
"Kamu dan Lily akan tinggal satu atap sama kedua orang tua kamu?" tanya Angga, mereka masih berada di restoran.
Angga tak mempersalahkan kebohongan Alex dan Sherly, ia tidak tau apa sebenarnya yang terjadi. Namun ia hanya bisa pasrah, toh mereka sudah menikah dan selama Alex tak menyakiti anak kesayangannya itu tidak akan jadi masalah. Karena Angga atau yang lainnya tak ingin ikut campur selama itu masih di ambang batas.
"Aku dan Lily masih belum saling kenal satu sama lain. Dan aku baru mau mengejarnya," jawab Alex.
"Lalu ...?" sahut Leo bertanya.
"Aku akan membawa Lily ke apartemenku, dan kami akan tinggal di sana. Akan lebih nyaman untuk nya jika tinggal berdua saja di sana, dan akan memudahkan kami untuk mengenal lagi lebih dekat lagi."
Angga dan Leo manggut-manggut, jawaban Alex masuk di akal. Walau rasa tidak rela melepaskan putri kesayangannya itu. Namun Angga mencoba untuk mempercayai Alex. Berharap, sangat berharap putri satu-satunya dari keempat anaknya itu bahagia dalam hidupnya. Akan tetapi, Angga tidak akan tinggal diam dan bersumpah jika Alex berani menyakiti anaknya. Jangan salahkan dirinya jika dukun pun ikut bertindak. Ah Bambang Angga ngeri kali, mainnya dukun wkwkwk.
"Kapan kamu akan pindah ke sana?" imbuh Bagas.
"Hari ini," jawab Alex tegas.
"Secepat itu? Kenapa tidak besok atau lusa saja. Kalian bisa menginap di rumah dulu," saran Bagas.
"Duh Pak Bagas ini gimana sih, kayak gak pernah muda saja. Mereka itu pengantin baru, ah ...
dasar tidak peka," sahut Bobby seakan mengejek jika Bagas terlalu kulot.
"Hahahaha, benar kata lo Bob. Biar bujang lapuk karatan ini mengasah pisaunya tajam-tajam. Siapa tau esok harinya kita langsung di berikan cucu." Bagas tertawa lepas tak sabar menggendong cucu lagi.
Dan di angguki oleh yang lainnya mendukung.
"Caranya?" ceplos Alex berucap santai membuat semua para suami itu menoleh arahnya dengan tatapan sulit di artikan.
PLAK, PLIK, PLUK, BAG, BIG, BUG ....
"Hadew, salah apa lagi aku ini?" Alex mengusap kepalanya yang sudah mencuak benjolan merah setinggi menara dan kelopak mata membiru.
*******
Setelah makan siang telah usai. Sesuai perkataan Alex tadi, jika hari ini ia akan membawa Sherly ke apartemennya.
"Kita mau kemana Om?" tanya Sherly melihat arah jalan yang berbeda menuju rumahnya atau menuju rumah mertuanya.
"Apa kamu gak bisa mengubah panggilan sayang kamu itu menjadi lebih manis lagi?" Alex bukannya menjawab pertanyaan Sherly. Mendengar kata Om rasanya gimana gitu, emangnya om-om.
"Kenapa?" Pake tanya lagi? Bikin Alex gak mood aja jadinya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa," jawabannya sewot membuat Sherly menaikkan sebelah alisnya heran.
"Dasar aneh," gumam Sherly, ia membuang pandangannya ke luar jendela.
Sesampai loby Alex memarkirkan mobilnya. Saat hendak membuka sabuk pengamannya, Sherly bertanya.
"Om, kita ada di mana?" Sherly menatapnya dalam.
"Nanti juga kamu tau, ayo kita turun."
Sherly menghela, ia pun keluar dari mobil dan melihat sekeliling parkiran.
"Ayo!" Ajak Alex lalu ia menggandeng tangan Sherly memasuki pintu apartemen. Bahkan di dalam lift pun ia masih menggandeng tangan istrinya seolah tak ingin terlepas.
Sherly hanya diam saja sambil matanya terus menatap tangannya yang di pegang oleh Alex. Jangtungnya pun berdetak cepat. Perasaan apa ini?
"Ini apartemen miliknya, Om?" tanya Sherly.
"Iya, mulai dari sekarang kita tinggal di sini." Alex membuka pintu lalu berjalan lebih dulu untuk meletakkan koper di dalam kamar.
Sementara Sherly masih berdiri sembari mengamati setiap isi ruangan tersebut.
"Gimana? Kamu suka." Alex tiba-tiba berada di belakang nya. Spontan gadis itu kaget.
"Om, dah kayak hantu banget sih. Datang -datang gak bersuara.
"Kamu nya aja yang melamun, sampai-sampai suami sendiri datang gak tau." Alex semakin mendekatkan tubuhnya.
BLUS ... wajah Sherly memerah saat Alex menyebutkan kata suami
Ah benar, jika dirinya sudah bersuami.
"Masuk yuk, panas loh. Liat tuh wajah kamu aja sampai merah gitu," ucap Alex, ia hendak menyentuh wajah Sherly. Dengan cepat istrinya itu menghindar karena malu.
"A-ayo masuk, aku mau minum." Sherly berjalan cepat masuk kembali. Alex hanya diam dan mengikuti langkah istrinya yang sedang meminum seperti orang yang sangat kehausan.
"Mau liat kamar kita?" tanya Alex.
Sherly langsung menyemburkan minuman dari dalam mulutnya.
"Kamu gak apa-apa?" cemas Alex.
__ADS_1
"A-aku nggak apa-apa." Wajah Sherly kembali memerah. Kamar kita? Aaakh, itu artinya ia harus kembali tidur satu ranjang dengan suaminya. Apakah malam ini Alex akan meminta hak nya? Sherly menggaruk-garuk kepalanya.
******
Malam harinya pun tiba. Alex dan Sherly sudah berbaring di tempat tidur. Duduk bersandar, sama-sama memegang handphone masing-masing.
"Tidurlah, kamu pasti sudah mengantuk kan?" perintah Alex lembut sambil mengelus rambut istrinya.
"Emangnya Om belum mau tidur?" tanya balik Sherly.
"Bentar lagi, aku masih mengecek laporan pekerjaan kantor dari asisten aku," jawab Alex lembut.
Sherly mengangguk, ia merebahkan tubuhnya. Ada perasaan lega karena suaminya itu tidak meminta hak nya malam ini. Ia masih belum siap, apalagi mendengar kata orang jika malam pertama itu sangat menyakitkan. Dan itu salah satu membuat dirinya belum siap.
"Jangan begadang. Tidurlah lebih awal," ucap Sherly.
Alex tersenyum sembari mengangguk, ia kembali mengelus pucuk kepala istrinya lembut. Lalu memandang nya lekat. Keduanya pun sama-sama saling pandang. Wajah Alex mendekat perlahan, kedua mata Sherly pun terpejam.
Alex menciumnya lembut, rasa manis bibir Sherly membuatnya candu. Ingin menciumnya lagi dan lagi. Alex baru ketemu yang manis-manis, langsung ketagihan. Gimana jika kalau ketemu yang mantap-mantap? Wah bisa habis istrinya itu di makan olehnya.
"Se-selamat malam." Sherly mendorong tubuh Alex sambil menutupi bibirnya. Ia pun membelakangi Alex agar lelaki itu tak dapat melihat wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus serta bunyi detak jantung nya yang berdetak kencang.
Alex mendesah kecewa dalam hatinya. Belum puas menikmati rasa manisnya bibir itu. Namun sudah tidak bisa lanjut lagi. Tunggu saja nanti saat tidur, batin Alex tersenyum licik sambil menatap punggung istrinya.
Setelah dua jam kemudian, Alex selesai mengerjakan pekerjaan kantor nya. Ia naik kembali ke tempat tidur perlahan.
"Ly, kamu udah tidur?' tanya Alex. Karena tak ada jawaban ia pun bersorak senang. Itu artinya ia bisa mencuri ciuman lagi sampai puas. Alex pun menarik tubuh istrinya pelan hingga terlentang.
"Apa?" Kedua mata Alex terbelalak saat apa yang ia lihat. Raut wajahnya menjadi masam seketika. Alex pun merebahkan dirinya, membelakangi istrinya dengan cemberut.
"Apa-apaan itu, bisa-bisanya dia membaca rencana ku. Huh nyebelin."
Alex sangat kesal dengan istrinya yang ternyata dapat membaca rencananya malam ini. Entah sejak kapan mulut istrinya itu sudah di perban dengan lakban. Bahkan sampai tiga lapis. Ia tak bisa mencuri dong kalau begini mah. Alex pun memejamkan matanya dengan perasaan kesal karena tak mendapatkan vitamin sebelum tidur.
"Astagfirullah, kenapa wajah kamu begitu Om? Mimpi buruk?" tanya Sherly, ia terkejut di pagi hari saat suaminya itu bangun -bangun dari tidur dengan raut wajah wajah masam yang melebihi mangga yang kecut.
"Tauk ah, sebel."
BRAAAAK .... Alex menutup pintu kamar mandi kencang.
Sherly pun tertawa puas." Emangnya enak, siapa suruh mau maling lagi. Entar bibir aku bengkak, kan malu di kampus nanti," ucap Sherly penuh kemenangan.
__ADS_1