
"Lily sayang, ayo bangun Nak? Sekarang udah siang loh," Sera membangunkan anaknya dengan kelembutan.
"Em, Mamah. Sekarang jama berapa sih? Kok bangunin LilY, biasanya kan gak pernah," ucap Lily dengan nada malas yang masih mengantuk sambil menguap lalu mengucek kedua matanya.
"Mulai dari sekarang Lily harus bangun pagi, kan hari ini mau ke sekolah. Lily lupa ya." Sera mengingatkan jika hari ini adalah hari pertama anaknya masuk ke sekolah.
"Hah, sekolah?" Spontan Lily membuka matanya lebar menatap Sera yang mengangguk sembari tersenyum.
"Em, Mamah ...." Lily memainkan kedua jari telunjuknya," boleh tidak kalau Lily tidak usah pergi ke sekolah?" tanyanya ragu.
Sera tersenyum lembut lalu mengusap kepala anaknya.
"Lily mau jadi anak pintar kan? Mau menjadi dokter seperti papah kan? Kalau Lily gak sekolah lalu gimana nantinya saat mau mengobati orang, kan Lily gak bisa membedakan mana obat demam, obat flu, batuk atau sakit perut, iya kan?"
Sesaat Lily berpikir, kemudian mengangguk.
"Sebab dari itu fungsinya sekolah, agar Lily bisa belajar dan menjadi anak yang pintar kemudian bisa mengejar cita-cita Lily setinggiiiii langit."
"Baiklah Mamah." Lily mengangguk pasrah.
"Anak pintar, ya udah sekarang mandi gih. Mamah siapin baju sekolah Lily, habis itu kita sarapan ya. Papah udah nungguin loh!" seru Sera membuat Lily mengangguk. Lalu mengayunkan langkah kaki nya dengan malas masuk ke kamar mandi.
Sera tersenyum lalu menyiapkan baju sekolah TK Lily, bayi kecil, mungil yang ia lahir kan dulu kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang imut berusia 5 tahun. Sudah 5 tahun tanpa terasa ia membesarkan dan merawat Lily bersama sang suami penuh cinta dan kasih sayang. Keduanya selalu mengajarkan hal-hal baik pada putri mereka agar kelak menjadi anak yang patut di banggakan. Sera meneteskan air matanya melihat seragam anaknya, tanpa terasa ia sudah membesarkan Lily hingga masuk ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan.
****
Sementara itu, Angga duduk di meja makan sambil menatap layar handphone nya. Ia menunggu kedatangan kedua wanita kesayangan nya agar dapat menikmati sarapan bersama seperti biasa mereka lakukan hari-harinya. Angga tersenyum sesaat bunyi langkah kaki menuruni anak tangga, ia menoleh lalu pandangan nya mengarah ke kedua wanita cantik yang sedang berjalan bergandengan tangan menuju arahnya. Senyum Angga tak pernah pudar.
"Selamat pagi Papah," sapa Sherly.
"Pagi sayang, duh anak Papah yang cantik, imut baik hati dan tidak sombong ini sekarang udah besar ya. Papah tidak sadar jika Lily kecil Papah akan segera pergi meninggalkan Papah, Papah jadi sedih deh."
Angga mewek membuat Lily yang duduk di atas pangkuannya pun memutar bola matanya malas.
"Papah lebay, Lily hanya pergi ke sekolah aja kan? Itu pun mau nangis," ejek Lily malas.
__ADS_1
"Dan satu lagi, jangan panggil Lily anak kecil. Lily sudah besar Papah," protes Sherly karena Angga selalu menganggap nya anak kecil berusia 1 tahun, ia pun mengerucutkan bibirnya sebel.
"Tapi bagi Papah, kamu tetep putri kecil Papah yang imut, manis dan cantik." Angga mencubit gemes hidung Sherly.
"Iiish, Papah nie. Sakit tauk!"
"Sudah-sudah, ayo kita sarapan. Nanti keburu telat loh," ujar Sera mengajak sarapan yang sudah siap.
"Baik, Mamah," jawab keduanya, Sherly lompat dari pangkuan Angga lalu duduk sendiri di kursinya.
"Oh iya ada yang lupa." Lily menepuk keningnya, lalu berlari menaiki anak tangga hendak kembali ke kamar nya.
" Eh, kamu mau kemana sayang?" tanya Sera membuat langkah Lily terhenti, ia menoleh.
"Mau ambil Lala Mah, lupa tadi," jawab Lily yang hendak kembali melangkah.
"Tapi Lala gak boleh ikut ke sekolah ya," ucap Sera membuat Lily mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Kan kalau Lily pergi kemana pun Lala mesti ikut. Jadi Lily ke sekolah, Lala harus ikut juga."
"Gak boleh sama ibu guru sayang, Lily di sekolah untuk belajar. Jadi Lala tinggal di rumah, kalau Lily bawa Lala ke sekolah lalu yang menemani Mamah di rumah siapa? Kasihan Mamah sendirian," timpal Angga menyahuti memasang wajah sedih seolah meyakinkan anaknya.
"Gimana, masih mau di ajak juga?" tanya Angga saat Lily sudah duduk kembali ke kursinya.
"Gak jadi deh, kasihan Mamah sendirian. Biar Lala aja yang menemani Mamah di rumah," jawab Lily sedih.
"Nah gitu dong, Lily kan anak baik. Ya udah kita makan yuk, biar langsung berangkat ke sekolah, di sana gak lama kok. Jam 10 sudah pulang," hibur Angga agar anaknya tidak bersedih lagi.
"Nanti Lala boleh antar Lily kok berangkat sekolah," sambung Angga.
"Beneran Pah?" wajah Lily langsung berbinar.
"Yups, asal Lily habis menghabiskan sarapannya, lepas itu minum susu."
"Siap bos!"
__ADS_1
Sera tersenyum, suaminya memang pandai membujuk anak. Keduanya memang sangat dekat, bahkan Sherly jauh lebih dekat dengan Angga di banding dengannya. Namun ia senang karena Angga tidak terlalu memanjakan anaknya, Angga selalu menjadi sosok ayah yang tegas walau dengan kelembutan.
Setelah sampai di sekolah, Lily bersembunyi di belakang kaki Sera saat seorang guru berjalan menghampiri.
"Mamah, Lily takut," ucap Lily pelan.
"Eh, kok anak Papah takut? Kan Lily anak pemberani kan?" sahut Angga berjongkok.
"Lily takut, Lily gak kenal mereka?" cicit Lily pelan.
"Hay, kamu Sherly Putri Anggara kan?" tanya salah satu seorang wanita sebagi guru tersebut yang berjongkok sambil tersenyum ramah.
"Eh, Bu guru tau nama Lily?" tanya Lily balik, ia tidak lagi bersembunyi di balik kaki Sera.
"Tentu saja, nama Lala pun Bu guru tau. Tadi pagi Lala ada telpon sama Bu guru, katanya Lily harus sekolah yang pintar, dan menjadi anak yang pemberani," ucap guru itu ramah membujuk.
"Benarkah?"
"Iya, benar," jawab guru," mau gabung sama kawan-kawan?"
"Mau, Lily mau." Lily pun ceria, dan ibu guru menggandeng tangan Lily.
"Keliatannya baik, pandai membujuk Lily," batin Sera kagum, menyekolahkan anaknya di TK harapan bangsa seperti nya tidak buruk. Sera tersenyum menatap kepergian Lily yang berjalan beriringan bersama bu guru.
"Huhuhu, Lily anakku ... sekarang pergi meninggalkan Papah?" teriak Angga mewek yang di tinggal Lily ke sekolah.
"Eh, kenapa Papah yang menangis?" tanya Sera heran.
"Anak kesayanganku, sekarang pergi meninggalkan Papah ... huaaaa." Angga menangis bombay layaknya anak kecil yang hendak minta permen.
"Kan ada Lala?" ucap Sera menunjukan Lala.
"Gak mau, maunya Lily ...."
"Ish Papah nie, dia pula sekarang yang menangis? Dasar bangkotan tua," celetuk Lily menepuk keningnya sambil geleng-geleng.
__ADS_1
*****
Hay semua 👋, terima kasih ya atas do'anya, semoga ada rezekinya agar bisa membeli hp gak usah baru gak apa, asal bisa buat up dan gak gantian lagi ðŸ¤. Untuk semuanya juga, semoga rezeki kita selalu di lancarkan dan selalu di beri kesehatan ... amin.