
Mendapatkan malaikat kecil adalah kebagian yang tak pernah di dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Begitu juga Angga. Ia tak dapat menggambarkan ekspresinya saat ini jika dirinya sangat lah bahagia. Di usia yang lagi muda, banyak anak dan cucu yang akan menemani masa tuanya kelak itulah di harapan Angga. Ia masih di posisi yang sama. ya itu bersujud, Sera hanya bisa menangis dalam diamnya memandang arah sang suami. Sementara dokter Karin hanya tersenyum sambil menyeka air matanya turut bahagia pada sahabat yang mendapatkan dua malaikat kecil sekaligus.
Angga menghampiri Sera, ia langsung memeluknya erat seakan mengucapkan rasa terima kasih.
"Sayang, bertemu denganmu adalah sebuah keberuntungan untukku, dan sekarang aku akan milik bayi perempuan dua sekaligus. Aku tidak tau lagi harus berkata apa. Yang pasti aku benar-benar bersyukur karena memilikimu dalam hidupku. Terima kasih banyak."
Angga kembali menangis, ia mengecup seluruh wajah Sera tak peduli jika ada dokter Karin yang menyaksikan. Angga tak menganggapnya ada, sekarang ini ia bahagia itu yang ia rasakan sekarang.
"Mas, malu ih. Ada dokter Karin," cicit Sera malu.
"Biarkan saja, salah sendiri kenapa mau di sini. Yang penting heppy," jawab Angga santai.
"Dasar dokter menyebalkan. Keluar sana, ini ruangan ku kalau mau bermesraan jangan di sini. Mentang -mentang suamiku jauh," celetuk Karin menggerutu sebal, apa lagi di acuh kan oleh lelaki itu yang kembali mengecup bibir istrinya.
"Astaghfirullah, dasar menyebalkan." Karin memukul kepala Angga dengan stik kontrol hasil memeriksa USG tadi lelaki itu benar tidak ada akhlak nya sama sekali.
BRAAAAK....
Di tambah lagi, seseorang membuka pintu paksa dengan wajah masam lelaki itu menyelonong masuk. Karin semakin mengelus dadanya. Sedangkan Angga hanya menatap malas dan duduk di samping istrinya memeluk dari samping sambil mengelus perut buncit itu.
"Papah," sapa Sera. Namun yang di sapa menatap Angga sinis.
"Ck, dasar menantu kurang ajar. Sudah tahu anakku mau USG cucuku, kau malah tidak mengatakannya padaku. Lama-lama gue pecat juga deh lo jadi mantu!" kesel Bobby karena Angga tak memberitahukan nya jika hari ini adalah hari cucunya di USG padahal sudah tahu jelas jika ia ingin menyaksikan perkembangan cucunya tersebut terlebih lagi jenis kelaminnya.
__ADS_1
"Kau tidak bertanya padaku, jadi untuk apa aku memberitahu mu," jawab Angga santai, dan langsung mendapatkan tendangan dari mertuanya itu.
"Gue tanya di hari sebelumnya pea, dasar nyebelin ye. Gak ada sopan-sopan nya sama mertua," desis Bobby ketus.
"Itu kan hari sebelumnya, bukan hari kan?" Angga tak mau mengalah, ada saja yang ia jawab sehingga membuat Bobby mendengus menahan sabar pada menantu nya itu.
Sesaat padangan Bobby menatap mata Sera, ia juga memandang mata Angga. Mata mereka sedikit sembab serta merah. Bobby menaikkan sebelah alisnya heran.
"Kenapa mereka nangis? Hasil USG gak ada masalah kan?" Lebih baik bertanya langsung pada Karin, dari pada bertanya pada Angga, Karena hanya akan mendapatkan jawaban yang mengesalkan nantinya.
Dokter Karin tersenyum sembari menggeleng."Semua baik, Sera juga tidak ada yang salah dengan kehamilannya. Begitu juga dengan cucu-cucu mu."
Bobby mengangguk." Lalu gimana hasilnya, cewek apa cowok?" Bobby bertanya dengan mata binar berharap jika dirinya mendapatkan cucu laki-laki.
"Oh perempuannya," ucap Bobby pelan. Sedikit ada rasa kekecewaan. Tetapi ia kembali pasrah karena yang menentukan bukan Angga maupun Sera. Melainkan sang maha pencipta.
"Kenapa? Gak suka kalau anak-anak gue perempuan?" ketus Angga.
"Bukan begitu, ya lo kan tau sendiri kalau gue memiliki dua anak, dan keduanya perempuan. Wajar sih jika berharap sedikit. Tapi, ya mau gimana lagi, setidaknya cucuku sehat dan itu lebih dari cukup." lirih Bobby, Sera hanya bisa tersenyum sendu karena tak bisa mengabulkan harapan sang papah.
"Tapi gue kok heran ya? Gak Karin , gak elo. Kenapa selalu bilang, cucu-cucuku, mereka, anak-anak. Seolah mereka itu ada dua, kembar maksud gue." Bobby baru menyadari jika ada yang salah dengan ucapan kedua sahabatnya. Bobby belum mengetahui jika dirinya memang memiliki cucu kembar.
"Emang iya, mereka kembar Kenapa? Iri lo," sahut Angga sedikit menyombongkan diri jika diri mampu membuat buah cinta kembar.
__ADS_1
"Hah! Serius?" Bobby menatap Angga, Sera kembali Karin mencari kebenaran.
Ketiganya mengangguk yakin. Bobby diam mematung tak percaya. Dari nenek moyang tak ada keturunan anak kembar. Lalu Sera? Anaknya bisa mendapatkan anak pertama langsung kembar. Apa ini keturunan dari keluarga Angga? Atau keajaiban Allah ciptakan dan menunjukan kekuasaannya pada cucunya itu. Bobby menarik Angga paksa dan menjauhkan dari Sera lalu mengambil ahli memeluk anaknya erat.
Angga berdecak menatap Bobby, ia berdiri di belakangnya sambil melipat kedua tangannya di dada memperhatikan sahabat sekaligus ayah mertuanya itu menangis di dalam pelukan istrinya.
Rasa kecewa tadi langsung lenyap begitu saja dan berganti rasa bahagia tiada tara. Bobby menangis haru mengecup kening Sera lama. Ia bangga pada anaknya itu.
"Selamat ya sayang, Papah. Benar-benar bahagia sekarang. Kamu hebat, dan pasti Papah sama mamah banga sama kamu." Bobby kembali mengecup kening Sera. Kemudian beralih mengecup perut Sera dan mengajak kedua cucunya berbicara.
Angga dan Karin hanya tersenyum memandanginya.
***
Sementara itu, di sebuah perusahaan di mana Leo bekerja sebagai pegawai di sana. Ia baru saja mendapat kabar dari sang papah jika dirinya akan mendapatkan calon adik kembar. Leo turut bahagia mendengarnya, mendapatkan adik kembar dari wanita yang ia cintai membuatnya bahagia. Bohong jika ia dapat melupakan Sera dalam hidupnya. Walau sudah ikhlas sepenuh hati, tetapi kenangan indah itu tetep ia simpan dalam di hatinya sampai hilang dengan sendiri seiring waktu berjalan. Mengingat bayi kembar, Leo menjadi teringat dengan anaknya, rasa rindu ingin bertemu menyelimuti hatinya.
"Gimana kabar kamu di sana, Nak? Papah merindukanmu," gumam Leo memandang wajah polos anaknya yang tengah tertidur di layar ponselnya.
Karena ingin mengetahui kabar Adam. Leo pun menghubungi nomor Abian. Tetapi, nomor tersebut tidak aktif membuat Leo mendesah kecewa.
"Ke mana bocah itu? Apa dia sedang tidak berada di rumah sakit? Lalu siapa yang menjaga Keyra dan Adam?" gumam Leo. Untungnya ia sempat meminta nomor dari Abian sebelum pulang ke ibu kota. Leo pun menghubungi nomor tersebut.
"Assalamu'alaikum," jawab seseorang di seberang. Leo lega setidaknya nomornya aktif sekarang.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, gimana keadaan kamu? Sehat."