Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
EPISODE 125


__ADS_3

Flashback sesaat operasi sesar....


"Dok, pasien kekurangan darah!" pekik suster tersebut.


"Cepat, tambahkan beberapa kantong darah lagi, sekarang!" perintah sang dokter tegas. Dengan cepat suster langsung menambahkan kantong darah 2 sekaligus.


Setelah bayi pertama keluar, detak jantung Sera melemah. Dokter pun langsung menanganinya segera, hingga bayi ke dua lahir. Dan detak bunyi jantung berbunyi, garis lurus terlihat di layar monitor. Dokter yang lain pun langsung mengambil alat medis yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung jika dibutuhkan. Alat ini berfungsi untuk menolong orang yang mengalami henti jantung.


" 1 2 3 ...." Dokter memberi aba-aba, dan menguranginya lagi dengan keringat bercucuran di kening, namun tetep tenang dan konsentrasi penuh.


Alam bawah sadar Sera, ia sedang berada di tepi kolam seorang diri, menikmati pemandangan indah di sana dengan balutan baju putih bercahaya. Sesaat sedang memainkan air dengan senyum mengembang tiba-tiba seseorang anak kecil datang menghampiri.


"Mamah kenapa di sini?" tanya anak kecil itu, Sera menoleh.


"Hey, kamu cantik sekali," sapa Sera memuji kecantikan anak kecil itu.


"Mamah juga cantik, kan aku mewarisi kecantikan mamah," ucapnya, membuat Sera menatapnya serius.


"Kenapa kamu memanggil aku Mamah?"


"Karena kamu memang Mamah aku, aku kakak yang baru lahir, aku ke sini mau menjemput Mamah pulang," ujarnya sembari tersenyum.


"A-anak? Jadi kamu anak aku?" Sera menangis menyentuh wajah anak kecil yang mengaku sebagai anaknya itu, melihat lebih jelas, wajah anak itu memang sedikit mirip dengannya, mata, alis dan bibir. Selebihnya mirip Angga.


"K-kamu anak aku, ya Allah alhamdulillah aku bisa bertemu sama kamu Nak, tapi kenapa kamu di sini? Mana saudara kembar kamu?" tanya Sera melihat sekeliling.


"Adik lagi menangis mencari Mamah, makanya kakak ke sini buat menjemput Mamah. Mamah pulanglah, biar kakak yang di sini menggantikan Mamah," ucapnya.


"Menggantikan Mamah, maksudku kamu ...." Sera mengerti, ia membelalakkan matanya sembari menggeleng.

__ADS_1


"Nggak, nggak sayang. Kamu dan adik harus selamat. Biarlah Mamah yang di sini asal kalian selamat dan bahagia di bumi," tolak Sera sembari memeluk anaknya terisak.


"Tapi banyak yang menunggu Mamah, dan adik juga sangat membutuhkan Mamah, papah juga."


"Tapi Nak."


"Mamah kembalilah, waktu kita tidak banyak di sini, biarlah adik yang akan menjaga Mamah di dunia, dan kakak akan menjaga Mamah di syurga. Pulanglah Mah, semuanya sudah menunggu Mamah bangun, relakan aku pergi, ikhlaskan lah aku berada di sini. Berbahagia bersama papah, abang, adik, dan adik-adik nantinya. Kakak akan menunggu Mamah di sini."


Sera menangis memeluk erat anaknya, ia rasa tak percaya jika anaknya lah yang menjadi penyelamatan hidupnya menukar jiwanya. Sera mencium lama kening anaknya.


"Mamah bangga sama kamu sayang, terima kasih banyak atas pengorbanan kamu. Mamah janji tidak akan menyia-nyiakan nyawa yang sudah kamu berikan. Kamu akan selalu Mamah ingat, selamanya akan selalu Mamah ingat."


"Iya Mamah, karena kakak sayang Mamah. Pulanglah, sampaikan salamku pada papah. Aku kasihan melihatnya terpuruk menangisi Mamah. Selamat tinggal Mah, aku doakan semoga Mamah dan keluarga yang lain bahagia, aku pun bahagia walau aku berada di sini."


Setelah mengecup kening Sera, cahaya putih menyilaukan mata membuat Sera menutupnya dengan tangan....


"Alhamdulillah." Dokter yang lain lega setelah mengetahui detak jantung Sera kembali stabil, dan melakukan tugas mereka yang belum selesai.


"Dok," panggil salah satu suster yang menangani anak -anak Sera dan Angga.


"Ada apa?" tanya suster yang satunya melihat raut wajah panik suster itu.


"B-bayinya tidak lagi bergerak, dan ... dan tidak bernyawa lagi," ucapnya gemetar. Dan dokter yang lain pun langsung nekan-nekan dada bayi tersebut kemudian menggeleng lemah.


"Inna lillahi wa inna illahi raji'un," ucap yang lainnya turut berduka cita dengan nada sedih.


Flashback of.


Angga terduduk lemah di lantai, air matanya bahkan nyaris habis karena tak ada henti -hentinya menangis. Ia memeluk jasad anaknya erat, merasa bersalah karena tidak bisa menjadi ayah yang siaga selama mereka masih dalam kandungan istrinya.

__ADS_1


"Maafkan Papah Nak, maafkan Papah," ucap Angga. Eyang yang melihatnya pun benar-benar sakit, anaknya begitu rapuh seperti ini. Ia pun menghampiri.


"Angga, ikhlas anak kamu Nak. Ini sudah menjadi takdir Allah. Mungkin dia bahagia berada di sisi sang maha pencipta. Relakan yang sudah menjadi keputusan Allah Nak, karena semuanya ini hanyalah titipan semata yang akan bisa di ambil kapan saja termasuk salah satu anak kamu," ucap ibu Endang menasihati, sesungguhnya ia juga merasa sedih dan terpukul, namun takdir tidak ada yang bisa melawan, sehingga adanya ikhlas dan tawakal lah yang dapat bisa di lakukan.


Angga terdiam, ia menatap sekali lagi wajah mungil anaknya. Yang di ucapkan ibunya benar. Semuanya ini adalah titipan, bersyukur karena Allah hanya mengambilnya satu, sehingga ia masih bisa melihat senyum anaknya yang satunya lagi. Ia kecup lembut kening kecil itu dengan tetesan air mata berlinang.


"Terima kasih karena sudah hadir dalam hidup Mamah dan Papah Nak, walau kita belum sempat bertemu, tapi Papah senang bisa merasakan kehadiran kamu semasa masih di dalam kandungan Mamah, kamu tetep menjadi bagian keluarga Papah, terima kasih anakku. Selamat jalan semoga kamu bahagia berada di sisinya," ucap Angga meletakkan jasad anaknya ke brankar mayat. Lalu di tutupnya dengan kain putih.


Bobby, Dewi Leo dan Keyra menangis menatapnya. Sedangkan Angga memeluk ibunya erat menangis di sana mencoba untuk ikhlas kepergian anaknya yang baru saja lahir di bumi.


"Bobby, Dewi. Aku minta maaf," ucap Angga menghampiri keduanya yang masih menangis.


"Ini bukan salah siapa, Ngga. Ini semua adalah takdir Allah. Semoga ada hikmah dari cobaan ini semua dan kalian tabah menghadapinya," jawab Bobby yang di angguki oleh Dewi membenarkan ucapan suaminya.


"Tapi, apa yang harus aku jawab ketika Sera bangun dan bertanya mengenai anak kami? Apa yang harus aku jawab, Bob?" lirih Angga lesu. Iya tidak tahu harus apa.


"Aku tidak tega melihatnya bersedih, Bob. Sera pasti sangat terpukul," lanjut Angga kembali menangis, Bobby mengerti ia pun memeluk sahabatnya menangis bersama.


"Dokter Angga," panggil suster yang baru saja masuk ke ruangan Sera.


Angga dan Bobby menoleh, Bobby memeperkan ingusnya di baju Angga. Dan Angga langsung menoyor kepala Bobby.


"Ada apa Sus?" tanya Angga mengusap air mata bahkan ingusnya yang mengalir di hidungnya pakai tangan lalu ia mengelapnya ke baju Bobby. Bobby pun ingin membalas Angga namun lelaki itu langsung menghindar menghampiri suster.


"Ibu Sera sudah sadar."


****


NOTE: Maaf kalau typo atau ada

__ADS_1


__ADS_2