
"Alex gak tau alamat rumahnya," ucap ulang Alex.
"Dasar edan, mau nikahi anak gadis orang tapi alamat rumahnya saja tidak tau. Apa yang kau lakukan selama hidup ini, Alex ... astaga, otak anakmu terbuat dari apa ini Pah." Ratna tak habis pikir dengan jalan pikirannya.
Bagas geleng-geleng," kenapa kamu begitu ndeso banget Lex. Masalah perusahaan kamu ahlinya, masalah keuangan kamu jagonya. Tapi kenapa masalah alamat rumah calon istri saja kamu tidak tahu, benar-benar cemen," kata Bagas mengejek.
"Cepetan telpon calon istri kamu, tanya dimana alamat rumahnya. Masa begitu aja mesti di kasih tau, jangan bilang nanti saat malam pertama kamu gak tau juga caranya," kata sang mamah sinis membuat Alex melotot.
"Mana mungkin, soal itu Alex jagonya. Mamah jangan khawatir, sekali cetak, di jamin langsung gol. Percayalah," jawab Alex dengan percaya diri.
"Ya-ya kalau begitu aja otak kamu langsung benar, cepatan telepon calon istri kamu."
Alex merogoh kantong celananya lalu mengeluarkan handphone miliknya. Sesaat gerakan tangannya terhenti ketika menyentuh layar handphone itu. Ia menepuk keningnya lalu menyengir menatap kedua orangtuanya dengan tangan menggaruk-garuk di kepala.
"Kenapa?" tanya Bagas menatapnya penuh selidik.
"Hehehehe, Alex gak punya nomor telponnya," kata Alex dengan senyuman lebarnya hingga deretan gigi putihnya nampak.
Guuuuubraaaaak ....
Ratna dan Bagas langsung pingsan berjamaah. Bagas pingsan sambil kejang-kejang sedangkan Ratna pingsan sambil mengeluarkan busa dari mulutnya, matanya melotot melihat keatas dengan tubuhnya yang juga kejang-kejang.
Bagas dan Ratna heran tujuh keliling, tujuh tanjakan, tujuh belokan. Kenapa bisa mereka memiliki anak macam Alex yang guabloknya sejagat raya di alam semesta ini. Apa mungkin saat mencetaknya kekurangan bahan?Atau kurang saat membaca mantra. Entahlah, yang pasti anaknya itu berhasil membuat mereka terpusing-pusing.
Alex mematung melihat kedua orangtuanya, ia hanya menghela nafasnya panjang sambil merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bodoh kau Alex, kenapa gak minta nomor hpnya tadi. Ah kalau begini mah mana bisa tau alamat rumahnya, dasar pea-pea."
********
Sementara itu, Sherly pulang ke rumah dengan wajah kusut. Namun ia mencoba untuk bersikap tenang di hadapan kedua orangtuanya.
"Wahai Lily anak kesayangan ku, akhirnya kau pulang ke rumah ini. Papah sangat merindukan mu." Angga langsung memeluk anaknya dengan deraian air mata lebay membuat Sherly memutar bola matanya.
"Lebay banget sih Pah, Lily baru beberapa jam saja meninggalkan rumah, terlalu dramatis banget," kata Sherly sewot..
"Eeeh, anak Papah yang cantik, imut, Hanny Bani sweetty ini nampaknya lagi kesal. Kenapa? Lagi dapet kah?" tanya Angga.
"Nggak, udah deh jauhan sana. Gerah tauk."
Angga memanyunkan bibirnya merajuk, ia pun duduk di shopa dengan tangan terlipatkan di dada dengan tubuh bersandar.
"Mamah mana? Lily mau bicara serius sama kalian?" tanya Sherly nampak sangat serius membuat Angga terus menatapnya.
"Sayang, sayang cepatan sini deh," teriak Angga kencang.
"Aduh Mas, gak usah pake teriak segala bisa kan? Ini rumah loh bukan ragunan," omel Sera yang barusan keluar dari kamarnya.
"Emangnya kamu kira aku kingkong," sewot Angga.
"Mirip sih," canda Sera.
__ADS_1
"Sayang ...." Sera pun tertawa, namun seketika tawanya itu terhenti saat melihat anaknya yang diam saja tanpa ekspresi. Wajahnya nampak kusut, ada apa gerangan?
"Sayang kamu kenapa? Lily sakit."
"Hah, anak kesayangan Papah sakit? Biar Papah obati," panik Angga.
"Papah diam oke, duduk yang benar. Ada yang mau Lily bicarakan." Angga langsung patuh dan duduk diam di samping Sera yang kini melirik arahnya.
"Sayang, sebenarnya ada apa?" tanya Sera lembut.
"Pah, Mah. Lily mau menikah!"
"Oh mau menikah, kirain ada apaan?" kata Angga terkekeh.
Loading.
Lola.
Ngebleng.
"Apa? Menikah!" Kaget Angga dan Sera bersama setelah mencerna kata-kata Sherly. Keduanya saling pandang.
__ADS_1
"Hamil?" sambung mereka lagi bersama sambil memandang perut anaknya yang rata.