
Di rumah sakit, keadaan lagi sepi. Dan Angga sedang duduk di ruangnya sambil merenung. Entah apa yang sedang di. pikiran oleh lelaki itu.
"Woy, ngelamun aje lo!"
Seseorang nyelonong masuk, ia nampak heran dengan sahabatnya. Tak peduli dengan kedatangan dirinya tentu saja membuatnya terheran-heran.
"Lagi mikirin apa sih? Serius banget?"
Angga menghembuskan nafasnya kasar menatap malas sahabatnya itu. Dan lagi-lagi mengeluarkan ekspresi seakan berpikir.
"Lo tau kan kalau Sera gak suka sama kucing?" ucap Angga.
"Ya, dari kecil Sera tidak suka kucing. Kenapa menangnya?" tanya Bobby.
"Merasa aneh gak sih? Orang yang gak suka kuning, namun tiba-tiba merengek minta kucing. Dua lagi?" ucap Angga menatap serius arah Bobby.
Lelaki itu mengerutkan keningnya berpikir," Yang minta kucing itu, Sera?"
Angga memutar bola matanya malas." Iyalah, emang dari tadi lagi ngomongin siapa?"
"Ck, santai bro. Lo kayak lagi PMS aje, sewot melulu, gak dapet jatah lo semalam?" cibir Bobby kesel.
"Gue lagi serius, pea. Lagi gak mood buat debat sama lo," ketus Angga menjawab.
"Ck, menyebalkan," gumam Bobby," tapi, ngomong -ngomong soal kucing, apa Sera mau menghadiahkan ulang tahun buat seseorang?"
"Sepertinya tidak, karena di rumah Sera meminta beliin rumah buat kedua anak kucing itu. Dan Sera bilang mau memelihara mereka," jelas Angga.
Bobby juga merasa bingung, apa penyebab seseorang yang tak suka tiba-tiba menjadi suka.
"Apa Sera lagi ngidam?" tanya Bobby, Angga tertegun dan berpikir.
"Tapi, bulan lalu Sera baru selesai dari palang merahnya, dan sebelumnya Sera mengetesnya dan hasil selalu negatif, sejak saat itu Sera tak ingin lagi mengeceknya dan begitu juga dengan bulan ini. Apa mungkin, Sera ..."
" Syukurlah kalau menang ada, aku mau jadi kakek sebentar lagi" jawab Bobby girang. Namun tidak dengan Angga.
"Kenapa? Kau tidak senang Sera hamil?"curiga Bobby.
"Mana mungkin, tapi aku tidak ingin berharap banyak. Sebelum pasti, aku belum bisa gembira lebih dulu!" jelas Angga.
"Kenapa?" tanya Bobby heran.
Lelaki itu menarik nafasnya panjang, ia memijit pelipisnya.
"Aku tak mau bertanya masalah anak padanya, aku gak mau dia sedih lagi jika membehas soal anak," keluh Angga menyadarkan kepalanya.
"Kamu juga aneh, kamu kan dokter kenapa gak di cek?" sahut Bobby sinis.
__ADS_1
Lagi -lagi Angga memutar bola matanya malas." Aku dokter umum, Bob. Bukan dokter kandungan."
"Tauk, yang bilang kau dokter kandungan itu siapa? Tapi kau tau 'kan cara membedakan orang hamil atau tidak!"
"Iya sih, tapi... "
" Tapi apa lagi, astaga. Lama -lama gue jitak juga ya kepala lo, heran gue!" kesel Bobby
"Ah, lo mah gak ngerti. Kalau gue periksa, nanti Sera tanya 'kenapa? Bagaimana? Gak mungkin kan gue jawab mau periksa apa kamu hamil apa nggak. Yang ada dia sedih." jawab Angga.
"Kok bisa? Bukanya seharusnya senang?" Bobby tak mengerti apapun.
"Aku takut Sera bakalan sedih kalau membehas masalah anak, setiap bulan kalau tamu itu datang wajahnya jadi sedih, dan aku gak tega. Seandainya sekarang aku tanya, apa gak melukai perasaan dia?" ucap Angga.
Bobby bungkam, ia tak tau apa-apa soal itu.
"Lo tau kapan tanggal datang tamunya Sera?" tanya Bobby, Angga mengangguk.
"Lalu, bulan ini ada datang tamu gak?" tanyanya kembali.
"Seharusnya minggu ini sih tamu tak di undang itu datang. Tapi aku gak tau juga, udah keluar apa belum," jawab Angga.
"Kok bisa gak tau, lo kan lakinya, gimana sih?" heran Bobby pada sahabat sekaligus menantunya itu.
"Emmm, masalahnya udah hampir seminggu ini aku gak dapat jatah, makanya aku gak tau, mana mungkin kan aku tanya? Yang ada aku kena omel darinya," jawab Angga dengan wajah masam, kedua sahabat itu memang saling terbuka.
Bobby tertegun sesat, dan tiba-tiba langsung tertawa ngakak seraya mengejek.
"Keluar lah dari ruangan ku, kau semakin membuatku kesal!" sinis Angga.
Lelaki itu semakin mengencangkan tawanya.
"Itu artinya, tamunya udah dateng dong?" Bobby bertanya dengan wajah serius.
Angga menghela nafasnya panjang, Bobby pun melakukan hal yang sama. Dan kini kedua wajah lelaki dewasa itu sama-sama di tekuk murung, dan membuat Reyhan yang baru saja masuk menatap kebingungan.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" gumamnya melangkah maju.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Reyhan.
Angga dan Bobby menoleh, namun keduanya tak menjawab.
"Kompak, menantu dan mertua sama. Gak ada yang mau jawab," rajuk Reyhan karena di acuhkan.
"Aku mau keluar sebentar..." Angga pamit, ia keluar dari ruangan meninggalkan Bobby dan Reyhan.
"Em, aku juga..." Bobby menyusul Angga keluar dan meninggalkan Reyhan menganga mematung di dalam ruangan sendirian.
__ADS_1
"Hey ... apa-apaan meraka? Ck, ngapain aku di ruangan ini, menyebalkan," gerutu Reyhan lalu keluar juga dari ruangan Angga.
Angga duduk di kantin, ia memikirkan Sera saat ini. Kalau bukan mengidam lalu kenapa istrinya itu sangat menginginkan kucing? Padahal sudah jelas tidak menyukai hewan lucu tersebut. Angga ingin memastikan, ia harus tau, apa benar sekarang ini Sera lagi datang bulan atau tidak? Mengingat ia sudah hampir satu minggu tak mendapatkan jatah membuatnya lesu.
Handphone Angga berdering, sesaat ia melihat nama tertera di layar tersebut dan membuatnya kembali tersenyum, hanya melihat namanya saja sudah membuatnya menjadi semangat kembali.
"Halo sayang?" jawab Angga. lembut.
"Mas, kamu di mana?" tanya Sera.
Angga mengernyit." Di rumah sakit lah, emang aku di mana lagi?"
"Oh..." jawab Sera singkat," Mas aku mau makan."
Lagi -langit Angga mengernyitkan keningnya heran, ya makan tinggal makan, lalu kenapa harus lapor segala, tidak seperti biasanya, Angga keheranan dengan sikap istrinya akhir -akhir ini.
"Di rumah gak ada makanan?" tanya Angga.
"Ya ada, aku masak banyak malahan, tapi aku mau makan sama kamu. Kamu pulang ya, temani aku makan," ucap Sera sangat manja.
Angga melihat jam tangannya, waktu jam istirahat sudah hampir habis.
"Maaf sayang, tapi jam istirahat udah mau habis, kerajaan masih banyak!" jawab Angga, ia merasa tak. enak menolak permintaan istrinya, tetapi tak biasanya Wanita nya itu meminta dirinya pulang hanya untuk makan.
"Oh, jadi kerjakan kamu jauh lebih penting dari pada aku?" ucap Sera mengubah nadanya menjadi dingin.
"B-bukan begitu sayang, biasanya kamu gak kayak gitu loh, biasanya juga langsung dateng ke rumah sakit kalau mau makan bareng, gak nyuruh aku pulang. Ada apa, hem?" tanya Angga lembut.
"Memangnya kenapa kalau aku nyuruh suamiku sendiri pulang, apa segitunya keberatan, hah!" marah Sera.
Angga tersentak, baru pertama kalinya istrinya marah hanya karena sepele. Ada apa dengannya? Angga bertanya -tanya.
"Sayang, bukan begitu, ak ..."
"Udahlah Mas, kamu memang udah gak sayang lagi sama aku, pekerjaan kamu lebih penting dari pada aku..." tiba -tiba Sera menangis, Angga mendengarnya pun langsung panik seketika.
"Hey, sayang kok malah nangis? Jangan nangis oke, iya aku pulang sekarang." bujuk Angga.
"Dah lah Mas, gak usah pulang sekalian. Kerja aja sana gak usah peduliin aku lagi!"
Angga membulatkan matanya, ia bangkit dari duduknya. Hatinya semakin cemas sekarang..
"Sayang, aku pulang ya, tapi jagan nangis lagi oke!"
"Gak usah, aku bilang gak usah pulang, ya gak usah. Denger gak sih!"
Sera langsung mematikan telponnya setelah membentak suaminya kasar. Angga di seberang sana membatu memandangi handphonenya menatap kebingungan.
__ADS_1
Angga menghela nafasnya kasar, ia berusaha sabar menghadap sikap istrinya akhir -akhir ini yang selalu berubah-ubah. Sebentar manja, sebentar marah, sebentar nangis. Dan kembali bersikap biasa kayaknya tak terjadi apa-apa.
Ada apa dengannya?