
Kania duduk di depan meja rias, dia menatap tajam ke arah sosok yang ada di hadapannya.
Dia marah pada dirinya sendiri yang sudah berbuat ceroboh membiarkan pria yang sudah berstatus suaminya itu melihat keindahan tubuhnya.
"Mengapa aku bisa berbuat seceroboh ini?" maki Kania terhadap dirinya sendiri.
"Pria itu sudah melihat lekuk tubuhku, dan keindahan tubuhku, itu artinya dia harus menjadi milikku. Aku harus bisa membuat dia jatuh cinta padaku. Meskipun aku mencintai kembarannya, semoga rasa itu bisa berubah untuknya," ujar Kania.
Dia bermonolog seorang diri di dalam kamar itu, hari ini dia akan memulai misinya untuk mendapatkan cinta sang suami dengan seutuhnya.
Apapun akan dilakukannya agar Raja mencintai dirinya, seiring berjalannya waktu dia juga akan menata hatinya untuk melupakan Raju.
"Bismillah, ya Allah aku akan meraih cinta suamiku atas izinmu," lirih Kania penuh keyakinan.
Saat sore datang, Kania mulai gelisah karena sang suami belum juga pulang ke villa.
"Bang Raja ke mana, ya?" lirih Kania.
Dia kini sedang duduk di teras sambil memainkan ponselnya.
Dia membuka akun media sosialnya sekadar menghilangkan rasa suntuk menunggu seseorang yang tidak tahu kapan akan datang.
Setelah satu hari Raja menghabiskan waktu di luar Villa, akhirnya dia pun pulang ke villa.
Sesampai di Villa, dia mendapatkan istrinya tengah duduk di teras rumah.
"Bang, kamu dari mana saja?" tanya Kania.
Kania berdiri lalu menghampiri sang suami.
Raja menautkan kedua alisnya heran melihat perubahan sikap Kania.
"Bang, aku menunggumu sejak tadi. Apakah kamu sudah makan?" tanya Kania mengkhawatirkan keadaan suaminya yang keluar dari villa belum memakan apapun.
"Sudah, aku sudah makan," jawab Raja dengan datar.
"Oh syukurlah kalau begitu, kamu pasti lelah aku siapkan air panas untuk mandi?" tawar Kania dengan baik hati.
Hal ini membuat Raja semakin heran apa yang terjadi pada istrinya.
Kania pun menggandeng tangan kekar milik suaminya, lalu Dia menggiring Raja melangkah menuju kamar mereka.
__ADS_1
Raja hanya bisa mengikuti langkah sang istri secara perlahan, dibenaknya kini mempertanyakan perubahan sikap wanita yang sudah berstatus istri baginya.
"Apakah kamu mau mandi dengan air panas?" tanya Kania menawarkan diri untuk menyediakan air hangat yang ada di kamar mandi.
"Tidak usah, aku tidak ingin merepotkanmu," jawab Raja.
Raja pun kini melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti yang akan dikenakannya setelah mandi.
Namun, Kania mendahului langkahnya. wanita itu mengambil sebuah baju kaos dan celana training serta pakaian dalam milik sang suami dari dalam lemari.
"Ini pakaianmu, sebagai seorang istri aku wajib melayani setiap kebutuhanmu," ujar Kania.
"Hah? Apa yang dikatakan gadis ini? Apakah dia sudah menerima pernikahan ini?" gumam Raja di dalam hati.
Dia bingung melihat perubahan sikap Kania yang secara tiba-tiba.
Dalam kebingungan Raja malangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, satu hari menyusuri pantai membuat barangnya sangat terasa lelah.
"Kamu pasti bingung dengan apa yang aku lakukan saat ini tapi suatu hari nanti kamu akan tahu apa alasan Aku melakukan ini," gumam Kania di dalam hati.
Raja pun melakukan kegiatan mandinya sambil berpikir, dia masih belum percaya dengan perubahan sikap sang istri yang mendadak baik terhadap dirinya.
"Apa jangan-jangan dia kesurupan atau kesambet setan?" gumam raja berprasangka buruk terhadap istrinya.
Satu jam raja di dalam kamar mandi dia berendam melepaskan rasa lelahnya serta berusaha untuk menghilangkan pikiran yang mengganggunya.
"Kamu sudah selesai mandi kenapa lama sekali?" tanya Kania pada suaminya saat Raja sudah berada di depan pintu kamar mandi.
Raja tidak menjawab pertanyaan sang istri dia pun duduk di atas tempat tidur tepatnya di samping sang istri.
Raja menatap dalam sang istri, dia juga melambaikan tangannya tepat di wajah istrinya.
"Ish, apa yang kamu lakukan, Bang?" tanya Kania heran melihat apa yang dilakukan raja.
"Apakah kamu masih sehat?" tanya Raja pada istrinya.
"Apa? Kamu pikir aku ini sedang sakit? kamu nggak ngelihat aku ini sehat walafiat," gerutu Kania kesal.
"Aku kira kamu sedang sakit, sehingga kamu berubah drastis," ujar Raja.
"Dasar aneh di saat orang baik malah dikira lagi sakit, Ya Allah berikan aku kesabaran untuk menghadapi pria ini," gunung Kania di dalam hati.
__ADS_1
Dia memasang wajah tersenyum kepada sang suami menutupi rasa kesal yang ada di hatinya.
"Bang, sebentar lagi waktu maghrib masuk. Kita shalat magrib berjama'ah, ya," ajak Kania.
"Sudah seharusnya bagi sepasang suami istri untuk melakukan shalat berjama'ah," ujar Kania lagi.
Mau tak mau Raja pun mengikuti apa yang dikatakan oleh istrinya, dia tidak bisa menolak karena ajakan yang diminta oleh istrinya merupakan ajakan yang baik.
Tak berapa lama azan pun berkumandang.
"Sudah azan aku berwudhu dulu ya, Bang," ujar Kania.
wanita itu berdiri lalu melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Sedangkan Raja berdiri dan bersiap-siap untuk melaksanakan shalat maghrib di sudut kamar tersebut.
Mereka memulai shalat maghrib berjamaah di dalam kamar mereka.
Raja berdiri menjadi imam bagi istrinya, hal ini sudah biasa dilakukan oleh Raja karena Raffa selalu mengajarkan putranya untuk menjadi imam secara bergantian.
Kania menikmati suara merdu yang melantunkan ayat-ayat shalat yang mengalir dari mulut imamnya, hatinya bergetar dia bersyukur memiliki imam yang taat beragama.
Setelah shalat, Raja juga mengimami dalam membaca doa-doa sesudah shalat.
Usai berdoa Kania mendekati sang suami, dia mengulurkan tangannya lalu meraih tangan suaminya.
Dia menyalami tangan sang suami lalu menciumi punggung tangan itu.
Raja semakin bingung melihat apa yang dilakukan oleh Kania. Hari ini mereka melakukan rutinitas seorang suami istri yang biasa diperlihatkan di acara televisi ataupun di novel-novel islami.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Raja kepada istrinya.
Kania merasa tersinggung dengan ucapan sang suami, dia merasa suaminya mencurigai dirinya sudah melakukan kesalahan, tapi Kania selalu berusaha untuk bersabar.
"Aku tidak menginginkan apapun darimu, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang istri dari pria yang bernama Rajasa Surya Atmaja," jawab Kania dengan tenang.
Raja semakin bingung.
"Mulai hari ini dan seterusnya, kita akan bersikap layaknya sepasang suami istri, karena kamu dan aku sudah sah menjadi suami istri baik di mata agama maupun hukum negara," ujar Kania dengan jelas.
"Apa maksud wanita ini? Apakah dia juga akan menuntut haknya sebagai seorang istri dariku? aku tidak mungkin menyentuhnya karena aku tidak mencintainya, aku hanya mencintai Kanaya seorang," gumam Raja di dalam hati.
__ADS_1
Batinnya mulai berkecamuk memikirkan kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh istrinya.
Bersambung...