
"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Raja.
Raja menatap tajam ke arah saudara kembarnya, dia masih penasaran apa alasan saudara kembarnya itu menghajar dirinya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu?" ujar Raju.
Raja mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang saudara kembar.
"Please, Ju. kamu jangan berbelit-belit seperti ini, katakan apa yang ingin kamu katakan," ujar Raja.
"Aku tidak suka kamu panggil kata sayang pada Kania," ujar Raju mengungkapkan alasan dia memukul wajah saudara kembarnya.
"Jadi hanya karena aku memanggil istriku dengan sebutan sayang kamu memukulku?" tanya Raja meminta penjelasan dari saudara kembarnya.
Raja ingin memastikan hanya alasan itulah yang membuat adik kembarnya marah terhadap dirinya.
"Ya, kamu tahu bahwa wanita yang kini menjadi istrimu adalah wanita yang selama ini aku cintai." Raju tidak suka Raja dekat dengan wanita yang dicintainya meskipun Kania adalah istri dari sang saudara kembar.
"Asal kamu tahu aku tidak pernah menyentuh Kanaya, hingga saat ini aku masih bersikap dingin dengan istriku hanya karena mengingat bahwa Kanaya merupakan wanita yang kamu cintai," ujar Raju.
Raju mengungkapkan kekesalannya kepada sang saudara kembar.
"Ju, sekarang aku tahu alasan kamu marah sama aku. Tapi, setidaknya kamu dengarkan dulu penjelasan dariku," ujar Raja pada adik kembarnya.
"Apa?" tanya Raju penasaran.
Akhirnya Raja pun menceritakan perjanjian nikah yang sudah disepakatinya dengan Kania, Raja dan Kania sepakat akan menjalani pernikahan ini selama 1 tahun dengan sewajarnya.
jika selama 1 tahun ini mereka tidak bisa hidup saling mencintai maka karya sendiri yang akan meminta perpisahan di antara mereka kepada kedua orang tuanya.
Raja setuju dengan kesepakatan tersebut karena dia tidak ingin dia yang menyebabkan perpisahan di antara mereka. Raja tidak sanggup menyakiti hati Mama dan papanya.
"Jadi, saat ini kamu menjadikan kami sebagai tumbal untuk kebahagiaan kita?" ujar Raju.
Raju tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh kakak kembarnya. dia merasa hal ini merugikan wanita yang dicintainya, Raju tidak ingin melihat Kania terluka maupun tersakiti oleh saudara kembarnya sendiri.
"Ya, begitulah," ujar Raja santai.
"Kamu memang kejam, Ja." Raju keluar dari kamar Raja.
Dia kesal dengan apa yang dilakukan oleh saudara kembarnya.
Raju pun melangkah menuju kamarnya, dia mulai berpikir apa yang harus dilakukannya.
Saat masuk ke dalam kamar, Raju langsung memberikan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dia kini menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya tertuju padamu wanita yang kini sudah sangat menjadi istri Kakak kembarnya.
__ADS_1
Semua rombongan Kayla pun keluar dari salon setelah memanjakan diri di salon.
Saat mereka berada di depan salon, 2 buah mobil milik keluarga Raffa sudah parkir menunggu mereka yang baru saja bersenang-senang.
Mereka semua masuk ke dalam mobil, Setelah itu mereka pun langsung menuju butik bunda Hurry untuk fitting gaun yang akan mereka kenakan esok hari saat acara resepsi pernikahan Raja dan Raju.
Setelah mereka selesai fitting gaun, mereka pun langsung pulang ke rumah kediaman Raffa.
Mereka akan berkumpul di sana, agar esok hari mereka bisa berangkat secara bersama-sama ke gedung tempat acara yang akan digunakan untuk resepsi.
Kania dan Kanaya tak banyak bicara, Kania merasa kesal terhadap sahabatnya itu.
Kania tidak suka dengan sikap Kanaya yang terlihat cuek saat Kania ingin mengajak Kanaya memikirkan cara agar pernikahan ini bisa dibatalkan sebelum acara resepsi dilaksanakan.
"Assalamu'alaikum," ucap Kayla saat dia masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikummussalam," jawab Raffa dan yang lainnya.
Mereka pun langsung melangkah menuju ruang keluarga, yang mana semua orang berkumpul.
"Nay, tolong kamu antarkan Nia ke kamar Raja, ya." Kayla menyuruh Kanaya mengantarkan sahabatnya ke kamar Raja yang ada di seberang kamar Raju.
Kanaya menoleh ke arah Kania.
"Ayo, Nia. Aku antarkan kamu ke kamar Raja," ajak Kanaya.
Semua wanita kini memilih duduk di samping pasangan masing-masing, seperti biasa mereka pun mulai mengobrol.
Di saat mereka semua berkumpul, mereka selalu mengobrol berbagai hal, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang besar.
Apalagi besok mereka akan mengadakan acara resepsi pernikahan putra-putri mereka.
Kanaya dan Kania melangkah menaiki anak tangga menuju lantai 2.
"Bagaimana pernikahanmu, Nia?" tanya Kanaya pada Kania.
Kanaya ingin tahu bagaimana perlakuan Raja pada istrinya, karena Kanaya yakin bahwa Raja akan mengabaikan Kania seperti yang dibayangkannya.
Kanaya yakin hubungan Kania tidak berjalan lancar dengan sang suami, karena Kanaya sudah percaya diri bahwa Raja akan memperjuangkan cintanya.
"Mhm," gumam Kania.
Kania enggan untuk menyampaikan bagaimana hubungannya dengan sang suami.
Apalagi saat ini Kania masih malas untuk berbicara dengan sahabatnya itu.
Sehingga mereka pun melangkah menuju lantai 2 dengan diam tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
__ADS_1
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Di mana kamar Raja?" tanya Kania saat mereka telah berada di lantai 2.
Kania tidak ingin banyak basa-basi dengan Kanaya, masih ada rasa kesal yang terpendam di hatinya.
Dia takut jika nanti dia banyak bicara akan menyakiti hati sahabatnya.
"Di sana," lirih Kanaya sambil menunjuk ke arah kamar milik Raja.
Kamar Raja dan Raju saling berhadapan, di antaranya terdapat sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk bersantai di lantai 2.
Kania pun melangkah menuju kamar milik suaminya.
Tok tok tok.
Kania mengetuk pintu sebelum dia masuk ke dalam kamar milik sang suami.
Raja menoleh ke arah pintu, dia masih termangu di atas sofa tempat dia dan Raju tadi berdebat.
Dia penasaran siapa yang datang mengetuk pintu kamarnya.
Raja berdiri dan melangkah menuju pintu kamar, dia membuka pintu kamar.
"Assalamu'alaikum," lirih Kania.
Kania pun meraih tangan suaminya, dia menyalami sang suami dan tak lupa mencium punggung tangan suaminya.
Raja terdiam melihat sang istri yang kini berada di ambang pintu kamarnya.
Aroma terapy menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
Raja merasa hatinya terasa tenang melihat wajah teduh sang istri, dia kini terpaku menatap wajah anggun dan cantik sang istri.
Seketika ingatannya akan tubuh indah dan seksi milik istrinya terngiang di benaknya.
"Sayang," lirih Kania menyadarkan Raja dari lamunannya.
"Eh, iya. Ada apa?" tanya Raja bingung.
"Kamu yang kenapa? Kenapa bengong seperti orang kesurupan aja," ujar Kania.
"Enggak apa-apa, aku cu-cuma mikirin,--" Raja menutup mulutnya saat sadar dia akan mengungkapkan aibnya yang mana bayangan Kania dengan minim bisa melekat di dalam pikirannya.
"Mikirin apa?" tanya Kania sambil menautkan kedua alisnya.
Bersambung...
__ADS_1