Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 95


__ADS_3

Setelah kepergian Angga kembali ke rumah sakit. Sera mencari sesuatu di laci nakas nya. Ia melihat benda kecil tersebut membuatnya menghela, rasa gugup serta cemas mulai menyelimuti hatinya. Antara ragu dan penasaran membuatnya bimbang, takut hasilnya kembali kecewa, namun ingin memastikan mengingat ia telat bulan ini.


"Bismillah..." Sera menyakinkan dirinya lalu melangkah dengan berat menuju kamar mandi dengan menggenggam erat benda kecil tersebut.


Sesampainya di dalam kamar mandi, Sera mulai memasukan alat Tes Tack tersebut ke dalam urine yang sudah ada di wadah kecil.


Dengan mata tertutup, dalam hati berdoa, berharap terkabul akan keinginan nya tersebut.


10 menit kemudian, Sera mengangkat alat tes kehamilan tersebut, namun mata masih terpejam. Ia tunggu sesaat, perlahan mata sedikit di buka, sesaat melihat garis tersebut membuat Sera menangis. Ia menutup mulutnya yang terus menangis di dalam sana.


Malam hari kemudian, Angga baru saja pulang dari rumah sakit. Rasa lelah di badan membuatnya lesu, ingin cepat-cepat segera istirahat sambil memeluk istri tercinta. Tapi, di mana istrinya itu? Biasanya setiap ia pulang kerja selalu di sambut dengan senyuman di depan pintu, lalu sekarang kemana? Apa terjadi sesuatu, Angga pun langsung berlari menuju kamarnya.


"Sayang..." Dengan panik Angga mencari sosok istrinya, ia tak mendapati keberadaan wanitanya tersebut di kamar. Panik semakin menjadi di hati Angga.


"Sayang kamu di mana?" teriak Angga mencari istrinya.


Mencari ke dapur namun tidak ada, mencari di halaman belakang walaupun tidak mungkin, namun Angga tetep mencarinya, kali aja Sera ingin menyendiri di halaman belakang yang gelap tersebut. Angga terus berteriak memanggil istrinya, prustasi karena tak ada jawaban, Angga menjambak rambutnya kasar. Sesaat ia teringat pada satu tempat yang belum ia cari, lelaki itu kembali ke kamar.


"Sayang kamu di dalam?" Angga langsung membuka pintu kamar mandi, dan benar saja istrinya itu berada di sana. Tapi apa yang sedang di lakukan wanitanya itu? Angga menatapnya kebingungan.


"Kamu ngapain di dalam, aku mencari kamu tauk gak? Bukannya jawab aku panggil, emang gak denger!"


Terlalu khawatir Angga memarahi istrinya karena tidak mau menjawab saat ia memanggil berteriak tadi, tidak mungkin tidak mendengar suaranya yang kencang itu, rumah ini tidak seluas istana.


Sera mengembangkan senyumnya lebar seolah tak merasa bersalah sama sekali, justru malah menghambur ke dalam pelukan suaminya itu.


"Kamu sudah pulang, aku merindukanmu," ucap Sera menghirup aroma wangi tubuh suaminya yang benar-benar membuatnya nyaman. Entah kenapa ia sangat menyukai aroma bau keringat dari suaminya sekarang.


"Aku khawatir banget tadi, aku takut kamu pergi ninggalin aku." lirih Angga memeluk erat istrinya takut kehilangan dengan beriringan irama detak jantung saat panik tadi.


Sera terkekeh kecil, ia menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


"Mana mungkin aku pergi Mas, kemana lagi aku pergi? Tidak ada tempat untukku selian di rumah ini, karena rumah ini adalah kebahagiaan aku bersama suamiku. Jadi ... untuk apa lagi aku pergi?" jawab Sera sedikit mendongakkan kepalanya menatap Angga.

__ADS_1


Mata Angga berkaca -kaca lalu mengecup kening Sera lama. Ia senang istrinya baik-baik saja. Mungkin dirinya terlalu khawatir berlebih yang benar-benar takut akan kehilangan.


"Syukurlah sayang, aku benar-benar panik tadi. Tapi kamu ngapain di dalam, bahkan gak mau jawab aku memanggil tadi?" tanya Angga.


"Heheheh, sengaja. Aku mau main petak umpat sama kamu," jawab Sera seraya tanpa dosa.


Angga menghela nafasnya, lalu tersenyum dan kembali memeluk istrinya erat.


"Bau tubuh kamu enak banget sih, Mas." Sera kembali menghirup aroma tubuh Angga.


"Enak dari mana? Itu kan bau asem loh. Tadi di rumah sakit rame, jadi aku berkeringat. Dan saat mencari kamu juga aku mengeluarkan keringat. Bau wangi dari mananya coba?" heran Angga.


"Nggak bau asem kok. Malah semakin enak di cium, bau keringat kamu di padu sama parfum membuat wanginya semakin pekat dan aku sangat suka. Jangan mandi duku ya sampai aku puas mencium wanginya," ucap Sera kembali menghirup dalam bau wangi tubuh Angga.


"Kamu ini kok ada-ada saja." Angga terkekeh, ia mengacak-ngacak rambut Sera gemes.


"Duduk yuk, pegel tau dari tadi berdiri terus menerus!" ajak Angga merasa lelah di kaki sedari tadi terus berdiri.


"Hehehe, iya."


"Sayang..." suara Angga terdengar begitu serak, lelaki itu memejamkan kedua matanya. Antara geli dan nikmat sentuhan itu membuatnya menjadi merasakan sensasi luar biasa.


"Sayang, jangan memancingku!" Angga tak tahan, si gundul juga sudah berdiri tegak namun bukan keadilan.


Sera menatap kebingungan, ada apa dengan suaminya itu?


"Siapa yang memancing si Mas, aku cuma mau mencium bau tubuh kamu aja kok. Gak mancing, emang kamu kira ini di danau."


"Tapi kamu sudah memancing si gundul sayang. Apa lagi sudah lama kamu tidak mengasahnya, apa gak kasihan dengan wajahnya yang melas itu," ucap Angga menahan sesuatu yang benar-benar sudah merasa sesak di bawah sana.


Sera melirik ke bawah, dan benar saja. Di balik celana itu sudah ada yang mengeras Sera pun menyentuhnya lembut.


"Hehehe maaf ya, gak sengaja," ucap Sera tak merasa berdosa sama sekali.

__ADS_1


Angga hanya menghela, tak ingin memaksa.


"Aku mandi dulu ya, gerah banget."


"Kamu mau mandi untuk itu ya?" tunjuk Sera ke arah itu.


"Hem..."


Sera merasa bersalah, namun ia takut.


"Emmmmm ... Mas, maaf ya bukanya aku gak mau. Tapi aku takut nantinya anak kamu kenapa -napa. Apa lagi usianya masih sebiji jagung," sesal Sera lirih.


"Iya gak apa-apa, aku ngerti kok." Angga mengelus rambut Sera lembut, sesaat kemudian elussan tangannya berhenti.


"Eh, kamu tadi bilang apa? Anak! Maksud kamu... "


Sera mengembangkan senyumnya lebar sembari mengangguk dengan mata berkaca -kaca. Ia bangkit lalu mengambil hasil tes nya tadi dan memberikan pada Angga.


" Sayang, ini..."


Lagi-lagi Sera mengangguk sembari mengelus perutnya lembut yang masih rata.


Air mata itu mengalir tenang di wajah tampan Angga. Ia menatap perut Sera yang rata itu tak percaya.


Tangan kekarnya menyentuh lembut perut itu, mengusapnya penuh cinta dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Sayang, ini beneran? Dia ada di sini?" Angga masih tak percaya, ia menatap Sera penuh harapan.


"Iya mas, sekarang aku hamil. Kita akan memiliki anak Mas."


Air mata Angga kembali mengalir deras, hatinya benar-benar bahagia karena bisa memiliki anak kembali. Ia pun langsung memeluk erat Sera menyampaikan rasa terima kasih yang tak mampu ia ucapkan.


"Mas, jangan terlalu erat. Sesak nie!"

__ADS_1


"Maaf, maaf sayang. Aku terlalu bahagia. Terima kasih banyak, aku mencintaimu dan juga mencintai kalian semua... "


Kembali memeluk Sera namun kali ini tidak terlalu erat takut kenapa -napa pada calon janinnya. Angga benar-benar bahagia malam ini sehingga melupakan si gundul yang menangis bombay minta di asah...


__ADS_2