
Tiga bulan kemudian....
Kehamilan Sera semakin sehat, nafsu makannya mulai bertambah sehingga ia harus menyetok banyak makanan di rumah. Apa lagi saat malam hari, wanita itu terbangun dari tidurnya hanya ingin makan, untung suami selalu siaga sehingga menyiapkan segala. keperluan Sera, dari hal kecil hingga besar. Merasa di perlukan seperti ratu, makan minum semua di layani oleh Angga.
Semua keinginan Sera di penuhi oleh Angga, apapun yang diinginkan oleh istrinya tersebut selalu di usahkan ada, dari mengidam makanan, minuman serta hal-hal aneh sekalipun. Seperti malam hari sebelum tidur, Sera selalu memakaikan masker kecantikan ke wajah Angga, tak lupa merawat kuku-kuku cantik Angga, seolah sedang di medikur-pedikur oleh salon. Entah kemauan si bayi atau keisengan Sera, namun Angga tak pernah menolak apa lagi marah.
Semenjak hamil, Sera semakin di jaga ketat. Lelaki itu terlalu over protektif padanya. Seperti yang terjadi pagi ini.
"Mas, hari ini kamu masuk siang, kan?" tanya Sera masih berada di tempat tidur sambil memeluk suaminya.
"Hem, kenapa?" tanya balik Angga, dengan mata masih terpejam.
"Em, jalan yuk! Aku pengen banget jalan-jalan loh Mas, bosen banget di rumah setiap hati, gak ngapa-ngapain," keluh Sera, mengadu akan kebosanannya.
Angga membuka matanya menatap Sera." Gak baik, nanti kamu kecapean gimana? Ingat, kamu sedang hamil loh. Aku gak mau kamu dan calon anak kita kenapa-napa."
"Aku tau, tapi aku juga butuh menghirup udara seger Mas, bosan kalau di rumah terus!"
Semenjak hamil Sera tak pernah lagi kemana-mana, bahkan kuliah saja sudah tidak di izinkan lagi oleh Angga, sangking over protektif sehingga lelaki itu tak memperbolehkan Sera melakukan hal semacam itu selian berdiam di rumah dan banyak istirahat.
"Kan bisa di luar rumah aja sayang, ngapain mesti keluar jauh-jauh. Justru tidak sehat karena folusi," jawab Angga.
Sera menghela nafasnya bosan." Tapi aku pengen cuci mata juga Mas... "
__ADS_1
" Kan ada air sayang, tinggal di cuci aja, kan beres." Lagi-lagi Angga berucap santai, tentu saja membuat Sera mendidih.
"Mas, tapi bosen di rumah terus. Aku juga butuh jalan-jalan Mas. Aku bisa kok jaga diri aku sendiri, apa lagi aku keluarnya sama kamu juga, kan?" kesel Sera dengan mata berkaca -kaca.
"Ini demi kebaikan kamu dan juga calon anak kita sayang, ada banyak bahaya di luaran sana. Lebih baik di rumah dan istirahat aja." Kekeh Angga tetep melarang.
Angga selalu saja melarang dirimu melakukan ini dan itu, setiap di tanya kenapa. Selalu saja menjawab.
"aku peduli sama kamu." Demi melindungi istrinya dari hal-hal yang nggak diinginkan, Angga cenderung melarang kegiatan yang ingin Sera lakukan.
Namanya juga laki-laki. Pasti ada naluri ingin melindungi dan jadi protektif terhadap perempuan yang ia sayangi. Namun tak jarang bukan protektif yang ditunjukkan, melainkan sikap posesif. Kalau protektif sih wajar, tapi kalau udah jadi posesif, susah kan? Sera ingin menjerit marah sekarang. Ia membalikan tubuhnya membelakangi Angga.
"Sayang..." panggil Angga menyentuh lembut lengan istrinya.
"Bukan gitu juga maksud aku, sayang. Bangun yuk sekarang udah mau siang loh," bujuk Angga.
"Aku mau istirahat, kamu sendiri yang bilang, aku gak perlu ngapain -ngapain selain diam di rumah dan banyak istirahat. Sekarang keluarlah jangan ganggu aku!"
Angga menelan ludahnya, apa ia sudah keterlaluan. Melindungi istri dari mara bahaya apa ia salah dengan cara memperlakukannya. Namun ia sangat menyayangi Sera sehingga tak ingin hal-hal yang tak di inginkan terjadi. Sebab itulah Angga selalu melarang Sera melakukan kegiatan seperti biasanya bahkan untuk jalan-jalan sekalipun.
Ini penyebabnya saat usia kehamilan Sera 4 minggu, wanita itu hendak menyeberang jalan, dan mengalami kecelakaan kecil sehingga tubuhnya tergelunsur ke lantai, namun masih untung Sera dapat menahan perutnya dengan kedua lututnya agar tak terbentur. Dan itu semua gara-gara sepeda motor melaju kencang lalu menyerempet Sera, dan mengakibatkan kandungannya itu sedikit bermasalah karena mengeluarkan darah sedikit akibat hentakan. Dan untungnya tidak kenapa -napa setelah di larikan ke rumah sakit. Sejak saat itu, Angga tak mengizinkan lagi Sera keluar rumah dan menjaganya lebih ketat lagi demi keselamatannya dan juga kandungannya.
Angga menghembuskan nafasnya panjang, ia melirik punggung Sera sendu. Lalu kembali merebahkan dirinya dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku hanya terlalu takut sayang ... tapi aku mohon jangan diemin aku seperti ini, aku tidak kuat." lirih Angga dengan suara parau hendak menangis.
Sera diam, ia tak ingin menjawab. Keinginannya jalan-jalan sangat kuat, sehingga membiarkan suaminya itu merasa bersalah padanya.
"Sayang, Please maafkan aku..." Diam sesaat, " ayo kita keluar, jalan-jalan ke mana pun yang kamu mau, ayo kita pergi." Pada akhirnya Angga menyerah.
Sera membalikan badannya." Kamu gak bohong, kan?"
"Nggak sayang, maaf ya karena aku terlalu over protektif sama kamu." Sera mengangguk senang.
"Tapi janji, selalu hati-hati dan selalu berada di dekatku," sambung Angga kembali protektifnya. Sera hanya mengangguk, yang penting sekarang dirinya keluar rumah, dan jalan-jalan.
"Dan satu lagi..." Sera menghembuskan nafasnya," jangan dandan terlalu cantik, semenjak kamu hamil, kamu semakin cantik dan semakin banyak mata pria menatap kamu. Aku gak mau kamu di lirik oleh pria lain selain aku!"
Sera memutar bola matanya malas, suaminya itu benar-benar posesif yang berlebihan, siapa juga yang mau sama wanita hamil seperti dirinya. Sera hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
"Iya suamiku sayang, udah 'kan ngomongnya. Sekarang kita mandi, nanti keburu siang dan kamu keburu kerja."
"Ayo kita mandi..." Angga bersemangat sekali saat mendengar mandi bareng. Ia langsung melepaskan bajunya hingga menampilkan perut yang kotak-kotak itu di hadapan Sera.
"Tapi cuma mandi aja loh, gak ngapa-ngapain." Sera mengingatkan, Angga kembali lesu, semangat membara tadi hilang seketika.
"Yaaaah, lama-lama karatan lagi deh si gundul. Dah 3 bulan libur, nasib-nasib..."
__ADS_1