
"Keyra jawab!" lagi-lagi Leo membentak.
Eyang Endang yang mendengar pun langsung menyelonong masuk ke dalam kamar cucunya.
"Leo, kalau ngomong itu gak usah bentak-bentak. Kasihan istri kamu, dia itu lagi hamil! " Seru ibu Endang memarahi Leo. Ia memeluk Keyra, bagaimana pun juga Keyra sudah menjadi bagian keluarganya.
Keyra menumpahkan semuanya dengan tangisan, rasa sesal dan takut menyelimuti perasaannya.
" Udah gak apa-apa, jangan nangis lagi ya." ibu Endang mengusap lembut surai hitam Keyra.
"Maafin Keyra, Eyang. Keyra benar-benar minta maaf."
" Eyang udah maafin kamu... udah ya jangan nangis lagi. kasihan cicit Eyang nanti ikutan nangis juga," ujar eyang membujuk Keyra.
Leo mengusap wajahnya kasar, ia memperhatikan istrinya, menatapnya dalam.
" Sebenarnya apa yang kamu katakan sama. Sera? kenapa dia menangis setelah keluar dari sini?" tanya Leo berusaha sabar.
Keyra melepaskan pelukannya dari eyang. Ia menghapus jejak air matanya.
" Aku mengatakan semuanya pada Sera," ujar Keyra lirih.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Leo datar.
"A-aku... aku mengatakan semuanya sama Sera!" ujar Keyra gugup, ada ketakutan di sana.
Leo tersentak, dalam hatinya bertanya -tanya? Kenapa Sera bisa nangis sampai segitunya, apa Sera kesal karena dirinya sudah di jebak oleh Keyra! Leo pun memandangi Keyra penuh selidik, tapi sepertinya bukan hanya itu yang di katakan oleh Keyra kepada Sera.
"Tentang semuanya apa yang kamu katakan padanya? dia nangis sampai sesenggukkan loh. Artinya ada luka yang dalam di hatinya, gak. mungkin kalua kamu cuma bilang soal kamu menjebak aku doang, 'kan?" hardiknya tajam.
__ADS_1
Keyra menelan Saliva nya, ia gemetar saat Leo menatapnya tajam. Segitu bencinya kah suaminya itu kepada dirinya? Keyra pun merasa sedih ia menundukkan kepalanya.
"Aku mengatakan padanya bahwa aku bukan sahabat yang baik, karena aku bersahabat dengannya hanya ingin memanfaatkan dia aja," ujar Keyra lirih, lalu ia mendongakkan kepalanya menatap Leo yang kini tengah mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Dan aku juga mengatakan padanya bahwa aku lah yang menjebak dia dan papah, saat itu," lanjutnya lagi.
Leo dan ibu Endang terkejut, Leo mendekati Keyra lalu menyentuh kedua pundaknya dan. memegangnya kuat.
"Apa yang kamu katakan Keyra! Menjebak apa maksud kamu?" bentak Leo menatap tajam yak peduli jika Keyra saat ini tengah merintih kesakitan.
"L-Leo, sakit..., " ujarnya menahan sakit dengan mata berkaca -kaca.
" Leo, kamu menyakiti nya." ibu Endang melepaskan tangan Leo. Lelaki itu berdecih kesal kepada Keyra.
"Jawab, Keyra! Apa maksud kamu menjebak mereka berdua?" tanya Leo kembali dan membentaknya lagi.
Ibu Endang benar-benar terkejut, ia menutup mulutnya tak percaya jika Keyra tega melalukan itu kepada anak dan cucunya. Dan lagi-lagi Sera yang menjadi korbannya.
"Kenapa kamu melakukan itu, Keyra?" tanya ibu Endang dingin.
Keyra menoleh, matanya terbelalak lebar saat mendapati tatapan benci dari eyang mertuanya itu.
"Agar Leo menjauhi Sera, kalau Leo tau bahwa Sera sudah tidak suci lagi dan melakukan hubungan dengan papah. Maka, Leo akan meninggalkan Sera dan mau menikahi ku," tuturnya lirih.
"Sejak kapan kamu menjebak mereka?" Leo menahan emosinya, ia ingin mengetahui lebih banyak lagi.
"Sewaktu aku mengatakan hamil sama kamu, dan kebetulan juga saat itu Sera pergi ke Bali. Dan aku juga tau kalau papah akan pergi ke sana, sebab itulah aku memulai rencana saat keduanya sama-sama menginap di hotel yang sama," jawab Keyra.
"Apa! "
__ADS_1
Leo benar-benar tidak menyangka, ternyata Sera dan papahnya sudah melakukan hal semacam itu. Wajar saja keduanya sudah saling akrab bahkan saling mencintai dalam. waktu dekat. Jadi itulah sebenarnya yang terjadi....
" Kamu benar-benar manusia kejam, Keyra! Aku tidak pernah menyangka ternyata kamu berharap iblis. Kamu tega menjebak aku, dan juga tega menjebak Sera dan papah aku. Kamu benar-benar gila, tidak waras, Keyra!" teriak Leo membentak. Lukanya kembali robek.
Rasa sakit telah di jebak masih bisa ia terima, mungkin memang sudah takdirnya. Tetapi, setelah mengetahui bahwa Sera dan papah juga di jebak dan sudah pasti melakukan hal semacam itu, sungguh membuat goresan hatinya semakin dalam. Apa salahnya, kenapa nasibnya begitu naas.
"Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikan kamu, Keyra. Dan segera pergi dari rumah ini. Aku muak sama kamu, benci!"
Kebencian Leo semakin besar terhadap Keyra, tak akan ada kata maaf lagi baginya. Manusia berhati busuk itu tidak pantas mendapatkan maaf darinya bahkan Sera sekalipun.
Setelah mengatakan itu, Leo keluar dari kamar. Ia pergi meninggalkan rumah entah kemana ia pergi malam ini. Hatinya tak kuasa lagi menahan cobaan yang terjadi pada dirinya.
Sementara itu, Keyra menangis sesenggukkan. Ia memang salah, ia juga menyesal telah melakukannya.
"Aku pikir kamu wanita baik-baik Keyra. Namun Eyang tidak menyangka ternyata hati kamu benar-benar busuk dan licik. Kamu egois. Kamu tidak memikirkan perasaan orang lain. Kejam, kamu seorang yang kejam! "
Ibu Endang emosi, ia berucap sambil mengeluarkan air mata yang mengalir di wajahnya yang keriput. Rasa kecewanya kian membesar awalnya ia masih bisa memaafkan kesalahan Keyra yang sudah menjebak cucunya. Karena ada nyawa keturunannya di dalam rahim Keyra. Akan tetapi, setelah mengetahui bahwa cucu menantunya itu memiliki otak yang licik dan berhati iblis. Sungguh membuatnya tak dapat lagi memaafkannya.
"Maafkan Keyra, Eyang! Keyra minta maaf," pintanya memohon.
"Aku akan menelpon kedua orang tua kamu, dan memberitahu semuanya atas perbuatan busuk kamu."
"Tidak... aku mohon jangan Eyang, tolong jangan kasih tau Mamah, Papah tentang ini. Keyra mohon...! "Keyra berlutut memohon ampun kepada ibu Endang agar tidak memberi tahu kepada kedua orangtuanya.
" Maaf Keyra, perbuatan kamu benar-benar keterlaluan. Kamu sudah menyakiti hati tiga orang sekaligus. Biar kedua orang tua kamu tahu bagaimana mereka membesarkan putrinya hingga menjadi manusia iblis seperti kamu! "
Ibu Endang tidak berbelas kasian lagi, sudah cukup baginya memaafkan kesalahan Keyra yang menjebak cucunya. Namun kali ini tidak ada kata ampun lagi baginya karena ia juga tak. ingin Keyra semakin berbuat sesuka hatinya karena keegoisannya itu.
" Tidak Eyang, aku mohon jangan... " teriak Keyra bersimpuh di lantai, ia menangis menjerit sambil memohon. Namun ibu Endang sudah berada di luar kamar dan langsung menelpon kedua orang tua Keyra agar segera datang ke rumahnya saat ini juga.
__ADS_1