
Pagi harinya telah tiba. Seperti janji Sherly yang akan pergi menemui Yura di rumahnya. Sebab itulah pagi-pagi seklia Adam dengan semangatnya sudah berada di apartemen Alex.
"Ya Allah Adam. Azan subuh aja belum berkomandang loh. Tapi lo udah nangkring aja di apartemen gue," ucap Sherly heran.
"Ya emang apa salahnya? Lagian kita bisa sholat subuh berjamaah kan?" jawabnya santai. Adam menghempas tubuhnya di shopa.
"Nie bocah benar-benar ye." Sherly gelang-gelang kepala melihatnya.
"Siapa sih yang datang? Gak liat waktu sikon apa?" tanya Alex baru saja bangun tidur mendengar suara ribut di ruang tamu. Ia mengusap matanya lalu melihat sosok lelaki duduk santai di shopa.
"Woy bocah. Ngapain lo datang subuh-subuh begini? Habis ngepet loh?" tanya Alex sembari menyepak kaki Adam.
"Sembarang aja kalau ngomong. Gue gak segila itu woy," sinis Adam menjawab.
"Terus?"
"Ya ... supaya Lily gak lupa aja kalau udah janji mau ngajak gue pergi ke rumahnya Yura," ucap Adam pelan.
"Gila!" sahut Alex." Apa bedanya kau sama ngepet? Benar-benar dah nie bocah. Gak heran sih, anaknya sableng, cucunya sableng gurunya gendeng. Patut lah," ejek Alex ketus. (Guru maksudnya adalah Bobby)
"Jangan mengejek, Om juga udah masuk ke keluarga sableng. 11, 12 jangan saling mengejek," balas Adam.
"Enak aja. Gue emang masuk ke keluarga sableng. Tapi gak ikutan ya," bantah Alex.
"Gak ikutan tapi nular, apa bedanya?" Adam gak mau kalah. Keduanya debat masalah yang gak penting membuat Sherly yang berada di WC habis muntah-muntah menjadi semakin pusing.
Sherly mengambil air segayung, dengan langkah kesal ia menghampiri keduanya dengan aura yang sudah berapi-api.
Satu siraman bisa mengenai keduanya sekaligus. Basah kuyup dah tuh muka. Keduanya terkejut melihat si ibu abdi negara sudah berapi-api.
"Siapa die?" bisik Alex.
"Bini lu, Om," balas Adam.
"Bukannya mandi terus ngaji biar lebih berfaedah. Dari pada debat kayak gitu apa faedah nya?" omel Sherly dengan tatapan horornya.
Keduanya menelan ludahnya kasar dengan tubuh menciut, mulut terkunci rapat.
"Mandi sekarang! Adzan bentar lagi berkomandang," perintah Sherly tegas.
Keduanya langsung berlari ngacir menuju kamar mandi.
"Astagfirullah, ya Allah Gusti. Taubat-taubat. Maafin Mamah ya Nak, kamu pasti kaget ya, habisnya papah dan Abang sepupu kamu itu kalau gak di kayak gituin pasti gak akan berhenti," ucap Sherly menenangkan dirinya supaya tidak marah-marah lagi sembari mengusap perutnya.
Sementara itu.
"Eh curut! Lo ngapian ikutin gue masuk ke sini juga?" sinis Alex, karena di dalam kamar mandi itu bukan hanya dirinya, melainkan bersama Adam.
"Mau mandilah, dari pada kena omel lagi sama ibu hamil. Mengerikan," sahut Adam, lalu membuka bajunya.
"Eh bocah, tapi gue mau mandi. Lo keluar dulu lah. Masa iya kita mandi banreng? Ogah banget, lo kira gue ini cowok apaan," ucap Alex mencoba mengusir Adam.
" Ya elah, biar hemat waktu. Lagi gue udah terlanjur buka baju ini. Lagian kita sama-sama memiliki tongkat, gak usah sok deh jadi orang?"
Adam tak peduli, ia membuka celananya hingga menyisihkan dalemam saja. Dengan santai anak itu menghidupkan air dan membasahi tubuhnya tak peduli dengan Alex yang menatapnya bengong.
"Eh, gue juga mau mandi. Keburu adzan," ucap Alex. Ia juga bergegas membuka baju dan celananya hingga daleman saja yang tertinggal.
"Minggir, gue butuh air juga woy."
"Ya ambil tinggal ambil, gak usah heboh banget ya," sahut Adam santai.
"Tapi tempatnya sempit, Lo geseran dikit Napa."
Kedua saling rebutan air shower. Dan gak ada yang mau mengalah sama sekali.
"Ini badan Om yang kegedean, makanya tempat nya sempit," komentar Adam sembari mendorong tubuh Alex agar ia mendapatkan air.
"Bukan besar bodoh, tapi kekar. Lo tau kekar gak? Nie liat, berotot," pamer Alex menunjukkan otot-ototnya dan perutnya yang berkotak-kotak.
"Emangnya elu, cungkring?" lanjutnya mengejek.
Adam memperhatikan tubuhnya sendiri, lalu memperlihatkan otot pada lengannya.
""Bukan cungkring ya. Tapi ideal. sesuai dong ma umur gue, gak liat nie ada ototnya juga? Perut gak kalah kotak-kotak nya kayak Om," ucap Adam membandingkan ototnya dengan otot Alex.
"CK, cungkring gitu aja bangga! Gue yakin pasti tongkat Lo itu segede sapu lidi." Alex kembali mengejek sembari melirik arah sangkar burung di sana.
__ADS_1
Adam pun melihat punya dirinya dan punya Alex. Beda jauh ukurannya. Adam pun akui, bahkan berpikir. Kok bisa gede gitu ya? Padahal belum bangun, gimana kalau udah bangun? Wah Sherly pasti teriak terus ini mah. Pikir Adam tak lagi membalas komentar Alex.
Setelah selesai mandi, keduanya keluar bersamaan dan Sherly baru sadar jika keduanya mandi bareng m Ia pun tertawa terbahak-bahak membayangkan keduanya saat mandi bareng. Apakah sama seperti dirinya dan Alex saat mendi bareng. Pikiran Sherly langsung kemana-mana.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh deh," ucap Alex sembari menyentil kening istrinya.
Sherly mengusap keningnya lalu kembali tertawa.
"Wow, asik ya mandi bareng sesama cowok?" tanya Sherly.
"Asik apanya? Jangan aneh-aneh deh. ambil air wudhu sana, kita ngaji bareng," perintah Alex.
Sherly cemberut Karena Alex tak menceritakan apapun waktu mandi tadi. Dengan hentakan kaki ia berjalan mmmenuju keran air dan mengambil wudhu di sana.
Adam sudah mengganti bajunya dengan pakaian baju kokoh dan kain sarung yang sudah ia kenakan. Tak lupa peci di kepalanya.
Ketiganya mengaji bersama sembari menunggu waktu sholat subuh. Hingga pagi pun menjelang dan ketiganya tak ada yang tidur lagi setelah usai sholat subuh.
Alex memesan sarapan, biasanya Sherly masak pagi-pagi setelah usai sholat. Tetapi karena hamil, Alex tak lagi mengizinkan takut istrinya itu kecapean.
"Kita berangkat ke rumah Yura jam berapa?" tanya Adam yang sangat tak sabaran.
"Jam 9-10 aja," sahut Sherly.
"Siang banget? Kenapa gak jam 7 aja," komentar Adam. Sherly pun langsung menoyor kepala keponakan nya itu.
"Lo pikir orang-orang gak memiliki kegiatan pagi apa? Lagian man ada orang bertamu pagi-pagi buta?" sinis Sherly membuat Adam mendengus.
"Nunggu jam 9 kan lama banget, gak tau apa orang dah gak sabaran mau ketemu sama Yura," gumam Adam. Sherly memutar bola matanya malas.
*****
Jam 9 pun tiba, Adam tak duduk tenang karena masih belum berangkat juga ke rumah Yura. Bahkan Sherly masih terlihat santai-santai aja dari tadi.
"Ayo Ly, nungguin apa lagi sih?" ujar Adam.
"Nungguin Dara dateng dulu Adam. Astaghfirullah." Sherly benar-benar tak habis pikir. Adam sangat tidak sabaran sama sekali.
Tak lama kemudian Dara datang dengan wajah yang ceria. Bahkan gadis itu selalu tersenyum seorang diri. Sherly menyipitkan matanya memperhatikan tingkah sahabatnya itu.
"Nggak kok, cuma lagi seneng aja," jawabnya dengan senyuman lebar. Sherly semakin penasaran di buatnya.
"Senang kenapa? Nyokap, bokap lo dateng?" tanya Sherly lagi.
Boro-boro, mereka mana mungkin mau dateng kalau bukan ada urusan di Indonesia," jawabnya kembali memasang wajah murung seketika mengingat kedua orangtuanya yang jarang pulang ke rumah.
Sherly menghembuskan nafasnya, mungkin sahabatnya itu gak mau cerita padanya. Ia juga tak ingin memaksa.
"Udah selesai ngobrol nya. Ayo berangkat," sela Adam, lalu ia berjalan duluan.
"Ya udah ayo, kayaknya Adam udah gak sabaran banget. Bahakan dari tadi," ajak Sherly. Dara mengangguk.
Ketiga nya sudah di dalam mobil Adam. Dengan Adam yang mengemudi sedangkan Sherly dan Dara duduk di kursi penumpang belakang.
"Em, oh iya Ly. Menurut lo, Devan itu orangnya gimana sih?" tanya Dara ragu dengan suara pelan.
Sherly terhayak tak percaya, tumben-tumben nie anak mau nyebut nama mantan kekasihnya itu dengan benar. Bisanya bajing*n tengil atau cowok brengs*k.
"Gue gak salah denger? Lo tanya soal Devan! Ada apa?" tanya Sherly rasa syok.
"Ya nggak apa-apa sih, tanya aja boleh kan?" sahut Dara sembari tersenyum kikuk.
Sherly mengerucutkan keningnya memandangi Dara. Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh sahabatnya itu.
"Sebenarnya ada apa? Gue ini sahabat lo 'kan! Jangan ada yang di sembunyiin kek dari gue. Kenapa lo dan Yura sama aja, dia juga gak kasih tau aku kalau udah nyelamatin Adam. Sekarang lo juga ikutan kayak dia. Sebenarnya gue ini masih di anggap gak sih?" kesel Sherly dengan mata berkaca-kaca. Ibu hamil sangat sensitif.
"B-bukan begitu Ly ...."
"Ya terus apa dong? Lo sekarang main rahasia-rahasiaan segala sama gue, udah gak anggap gue sahabat lagi apa?" Sherly menangis.
Adam panik seketika ia menyetir. Jika mood Sherly jelek bisa-bisa gak bakalan jadi ke rumah Yura ini mah. Ia pun menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Ibu hamil bawaannya sensitif, kamu pelan-pelan aja jelasinnya. Aku keluar dulu, jika sudah selesai panggil aku kembali."
Adam tau, mungkin saja Dara tak ingin bercerita karena ada dirinya. Dan ia juga sangat mengenal tantenya itu yang keras kepala sehingga ia lebih baik mengalah lebih dulu dari pada gagal total ke rumah Yura nya.
Dara perlahan menceritakan kejadian tadi malam. Sungguh mengejutkan bagi Sherly. Ia tidak menyangka jika nyawa sahabat nyaris saja melayang.
__ADS_1
"Jadi Devan yang menyelamatkan lo?" tanya Sherly.
"Iya, nasib baik Devan balik lagi dan mengalahkan semua preman-preman itu. Gue udah pasrah tadinya Ly, tapi ternyata Allah masih baik sama gue sehingga mengutuskan malaikat baik melalu Devan untuk menyelamatkan hidup gue," ujar Dara. Sherly iba, ia memeluk sahabatnya erat.
"Gue baru sadar jika cowok yang selama ini gue anggap bajing*n, brengs*k. Ternyata sangat baik, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan gue," ucap Dara dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, Devan memang anak yang baik. Bersyukur ada dia saat itu," ucap Sherly, Dara pun mengangguk.
Keduanya lalu tertawa setelah melepaskan pelukan.
"Oh iya Ly, apa gue boleh mengejar Devan?" tanya Dara malu-malu. Mata Sherly melotot menatap Dara yang tengah tersenyum malu-malu.
"Seriusan?"
Dara mengangguk yakin, Sherly pun langsung tersenyum.
"Jika Devan benar-benar sudah berubah kenapa nggak? Toh cinta tak ada yang melarang Karena itu bisa terjadi pada siapa saja termasuk lo pada Devan." Sherly mencubit hidung Dara gemes.
"Makasih sayang ku, tanteku," ucap Dara.
"Hey, belum ya. Udah main panggil orang aje lo."
Yura pun tertawa, lagi-lagi Dara menggoda hingga Adam mengetuk kaca pintu mobil karena sudah terlalu lama ia menunggu. Keburu lumutan dah, rang dah tak sabaran ingin segera ketemu sama Yura. Malah drama.
Keduanya menjadi tertawa kembali melihat wajah bete Adam.
"Duh yang gak sabaran, ya udah deh
Kita les't go ke rumah Yura!" ucap Dara memberikan semangat pada Adam.
"Dari tadi kek," gumam Adam, Sherly hanya memutar bola matanya malas.
Setelah kembali melanjutkan perjalanan, akhirnya yang di tunggu-tunggu Adam tibalah saatnya. Mereka sudah tiba di kediaman Yura, rumah yang cukup besar berwarna biru nampak sepi itu.
"Ayo turun!" ajak Dara. Sherly juga turun. Sedangkan Adam berdehem lebih dulu menetralkan dirinya dari rasa gugup sembari membetulkan penampilannya.
Dara dan Sherly menekan bel gerbang. Aalah satu ART Yura membukakan pintu karena sudah kenal dengan kedua wanita itu.
"Yura nya ada Bi?" tanya Sherly.
"Ada Non, Non Yura di kamar, dia lagi sakit," ujar Bi Asri.
"Sakit?" ucap keduanya kaget. Jantung Adam langsung berdetak merasa sesak mendengar penyelamat hidupnya sakit.
"Iya Non, mari masuk Non."
Dengan cepat Dara dan Sherly, juga Adam masuk ke rumah. Sedangkan bi Asri kembali menutup gerbang.
"Assalamualaikum."
"Wa'allaikumsalam, eh Dara, Sherly." Andin nampak senang dengan kedatangan kedua sahabat anaknya.
"Apa kabar Tante." Dara, Sherly mencium tangan Andin.
"Eh ada cowok, dia siapa Nak?" tanya Andin melihat Adam yang tersenyum ramah lalu mencium tangan Andin juga.
Belum sempat Dara dan Sherly menjawab, seseorang berteriak kegirangan melihat Adam datang ke rumahnya.
"Adam, Adam kamu datang ke rumah aku!" ucapnya senang lalu berlari turun dari anak tangga menghampiri Adam.
"Lo kenap dia Dam?" tanya Dara ketus seketika melirik gadis itu.
"Dia bukan Yura kan?" tanya Adam.
"Bukan, dia Yuri kembarannya Yura. Lo kenal sama dia?" Kini Sherly yang bertanya sengaja dengan suara tinggi.
"Kalau Yuri nggak, aku hanya kenal sama Yura aja. Kalau sama. kembaran justru aku baru tau," jawab Adam.
"Kamu Adam? Adam yang pacar nya kamu itu kan RI, ya g kamu bilang kemaren kalau Yura merebut pacar kamu, apa dia orangnya?" tanya Andin pada Yuri.
"Pacar? Aku, pacar nya Yuri? Kenal aja nggak, gimana mau pacaran. Aku hanya kenal sama Yura aja Tante," jawab Adam. Ia juga kaget tiba-tiba di sebut pacaran sama Yuri. Apa gadis itu sudah gila?
"Kalau lo gak kenal sama Yuri, kok bisa Yuri tau nama lo?" tanya Dara pura-pura tidak tau.
"Mungkin dia pernah menyamar sebagai Yura kali, makanya bisa tau nama Adam," sela Sherly menyindir.
Yuri diam membeku dengan wajah pucat.
__ADS_1