
Abian terlihat cuek namun pandangan matanya tak luput dari sosok lelaki yang tak ada henti-hentinya tersenyum menatap baby Adam. Kepalanya menatap layar handphone. Namun, mata menatap arah lain. Ia penasaran dengan mantan suaminya Keyra.
"Jadi ... ayahnya Adam sudah datang ya, apa kamu senang Adam? Dan akan melupakan paman?" batinnya bertanya miris.
Rasa sayangnya pada baby Adam sudah sangat dalam. Dari awal lahir ke dunia ia sudah jatuh cinta pada sosok bayi mungil itu. Akan sulit untuknya jika begitu cepat berpisah dengan baby Adam. Bahkan sekarang saja ia rela tidak bekerja demi menemani bayi tersebut. Abian larut dalam lamunan, tiba-tiba Sera bertanya.
"Kamu, siapanya Keyra?" pertanyaan itu membuat Abian terhayak. Bingung ingin menjawab apa? Nyatanya ia memang tidak memiliki hubungan apa-apa, hanya sebatas penolong, itu saja. Namun ingin selalu berada di dekat mereka. Ah entahlah ia sendiri tidak mengerti bagaimana cara mengatakannya.
Abian melirik Leo yang juga melirik kearahnya. Apa lelaki itu juga ingin mengetahui hubungannya dengan Keyra? Tapi mengapa? Bukankah mereka sudah bercerai. Abian tersenyum.
"Aku..."
"Mas, Mas Abian Keyra boleh minta tolong gak?"
Abian tidak melanjutkan ucapannya, ia berjalan menuju kamar mandi dan mengetuknya. Dan keempat tamu itu memperhatikan.
"Key, kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Abian sembari mengetuk pintu pelan.
"Em ... anu ... em, bisa tolong ambilkan itu?" Keyra berucap terbata, ragu.
Abian tak mengerti, sebenarnya wanita itu meminta tolong apa padanya?
"Kamu mau apa? Ngomong aja jangan sungkan. Siapa tau aku bisa bantu," tawar Abian masih berdiri di depan pintu. Dan tak pernah luput dari tatapan ke-empatnya.
Keyra di dalam menarik nafasnya," Tolong ambilkan pembalut? Aku lupa tadi," ucap Keyra malu setengah mati. Apa lagi benda semacam itu sangat memalukan untuk di tunjukkan pada seorang laki-laki.
Leo tercengang, ia tak salah denger kan? Selama menjadi suaminya, Keyra tak pernah meminta benda itu. Lalu, hubungan dengan laki-laki ini sudah sejauh mana? Leo terus memperhatikan Abian yang jadi salah tingkah sambil garuk-garuk kepalanya.
__ADS_1
"Em, itu nya ada di mana kamu tarok?" tawar Abian malu.
Di dalam kamar mandi lebih malu lagi, tapi tak ada pilihan lain. Toh suster juga tidak ada. Lagipula Abian sendiri yang bilang untuk jangan sungkan meminta bantuannya, tidak salah kan? Pikir Keyra.
"Di dalam laci Mas, ambil satu aja," teriak Keyra, ia menutup wajahnya merona malu.
Abian mengangguk, ia berjalan dan membuka laci nakas di samping brankar pasien dan mengambilnya satu. Lalu kembali berjalan menuju kamar mandi.
"Key, ini..." Abian mengetuk pintu.
Keyra membuka pintu sedikit, ia hanya mengeluarkan tangannya saja untuk mengambil benda berharga bagi wanita tersebut. Sehingga tak tau jika ruang rawatnya kedatangan tamu.
Abian menunggu di sana, ia bersandar di samping pintu menunggu Keyra keluar. Ia tersenyum menatap ke-empat orang yang tengah menatapnya bengong. Pasti dalam hati mereka bertanya -tanya sekarang. Namun Abian belum menjelaskan, biar nanti saja sekalian ada Keyra. Pikirnya begitu.
Keyra keluar dari kamar mandi, ia menunduk karena malu sambil meremas kedua bajunya. Abian tersenyum, kemudian langsung menggendong Keyra kembali untuk kembali ke tempat ranjang pasien.
"Mas, aku bisa jalan sendiri loh, aku udah gak apa-apa kok," ucap Keyra sesaat dirinya sudah di letakkan kembali ke tempat tidurnya. Ia masih belum mengetahui ada tamu di ruangan ini.
"Apa nya yang gak apa-apa, aku melihat kamu masih meringis. Itu artinya masih nyeri, kan. Jahitan kamu pasti belum kering, ingat kata dokter? Jangan banyak gerak dulu. Jadi, jangan menolak, oke!"
Abian mengacak rambut Keyra gemes, tanpa mempedulikan tatapan mereka padanya. Keyra mengangguk, lalu ia hendak berbaring, sesaat menoleh ke box bayi betapa kagetnya saat melihat keempat manusia yang ia kenal ada di sana. Yang tiga duduk di shopa, dan yang satu berdiri menghadap padanya di samping box bayinya. Keyra langsung menoleh pada Abian.
"Apa aku berhalusinasi, Mas? Masa di ruangan ini ada keluarga mantan suamiku, nggak mungkin kan mereka ada di sini? Mereka kan gak tau kalau aku udah lahiran, apa lagi tempat aku tinggal." Keyra meyakinkan dirinya jika semuanya memang hanya halusinasi. Jujur ia masih belum mau ketemu sama keluarga itu. Terutama Leo.
Abian tersenyum, kepala menggeleng. Ia memutar balikan badan Keyra kembali menghadap kearah mereka.
"Yang di depan kamu adalah nyata, Keyra. Mereka memang ada di sini," bisik Abian mendekatkan wajahnya ke telinga Keyra dari belakang.
__ADS_1
Keyra terkejut tak percaya jika Leo dan keluarganya ada di kota ini, di rumah sakit ini, di ruangan ini. Tubuhnya gemetar, Abian yang melihat langsung menyentuh pundaknya dan kembali berbisik." Jangan takut, aku ada di sini!"
Keyra mendongak, menatap kedua mata Abian yang sangat tulus. Hatinya merasa tenang sekarang, ia mengangguk pelan. Lalu perlahan kembali menatap mereka.
"Pah, Eyang, Sera, dan Leo. Kok bisa tau kalau aku di sini? Apa papah yang memberitahu?"
"Iya, Papah yang memaksa papah kamu untuk memberitahu di mana keberadaan kamu. Apa kamu marah?" tanya Angga. Keyra menggeleng, toh sudah terlanjur juga, kan?
"Apa. kalian sudah melihat Adam?" tanya Keyra, ia. menatap Sera, bahkan pada perut buncitnya. Keyra tersenyum terlihat wajah ikut bahagia.
"Selamat ya Sera, sebentar lagi menyusul," lanjut Keyra tersenyum tulus. Sera bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju arah Keyra.
"Kamu jahat, kenapa tiba-tiba menghilangkan? Apa kamu pikir aku masih marah, hem? Aku memang marah, tapi gak bisa lama sama kamu. Tapi kamu pergi gitu aja kesel tauk gak?" rajuk Sera duduk di sampingnya.
Keyra terkekeh, ia langsung memeluk Sera.
"Maaf ya," lirih nya, kedua wanita itu berpelukan sedih. Abian tersenyum memandangnya, sedangkan Leo, ia bukan menatap arah kedua wanita yang tengah berpelukan itu. Namun pada Abian dengan pandangan sulit di artikan.
Mendengar suara rame-rame dalam ruangan, baby Adam tidurnya jadi ke ganggu. Ia. menangis di dalam box nya. Semuanya menoleh pada box bayi, Keyra tersenyum, ia menatap Abian.
"Mas, tolong," ucap Keyra pada Abian memohon. Lelaki itu mengangguk ia berjalan mendekati box bayi pada saat hendak menggendong tiba-tiba Leo sudah berada di sampingnya.
"Biar saya saja yang menggendong anak saya," ucap Leo dingin.
Abian menarik kembali tangannya lalu tersenyum.
"Silakan, Mas," ucapnya sopan.
__ADS_1