
Malam harinya yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Keluarga Alex sudah bersiap-siap untuk bertemu dengan calon istri Alex. Segala barang bawaan semua sudah tersedia, penuh di dalam mobil hingga membuat Alex tercengang-cengan melihatnya.
"Ini mau acara bawaan atau buka toko sih? Gak sampai lebay gitu juga kali." kata Alex terheran-heran dengan tingkah kedua orangtuanya yang super duper aneh.
"Udah deh, jangan banyak komentar. Anggap saja ini ucap syukur, biar acaranya lancar supaya kamu gak kembali jomblo lagi. Dengan begini kan calon mertua kamu bakalan langsung menerima," jawab Ratna enteng.
"Ya tapi gak satu Trak juga dong Mah." Alex mengusap wajahnya." Astagfirullah, ya Allah tolong simpan wajah ganteng ku ini agar tidak malu nantinya." kemudian berdoa.
Ratna pun langsung menoyor kepalanya anaknya.
"Lebay ... dah ayo kita berangkat. Ingat jangan sampai ada yang ketinggalan."
Alex hanya bisa pasrah, ia berjalan dengan langkah berat masuk ke mobil. Apa yang keluarga Sherly pikirkan nantinya. Ini terlalu berlebih-lebihan.
"Sudahlah Son, mamah kamu lagi bersemangat sangking senangnya kamu mau melamar anak gadis orang. Jangan patahkan semangat yang membara, karena Papah juga sangat bersemangat dan tidak sabar ingin bertemu dengan calon besan," ujar sang Papah yang tak kalah semangat nya hingga memancarkan aura cahaya yang membuat mata Alex sakit.
"Ya Allah gustiiiiii, kenapa juga aku bisa di ciptakan oleh titisan kedua mahkluk mu yang lain dari yang lain ini." Alex menepuk keningnya pasrah.
"Ngomong apa kamu? Ayo sok ngomong lagi!" Ratna langsung menarik kuping anaknya.
"Aduh Mah, sakit jangan kenceng-kenceng."
"Masih untung kuping kamu yang di tarik Lex, lah Papah dulu biji telor peliharaan Papah yang di tarik, kebayang gak kamu," kata sang Papah membuat Alex bergidik ngeri. Kenapa wanita begitu mengerikan, apa nanti istrinya juga seperti itu. Oh tidak, bukan Alex banget kalau sampai takut sama istri. Gak, gak bakalan....
"Dah ayo, kapan lagi berangkat nya jika kalian masih main-main terus. Keburu di pecat sama calon besan tau rasa ntar," omel Ratna, ia masuk ke mobil lebih dulu baru lah di susul oleh Alex dan Bagas. Alex yang mengemudi sedangkan kedua orangtuanya duduk di bangku penumpang belakang. Dan mobil Trak mengikuti dari belakang.
Keluarga Devan belum tahu tentang ini, kebetulan juga kedua orangtuanya Devan berada di luar kota. Sehingga mereka akan di kasih tau setelah acara lamaran selesai.
Sementara di kediaman Angga. Pasangan suami istri itu sudah sangat siap untuk menyambut kedatangan calon besan mereka yang sudah tahu jika akan datang malam ini bukan hanya Alex melainkan bersama kedua orangtuanya. Angga dapat merasakan ada keseriusan pada lelaki itu yang akan menjadi menantunya.
__ADS_1
"Terjadi lagi?" tanya Leo pada Angga.
"Ya sepertinya begitu," jawab Angga menghela nafasnya panjang. Leo duduk di samping Angga.
"Semoga lelaki ini baik dan dapat mencintai Lily dengan tulus layaknya Papah mencintai Sera barulah Leo tenang."
Angga menoleh arah anaknya dengan pandangan sulit di artikan.
"Ya, semoga aja. Jika dia berani menyakiti anak kesayangan ku, Papah sendiri yang akan mematahkan hatinya," ucap Angga serius. Leo manggut-manggut setuju karena dirinya juga pasti akan menjadi penonton yang menyemangati papahnya.
Di dalam kamar....
"Lo yakin mau nikah Ly?" tanya Adam.
"Iya Dam, kalau tidak mana mungkin kita udah siap-siap sekarang," jawab Sherly yakin, walau hatinya gugup.
"Emangnya lo tau tentang Devan?" tanya Sherly.
Adam mengangguk, dan Sherly nampak tertegun.." Kok bisa? Dan kenapa lo gak kasih tau gue?".
"Bukan gak mau kasih tau, sudah beberapa kali ngengetin Lo untuk tidak terlalu percaya sama Devan. Tapi apa jawaban Lo coba?" kata Adam.
'Gak mungkin Devan seperti itu.' Adam mengingatkan jawaban tantenya tiap kali di ingatkan tentang Devan.
Sherly ingat sekarang, bukan hanya keponakannya itu saja yang sering mengingatkan dirinya tetapi kedua sahabatnya juga. Namum dirinya hanya percaya kata-kata manis Devan sehingga mengabaikan keponakannya dan kedua sahabatnya.
"Maaf ya, dulu aku bodoh banget." lirih nya.
"Iya bodoh pake banget, sudah bucin cinta jadi begitulah," ejek Adam. Dan Sherly memutar bola matanya.
__ADS_1
"Tapi sekarang kamu tenang aja, karena aku yakin dengan pilihanku." Sherly tersenyum menyakinkan." Lagi pula aku menikah bukan sama Devan kok."
Adam menaikan alisnya menatapnya tak percaya.
"Serius, aku menikah sama om nya Devan, bukan sama Devan," jelas Sherly melihat wajah Adam yang tak percaya.
"Kok bisa? Jangan-jangan Lo jadi ahli waris keluarga kita?" Kaget Adam.
"Ya, sepertinya begitu," jawab Sherly membenarkan jika dirinya menjadi ahli waris keluarga mereka.
Adam pun tertawa," CK, bukan hanya harta warisan doang ternyata yang menjadi ahli waris, namun pengantin yang tetukar juga bisa menjadi ahli waris, hanya beda persisnya aja." tawa Adam berucap sambil menyeka air matanya.
"CK, terus aja tawa."
Mobil keluarga Alex sudah sampai di depan rumah membuat Sherly kembali gugup serta jantung deg-degan. Bertemu dengan calon mertua yang ternyata calon omah, opah dari kekasihnya.
Lily dan Adam keluar dari kamar dan bergabung dengan keluarga di ruangan yang sudah tersedia.
"Seperti nya mereka sudah datang, ayo kita sambut mereka," ajak Sera pada putrinya.
"Iya Mah."
Angga, Sera dan Sherly menunggu mereka di depan pintu. Sedangkan keluarga Adam menunggu di dalam. Hanya opah Bobby dan omah Dewi yang belum datang. Mungkin macet di jalan.
Bagas dan Ratna turun, Alex juga tak mau kalah. Mereka berjalan bersama dengan senyum di wajah ceria mereka melihat penyambutan keluarga dari calon anaknya.
"Loh, loh ...." ucap Angga dan kedua orang tua Alex, juga Alex bersamaan. Seketika Ratna melihat Sherly, matanya langsung melebar lalu menatap anaknya.
"Alex, kamu gak salah alamat kan? Tiba-tiba nyasar ke rumah pacarnya Devan?"
__ADS_1