
Beberapa hari kemudian. Adam terus memikirkan pemilik sapu tangan itu. Dalam bayangan sangat berharap jika si pemilik sapu tangan ini adalah wanita yang sudah memikat hatinya yang sebenarnya masih belum di ketahui dengan karakter yang berbeda.
"Aku yakin yang aku temui waktu itu bukan kamu. Apa dia kembaran kamu?" Adam terus bertanya-tanya dalam lamunannya di tengah malam yang nampak sunyi sembari menikmati secangkir kopi mocha yang di temani beberapa biskuit.
Adam terus memandangi sapu tangan di tangannya.
"Sherly sekarang hamil, ikut bahagia juga untuknya." Adam tersenyum.
" Menikah? Hah ... kerjaan saja masih magang di rumah sakit, bagiamana bisa kepikiran untuk menikah, ada-ada saja." Adam geleng-geleng dengan pikiran gilanya.
Handphone Adam berdering.
"Tumben nie anak telpon?" gumam Adam melihat nama Alex tertera di layar hpnya.
"Halo Om, ada apa?" tanyanya.
"Kamu di mana?" tanya Alex balik.
"Di rumah, ada apa?"
"Boleh minta tolong beliin makan gak? Lily jam segini laper, tapi gak mau aku tinggal untuk beli makan, di ajak dia nya gak mau juga, jadi gak ada pilihan lain selain minta tolong sama kamu," ujar Alex memohon.
Sherly semenjak hamil sangat manja, bahkan gak mau jauh-jauh dari dirinya. walau sebenarnya Alex sedikit kesal karena setiap saat ia harus mandi dan ganti baju. Sherly tak tahan mencium bau aroma tubuhnya jika berkeringat, pasti mual. Lebih baik ia mengalah dari oada melihat istrinya tersiksa.
"Emangnya mau beli apa?" tanya Adam sambil meliri jam dindingnya menunjukan pukul 8 malam.
"Nasi goreng gila aja, tapi jangan pedes ya. Yang super spesial. Nanti duitnya Om transfer, sekalian kalau kamu atau yang lainnya mau juga beliin aja," ujar Alex.
"Oke, nanti Adam kasih kabar jika sudah beli nasi gorengnya. Belinya 2 aja kan? Apa ada lagi, biar sekalian."
"Sama minuman jus buah aja ya, tapi jangan jus nanas muda, bahaya itu. Udah itu aja," jawab Alex. Adam mengangguk mengerti, ia mematikan sambungan telponnya lalu mengganti celana dan baju.
"Mah, Pah. Adam mau keluar, kalian mau titip beli makan gak? Adam di suruh om Alex beli nasi goreng untuk Lily," ujar Adam pada kedua orangtuanya yabg sedang duduk santai di ruang tv sambil berpegangan tangan.
"Oh ya. Kalau gitu beliin Papah juga dong, nasi goreng kambing," ujar Leo.
"Kalau Mamah?"
"Beliin bakso aja deh, malam-malam gini enaknya makan yang kuah-kuah," jawab Keyra. Adam mengangguk, ia pergi ke kamar kedua adiknya masing-masing untuk menanyakan hal yang sama.
Adimas hanya memesan cemilan, sedangkan Aliya hanya memesan minuman saja. Setelah selesai menawari keluarganya. Adam baru menjalankan mobilnya menuju tempat di mana nasi goreng gila berjualan.
Sesampai di tempat tujuan, ia melihat di sana cukup rame. Banyak orang-orang mengantri, sebenarnya paling malas yang namanya menunggu. Tetapi demi sang tante yang lagi kelaparan, ia pun rela.
Adam duduk menunggu setelah memesan, ia sibuk memainkan hp nya tampa melihat orang-orang di sekitar. Padahal banyak para wanita yang memperhatikan dirinya, tapi Adam memilih cuek, acuh, tak peduli.
"Hey, Adam kan?" salah satu wanita di sana menghampiri dirinya.
Adam mendongak malas, dan ternyata yang datang adalah Yuri. Walau sebenarnya Adam masih was-was, antara yakin atau tidak karena keduanya benar-benar mirip. hanya saja wanita di hadapannya ini lebih heboh dandannya dan lebih berani berpakaian seksi. Untungnya selama beberapa hari ini Adam sering chatingan dengan Yura, dan tentunya bertanya apakah Yura memiliki saudara kembar atau tidak.
Yura pun bercerita jika dirinya memang memiliki saudara kembar. Adam mengerti, berati yang ia temui waktu itu memang bukan Yura melainkan Yuri.
Sekarang Adam terlihat acuh pada gadis itu karena kesal mengingat dia mengakui jika dirinya adalah Yura.
"Kamu siapa?" tanya Adam pura-pura tidak kenal.
Yura mengerucutkan bibirnya sebel, lalu duduk di sebelah Adam.
"Ih, aku Yura loh. Inget gak waktu itu kita bertemu di supermarket!" ucap Yura dengan pedenya mengakui jika dirinya adalah Yura.
Adam tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. Ternyata gadis ini masih sama. Sebenarnya apa tujuannya mengaku-ngaku sebagai kembarannya? Adam heran.
"Oh," jawabnya singkat.
"Hey, sekarang boleh dong minta nomor hp nya? Kan sekarang udah bawa hp," ucap Yuri semangat dengan tak tahu malunya.
"Sorry, seperti pesenan ku sudah selesai. aku duluan." Adam bangkit dari duduknya lalu merogoh kantong celana mengambil dompet. Tetapi saat dompet keluar dari kantong celan. Tiba-tiba sapi tangan jatuh, Adam memasukkan sapu tangan itu di tempat yang sama dengan dompet.
"Sapu tangan ini?" Yuri kenal dengan sapu tangan yang jatuh dari kantong celananya Adam.
__ADS_1
"Sial, ini milik Yura. Apa mereka sudah sedekat itu? Tapi kenapa dia tidak mengetahui jika aku bukanlah Yura?" Batin Yuri bertanya-tanya dengan perasaan kesal.
Kenapa selalu saja Yura yang selalu mendapatkan perhatian, bahkan ia memiliki bakat yang bagus tetep saja orang-orang melih tertarik pada Yura, apa lagi nenek. Sebab itulah Yuri selalu cemburu dan berusaha keras mencari perhatian dengan kemampuan kepintarannya sehingga papahnya menjadi tertarik padanya, sebab itulah Yuri selalu mengada-ada untuk menjelekkan Yura di depan sang papah.
"Itu punyaku, tolong kembalikan," pinta Adam.
"Mana mungkin ini punyamu, inikan punyaku," ujar Yura, ia lagi-lagi mengaku-ngaku. Adam mengerutkan keningnya.
"Jangan bercanda, tolong kembalikan. Orangtuaku sudah menunggu," paksa Adam, lalu mengambil sapu tangannya kembali. Entah mengapa hatinya berkata jika sapu tangan ini bukan milik Yuri. Sebab itulah Adam tidak ingin mempercayai nya.
Yuri nampak sangat kesal, susah banget ia mendekati Adam. Apa dirinya kurang cantik? Atau kurang seksi!" Yuri sangat kesal sambil menggenggam erat stir mobilnya.
Yuri melajukan mobilnya cepat supaya segera sampai di rumah. Sesampainya di rumah Yuri langsung menghampiri kamar Yura, membuka pintunya seenaknya saja tanpa mengetuk dengan perasaan marah.
"Ada apa?" tanya Yura datar. Yura sedang membaca buku, duduk santai di tempat tidurnya.
"Ini semua gara-gara kamu!" Sinis Yuri tanpa sebab. Yura menyipitkan matanya kebingungan.
"Kenapa lagi nie anak? Apa lagi yang dia rencanakan?" Batin Yura, suadh biasa baginya saudara kembarnya itu menuduhnya dengan alasan tidak jelas. Ia tau kalau Yuri hanya ingin mencari perhatian saja pada kedua orangtuanya.
"Emangnya ada masalah apa?" tanya Yura santai dengan mata tertuju ke arah buku.
"Lo merebut cowok gue. Gara-gara lo dia gak mau lagi sama gue," ucap Yuri dengan nada tinggi sehingga membuat kedua orangtuanya mendengar.
"Ada apa lagi sih? Malam-malam malah ribut," tanya sang ibu.
"Itu Mah, Yura merebut pacarnya Yuri," adu Yuri dengan expresi sedih.
"Apa? Bagaimana bisa Yura merebut pacar kamu?" Tanya Andin rasa tak percaya jika Yura tega melakukan itu.
"Aku gak merebut pacar kamu? Lagian aku gak kenal siapa?" sahut Yura.
"Adam. Dia mengira lo adalah gue. Dan sekarang dia gak mau lagi sama gue, katanya lo jauh lebih menggoda di bandingkan sama gue, lo jahat banget. Apa salah gue sama lo," ucap Yura sembari akting menagis.
"Yura! Apa itu benar?" tanya Andin.
"Nggak, mana Yura tau kalau kalau Ad itu pacarnya Yura," jawab Yura. Ia kecewa pada Adam.
Yuda selalu menganggap jika Yura anak kandungnya sendiri selalu salah karena beranggapan jika Yura iri dengan Yuri. Jadi ia harus memarahi yang salah di matanya dan selalu membela Yuri yang menjadi anak kesayangannya.
'Nggak apa-apa Pah. Jika Yura sangat menyukai Adam, Yuri ikhlas kok," ucap Yuri dengan suara lirih.
"Nggak bisa, dia adalah hak kamu. Kalau kamu selalu mengalah yang ada Yura selalu mengambil apa yang menjadi milik kamu. papah gak suka itu. Kalau dia mau, setidaknya dia harus berkerja keras, bukan merebut milik orang lain," jawab Yuda tegas. Yuri mengangguk dengan expresi sedih.
Yura hanya diam tak lagi membela diri, percuma juga ia melawan. toh papahnya itu tidak akan percaya dengan kata-katanya.
Yuri tersenyum licik, lalu ia pergi bersama Yuda sambil merangkulnya. Sedangkan Andin menghampiri Yura dan duduk di sampingnya.
"Yura sayang, apa benar yang di katakan sama saudara kamu, Nak?" tanya Andin lembut.
"Apa Mamah juga gak percaya sama Yura?" tanya Yura balik menatap ibunya sendu.
"Mamah percaya sama kamu, Mamah yakin kamu gak mungkin berbuat seperti itu," ujar Andin lembut sambil mengusap suatu hitam milik Yura.
"Yura juga gak tau Mah. Waktu itu Adam meminta kenalan sama Yura. Dan Adam juga ada tanya sama Yura, apakah Yura memiliki kembaran atau tidak. Tapi Yura benaran gak tau kalau Yuri dan Adam memiliki hubungan. Sumpah, Yura dan Adam gak ada hubungan apa-apa, kami hanya kenal aja," lirih Yura bercerita sambil meneteskan air matanya.
Andin memeluk anaknya erat, dan membiarkan gadis itu menangis di pelukannya.
"Maafkan Mamah ya Nak. Mamah juga gak ngerti kenapa saudara kamu selalu bersikap seperti itu, Mamah sudah sering kali menasehatinya. Tapi Mamah justru di marahi balik sama papah. Maafkan Mamah karena tidak bisa mendidiknya menjadi lebih baik lagi," sesal Andin merasa kasihan pada Yura.
Yura mengingat Adam. Ada perasaan kecewa pada lelaki itu. Apa benar jika Adam ingin berkenalan dengannya hanya karena wajahnya mirip dengan Yuri.
Yura juga tidak tahu siapa yang di kenal Adam lebih dulu, dan Yura juga lupa dengan wajah lelaki yang ia tolong waktu itu karena banyak darah yang mengalir dari mata hingga menutupi wajah Adam. Sebab itulah Yura tidak mengenali jika Adam lah sosok lelaki yang ia tolongin waktu itu.
******
Sementara itu, Adam terus memikirkan tentang sapu tangan itu. Kenapa Yuri bisa mengenal sapu tangan ini. Apa benar jika sapu tangan ini miliknya? Ada ingin memastikan lebih dulu sebelum mempercayai, karena ia tau jika Yuri memiliki niat yang tidak baik, terlihat dari cara ia mengaku sebagai kembarannya.
Adam mengantar pesanan kedua orangtuanya dan adik-adiknya lebih dulu. Setelah semuanya sudah di serahkan barulah Adam mengantarkan milik Sherly dan Alex.
__ADS_1
"Assalamualaikum," salam Adam setelah sampai di depan pintu apartemen milik Alex.
"Wa'allaikumsalam." Alex membukakan pintu.
"Lama banget sih? Lo sengaja ya mau bikin gue ma anak gue kelaparan," ucap Sherly cemberut karena Adam terlalu lama.
"CK, bukannya makasih dah di beliin malah di omelin. Nyesel gue mau tadi," sahut Adam, lalu ia menyodorkan pesenan ibu ratu dengan cemberut.
" Duh keponakan ku ini kalau lagi cemberut jelek banget deh. Makanya jangan lama-lama," ucap Sherly, lalu mengambil bungkusan nasi goreng untuk di pindahkan ke dalam piring.
Adam memutar bola matanya malas, ia duduk di shopa di samping Alex yang hanya terkekeh.
"Lo gak beli?" tanya Alex.
"Nggak, keburu kenyang," sahut Adam. Keduanya diam sesaat sibuk dengan pikiran masing-masing.
" Abang sama kak Keyra gak mesen?" Alex kembali bertanya.
"Udah, makannya aku agak lama ke sini nya. Soalnya mengantar makanan mereka dulu," sahut Adam.
"Kok ke sana dulu, seharusnya sini dulu dong. Dah tau kalau tante kamu itu cerewet kalau menunggu lama," ujar Alex. Adam menghela nafasnya.
"Masalahnya mamah pesen bakso. Kalau aku kesini duluan yang ada tuh kuahnya jadi gak enak lagi," sahut Adam. Alex pun manggut-manggut.
"Lily ngidam?" Tanya Adam.
"Entahlah, apa minta makan nasi goreng bisa di bilang ngidam?" Tanya balik Alex.
"Hem, kayaknya bukan sih. Soalnya kalau ngidam kan pasti minta yang aneh-aneh," ucap Adam. Alex mengerutkan keningnya.
"Aneh-aneh gimana maksudnya?" tanya Alex yang tak mengerti.
"Ngidam aneh-aneh loh. Kayak meminta sesuatu yang tak masuk di akal, misalanya minta makan nasi goreng tapi gak mau di goreng maunya di rebus. Minta bakso, tapi pentol baksonya gak mau bulat maunya bentuk hati, atau segitiga, atau segiempat. Seperti itu lah contohnya," ujar Adam.
Alex pun jadi garuk-garuk kepalanya seandainya istrinya itu mengidam seperti itu. Bakalan susah menuruti nya, mana konon katanya jika orang ngidam tidak di turuti, anak yang sudah lahir Kela akan mengences. Alex berharap semoga anaknya tidak meminta yang macam-macam.
"Ya semoga aja anakmu gak seperti itu, Karena kalau tidak. Aku juga yang bakalan susah," lanjut Adam. Pasti dirinya akan kea imbasnya, Alex sudah pasti akan meminta bantuan dari dirinya dengan iming-iming kasih uang jajan.
"Ya semoga saja," jawab Alex sambil manggut-manggut. Keduanya terus berbincang sembari tertawa-tawa. Sherly yang baru saja selesai memindahkan nasi goreng ke piring menatap keduanya heran.
"Akur benar. Lagi pada ngomongin apa sih?" tanya Sherly kepo.
"Rahasia," jawab keduanya barengan. Sherly pun langsung mengerucutkan bibirnya.
"Buset, aku pikir beli dia bungkus buat atuk-atuk? Tau ya buat kamu semuanya Li?" heran Adam melihat dua bungkus nasi goreng di makan untuk seorang diri saja
"Kenapa? Laper tau," jawab Sherly santai.
"Kirain buat Om Alex satunya."
"Ya nggak lah, lagian tadi kenapa gak ikutan pesan. Aku ngomong dua berati ya buat aku lah," sahut Sherly. Alex hanya geleng-geleng kepalanya saja.
"Buset, ibu hamil mengeringkan ya Om?" tanya Adam sembari berbisik.
"Banget, mana kalau gak di turuti mengamuk kayak macan tutul," balas Alex berbisik juga. Adam menahan senyumnya.
Sedangkan Sherly menyipitkan matanya menatap keduanya curiga. Sebenarnya rahasia apa yang di sembunyikan oleh mereka.
"Oh iya Ly. Gue mau tanya?" ucap Adam.
"Apa?"
"Em ... lupakan saja lah, lagian mungkin kamu gak akan kenal," ucap Adam mengurungkan niatnya untuk bertanya sesuatu.
"Apaan sih? Kalau ngomong itu coba jangan bikin orang penasaran. Ngomong gak? Kalau nggak gue lempar piring ini ke muka lo!" kesel Sherly, sudah curiga dari tadi main rahasia-rahasiaan, dan bisik-bisik. Dan sekarang malah gak jadi mau bertanya. Minta di di cincang kali ya.
Adam bergidik ngeri, ia menelan ludahnya kasar. Baru saja di omongin kalau ibu hamil itu mengerikan, lah ternyata memang benar. Tidak berani lagi macam-macam sama ibu hamil.
"Itu, apa kamu kenal sapu tangan ini?" Adam menunjukkan sapu tangan yang ada di kantongnya pada Sherly.
__ADS_1
"Loh, inikan punya Yura. Kok ada sama kamu? Dia nangis-nangis loh cariin nie sapu tangan peninggalan neneknya," ucap Sherly.
Adam terhayak." Jadi kamu kenal sama Yura? Dan sapu tangan ini miliknya? Kamu gak lagi bercanda kan?"