
Tumor otak yang dibiarkan tanpa pengobatan akan terus bersarang dan bertambah parah sehingga akhirnya berubah menjadi ganas atau sering di sebut kangker!
Dan seperti yang banyak diketahui, bisanya penderita kangker memiliki peluang kesembuhan yang sangat kecil. Sebab sel kangker mudah menyebar dan berkembang sangat cepat dalam tubuh. Yang akhirnya bisa berujung pada Kematian!
Itulah yang di alami oleh Yura, yang tadinya hanya membiarkan sakit di kepala terus-menerus hingga mengetahui apa gejalanya dan sudah semakin parah. Yura tak dapat berbuat apa-apa lagi selain menyesal dan pasrah.
Dulu Yura tak ingin membuat keluarganya khawatir dan kerepotan dengan dirimu yang sering sakit-sakitan. Sehingga ia membiarkan menahan semuanya sendirian. Awalnya Yura sering kali merasakan gejala seperti. Nyeri kepala yang hebat dan persisten, terus-menerus, terkadang Yura juga mengalami kejang dan rasa mual, muntah, dan lelah yang persisten, berkelanjutan.
"Maafkan Yura ya Mah. Yura bukan anak yang baik, Yura buka. anak yang menjadi kebanggaan Mamah dan Papah seperti Yuri. Yura anak yang selalu menyusahkan kalian, sekali lagi Yura minta maaf." lirih Yura sebelum melakukan operasi.
Andin menggeleng sembari tersenyum mencoba untuk tidak menangis sebisa mungkin. Ia harus kuat supaya anaknya bisa lebih kuat lagi untuk menjalani pengobatan seperti operasi Sekarang ini.
"Yang penting Yura harus segera sembuh. Mamah akan selalu di sini menunggu Yura dan selalu mendoakan Yura. Mamah sangat bangga kok sama Yura, karena Yura adalah anak yang kuat, yang belum tentu orang bisa menahan semuanya. Mamah bangga sama kamu sayang, Yura harus kuat ya, harus bisa berjuang melawan semua penyakit ganas ini. Yura pasti bisa," ucap Andin memberikan semangat.
Yura hanya mengangguk pelan sembari tersenyum senang. Lalu Yura melirik arah sang Papah yang nampak sedih, penuh penyesalan menatap dirinya.
"Pah." Yura meraih tangan Yuda.
"Maafkan semua kesalahan Papah Nak. Papah memang bodoh, Papah tidak pantas di panggil Papah." Yuda tak kuasa menahan tangisnya.
Ia benar-benar sangat menyesal atas perbuatannya selama ini. Ia tidak menyangka jika anaknya begitu sangat menderita. Menderita dari perbuatannya, menderita dari penyakit yang di deritanya. Yuda sungguh ayah yang kejam. Ia bahkan memohon ampunan pada yang mahakuasa agar penyakit yang di derita putri keduanya itu berpindah padanya.
"Semua udah Yura maafkan kok Pah. Asal Papah sehat, Yura udah senang mendengarnya. Papah jangan sampai kecapean, kerja juga jangan terlalu banyak. Istirahat yang cukup, tidur yang teratur serta banyak olahraga dan banyak minum air putih." Yura justru menginginkan Yuda untuk menjaga kesehatan dirinya. Padahal dia sendiri sedang tidak sehat.
Ayah macam apa dia ini yang tega menyakiti putri sekuat dan setegar Yura. Yang selalu ia Bandung- bandingkan dengan Yuri yang sehat.
"Kamu harus semangat untuk berjuang sayang, Papah janji jika kamu sembuh. Papah tidak akan mengulangi perbuatan buruk Papah pada kalian, tidak akan membedakan, dan membanding-bandingkan," ucap Yuda lirih. Ia berusaha untuk tersenyum untuk memberikan semangat pada anaknya.
"Yura senang mendengarnya. Oh iya ... apa Yuri udah ada kabar?" tanya Yura, karena Yuri yang kabur drai rumah pergi ke luar negeri masih belum memberikan kabarnya lagi sampai sekarang. Sudah satu bulan kepergiannya.
Yuda menggeleng." Papah akan berusaha untuk mencari dan membujuknya pulang. Kamu jangan memikirkan masalah lain, kamu cukup fokus aja pada diri kamu sendiri," ucap Yuda tegas. Yura hanya bisa mengangguk pasrah.
Yuda dan Andin selangkah mundur, ia tahu jika kekasih anaknya ingin mengatakan sesuatu pada anaknya. Mereka bersyukur, karena Adam selalu ada dan selalu memberikan semangat pada Yura . Dan sangat berterima kasih karena sudah mencintai anaknya, dan mau menerimanya apa adanya walau dengan keadaan sakit parah.
"Hey," sapa Yura dengan nada lemah. Ia berusaha tersenyum memandang Adam yang mendekat ke arahnya dengan tatapan sendu.
Yura tau jika Adam sangat khawatir akan dirinya. Namun, berusaha untuk tegar agar dirinya juga ikutan tegar. Yura tahu itu, bahkan pada kedua orangtuanya juga. Senyum kebohongan, senyum palsu yang mereka tampilkan, karena sebenarnya mereka sangat sedih dan khawatir.
Adam berdiri tepat di sampingnya. Ia terus menatap Yura lekat.
"Apa kamu sudah makan, hem?" tanya Yura.
Adam tersenyum, lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Tanpa menjawab, ia merogoh kantong celananya. Dan mengambil sesuatu di sana.
Yura menyerngitkan menatap benda kotak berwarna merah di tangan Adam yang baru saja di keluarkan dari kantongnya.
Begitu juga dengan kedua orangtuanya Yura. Mereka cukup terkejut melihat benda itu yang mereka sangat yakin apa isi di dalamnya.
Tanpa kata lagi, Adam membuka kotak segi empat bewarna merah tersebut. Hingga, sebuah cincin permata berlian yang sangat cantik di pandang terlihat. Yura terkesima melihatnya.
"Adam!" Lagi-lagi, Yura di buat terkejut oleh Adam untuk kesekian kalinya.
Cincin indah itu langsung saja di pasangkan di jari manis Yura oleh Adam tanpa izin darinya.
"Mulai dari sekarang, kamu bukan lagi pacar aku."
Yura mematung, jantungnya bak di sambar petir kala itu juga. Tapi ia mengerti, dengan kondisi seperti ini mana mungkin Adam mau bersama dirinya. Ia memaksakan senyum dan mencoba berlapang dada menerima kenyataan pahit ini.
__ADS_1
"Tapi kamu sekarang adalah tunangan aku," lanjut Adam sembari tersenyum, lalu ia kecup cincin yang sudah terpasang di jari tengah Yura.
Air mata Yura mengalir, pikiran ternyata salah. Ia benar-benar tidak menyangka jika Adam mengubah status mereka menjadi tunangan. Antar senang sekaligus sedih yang Yura rasakan.
Yuda dan Andin juga sangat terkejut atas apa yang di perbuatan oleh Adam. Dan mereka juga tidak mungkin menolak, karena mereka sangat senang dan akan menyetujui hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan jika Yura sudah sehat nantinya.
"Adam. Apa yang kamu lakukan?" tanya Yura.
"Menjadikan kamu sebagai tunggangan aku," jawabnya santai.
"Berjanjilah untuk sembuh. Aku akan selalu bersamamu. Jangan pernah merasa sendiri, karena kita semuanya sayang sama kamu, dan akan selalu memberikan semangat untuk kesembuhan mu, berjuanglah calon istriku," ucap Adam. Ia mengecup kening Yura lembut.
Mata Yura berkaca-kaca penuh haru. Begitu besar cinta lelaki di hadapannya ini pada dirinya. Yura tersenyum lalu mengangguk, banyak orang yang menunggu dirinya, sebab itulah ia tidak boleh kalah dengan kangker otak ini.
"Terima kasih, terima kasih untuk semuanya Adam."
Adam memeluk Yura, ia diam-diam meneteskan air matanya. Berharap ada keajaiban untuk kesembuhan Yura dari penyakit yang di deritanya ini. Ia sangat mencintai wanita ini, tak ada wanita lain selain Yura yang ia inginkan.
Seseorang menangis tersedu-sedu. Yura menoleh ke arahnya batu menyadari jika ada salah satu sahabatnya yang hadir sebelum ia melakukan operasi.
"Lily." panggilnya. Adam melepaskan pelukannya, lalu membiarkan Sherly berbicara pada tunggangannya.
Sherly menangis, ia bahkan tak tau lagi harus berbicara apa. Tangisnya tidak mau reda, bahkan semakin deras.
"Hey, berhentilah menangis. Kasihan anak kamu," ucap Yura.
"Aku, aku sangat terharu. Adam romantis banget," jawabnya sembari mengusap ingusnya ke baju.
"Duh, ibu hamil ini kok jorok banget sih ya ampun. Pakai tisu Napa," omel Yura.
"Dasar," ucap Yura sembari geleng-geleng. Ia melihat ke arah samping Sherly membayangkan jika ada Dara di sini juga. Pasti gadis itu sangat heboh, apalagi dengan dirinya yang mau di operasi.
Tapi sayangnya sahabatnya itu sudah terbang ke negara lain. Ia sangat sedih sebenarnya karena kehilangan satu sahabatnya.
"Berjanjilah untuk sembuh,. karena anak aku gak ada tante untuk di ajak main. Gak ada tante yang akan membantu merawatnya," ucap Sherly tegas seolah tak ingin di bantah.
Yura hanya tersenyum membalasnya.
Tak lama kemudian dokter dan tim medis lainnya.
"Apa kamu sudah siap, Yura?" tanya sang dokter.
Yura menatap kedua orangtuanya, dan mereka mengangguk sembari memberikan semangat. Yura tersenyum. Sekarang ia beralih menatap Sherly, wanita hamil muda itu juga memberikan semangat dengan tangan berbetuk love, yang selalu mereka lakukan jika saling memberi semangat satu sama lain bersama Dara.
Lagi-lagi Yura tersenyum. Dan sekarang ia menatap Arah Adam. Lelaki itu mendekat lalu memberikan semangat dengan kecupan di kening.
"Kamu pasti bisa, berjuanglah," bisik Adam.
Yura tersenyum senang dengan perasaan deg-degan. Ia mengangguk pelan. Lalu menatap sang dokter.
"Siap Dok!" jawabnya sangat yakin.
Dokter Faisal tersenyum, lalu melihat jam di tangannya." Baiklah, waktu operasi akan segera di mulai. Jangan tegang ya, di bawa santai aja," ucapnya.
Yura menarik nafasnya dalam-dalam, lalu ia hembusan perlahan kemudian mengangguk.
Para suster mulai mendorong brankar Yura dan memindahkan ke ruangan operasi. Saat dalam perjalanan Andin memegang tangan anaknya erat. Lalu melepaskan setelah suster memintanya karena sudah waktunya masuk ke ruangan operasi dan para keluarga di harapkan untuk menunggu.
__ADS_1
"Tolong tunggu di luar," ucap sang suster.
"Dok, tolong selamat anak saya," ucap Yuda sebelum dokter Faisal masuk.
"Kami akan berusaha semampu kami Pak. Semuanya tergantung atas izin Allah. Sebaiknya kita berdoa meminta pertolongannya darinya supaya operasi nya lancar," jawab dokter Faisal. Mereka hanyalah dokter baisa yang melakukan terbaik pada pasien mereka. Untuk keselamatan dan kesebuhan pasien, semuanya atas izin sang maha pencipta.
Operasi siap di mulai. Para dokter dan tim medis lainnya sudah berpakaian lengkap dengan masker dan penutup kepala serta sarung tangan mereka. Dan tak lupa perlengkapan alat medis mereka.
Lampu operasi di nyalakan. Yura juga sudah di berikan obat bius hingga tak sadarkan diri.
Dokter akan membelah tulang dari rangka kepala pada lokasi tumor yang diketahui dari pemindaian. Setelah tumor diangkat, potongan tulang akan dipasang kembali menggunakan pengaman berupa briket logam kecil.
Dalam prosedur ini, tumor akan diangkat melalui lubang kecil yang dibuat pada rangka kepala.
Operasi ini dilakukan untuk mengangkat tumor pada kelenjar pituituri, tanpa melakukan pembedahan rangka kepala. Dalam, transsphenoidal surgery, dokter akan memasukkan selang berkamera melalui hidung pasien untuk memotong dan mengeluarkan tumor.
Pengobatan kanker otak dilakukan berdasarkan beberapa faktor, yaitu usia dan kondisi kesehatan penderita secara umum, juga lokasi, ukuran, dan jenis tumor. Pilihan tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi kanker otak, di antaranya adalah operasi, radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi.
Dalam terapi ini, obat antikanker dimasukkan dalam tubuh untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi dapat dilaksanakan pasca operasi untuk mencegah tumor muncul kembali, dan memperpanjang usia harapan hidup penderita.
Peran keluarga dan teman sangat penting dalam membantu penyembuhan penderita. Selain teman dan keluarga, dukungan juga bisa didapat dari konselor, pekerja sosial, atau agamawan untuk membantu membahas apa yang dirasakan dan dikhawatirkan penderita.
3 jam masih dalam operasi. Di luar ruangan. Andin tak henti-hentinya menangis. Ibu mana yang tak bersedih melihat anaknya menderita. Hati ibu mana yang tega membiarkan anaknya melawan rasa sakit seorang diri.
Jika di izinkan, seorang ibu rela menggantikan rasa sakit anaknya pada dirinya. Itulah seorang ibu yang rela melakukan apapun untuk anak-anaknya. Tetapi, jika sudah seperti ini apa yang bisa seorang ibu lakukan selain memberikan semangat dan tak luput dari doa.
"Yura pasti kuat, dia anak yang baik. Anak yang tegar," ucap Yuda mencoba menenangkan istrinya.
"Kenapa Yura selalu menderita, dari lahir dia selalu sakit-sakitan. Dan sekarang pun harus merasakan sakit juga. Apa salah anakku?" ucap Andin yang masih menangis. Ia tahu jika Yura adalah anak yang baik. Tapi tidak mengerti kenapa selalu dia yang mendapatkan penderitaan seperti ini.
"Ini semua salah ku, maafkan aku. Jika aku tidak membuatnya tertekan, tidak mengasingkan dirinya. Pasti ini tidak akan terjadi, Yura seperti ini gara-gara aku," sesal Yuda, ia pun menangis menyesali perbuatannya.
"CK, baru nyadar." gumam sinis Sherly.
Sebenarnya kesal sama ayahnya Yura. Emang gara-gara dia yang selalu membandingkan Yura dengan Yuri hingga sahabatnya itu banyak pikiran dan selalu makan hati. Dan inilah yang terjadi, jika sudah seperti ini baru menyesal. Ingin rasanya Sherly memaki pak tua itu jika tidak ingat dosa dan anak di dalam kandungannya.
"Assalamualaikum, Mas." Alex menelpon Sherly. Wanita itu sedikit menjauh dari tempat tunggu.
"Kamu di mana?" tanya Alex.
"Masih di rumah sakit Mas. Operasi Yura masih belum selesai. Dokter belum keluar," jawab Sherly.
"Tapi kamu jangan sampai kecapean ya sayang. Jangan lupa makan," ujar Alex mengingatkan.
"Iya Mas, aku bawa cemilan kok. Susu hamil juga bawa. Jadi kamu jangan khawatir ya," jawab Sherly, ia tau jiak suaminya pasti akan cerewet. Sebab itulah ia membawa tas cukup besar untuk wadah makanan, cemilan, buah dan susu di dalam termos kecil supaya tetep hangat muat di dalam tas tersebut.
"Ya udah, nanti jam 3 aku jemput ya."
"Oke, assalamualaikum."
"Wa'allaikumsalam."
Setelah selesai telponan. Sherly kembali duduk di samping Adam. Mereka tak sabar menunggu dokter keluar dari ruangan operasi tersebut dengan perasaan cemas.
*****
Note. Jangan tanya soal yang waktu itu ya. Aku pun pening, makanya 3 hari libur 😂😂
__ADS_1