Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
EPISODE 124


__ADS_3

Bi Inem menarik napasnya sejenak sebelum berbicara, Leo dan Keyra menunggu dengan tak sabaran.


"Mbak Sera terpleset dari kamar mandi, jadi Mas Angga langsung membawanya ke rumah sakit dan langsung memberi tahu eyang, sebab itu eyang langsung ke rumah sakit setengah satu setengah jam yang lalu," jelas bi Inem membuat Leo dan Keyra terkejut.


"Ya Allah, Sera," ucap Keyra menutup mulutnya khawatir.


"Aku harus ke rumah sakit sekarang, kamu sama Adam istirahat ya," ucap Leo, dalam hatinya sangat cemas dengan keadaan Sera, ia yakin jika papahnya sekarang sangat sedih dan ia harus memberinya semangat.


"Aku ikut ya," pinta Keyra.


"Kalau kamu ikut, lalu Adam gimana?"


"Di ajak, aku gendong, Ikut ya."


Leo menghembuskan nafasnya, ia tidak bisa menolak permintaan Keyra, dan terpaksa mengajaknya ke rumah sakit bersama Adam di gendongannya.


"Baiklah, tapi kalau Adam rewel dan gak nyaman aku antar pulang ya, kali ini gak boleh menolak," tegas Leo, dan Keyra mengangguk.


Leo dan Keyra masuk ke mobil dengan Adam di gendong Keyra. Ia takut Sera kenapa -napa sebab itulah ia ingin melihatnya. Keyra begitu cemas bahkan dalam hatinya berdoa untuk keselamatan sahabatnya itu.


****


Di rumah sakit, Angga berkali-kali mengusap wajahnya kasar merutuki dirinya sendiri dengan apa yang terjadi dengan istrinya.


Flashback....


Sebelum tidur Sera masuk ke kamar mandi, sedangkan Angga duduk di shopa sambil melihat pekerjaannya yang ia bawa ke rumah dan membiarkan istrinya itu berjalan sendiri dengan perut besarnya ke kamar mandi untuk membuang air kecil. Sera menghidupkan air keran di samping yang ada selangnya mencuci tangan dan kaki sembari duduk di kloset. Setelah usai, Sera berdiri memakai kembali dalamnya dan hendak melangkah dengan kaki yang basah. Pada saat melangkah ternyata lantai licin karena kakinya Sera masih ada sisa-sisa sabun sehabis nyuci tadi yang belum terlalu bersih ia siram.


"Allahu akbar." Sera pun terhempas di lantai sehingga darah segar mengalir dari sela-sela kedua pahanya.


"Ya Allah, Mas. Ya Allah selamatkan anak-anak hamba." Kedua tangan Sera gemetar melihat bercak darahnya. Ia tak kuasa menahan rasa sakit, namun berusaha untuk kuat demi kedua anak-anaknya.


"Mas, tolong," teriak Sera pelan sembari meringis memenangi perutnya yang terasa sakit.


"Bertahanlah sayang, Mamah mohon ... Mas," teriak Sera sekuat tenaga.


Mendengar teriakan Angga spontan langsung berlari dengan jantung berkecamuk berharap bukan seperti yang ia pikirkan.


"Ya Allah, Allahu akbar. Sayang, bertahanlah Mas mohon." tubuh Angga gemetar lemas melihat istrinya tergeletak di lantai dengan darah mengalir banyak di kedua sela paha istrinya itu.


Tangan Angga menyentuh wajah Sera dengan derasnya air mata mengalir di wajahnya.


"Sayang, mas mohon bertahanlah. Jangan tinggalkan aku," ucap Angga menangis, hatinya benar-benar sakit bak di tusuk melihat keadaan istrinya.

__ADS_1


"M-Mas, tolong s-selamatkan an-anak-anak kita," pinta Sera lirih memohon.


"Bertahanlah sayang, kamu dan anak-anak kita pasti baik-baik aja." Angga menggendong tubuh Sera dan melangkah cepat keluar rumah.


Angga berteriak meminta tolong pada tetangganya agar mengantarkan dirinya ke rumah sakit. Ia tidak mungkin mengemudi sendiri sedangkan ia harus menyemangati istrinya yang sudah nyaris hilang ke sandaran.


"Pak Angga ada apa?" tanya pak Santo mendengar teriakan Angga meminta tolong.


"Pak, tolong ...."


"Astagfirullah, Ya Allah. Ayo Pak saya antar ke rumah sakit," panik pak Santo melihat Sera yang keadaannya sangat prihatin. Angga mengangguk lalu masuk ke mobil bagian belakang dan pak Santo mengemudi dengan kecepatan.


"Bu Sera kenapa Pak?" tanya pak Santo melihat dari kaca spion mobil. Ia dapat melihat Angga yang sedang menangis memeluk erat istrinya.


"Jatuh dari kamar mandi, Pak," jawab Angga dengan suara gemetar namun mata terus menatap istrinya.


"Sayang Mas mohon bertahanlah, demi anak-anak kita. Mas mohon berjuang sayang, Mas gak kuat melihat kamu seperti ini. Maafkan Mas yang tidak berguna karena sudah membiarkan kamu pergi ke kamar mandi seorang diri, maafkan aku." Angga lagi-lagi menangis, ia merasa bersalah karena menjadi seorang suami tak berguna. Andai ia menemani istrinya, mungkin sekarang mereka berada di kasur sembari berpelukan.


Pak Santo hanya menatapnya iba, ia juga sedih tak dapat membayangkan jika itu terjadi pada istrinya.


Setelah sampai di rumah sakit, Sera langsung di tangani oleh dokter lain. Angga hanya bisa berdiam diri menunggu di rumahmu tunggu tanpa melakukan apapun pada istrinya karena bukan bidangnya. Ia tak lupa memberi kabar pada eyang dan juga mertuanya.


Flashback of.


Sekarang sudah 2 jam Angga mondar -mandir di depan pintu ruangan operasi. Hatinya benar-benar tidak tenang sekarang. Tidak nyawa sedang berjuang dan dirinya tidak bisa melakukan apa-apa, benar-benar membuatnya prustasi.


"Sera ... Ya Allah Pah, Sera anak kita Pah." Dewi menangis di dalam pelukan Bobby. Lelaki yang biasanya cerewet itu kini hanya diam membisu dengan hati berkecamuk khawatir dengan anak dan kedua cucunya. Ia juga tak berhenti berdoa demi keselamatan mereka bertiga.


"Yang sabar ya Mah, kita berdoa semoga anak dan cucu-cucu kita di beri keselamatan." Bobby menenangkan istrinya agar tidak khawatir, walau dirinya sendiri sangat khawatir namun ia berusaha tegas agar bisa menenangkan istri yang terpukul.


"Papah." Leo dan Keyra datang tergesah-gesah bersama Keyra dan Adam di gendongan.


Angga hanya menoleh pada Leo dan melirik sekilas pada Keyra dan cucunya. Bukan tidak senang dengan kedatangan mereka, hanya saja hati dan pikirannya masih tertuju pada Sera yang belum ada kabar. Ia terduduk lemah di lantai dengan air mata terus berlinang.


"Papah." Leo berjongkok memeluk papahnya, mengusap punggungnya. Ia tahu jika papahnya yang terlihat kuat, cuek dingin, arogan. Namun sebenarnya sangat rapuh. Ia melihat Angga seperti ini saat mamah nya dulu di kabarkan kritis dan sekarang ia melihatnya lagi keterpurukan papahnya itu.


"Papah harus kuat, mamah dan adik-adik butuh papah," ucap Leo menyemangati Angga.


"Papah tidak kuat jika harus kehilangan mamah kamu untuk yang kedua kalinya, Leo. Papah tidak kuat." lirih Angga lemah tak berdaya, Leo menangis dengan keadaan papahnya yang kacau.


"Jika mamah kamu pergi meninggalkan Papah. Papah akan menyusulnya juga, Papah gak bisa hidup tanpa mamah kamu, Papah terlalu mencintainya," ucap Angga ngelintur.


Leo melepaskan pelukannya lalu menampar Angga cukup keras.

__ADS_1


"Sadarlah Pah, juka Papah kemah begini lalau siapa yang memberi kekuatan untuk mamah, untuk adik-adik. Jika Papah mau pergi, ya sana pergi, biar Leo yang akan menikah dengan Sera menggantikan Papah yang lemah," bentak Leo, ia hanya mengancam papahnya agar tidak rapuh, dan bangkit menjadi penyemangat ketiga nyawa yang sedang berjuang di dalam sana. Angga menganga menatap anaknya.


"Bangun, jika Papah lemah jangan salahkan Leo jika leo akan ...."


"Jangan coba -coba kamu merebut Sera dari tanganku," jawab Angga bangkit, ia tidak selemah tadi sekarang. Leo tersenyum melirik Keyra yang mengangguk pelan.


Beberapa saat kemudian, suara pintu terdengar yang hendak di buka. Dengan cepat Angga berlari mendorongnya hingga dokter yang mau keluar tadi melangkah mudur dengan kening yang kejedot pintu.


"Gimana keadaan istri dan kedua anak aku, Karin?" tanya Angga tak sabaran.


Karin menghela, ia sudah sangat hapal sikap tak sabaran sahabatnya itu. Dokter Karin mengangguk melirik suster yang membawa salah satu bayi mungil di tangannya yang masih menangis dengan mata terpejam.


"Selamat ya Dok, anak anda sudah lahir. Dia cantik sekali," ucap suster menyerahkan bayi mungil itu pada Angga.


"Anakku," ucap Angga menyambut pelan, ia menatap wajah anaknya yang memang benar sangat cantik rupanya. Angga meneteskan air mata bahagia memandanginya.


"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Angga menatap Karin.


"Sera masih belum sadarkan, namun ia baik-baik saja. Hanya saja ...."


Deg....


Jantung Angga kembali berdenyut sakit, ia menatap serius Karin yang kebingungan hendak mengatakannya.


"Katakan Karin, hanya apa?" tanya Angga tak sabaran.


Karin benar-benar tak sanggup untuk mengatakannya, tetapi ia harus mengatakannya.


"Putri kamu yang satunya lagi tidak selamat," ucapnya lemah dengan suara pelan namun masih dapat di dengar oleh Angga.


"Nggak mungkin, katakan jika itu bohong Karin! kamu pasti bercanda, iya kan? Anak aku yang pasti baik-baik aja, iya kan?" Angga tak percaya, ia menggeleng tidak percaya menatap Karin mencari kebohongan di sana.


Suster mengambil bayi mungil itu dari tangan Angga. Dan Angga langsung berlari menghampiri box bayi yang di dalamnya ada bayi mungil dengan mata terpejam dan wajah pucat. Dengan tangan gemetar Angga mengangkat nya.


"Tidak, sayang bangun sayang. Ini Papah Nak. Mamah pasti senang jika melihat kalian berdua bersama. Bangun sayang," ucap Angga mencium seluruh wajah anaknya tak sudah tak bernyawa.


Karin menangis melihat Angga, begitu juga dengan dokter yang lainnya dan suster di sana.


Bobby masuk ke dalam bersama Dewi, Leo dan eyang. Sedangkan Keyra tetep duduk di luar takut Adam terbangun karena mendengar suara tangisan dari dalam ruangan.


"Angga." Bobby menghampiri, ia menatap Angga yang memeluk erat bayi mungil itu dengan isak tangis.


"Bob, katakan padaku jika semuanya ini hanyalah mimpi. Katakan padaku jika ini tidaklah nyata, katakan Bob," ucap Angga pada Bobby syok melihat salah satu cucunya di tangan Angga yang wajah sudah pucat tak bergerak sama sekali.

__ADS_1


"Cucuku," ucapnya menangis. Dan Angga terduduk di lantai dengan anaknya masih di dalam gendongan tak percaya jika salah satu putrinya telah tiada.


"Tidak, ini tidak mungkin. Pasti semua mimpi. Ini tidak mungkin ...."


__ADS_2