
Pagi-pagi buta Angga membuka mata, samar -samar ia mendengar suara seseorang sedang muntah. Ia menoleh ke arah samping namun tak ada siapapun di sana. Angga langsung bangkit dari tidurnya, turun dari tempat tidur menuju arah sumber suara dari kamar mandi.
"Sayang..." Angga terkejut sesaat melihat sang istri sedang memuntahkan isi dalam perutnya di wastafel.
"Sayang kamu gak apa-apa?" panik seketika melihat wajah pucat Sera. Angga memijit tengkuknya lembut.
"Aku gak apa-apa, Mas. Hanya sedikit pusing dan badanku lemes," jawab Sera lemah.
Angga menggendong istrinya dan merebahkannya ke kasur perlahan, ia usap wajahnya lembut menatapnya sendu.
"Apa masih mual?" cemas Angga, ia mengelus lembut perut Sera yang masih rata itu.
"Em, tapi sekarang udah mendingan. Cuma badan aku lemes aja." Sera menggenggam tangan Angga yang di atas perutnya.
"Ke marilah, aku ingin memeluk mu!"
Angga tersenyum lembut, ia naik ke kasur dan merebahkan dirinya di samping Sera dan membawanya ke dalam pelukan.
"Apa kamu mau makan sesuatu? Katakan saja, nanti aku buatan untukmu."
Sera menggeleng pelan." Biarkan seperti ini sebentar. Aku ingin memelukmu lebih lama lagi."
Angga kembali tersenyum, ia mengecup kening Sera dalam.
"Baiklah tuan putri, kau memang sekarang."
Sera menenggelamkan wajahnya di dada yang bidang itu, menghirup aroma wangi tubuh Angga membuatnya merasa nyaman, dan kembali tertidur lelap.
"Istirahatlah, aku akan membuatkan makan untukmu." Angga perlahan mengecup kening Sera dan melepaskan diri pelukannya.
"Hey, jaga Mamah untuk Papah ya. Jangan nakal, oke!" Angga berbicara pelan pada perut Sera seolah janin di perut itu dapat mendengar ucapan nya.
Angga keluar dari kamar, ia mengambil handphonenya lalu menelpon sahabatnya di rumah sakit.
"Assalamu'alaikum, Angga ada apa? Tumben pagi-pagi telpon."
"Wa'alaikumsalam, gue cuma mau bilang kalau hari ini gue ambil cuti!" jawab Angga santai berbicara seenaknya.
"Hey, enak banget lo ngomong. Minggu kemaren lo abis ambil cuti, sekarang cuti lagi. Lama-lama gaji lo habis, tau rasa lo!" ejek Reyhan geleng-geleng kepala heran.
"Bini gue hamil, sekarang lagi gak enak badan. Dari pagi terus muntah -muntah, bahkan pusing katanya. Gue mana tega meninggalkannya kerja!" jelas Angga.
"Apa! Hamil? Sejak kapan?" tanya Reyhan.
"Baru tau tadi malam."
__ADS_1
"Wah selamat ya bro, jadi juga kecebong lo sekarang. Gue pikir dah gak bakalan jadi gara-gara kelamaan karatan," ledek Reyhan bercanda, Angga mendengus kesal mendengarnya.
"Sudahlah, gue mau bikin makanan dulu..."
"Cie, yang mau jadi bapak lagi ... oke salam buat Sera, kalau begitu nanti gue suruh Dokter Karin datang ke rumah lo buat periksa Sera sama kandungannya."
"Hem, terima kasih." Angga mematikan sambungan telponnya, lalu berjalan menuju dapur membutakan bubur untuk Sera dan teh hangat.
"Sayang, makan dulu yuk! Aku udah buatin bubur untuk kamu."
"Hemmm, nanti aja Mas. Mulut aku pahit banget."
"Hey, kamu belum makan loh. Kasih bayi kita sayang. Mau makan apa dia, kalau kamu nya aja gak makan."
Sera terdiam, ia melupakan kehamilannya. Mungkin dirinya dapat menahan lapar, tapi bagaimana dengan bayi di dalam kandungannya. Sera bangkit dari tidurnya, ia juga tak ingin membuat calon bayinya kenapa-napa.
"Aku suapin ya..." dengan telaten Angga menyuapi Sera makan, ia benar-benar suami idaman yang sangat memperhatikan istrinya. Kasih sayang Angga bertambah besar mengetahui anaknya tumbuh di dalam rahim Sera.
"Nanti Dokter Karin ke sini, biar dia periksa keadaan kamu dan calon anak kita," ucap Angga sembari terus menyuapi Sera makan. Sera hanya mengangguk saja.
Sesaat lagi menyuapi Sera makan, tiba-tiba suara ketukan pintu dari depan. Dan ketukan itu terdengar tak sabaran.
"Siapa sih?" desis Angga.
"Siapa, Mas?" Seta juga penasaran. Angga mengedikkan kedua bahunya.
"Iya sabar," teriak Angga dari dalam.
"Woy, cepetan buka pintunya." Dapat di tebak suara itu, Angga menghembuskan nafasnya malas.
"Apa?" tanya Angga menatap bosan pada orang itu.
"Dasar menantu laknat. Istri hamil gak kasih tau kami elo ya? Minggir, gue mau ketemu sama cucu gue!"
Angga mematung, menatap punggungnya yang tak lain tak bukan mertuanya itu.
"Makhluk gaib ini! Ck, menyebalkan..." Angga menutup pintunya kembali.
"Sayang..." Bobby langsung memeluk anaknya.
"Papah! Papah kok di sini?" tanya Sera.
Bobby melepaskan pelukannya menatap malas anaknya itu, lama-lama Sera sudah sama seperti Angga pikir Bobby, emangnya kenapa kalau orang tua mau datang bertemu dengan anaknya, gak boleh? Bobby mengerucutkan bibirnya sebal.
"Kenapa kamu gak kasih tau Papah sama Mamah kalau kamu sudah hamil?" tanya Bobby.
__ADS_1
Sera tersentak, dari mana Papahnya tau. Apa Mas Angga yang memberitahunya?
"Papah tau dari Mas Angga?"
"Ah bocah itu gak ada harapan, justru Papah tau dari Om Rayhan kalau kamu hamil, tapi kenapa kalian tidak kasih tau Papah sama Mamah?"
"Bukan begitu, rencananya nanti malam mau mengundang kalian kesini, begitu juga sama Ibu dan Leo. Buat kejutan, tapi Papah udah tau duluan, 'kan gak seru lagi."
Bobby tertawa, ia menatap perut Sera dan menyentuhkan lembut.
"Papah seneng kamu sekarang hamil. Papah dah mau jadi Kakek sekarang." Bobby terkekeh kecil, namun ada butir air mata di sudut kelopaknya," kalau Mamah kamu tau, pasti dia. seneng banget!"
Sera mengangguk, matanya berkaca -kaca. Bobby kembali memeluk Sera erat.
"Selamat ya, sekarang kamu sudah mau menjadi calon Mamah. Papah bangga sama. kamu sayang."
Sera mengangguk, ia terisak kecil di dalam pelukan ayahnya. Angga sedari tadi memperhatikan hanya tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu.
"Sudah woy, jangan lama-lama peluk-peluk bini gue. Cari kesempatan aje lo!" Angga menarik Bobby melepaskan paksa pelukan meraka berdua, lalu memeluk istrinya posesif.
"Ck, dasar menyebalkan. Gue Bapaknya pea!" kesel Bobby menendang kaki Angga.
"Biarin, inikan bini gue." Angga menjulurkan lidahnya mengejek Bobby, Sera hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepalanya saja.
****
Malam hari kemudian, setelah mampir ke rumah Angga siang tadi, Bobby kembali ke rumah sakit lagi. Dan kini datang kembali bersama Dewi. Tak lupa juga dengan ibu Endang bersama Leo yang juga hadir di rumah sederhana itu.
Setelah semuanya berkumpul, Angga memberitahu tentang kehamilan Sera yang sudah berusia 2 minggu tersebut yang sudah mereka ketahui setelah Dokter Karin memeriksa tadi sore. Tentu saja mengejutkan kabar bahagia tersebut. Dewi dan ibu Endang nampak bahagia, kedua wanita itu memeluk Sera bergantian sambil mengucap selamat menjadi calon ibu.
Leo tersenyum miris, seharunya bayi di kandung Sera itu adalah anaknya. Namun karena dirinya bukanlah Tuhan yang dapat memutar balik waktu, sehingga ia hanya mampu menerima kenyataan pahit tersebut. Dan bahagia melihat dia bahagia bersama Papahnya dan calon adiknya. Loe menarik nafasnya dalam, ia berjalan mendekat ke arah Sera, menatapnya lembut sambil menjulurkan sebelah tangannya.
"Selamat ya Mah, atas kehamilannya. Leo juga bahagia, pada akhirnya Leo mendapatkan adik di usia yang sudah tua."
Mengejutkan lagi bagi semuanya, untuk pertama kalinya lelaki itu memanggil Mamah pada Sera.
"Nah gitu dong, kan enak dengernya kalau manggil Mamah." Angga merangkul pundak Leo, ia bangga karena anaknya itu dapat merelakan sepenuh Sera untuknya dan mau menerimanya sebagai Mamah tiri nya.
Leo hanya tersenyum membalasnya, ibu Endang mengusap air matanya yang sudah mengalir di pipi. Ia juga bangga pada Leo.
Semuanya merayakan kebahagiaan dengan makan malam bersama, menikmati hidangan yang Angga pesan di restoran. Tidak mungkin membiarkan istrinya itu memasak dengan keadaan yang sedang berbadan dua.
"Andai saja Keyra ada di sini. Pasti lucu deh kalau anaknya dan anak sera udah lahir. Aku yakin pasti Leo dan Angga bakalan ke tuker, mana adik, mana cucu, mana anak!" ucap Dewi terkekeh santai membayangkan sambil mengunyah makannya.
Namun tidak dengan yang lain, mereka menghentikan makannya, lalu menatap Dewi penuh arti.
__ADS_1
Dewi nampak kebingungan, ia sampai menghentikan suapan makannya ke dalam mulut." Kalian kenapa menatap ku begitu? Ada yang salah?"
Sera tersenyum miris, ia teringat Keyra ... di mana wanita itu? Apa kabar nya sekarang? Tidak ada yang tau di mana keberadaan Keyra. Keluarganya merahasiakan keberadaannya, karena itulah permintaan dari Keyra yang tak akan pulang sampai beberapa tahun kedepannya.