
Kanaya berusaha berteriak tapi tidak bisa. Kanaya membalikkan tubuhnya menghadap seseorang yang sudah membekap mulutnya.
"Sssstt." Kania meletakkan telunjuknya di bibirnya menyuruh Kanaya untuk diam.
Ini kesempatan bagi dua orang sahabat untuk mengobrol, karena sejak dari awal mereka bertemu mereka hanya bisa saling tegur sapa dengan lirikan mata saja.
Kania menarik tangan Kanaya menuju taman belakang yang tidak ada seorang pun di sana.
"Apa kabarmu, Nay?" tanya Kania pada sahabatnya.
Sejak mereka tamat, mereka tidak pernah bertemu lagi. Mereka juga tidak tahu kalau orang tua mereka sahabatan.
Setiap kali Kanaya maupun Kania didatangi keluarganya selalu di luar asrama, sementara itu orang tua mereka jika bertemu tidak pernah membawa mereka.
"Alhamdulillah, aku baik." Kanaya menjawab sendu.
"Aku tidak menyangka kita akan terjebak dalam pernikahan paksa ini," lirih Kania jujur.
Dia mengungkapkan apa yang kini dirasakannya.
Kanaya hanya diam mendengarkan ucapan
"Miris memang nasib kita, kamu kapan menikah dengan Raju?" tanya Kania pada Kanaya.
"Aku menikah dengan Raju baru kemarin, pernikahan itu pun baru dikasih tahu satu hari sebelum pernikahan dengannya," jawab Kanaya jujur.
"Kedua orang tua kita benar-benar kelewatan memaksa kita menikah dengan pria yang sama sekali tidak kita cintai," ujar Kania.
Sebenarnya Kania ingin protes, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Selama ini Ibu dan Bapaknya memberikan kasih sayang yang berlimpah, apa pun yang diinginkannya selalu dikabulkan oleh kedua orang tuanya, sehingga dia tidak bisa menolak permintaan kedua orang tuanya itu.
Kanaya tidak terlalu memusingkan lagi masalah perjodohan yang sudah mereka jalani, karena dia tahu saat ini Raja mencintai dirinya dan Kanaya yakin Raja akan mencari cara agar mereka bersatu.
Sementara itu Kania tidak tahu jika Raju juga mencintai dirinya, meluapkan rasa sesak di dadanya pada sang sahabat adalah cara untuk menenangkan dirinya.
"Nay, kamu kenapa diam saja? Apakah kamu setuju dengan pernikahan ini?" tanya Kania heran melihat sahabatnya santai saja.
Kanaya menghela napas panjang, lalu menatap dalam pada sang sahabat.
__ADS_1
"Nia? Sekarang jika kita protes atas pernikahan ini apa yang kita dapat? Akankah kedua orang tua kita menerima dengan penolakan kita?" ujar Kanaya.
Apa yang dikatakan Kanaya memang ada benarnya, jika mereka protes maka malu yang akan didapat oleh kedua orang tuanya.
"Apa yang kamu katakan memang benar, tapi,--" Ucapan Kania tergantung.
Kania tidak bisa mengungkapkan rasa sukanya pada suami dari sahabatnya, karena saat ini Kania tidak tahu bagaimana perasaan Raju terhadap dirinya.
"Sudahlah, Nia. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah menjalaninya saja, jika suatu saat nanti kita memang tidak cocok dengan pasangan kita, maka kita bisa bicarakan masalah ini dengan baik-baik." Kanaya menasehati Kania.
Kanaya tidak lagi pusing dengan pernikahan itu, karena saat ini dia tahu alasan Raju bersikap dingin padanya.
Flash back on.
Saat Raju sudah pergi, Kanaya dan Raju duduk di kursi panjang di pinggir pantai.
"Apa kamu tidak menyukai pernikahan ini?" tanya Raja pada Kanaya.
"Mhm, begitulah," lirih Kanaya jujur.
Dari sorotan mata Kanaya terhadap dirinya, Raja dapat merasakan istri saudara kembarnya itu memiliki rasa kagum terhadap dirinya.
"Kalau pun aku mencintainya, aku tidak mungkin bisa bersama pria itu karena pria yang aku cintai sudah menjadi milik orang lain," tutur Kanaya jujur.
Mendengar penuturan Kanaya, Raja semakin yakin bahwa pria yang dicintai Kanaya adalah dirinya.
"Jika boleh tahu, siapa pria yang kamu cintai itu?" tanya Raja penasaran.
Raja ingin Kanaya mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya pada dirinya, dia memiliki rencana tersendiri jika memang Kanaya mencintai dirinya.
Kanaya terdiam, dia menatap dalam pada pria yang dicintainya itu. Pria yang kini berada di hadapannya.
"Katakan padaku, jika kamu memiliki seseorang yang penting di dalam hatimu," lirih Raja membujuk Kanaya agar jujur padanya.
Kanaya bingung harus menjawab apa, dia tidak mungkin mengungkapkan bahwa dirinya mencintai Raja di hadapan Raja.
Sejenak mereka terdiam dan hening. Raja juga bingung harus bagaimana, mereka menatapi lautan luas, ombak terus menghantam daratan, mereka masih saja hening tanpa satu kata pun yang keluar dari mulut mereka masing-masing.
__ADS_1
Setelah sekian lama mereka terdiam, Raja meraih tangan adik iparnya.
"Aku tahu, kamu tidak mencintai Raju. Tapi, kamu mencintai diriku?" lirih Raja penuh percaya diri.
Kanaya masih diam, dia melirik tangannya yang kini digenggam oleh Raja.
Ada rasa yang membuncah di hatinya, dia kaget saat mendengar Raja menebak pria yang menjadi pujaan hatinya selama ini.
"Bertahun-tahun aku mencarimu, tapi aku tidak pernah menemukanmu, di saat aku menemukan wanita yang aku cintai, dia sudah memiliki status sebagai adik iparku," tutur Raja jujur dengan perasaannya saat ini pada istri adik kembarnya.
Bola mata Kanaya membulat mendengar penuturan Raja yang sangat jujur.
"A-apakah ka-kamu ju- juga men-cintaiku," lirih Kanaya tidak percaya.
Raja terus menggenggam erat tangan Kanaya, dia ingin menunjukkan bahwa cinta yang dimilikinya hanya teruntuk pada adik iparnya itu.
"Iya, Kanaya. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, meskipun aku tidak pernah tahu namamu, tapi wajah dan tawamu selalu ada di hatiku," tutur Raja mengungkapkan rasa yang selama ini dipendamnya.
Kanaya merasa tersanjung dengan apa yang sudah diucapkan oleh Raja, dia tidak menyangka cintanya selama ini pada Raja tidak bertepuk sebelah tangan.
Dia merasa sangat bahagia mendengar penuturan yang dilontarkan oleh Raja. Namun, Kanaya sadar saat ini dirinya bukanlah seorang yang single, dia sudah memiliki status sebagai seorang istri dari saudara kembar Raja.
Perlahan Kanaya melepaskan genggaman tangan Raja, dia tersadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah dosa.
Tak seharusnya orang wanita yang sudah bersuami duduk berdua dengan pria yang bukan suaminya.
"Tapi, sekarang kita tidak akan bisa bersatu. Meskipun kita saling mencintai, kita tidak akan bisa bersatu karena kita sudah menikah. Kita sudah memiliki jalan hidup masing-masing," ujar Kanaya menampik harapan untuk bisa bersama dengan Raja.
"Naya, aku akan berusaha mengatur cara untuk kita bisa bersatu, karena kau tahu saat ini Raju tidak mencintaimu. Dia tidak akan pernah menyentuhmu karena dia tahu bahwa aku sangat mencintaimu," ujar Raja.
Raja berusaha meyakinkan Kanaya, untuk tetap tenang dalam menjalani pernikahan paksaan ini. Dia akan berusaha memperjuangkan cintanya, agar dia dapat bersatu dengan wanita yang dicintainya.
Flash back off.
Kania terdiam mendengar ucapan Kanaya, dia tak menyangka sahabatnya itu tidak mempermasalahkan keadaan mereka yang kini terjebak dalam nikah paksa.
Bersambung...
__ADS_1