
Alex terkejut melihat seorang gadis berada di rumahnya. Gadis yang audah mencuri pandangnya, gadis yang tertawa penuh ketulusan dengan sorotan mata yang begitu tajam. Gemes, lucu membuatnya ingin mengenalnya. Namun, hari ini gadis itu ada di sini, dalam rumahnya membuat jantungnya berdetak dapat melihat wajahnya dari jarak dekat.
"Alex kenalin ini Sherly, pacarnya Devan," ucap Ratna memperkenalkan Sherly.
Deg ....
Seakan berhenti detak jantung Alex, semua ingatan indah wajah Sherly retak mendengar jika gadis itu adalah kekasihnya Devan. Keponakannya sendiri. Lemes langsung tubuhnya, kecewa sudah pasti, namun ia berusaha menutupinya.
"Halo Om, Sherly." Sherly mengulurkan tangannya.
"Alex." Alex menyambut tangan Sheely, keduanya saling berjabat tangan.
"Hangat dan lembut," batin Alex menatap lekat wajah Sherly.
"Cantik banget kan, Devan memang pintar pilih pacar. Gak kayak kamu," ucap Ratna lagi mengejek anaknya.
Alex terhentak, ia langsung buru-buru melepaskan tangannya mendengar sekali lagi jika Sherly adalah milik Devan.
Devan tersenyum banga, sedangkan Sherly tersenyum malu dengan wajah tertunduk. Alex memaksakan senyumnya.
"Iya dong, siapa dulu," kata Devan sombong membuat Ratna menoyor kepala cucunya itu.
"Iya cantik, kau beruntung Devan," batin Alex seraya tersenyum miris.
"Makanya kamu ajarin om kamu dong, biar dia gak jomblo terus," sahut Bagas menyindir anaknya.
"Tidak perlu, aku bisa mencari pasangan dengan caraku sendiri," sahut Alex, lalu ia beranjak pergi menuju ruangan kerjanya.
Sherly memperhatikan punggung belakang Alex.
"Usianya sudah dewasa, namun masih jomblo," batin Sherly.
Alex masuk ke ruangan kerjanya. Ia menghempaskan tubuhnya di shopa. Wajah Sherly terus terbayang di benaknya.
__ADS_1
"Sadarlah Alex dia itu pacar keponakan sendiri? Gak lucu jika merebutnya dari orang yang kamu sayang." Alex mengacak rambutnya prustasi.
"Devan, jika kau berani menyakitinya jangan salahkan aku jika aku orang yang pertama untuk menghajar mu!"
Alex menghembuskan nafasnya panjang, ia harus melupakan gadis itu. Mumpung perasaannya belum terlalu dalam. Ia hanya bisa bahagia melihatnya bahagia.
Satu minggu telah berlalu.
Alex sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya. Perasaannya yang baru saja tumbuh ada Sherly sudah ia lupakan. Tidak ada hak dirinya jika terus memikirkan kekasih orang.
Pintu di ketuk.
"Masuk," ucap Alex yang masih sibuk dengan tangan memegang dokumen.
"Permisi Pak," kata Vani.
"Ada apa Van? Tidak ada rapat hari ini bukan?" tanya Alex tanpa menoleh arah Vani, matanya masih sibuk melihat dokumen di tangannya.
"Bagaimana Pak, kita makan siang bareng hari ini. Aku akan melakukan apapun yang membuat hati anda senang." rayu Vani mendekatkan tubuhnya hingga belahan gunung kembar itu nampak karena tubuhnya sedikit membungkuk sambil mengusap dada bidang Alex dengan jari telunjuknya pelan.
" Jangan kurang ajar Vina, di mana etika kamu pada atasan kamu!" bentak Alex menghempaskan tubuh Vina hingga tersungkur.
Alex bukannya tergoda, namun ia malah jijik melihatnya. Paling tidak suka dengan wanita penggoda seperti Vani.
"Pak, s-saya ...."
"Keluar kamu dari ruangan saya. Sekali lagi kamu bersikap senonoh, saya pecat kamu!"
"Kenapa, kenapa kamu tidak pernah melihat aku Alex? Aku sudah lama menjadi sekretaris kamu di sini, tapi kenapa sedikitpun tidak pernah melihat aku? Aku suka sama kamu Alex! Tidakkah kamu melihat aku?"
Alex acuh, ia tidak melirik sama sekali pada Vani. Lelaki itu melipat kedua tanyanya menatap arah lain sambil tersenyum hina.
"Keluar ...."
__ADS_1
"Alex!"
"KELUAR SAYA BILANG!" bentak Alex tajam.
"Dan besok jangan berani lagi kamu tunjukan wajah kamu di kantor ini. Kamu saya pecat!"
Vani terkejut, ia meneteskan air matanya menatap Alex tak percaya. Tiga tahun lamanya ia mengejar laki-laki itu, tapi apa yang ia dapatkan sekarang, sebuah penghinaan yang membuatnya tak terima.
"Kau akan menyesal Alex, aku tak terima ini semuanya," balas Vina menatap tajam.
"Keluar dari sini sebelum saya menyeret mu paksa. Kau seharunya sadar dengan posisi mu vina, kau adalah wanita murahan yang paling jijik di muka bumi ini. Cepat keluar dari kantorku!"
Alex melontarkan kata-kata kasar membuat Vina marah.
"Aku tidak terima ini Alex, kau menghinaku dan aku akan membalas semuanya. Ingat itu," ancam Vina serius, namun Alex tidak peduli.
Karena merasa bosan di kantor, Alex memutuskan pergi untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Alex menjalankan mobilnya mecari sebuah restoran, karena perut juga sudah merasa lapar.
"Sherly?" Setelah menemukan sebuah cafe, Alex menepikan mobilnya. Sesaat dirinya sudah berada di dalam restoran tersebut mata tajam Alex melihat sosok gadis sedang duduk seorang diri di meja pojok restoran ini.
"Hay, apa aku boleh bergabung?" tanya Alex menghampiri meja Sherly.
"Eh, Om Alex. Kok di sini?" pertanyaan bodoh yang di lontarkan oleh Sherly membuat Alex ingin tertawa.
Ini sebuah restoran umum. Tujuan orang-orang datang pasti untuk makan bukan? Apa yang ada di dalam pikiran gadis itu, pikir Alex.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Alex sekali lagi.
"Oh, silahkan Om." Sherly nampak canggung dengan om kekasih nya itu.
Alex tersenyum, ia langsung duduk dan mesan makanan. Entah mimpi apa dirinya tadi malam sehingga dapat bertemu kembali dengan gadis yang telah mencuri ketertarikan hatinya. Namun kali ini dirinya menepis pikiran itu, Alex menganggap jika Sherly adalah keponakannya sendiri.
"Kok kamu sendirian, Devan mana?"
__ADS_1