalu melarang Keyra mengajak Adam ke luar rumah lagi.


"Eh makanan udah siap sayang, papah laper banget. Kita ke meja makan yuk," ajak Leo menggendong Adam dan berjalan menuju meja makan, ia sudah menganggap rumah neneknya Keyra layaknya rumah neneknya sendiri, bahkan sampai lupa diri jika dirinya dan Keyra sudah bercerai.


Leo meletakkan Adam ke dalam keretanya sambil di beri sebotol kecil susu dan di pegangan oleh pelayan rumah nenek.


"Terima kasih," ucap Leo sesaat Keyra meletakkan piring di atas meja tepat di depannya.


Wajah Keyra kembali merah karena malu, lagi -lagi ciuman itu terbayang di benaknya.


Nenek juga sudah hadir di meja makan, dan ketiganya begitu menikmati makan malam mereka dengan lahap.


"Kamu tau Key, selama kamu memasakkan makanan untukku. Di Jakarta aku malah tidak bernafsu lagi memakan masakan orang lain, bahkan eyang atau mamah," ucap Leo jujur, ia seolah candu dengan masakan Keyra, ntah apa yang membuatnya demikian.


"Bohong banget, kalau gak nafsu makan mana mungkin sampai sekarang masih idup. Jelas-jelas kamu memakannya," jawab Keyra tak percaya.


"Itu karena aku terpaksa, kalau gak lapar mana mungkin aku memakannya. Andai kamu di Jakarta, mungkin setiap hari aku meminta kamu memasakkan untukku," ucap Leo kembali memakan makanannya. Keyra mengunyah pelan sambil curi-curi pandang pada Leo.


Nenek yang sedari tadi diam pun hanya tersenyum, ia yakin jika cinta di antara keduanya ada. Walau Leo seolah tak menunjukkan, namun nenek dapat melihat dari cara Leo menatap cucunya.


"Ehem, kenapa gak rujak aja sekalian? Kan begitu bisa memakan makanannya setiap hari," sahut sang nenek santai.

__ADS_1


Keyra langsung tersedak dan batuk -batuk mendengar ucapan neneknya, dengan sigap Leo menyerah minum pada Keyra.


"Rujuk Nek, bukan rujak," jawab pelayannya meluruskan ucapan nenek.


"Sama aja," nenek menyahuti santai.


Leo dan Keyra terdiam, dua -duanya saling lirik, lalu membuang pandangan mereka setelah bertemu mata sesaat. Keyra mengunyah makanya pelan, sedangkan Leo santai.


"Rujuk, mana mungkin Leo mau? Dia kesini hanya berkunjung karena ada Adam saja. Mana mungkin karena aku, dam ciuman tadi pasti karena ada setan yang lewat saja," gumam Keyra dalam hatinya. Ia tidak ingin berpikir jauh ke sana.


Setelah makan malam selesai. Leo kembali duduk di shopa bersama Adam. Dan di susul oleh Keyra lalu duduk agak jauh sambil memperhatikan ayah dan anak itu. Tak lama kemudian suara dering handphone Keyra berbunyi, dan Leo menoleh padanya karena Keyra menyebutkan nama Abian dengan suara kecil namun dapat di dengar olehnya.


"Aku tinggal bentar ya," pamit Keyra berjalan menuju teras rumahnya untuk menjawab panggilan dari Abian. Leo memandangi punggung Keyra dengan tatapan tak suka karena menjawab panggilan Abian saja sampai menjauh darinya.


"ck, sampai segitunya," sinis Leo kesal.


"Assalamu'alaikum," jawab Keyra.


"Wa'alaikumsalam, kamu lagi apa Key?" tanya Abian di seberang. Keyra mendengar suara serak Abian membuatnya mengerutkan keningnya.


"Mas, kamu kenapa? Lagi sakit?" tanya Keyra khawatir. Abian tersenyum mendengarnya.


"Aku gak apa-apa, apa Leo ada di sana?" Abian kembali bertanya.


Keyra melirik Leo sekilas." Iya, dia lagi maen sama Adam. Kamu udah jarang ke sini Mas, apa sangat sibuk?"


Abian tersenyum getir dengan pertanyaan Keyra. Iya, sudah hampir satu minggu ini ia tidak berkunjung ke rumah nenek Keyra untuk menengok Adam, padahal ia sangat rindu sekali dengan lelaki mungil itu.


"Tidak Mas, ibunya Mas Abian tidak pernah mengancam aku kok, waktu itu beliau hanya ingin berkenalan denganku. Itu saja," jawab cepat Keyra langsung memotong ucapan Abian.


Abian tidak yakin yang di ucapkan Keyra mengenai ibunya, ia yakin pasti Keyra berbohong tentang ibunya. Karena Keyra gugup saat menjawab.


"Lalu, tentang menolak lamaran ku. Apa itu dari hatimu? Apa kamu benar-benar tidak memiliki rasa sedikitpun padaku?" Abian kembali mengajukan pertanyaan dengan serius.


Keyra menghela nafasnya panjang." Maafkan aku Mas. Aku bukannya tidak menyukaimu, karena sejujurnya aku begitu menyukai mu. Menyukai kelembutan mu, perhatian, dan kebaikanmu. Aku pun begitu nyaman saat di dekatmu. Akan tetapi untuk rasa dan cinta, aku minta maaf Mas. Karena aku .... aku ..."


"Masih mencintai Leo?" lanjut Abian meneruskan ucapkan Keyra. Keyra menunduk diam. Abian menghela nafasnya panjang.


"Maafkan aku ya, aku terlalu memaksamu untuk menerima cintaku. Padahal aku sudah tau jika hatimu masih ada padanya." Abian terkekeh kecil dengan hati kecewa. Namun ia sadar jika cinta tidak bisa di paksa. Apalagi dalam waktu dekat, mana mungkin cinta begitu mudah di lupakan. Dirinya terlalu memaksanya.


"Mas ...."


"Tidak apa Keyra, aku mengerti kok. Aku terlalu cepat mengatakan cinta padamu tanpa menunggu waktu jeda, aku terlalu cepat melamar mu waktu itu karena keadaan memaksa. Maafkan aku," sesal Abian.


Satu bulan yang lalu Abian melamar Keyra agar menikah dengannya. Ia akui itu terlalu mendadak karena desakan orang tua yang memaksanya menikah dengan Zahra, sehingga Abian nekad langsung mengajak Keyra untuk menikah agar terhindar dari perjodohan itu, dan memang ia juga menginginkan Keyra menjadi istrinya hanya saja waktunya yang terlalu cepat sehingga Keyra menolaknya. Malu, bukan.


Abian tersenyum miris mengingat kejadian itu, jika tidak ada desakan. Ia ingin memberikan Keyra waktu lebih banyak lagi untuk menerima cintanya. Karena ia yakin pasti Keyra bakalan menerimanya jika ia terus berusaha. Akan tetapi, rencananya tidak sesuai dengan rencana kedua orangtuanya yang tidak menyetujui dirinya bersama Keyra dengan alasan tidak masuk di akal. Ya itu takut menjadi omongan tetangga dan hinaan karena mendapat menantu seorang janda. Sebab itulah alon-alon Abian melangkah mundur dan membiarkan Leo lebih leluasa bersama Keyra dan Adam.


"Mas, aku ...."


"Keyra ... semoga kamu mendapatkan kebahagiaan. Jika kamu bahagia aku juga akan bahagia, berjanji untuk terus tersenyum dan selalu tabah jika menghadapi cobaan. Aku akan selalu mencintaimu di dalam hatiku, dan aku bahagia jika kamu bahagia, itulah cara cintaku untukmu."


Keyra menangis, ia mengangguk. Dalam hatinya merasa tidak enak pada Abian. Ia baru sadar, ternyata cinta memang tidak bisa di paksa. Ia baru mengerti mengapa Leo tidak pernah menyukainya. Abian baik, dan ia suka. Hanya saja tidak cinta, karena suka dan cinta itu beda sebab itulah Keyra tidak mau memaksa kan diri dan takut kegagalan rumah tangga yang ke dua kalinya. Apalagi tanpa restu orang tua.

__ADS_1


"Malam ini aku akan melamar Zahra, selama satu minggu belakangan ini aku sibuk karena ini. Sekali lagi maaf ya?" ucap Abian lirih.


Keyra nampak kaget, Abian beneran ingin melamar Zahra malam ini.


"kenapa? Bukannya kamu tidak mencintai Zahra?" tanya Keyra penasaran.


"Kenapa? Apa kau berubah pikiran sekarang? Dan mau menikah denganku," canda Abian terkekeh.


"Maaaaas," panggil Keyra, dan Abian tertawa.


"Kau menolak ku, lalu orangtuaku mendesak ku. Dan karena aku tidak ingin menjadi anak durhaka, aku pun menurut sekarang asal mereka bahagia. Ya ... apalagi Zahra menyukaiku, mungkin saja dengan iring ya waktu berjalan aku mencintainya karena dia baik dan tidak melakukan cara licik untuk mendapatkan ku," ucap Abian menahan senyumnya.


"Mas, kau menyindir ku?" sewot Keyra, dan membuat Abian lagi -lagi tertawa. Hingga tawanya terhenti sesaat sang ibu memanggil dirinya untuk segera berangkat. Dan Keyra dapat mendengar suara ibu Abian.


"Aku pamit ya."


"Pergilah, aku doakan semoga kamu bahagia. Karena kamu sudah aku anggap abang untukku."


"Terima kasih, Key. Aku mencintaimu. Salam untuk Leo dan Adam ya, dan sampaikan pada Leo untuk tidak lagi meminum susu Adam."


Keyra terkekeh dengan lelehan air matanya.


"Abian, ayo. Semuanya sudah menunggu kamu," teriak ibunya memanggil lagi.


"Pergilah Mas, hati -hati di jalan ya," ucap Keyra.


"Terima kasih," jawab Abian lirih. Lalu mematikan sambungan telponnya. Ia menghela panjang kemudian berjalan ke rombongan yang sudah menunggu dirinya di jalan.


Sesaat sudah mendekat, Abian di buat kaget dengan sesuatu yang mendekati ibunya yang sedang berdiri seorang diri agak jauh dari rombongan di pinggir jalan raya mencari sesuatu di dalam tas sehingga tak melihat apa yang sedang mendekat kearahnya.


"Bunda, awas ...."


Braaaaak....


"Tidak, Abian?" teriak ibunya histeris melihat anaknya sudah bersimbah darah tergeletak di lantai yang telah menyelamatkan dirinya dari maut dan menjadi anaknya lah yang menggantikan dirinya.


Semuanya panik, tanpa tunggu waktu lagi orang -orang langsung membawa Abian ke rumah sakit. Dan melupakan tujuan awal mereka yang hendak melamar kan Abian dengan Zahra. Dan justru mengantarkan Abian ke rumah sakit dengan tangisan bukan kebahagiaan yang keluarga Abian dapatkan seperti angan-angan mereka.


Setelah Abian di bawa ke rumah sakit. Dengan cepat dokter menangani dan langsung melakukan operasi hingga 3 jam lamanya.


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanyanya ibunya Abian cepat seketika dokter baru saja keluar dari ruangan operasi Abian.


"Anak anda ingin bertemu dengan Ibu dan Bapak. Mari ikuti saya." Dokter mengizinkan kedua orang tua Abian masuk karena atas permintaan Abian yang tiba-tiba siuman tanpa di duga setelah melakukan operasi.


Dengan cepat keduanya masuk dan langsung mendekati brankar dengan tangisan.


"Bu-bunda, A-ayah, A-Abi m-minta maaf," ucap Abian terbata, sang ibu mengangguk, lalu masukkan memberi tahu jangan banyak bicara lagi. Namun, Abian menggeleng di pelan, banyak hal ingin ia sampaikan pada kedua orangtuanya. Dan seseorang.


"Bun, Abi minta tolong," pinta Abian dengan suara lemah.


"Minta apa Nak? Katakan saja, Bunda pasti turuti."


"Tolong panggilkan Keyra, dan leo ke sini. Abi ingin mengatakan satu hal pada mereka," mohon Abian dengan nafas terengah. Ia berusaha untuk kuat sekarang karena ingin berbicara pada keduanya..

__ADS_1


__ADS_2