
Raju melajukan mobilnya setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman di dalam mobilnya.
Tak banyak kata yang keluar dari mulut Raju maupun Kanaya saat mereka berada dalam perjalanan menuju butik Agung.
Raju menghentikan mobilnya tepat di depan butik Omnya.
Dia turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Kanaya keluar dari mobil.
"Ayo," ajak Raju tanpa banyak kata-kata.
Dia pun menggenggam tangan Kanaya, lalu menarik tangan itu masuk ke dalam butik milik Agung yang semakin maju.
Selain fokus dengan butik yang dikelolanya bersama istri, Agung juga fokus mengurusi perusahaan milik ayah Hendra, Agung mengelola perusahaan tersebut berdua dengan Alex.
Meskipun mereka memiliki kesibukan masing-masing, mereka tidak ingin perusahaan milik ayah Hendra terbengkalai begitu saja.
"Assalamu'alaikum, Tante," ujar Raju menyapa Dian yang sedang merapikan pakaian yang berantakan.
"Wa'alaikummussalam," jawab Dian.
Dian membalikkan tubuhnya lalu menoleh ke arah asal suara yang mengucap salam.
"Raju, kapan kalian datang?" tanya Dian pada Raju.
"Mhm, kami baru saja sampai, Tante. berhubung Kanaya tidak banyak membawa pakaian jadi aku ajakin dia ke sini aja, deh," jawab Raju.
Kanaya menyalami Dian lalu mencium punggung tangan sahabat ibunya itu.
"Oh, begitu. Ya udah ayo ikut sama Tante," ajak Dian.
"Kamu ikutan Tante Dian aja, ya. Aku tunggu di sini biar kamu bebas memilih pakaian yang kamu suka," ujar Raju.
"Iya, bareng Tante aja. Cowok itu enggak ngerti sama cewek yang lagi shoping," ajak Dian.
Akhirnya Dian pun membawa Kanaya keliling-keliling butik mencari pakaian yang disukainya, butik Bunda Hurry merupakan butik langganan keluarga Raffa dimulai sejak Maminya berteman dengan Bunda huri hingga akhirnya mereka menjadi sebuah keluarga besar.
Kanaya memilih pakaian yang diinginkannya mulai dari gamis, baju tidur, hijab dan yang lainnya.
Hampir 2 jam karenanya dan Dian menelusuri butik tiga lantai itu, tapi mereka belum juga selesai berbelanja.
Sementara itu Raju asik dengan tabletnya berkomunikasi dengan asisten pribadinya mengenai perkembangan pekerjaan yang ada di perusahaan.
Setelah puas berbelanja membeli berbagai jenis pakaian yang disukainya Kanaya menghampiri Raju.
Raju mendongakkan kepalanya saat menyadari istrinya sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Udah?" tanya Raju.
"Udah, ini." Kanaya memperlihatkan beberapa paper bag yang ada di tangannya.
"Udah dibayar?" tanya Raju pada istrinya.
"Udah," jawab Kanaya.
__ADS_1
Kanaya sudah membayar tagihan pakaian yang dibelinya.
"Lho? Kenapa dibayar?" tanya Raju.
Raju merasa tidak dihargai dengan apa yang dilakukan istrinya itu.
Dia pun melangkah menghampiri Dian, yang kini sedang berbicara dengan karyawannya.
"Tante," panggil Raju.
Dian menoleh ke arah Raju, lalu dia pun meninggalkan karyawannya.
"Ada apa?" tanya Dian menghampiri Raju.
"Tagihan pakaian yang diambil Kanaya sudah siapa yang bayar?" tanya Raju pada Dian.
"Hah? Tante suruh dia temui kamu dulu, kebetulan ini ada masalah sedikit," ujar Dian.
"Katanya sudah dibayar, Tante," ujar Raju .
"Aduh, sepertinya ini kelalaian Tante, tunggu sebentar, ya," ujar Dian.
Dian pun menghampiri kasir, lalu dia menanyakan perihal yang dikatakan oleh Raju.
"Maaf, Bu. Nona tersebut maksa ingin membayar barang belanjaannya," jawab si Kasir.
"Ya sudah, kalau begitu kembalikan uang yang diberikannya tadi, biar Raju ya bayar semuanya, jangan lupa kasih diskon 30 persen," ujar Dian pada karyawannya.
"Baik, Bu." Kasir pun mulai memproses pengembalian uang Kanaya.
Raju pun membayar total belanjaan Kanaya.
"Iya, salam buat Kanaya, ya. Ini Tante sedang ada kerjaan, jadi Tante enggak bisa mengantar kalian keluar," ujar Dian.
"Iya, Tante. Enggak apa-apa, kok." Raju pun meninggalkan Dian.
Setelah itu Raju menghampiri Kanaya yang kini duduk santai di tempat Raju tadi duduk.
"Ini!" Raju menyodorkan sebuah blackcard pada istrinya.
"Apa ini?" tanya Kanaya heran.
"Ini nafkah dariku untukmu, sebagai seorang suami aku wajib memberimu nafkah," ujar Raju.
"Aku akan transfer setiap bulannya ke rekening ini, uangmu sudah aku kembalikan ke sini," ujar Raju lagi.
Kanaya terdiam mendengar ucapan sang suami.
"Tidak perlu." Kanaya menolak pemberian sang suami.
"Jadi istri itu jangan membangkang," ujar Raju kesal.
Kanaya terdiam mendengar ucapan Raju, dia menyadari bahwa sang suami saat ini kesal padanya.
Dia tak menyangka Raju akan berbicara seperti itu padanya.
__ADS_1
Kanaya pun ikut kesal pada suaminya. Dia berdiri dan menatap tajam ke arah Raju.
Dia mengambil kartu yang diberikan Raju.
"Puas!" ujar Kanaya ketus pada Raju.
Lalu Kanaya pun melangkah keluar dari butik meninggalkan Raju yang kini menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri.
Raju pun mengejar sang istri, saat berada di parkiran, Raju membantu Kanaya memasukkan barang belanjaan sang istri ke dalam bagasi mobil.
Setelah itu dia pun membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Kanaya langsung masuk ke dalam mobil dengan wajah yang masih ditekuk, gadis itu ikut kesal pada suaminya yang sudah mengatakan dirinya sebagai istri yang pembangkang.
Setelah istrinya masuk ke dalam mobil, Raju pun masuk ke dalam mobil melalui pintu kemudi.
Dia langsung melajukan mobil meninggalkan butik Bunda Hurry.
Saat Raju keluar dari parkiran butik Bunda Hurry, Raju teringat pada neneknya.
Raju pun mengarahkan mobilnya ke arah rumah Om Alex.
Dia sangat merindukan neneknya yang kini terbaring lemah di rumahnya.
Sepanjang perjalanan, Raju mengingat wajah neneknya yang selalu tersenyum saat melihat dirinya.
"Nenek pasti merindukanku, dia pasti ingin melihat aku menikah," gumam Raju di dalam hati.
Tiba-tiba mata Raju mulai berkaca-kaca saat mengingat nenek Hurry.
Satu-satunya nenek yang mereka punya saat ini, meskipun nenek Hurry kini hanya bisa berbaring di atas tempat tidur, Raju masih tetap sayang pada neneknya.
Dia juga sering mengunjungi sang nenek paling sedikitpun satu kali dalam seminggu.
Kanaya yang tidak mengerti dengan jalanan kota Padang, dia mengira Raju akan membawa dirinya pulang ke rumah ibu mertuanya.
Dia hanya diam duduk di samping Raju sambil menoleh ke arah jendela memandangi rentetan bangunan di setiap jalan yang mereka lewati.
Raju menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Alex. Kanaya terlihat bingung.
Dia merasa bingung, perasaannya tadi rumah mertuanya sangat megah dan besar tidak seperti rumah yang kini ada di hadapannya.
Raju turun dari mobil lalu dia melangkah menuju pintu mobil tempat Kanaya berada.
"Ayo, turun!" ajak Raju.
"Kita di mana?" tanya Kanaya heran.
"Ayo, turun. Jangan membantah lagi, nanti kamu juga akan tahu," ujar Raju semakin kesal dengan tingkah Kanaya.
Mau tak mau Kanaya pun turun dari mobil.
"Ayo!" ajak Raju dengan nada sedikit meninggi.
"Kamu bisa ngomong baik-baik, enggak!" Suara Kanaya juga mulai meninggi dari biasanya.
__ADS_1
Raju terdiam.
Bersambung...