Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 110


__ADS_3

"Saya suaminya, Dok!"


Dokter melirik arahnya kemudian mengangguk." Baiklah, mari ikut saya."


"Berikan anakku pada ku, kau boleh masuk menemuinya, tapi jangan bawa anakku," pinta Leo.


Abian yang mengaku sebagai suami Keyra pun hanya bisa mendesah pasrah.


"Jangan membuatnya menangis," ucap Abian menyerahkan Adam pada Leo.


"Ck, dia anakku. Tidak perlu kau ingatkan aku sudah tau," dengus Leo tak suka seakan di atur.


Dokter wanita itu menatap kebingungan, yang satu suami pasien, dan yang satunya ayah dari anaknya pasien. Sebenarnya yang benar yang mana? Dokter wanita atau Gita itu garuk-garuk kepalanya sendiri.


"Anak jaman sekarang, bisa-bisanya pernikahan di jadikan mainan. Dan suaminya juga terlalu baik, lelaki Selingkuhan istrinya malah di baik," batin dokter Gita geleng-geleng kepala heran.


Ah ... sudahlah, dokter tersebut berjalan lebih dulu kemudian di ikuti oleh Abian. Sedangkan Leo menatap anaknya yang sudah terlelap.


Dokter memasuki ruangannya, begitu juga dengan Abian. Sang dokter mempersilahkan Abian duduk tepat di hadapannya hanya saja terhalang oleh meja di tengah-tengah mereka.


"Apa ada masalah dengan istri saya, Dok?" tanya Abian, ada rasa cemas dalam hatinya.


Dokter gitar tersenyum." Tidak, hanya saja saya ingin menyampaikan mengenai jahitan yang terlepas pada ibu Keyra. Saya harap jangan sampai terulang kembali peristiwa ini. Anda seharusnya tahu jika wanita setelah melahirkan belum bisa bergerak terlalu banyak, apa lagi jahitannya masih basah. Kau tau, betapa sakitnya saat di jahit?" omel dokter Gita, ia memberi peringatan agar berhati-hati lagi menjaga istrinya.


"Saya minta maaf, terima kasih karena sudah menangani istri saya. InsyaAllah tidak akan terulang lagi," jawab Abian tegas meyakinkan.


"Baiklah, kalau begitu tolong tanda tangan. Dan ibu Keyra kembali harus menginap di sini beberapa hari, sampai jahitannya benar-benar kering."


Abian mengangguk pasrah, ia menanda tangan berkas tersebut. Lalu pamit undur diri.


Keyra sudah di pindahkan ke ruang rawat kembali, namun wanita itu sekarang sedang istirahat. Abian duduk di samping brankar menatap wajah Keyra yang pucat.


"Aku akan menjaga kalian berdua. Aku tidak tahu kenapa? Tapi hatiku mengatakan harus menjaga kalian. Maafkan aku karena tidak bisa melindungi mu sehingga kau kembali di jahit kembali. Aku memang tidak bisa merasa sakitnya seperti apa, namun aku melihat sesaat itu mu di jahit membuat hatiku ngilu dan dapat merasakan jika itu sangat sakit luar bisanya. Kau wanita yang sangat hebat Keyra, sebab itulah aku tak pernah mau berpaling menatapmu."

__ADS_1


Sewaktu Keyra setelah melahirkan Adam, Abian menyaksikan proses penjahitan luar dalam itu hingga memiliki 8 jahitan. Dan saat jarum jahit melengkung itu menembus kulit membuat hatinya ngilu di tambah lagi mendengar suara rintihan Keyra yang menahan sakit. Sungguh, luar biasa menakjubkan kaum hawa dapat menahan semua rasa sakit ini. Setelah merasakan sakitnya saat melahirkan, mereka juga harus merasakan bagaimana sakitnya saat di robek dan di jahit kembali, apalagi tanpa bius. Tak dapat terbayangkan oleh Abian.


Tangan besarnya mengelus lembut wajah Keyra yang terpejam, ada rasa iba melihatnya. Abian tak mengerti, mengapa Leo dan Keyra bercerai. Ia juga tidak mungkin bertanya alasannya. Akan tetapi rasa simpati itu datang dalam hatinya, apalagi setelah melihat, tak ada satu keluarga pun yang datang berkunjung. Hanya neneknya saja itu pun cuma satu kali dan hanya beberapa jam. Di mana kedua orangtuanya? Mengapa mereka tak datang, pertanyaan demi pertanyaan itu selalu melintas dalam benak Abian. Rasa penasaran membuatnya ingin mengetahui lebih dalam lagi.


Pintu ruangan terbuka, Abian menoleh. Dan rupanya Leo yang masuk bersama Adam di gendongnya yang terlelap.


"Adam tidak menangis?" tanya Abian mendekati Leo yang sedang menidurkan perlahan Adan ke dalam box bayi.


"Tentu saja, dia tidak akan menangis jika bersama ayahnya," jawabnya Leo menyombong kan diri. Abian hanya acuh ia menatap wajah damai Adam.


Leo menoleh arah Keyra sekilas, lalu menolak kembali pada Abian.


"Apa semuanya baik?" tanya Leo.


Abian mengangguk." Ya, hanya saja Keyra harus kembali di rawat beberapa hari."


Leo manggut-manggut acuh, dan beranjak duduk di shopa.


"Kenapa?" tanya balik Leo.


"Kenapa? Bukankah dia adalah ibu dari anakmu?"


Leo tersenyum dingin, ia menatap Abian.


"Kau tidak tau apa-apa, sebaiknya simpan saja rasa penasaran kamu itu. Atau tanyakan langsung padanya, itu pun jika dia mau mengatakan yang sebenarnya padamu!"


Abian menghembuskan nafasnya panjang, ia kembali memandangi Keyra dan tak ingin lagi bertanya pada Leo.


"Kau menyukai nya?" tanya Leo.


"Siapa yang tidak menyukainya, dia wanita yang hebat, kuat, dan mandiri. Aku justru heran, kenapa kau justru mau berpisah dengannya, jika aku jadi dirimu tidak akan ku lepaskan wanita seperti Keyra," jawab Abian.


Leo tertawa dingin namun kecil, ia menatap dalam Abian. Lelaki itu hanya mengetahui Keyra yang sekarang, yang di pandang hanyalah wanita baik, penyabar dan tangguh. Mungkin karena itulah Abian menyukainya. Lalu bagaimana jika Keyra yang sekarang tak pernah ada? Hanya ada Keyra yang dulu memiliki hati iri, berhati busuk serta melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Apa Abian masih menyukainya? Leo tersenyum miris kala itu.

__ADS_1


"Aku senang jika Keyra benar-benar mendapatkan laki-laki yang mencintai dengan tulus. Dan berharap semoga suaminya kelak dapat membimbingnya menjadi lebih baik lagi. Dan jika kau serius menyukainya, jangan pernah melihat masa lalunya. Dan aku percayakan Keyra padamu, juga anakku."


Leo tersenyum menepuk bahu Abian yang menatapnya dalam diam.


"Tolong jaga mereka, terutama anakku. Aku tidak bisa berada di sisinya 24 jam. Namun aku akan selalu datang menemuinya dan memenuhi kewajiban aku sebagai ayahnya. Aku harapan kau jangan cemburu dengan kedatanganku nanti, karena aku datang bukan untuknya melainkan untuk Adam."


Abian hanya diam tanpa menjawab, apa dirinya menyukai Keyra? Ia masih belum tahu isi hatinya sendiri. Namun, rasa ingin menjaga dan melindungi begitu kuat, dan sudah sangat menyayangi Adam. Apa ini yang namanya cinta? Atau hanya sekedar rasa kasihan. Entahlah, Abian masih harus mencari tahu kepastian hatinya pada Keyra, wanita yang belum lama ia kenal.


Adam melihat jam melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 11 menjelang siang. Itu artinya sudah waktunya Keyra mengisi perutnya karena tak lama lagi Adam pasti meminta ASI. Ia tak ingin ibu, anak itu kelaparan.


"Tolong titip mereka, aku keluar sebentar memesan makanan untuk Keyra," pamit Abian. Leo mengangguk dan Abian keluar dari ruangan Keyra menuju kantin rumah sakit.


Leo kembali memainkan ponselnya duduk bersandar di shopa. Keyra membuka matanya perlahan. Sesuatu harus ia keluarkan dalam tubuhnya. Keyra menatap sekeliling ia mencari sosok Abian. Namun, yang ia dapatkan hanyalah Leo duduk seorang diri di sana. "Kemana, Mas Abian?"


Leo mendongak, ia menatap Keyra yang sudah bangun." Abian keluar sebentar, katanya nau memesan makanan untuk kamu?"


Keyra mendesah kecewa, karena ia ingin segera ke kamar mandi sekarang juga. Tapi pada siapa ia harus minta tolong, sementara suster dan Abian tidak ada, apa ia nekat berjalan sendiri ke kamar mandi? Karena sudah tak tahan lagi, Keyra pun nekat turun dari brankar, dengan rintihan kecil terdengar dari mulutnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Leo.


"A-aku ... aku mau ke kamar mandi," jawabnya canggung.


Leo bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah Keyra. Tanpa kata lagi Leo langsung menggendong Keyra.


"L-Leo, apa yang kamu lakukan?" pekik Keyra kaget sesaat tubuhnya sudah berada di dalam gendongan Leo.


Kedua mata mereka bertemu, Keyra yang gugup langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Aku akan membawa mu ke kamar mandi," ucap Leo terdengar datar. Dan Keyra tak ingin lagi mengeluarkan suara, ia hanya menunduk saat ini. Perasaannya campur aduk.


Sesaat Leo hendak melangkah, tiba-tiba pintu di buka.


"Kalian sedang apa?"

__ADS_1


__ADS_2