
Adam bergegas pergi dari rumah. Dengan kecepatan ia mengendarai motornya supaya segera cepat sampai di rumah kekasihnya itu. Kepikiran sudah pasti, apa lagi mendengar cerita Sherly jika kekasihnya itu terlihat murung akibat banyak pikiran. Adam pun menjadi t akut akan berpengaruh pada kesehatannya.
"Tunggu aku sayang, jangan terlalu banyak pikirannya. Tolong jangan berpikir yang macem-macem, karena cinta aku hanya untuk mu seorang."
Kecepatan semakin bertambah, beriring nya hembusan angin sepoi-sepoi di sore hari yabg hampir senja. Tak peduli dengan banyaknya pengendara lain di depan. Adam terus menerobos dengan lincah layaknya ular sedang mengejar mangsa.
"Alhamdulillah, sampai juga." Setelah sampai di depan rumah Yura. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Adam pun bergegas turun dari motor. Membuka helem dan menaroknya ke sembarang arah. Bahkan jatuh karena kurang pas, dan Adam tak peduli dengan itu, ia sudah berjalan dengan langkah cepat memasuki rumah kekasihnya itu.
"Assalamualaikum," salam Adam.
"Wa'alaikumsalam, eh Mas Adam," jawab bi Ira selaku ART rumah Yura.
"Yura nya ada Bi?" tanya Adam tanpa basa-basi lagi.
"Ada Mas, di kamar."
Adam spontan menoleh arah atas menatap pintu kamar Yura.
"Em, kalau gitu Adam ke atas dulu ya," ujarnya pamit.
"Silahkan Mas, Bibi siapin teh anget ya." Adam mengangguk, ia pun seketika berjalan menaiki anak tangga menunju kamar Yura dengan helaan nafasnya yang merasa tidak enak.
Sebelum membuka, Adam mengetuk pintu lebih dulu.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Yura, suaranya terdengar lirih. Hati Adam merasa sakit mendengarnya.
Adam tak menjawab, ia membuka pintu begitu saja." Sayang, ini aku," ujarnya setelah membuka pintu.
Mendengar suara yang sangat familiar, Yura pun menoleh cepat.
"Adam." gumamnya sedikit terkejut, pasalnya tak menduga jika Adam akan datang tanpa memberi kabarnya lebih dulu.
"Hey, kamu sakit?" tanya Adam yang kini sudah berada tepat di depan Yura.
"Eh, em ... n-nggak kok." Yura menjadi gugup. Detak Jantungnya berdetak tak karuan.
Adam tak percaya, ia pun meletakan tangannya ke kening Yura. Spontan detak jantung gadis itu semakin berdetak kencang, di tambah lagi rona di wajahnya.
"Nggak panas, tapi kok muka kamu merah ya?" ujar Adam. Yura langsung membuang mukanya arah samping.
Adam menghela nafasnya lega. Ia duduk di depan Yura menatapnya dalam.
"Apa.aku melakukan suatu kesalahan, hem? Kalau ada apa-apa sebaiknya di bicarakan baik-baik. Dari pada di pendam, karena itu tidak baik dan akan membuat kesehatan pun memburuk," ujar Adam bijak bicara pelan sembari menggenggam tangan Yura.
Mata Yura berkaca-kaca, ia menangis tanpa sebab membuat Adam menjadi panik.
"Hey, sebenarnya ada masalah apa? Kenapa kamu menangis?" Adam semakin tidak mengerti. Kenapa wanita itu mudah sekali menangis tanpa sebab. Dan lelaki harus bisa menebak-nebak apa yang terjadi layaknya paranormal.
__ADS_1
"Kamu jahat, kamu udah gak sayang lagi sama aku. Jika memang udah gak sayang seharunya bilang, supaya aku gak mengharapkan. Dan aku akan berusaha ikhlas melepaskan kamu," ujar Yura dengan isak tangisnya.
"Apa yang kamu omongin ini? Aku gak ngerti?" tanya Adam bingung.
Yura mengambil hpnya dan menunjukkan sebuah foto pada Adam.
"Aku tau aku gak secantik dia, aku juga ngerti kok kalau kamu itu hanya terpaksa sama aku karena kasihan. Kalau memang seperti itu, tolong jangan sakiti dia, jangan jadikan rasa kasihan kamu terhadap ku membuat cinta kalian terhalang. Aku gak mau seperti itu, lebih baik gak usah bersama jika memang terpaksa," ucap Yura panjang lebar dengan menahan tangisnya yang kini sangat menyesakkan dada.
"Astagfirullah, ini bukan seperti yang kamu pikirkan, sayang? Ini tidak di sengaja." Adam mencoba menjelaskan jika foto itu bukan dirinya.
Yura mendapatkan sebuah pesan dari nomor tak di kenal. Dan di dalamnya ada foto Adam yang sedang memeluk seorang wanita yang terlihat sangat cantik. Yura menjadi sedih dan minder, di tambah lagi ada pesan dari nomor asing tersebut jika Adam hanyalah terpaksa bersama dengannya karena penyakit dan balas budi karena sudah menyelamatkan nyawa Adam. Tentu saja membuat Yura semakin sedih.
"Tatap aku sayang. Apa aku selama ini ada terlihat terpaksa bersamamu? Apa aku terlihat tidak nyaman seketika berdua bersama denganmu? Apa aku selalu terlihat main-main di matamu?" tanya Adam sambil menangkup kedua pipi Yura dan menatapnya dalam.
Yura menatap kedua mata yang terlihat sangat bersungguh-sungguh itu dan nampak begitu tulus. Ia pun menggeleng pelan.
"Aku serius ingin hidup bersama denganmu seumur hidup. Aku bersungguh-sungguh ingin menghabiskan sisa umurku untuk hidup bersama denganmu. Dan aku sangat tulus mencintai mu, tolong percayalah dengan hati dan perasaan ku, karena hanya namamu yang terukir di dalam sini," ujar Adam lirih. Ia mencoba menyakinkan jika dirinya sangat tulus dan bersungguh-sungguh.
Air mata Yura mengalir bagaikan air terjun yang berjatuhan dengan deras hingga permukaan menjadi basah.
"Maafkan aku, maafkan aku yang sudah meragukan kamu Dam. Aku bodoh karena termakan dan percaya sama omongan pesan itu, tanpa mencari tahu lebih dulu. Maafkan aku." Yura kembali terisak menyesal dengan kebodohan dirinya.
Adam mengelus tangan Yura lembut lalu mengusap air mata yang mengalir itu di wajah kekasihnya.
__ADS_1
"Aku tau, di tambah lagi dengan kesibukan aku dengan kerjaan membuat hubungan kita menjadi renggang. Kau juga minta maaf. Tapi tolong percayalah, jika aku benar-benar mencintai kamu," ucap Adam.
Yura mengangguk." Tapi itu kenapa bisa sampai berpelukan itu? Dan siapa yang memotretnya, dan nomor siapa yang mengirim ke aku itu?" tanya Yura sangat penasaran.