Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, datang ke kantor


__ADS_3

Sementara itu, Sherly sudah berada di kampus. Akan tetapi dosen nya ternyata tidak datang hari sehingga Sherly memutuskan untuk kembali pulang. Tadinya kedua sahabatnya itu kepengen mengajaknya jalan-jalan ke mall. Namun Sherly menolaknya dengan alasan belum izin dengan suami.


Sontak saja membuat Dara dan Yuna sedikit kecewa, karena semenjak Sherly menikah mereka jadi jarang berkumpul. Akan tetapi keduanya tidak marah karena mengerti dengan keadaan Sherly yang bukan lagi seorang gadis, melainkan wanita yang sudah bersuami.


Sekarang ini Sherly sedang menunggu taksi online di depan gerbang kampus. Tiba-tiba pengendara motor berhenti tepat di hadapannya. Sherly acuh melihat si pengendara itu melepaskan helm nya, apa lagi berjalan mendekat ke arahnya membuat Sherly membuang muka jauh-jauh agar tak melihat arah si pengendara itu.


"Kamu mau pulang?" tanyanya.


"Hem," jawab Sherly singkat tanpa menoleh. Si pengendara menghela nafasnya.


"Aku antar pulang ya," tawarnya.


Sherly membuang nafasnya kasar. Ia menoleh pada akhirnya ke si pengendara itu.


"Terima kasih, tapi aku udah memesan taksi online," ucap Sherly tegas.


"Sherly, aku tau kamu pasti marah banget sama aku. Aku tau kamu pasti benci dan jijik banget sama aku. Aku minta maaf, mungkin kita memang tidak bisa lagi untuk kembali bersama. Apa boleh kita berteman saja? Aku akan menjaga dan melindungi kamu selagi om Alex gak bersama kamu," pintanya memohon.


Sherly terdiam. Berteman memang lebih baik dari pada bermusuhan. Tetapi ia sudah bersuami, ia juga harus menjaga perasaan suaminya. Mungkin memang tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, namun ia sudah tidak bebas untuk berteman dengan laki-laki lain, apa lagi dengan mantan pacar sendiri.


Sherly menggeleng pelan.


"Maaf Devan. Aku adalah seorang istri. Aku juga sudah tidak bebas lagi seperti dulu yang bisa berteman dengan lelaki mana saja, walau kamu adalah keponakan dari suami aku, tetep saja tidak bisa. Semua sudah berubah Van, aku bukan seorang gadis lagi," ujar Sherly menolak.


"Kita hanya berteman aja kok, gak lebih. Apa salahnya? Aku yakin om Alex juga bakalan mengerti," kata Devan.


"Aku mengerti, dan memang gak ada salahnya. Hanya saja sudah berbeda! Aku sudah menganggap kamu sebagai keponakan aku, sekaligus teman. Tapi gak bisa akrab apa lagi dekat, boleh mengobrol asal ada suami ku di samping ku. Selebih itu kita jaga jarak, tolong mengertilah. Aku gak ingin ada fitnah yang tidak-tidak, aku juga tidak mau pandangan orang-orang jelek tentangku."


Devan terdiam, ia tak mampu lagi mengucapkan kata. Sherly tak mau lagi berteman dengannya, dadanya terasa sesak. Sesakit itukah ia menyakiti wanita di hadapannya ini hingga, hanya sekedar berteman saja tidak bisa, bahkan meminta untuk berjaga jarak.


"Taksi online sudah datang, permisi." Sherly berlalu masuk ke mobil taksi online. Ia menutup pintu tanpa menoleh sama sekali pada Devan.


"Ini yang terbaik, Van. Akunsudah memutuskan untuk menikah dan menerima Mas Alex dalam hidupku. Dia adalah lelaki baik dan lembut, aku tidak mungkin menyakiti perasaannya. Dia adalah lelaki polos namun nampaknya posesif, aku yakin dia juga pencemburu orang nya. Sebab dari itu aku tidak bisa menerima kamu walau hanya sekedar berteman saja."


Dalam perjalanan Sherly hanya duduk melamun sambil menatap luar jendela. Handphone berdering menyadarkan lamunannya.


"Mas Alex," ucapnya sesaat melihat nama tertera di layar handphonenya." Halo Mas."


"Huuuuuuuaaaaa, sayang." Alex mewek menelpon istrinya.


"Eh, kenapa Mas?" tanya Sherly.


"Aku di bully sama abang Leo," adu nya yang masih mewek lebay.


"Kenapa rupanya abang Leo, memangnya apa yang sudah kamu lakukan sama dia?" tanya Sherly lagi.


"Kok aku sih? Bukan aku lah, tapi dia," bantah Alex.


"Iya, kenapa memangnya. Coba kamu diem dulu, cerita yang benar biar aku paham."


"Gak bisa," jawab Alex sambil mengelap ingusnya di baju bahkan bunyinya sampai terdengar oleh Sherly.


"Kamu ngapain sih Mas, kok kedengaran nya jorok kali loh."


"Buang ingus, mana ada jorok. Jorok itu kalau di simpan dalam kulkas," ucapnya membuat Sherly ingin muntah.


"Dah lah Mas, jorok kali pun kamu ini. Emangnya abang Leo ngapain kamu?"


"Nanti lah aku cerita, sekarang aku mau dengar suara kamu aja. Kangen tauk," ucap Alex mengganti topik, malas membicarakan hal lain.


"Kamu ini, ada-ada saja." Leo pun terkekeh.


"Kamu lagi apa? Kok ada suara musik?" tanya Alex, di dalam mobil taksi online itu, si supir menyalakan music agar tidak terlalu boring.

__ADS_1


"Oh, ini music dalam mobil," jawab Sherly.


"Memangnya kamu dari mana, mau ke mana?" tanya Alex lagi sambil menatap jam tangannya." Emangnya gak kuliah?".


"Ini justru habis dari kampus, karena dosen gak masuk hari ini. Jadi aku pulang aja," jelas Sherly, Alex pun manggut-manggut.


"Kalau gitu kamu datang ke kantor aku aja ya! Sekalian kita makan siang bareng," ajak Alex dengan wajah berseri.


" Oke, kirim alamat kantor nya."


Tanpa pikir panjang, Sherly langsung mengiyakan ajakan suaminya untuk datang ke kantor. Lagi pula ia belum tau di mana kantor Alex dan seperti apa suasananya di sana. Kebetulan juga ia memang ingin kerja sebagai karyawan kantor, bahkan jurus kuliah yang ia ambil Progam Studi Manajemen.


Alex langsung saja mengirim alamat kantor lengkapnya melalui pesan singkat. Ia tak sabar menanti kedatangan wanita pujaan hatinya itu. Rasa rindu sangat menggebu dirinya, rasanya tak ingin berpisah walau hanya jarak dekat saja.


Di dalam perjalanan tidaklah selancar bak air terjun. Apalagi ini adalah ibu kota yang sangat terkenal dengan kemacetan. Hingga perjalannya menuju kantor Alex sedikit terhambat.


Alex yang sudah tak sabaran, 8a langsung turun dan menunggu istrinya di depan pintu utama kantornya. Supaya saat istrinya itu datang, langsung mendapati dirinya di sana.


"Loh, Pak Alex sedang apa? Lagi nungguin supir?" tanya satpam yang bernama Agus itu saat melihat bos besarnya sedang berdiri di depan pintu utama kantor tersebut.


"Lagi nungguin istrinya saya Pak," jawab Alex dengan wajah senang.


"Wah, memang suami idaman banget ya Pak Alex ini. Sudah ganteng, kayak baik, perhatian. Sayang lagi sama istrinya, pasti istrinya Pak Alex bangga buanget ya sama Pak Alex," puji pak Agus sambil mengacungkan kedua jempol nya.


"Hahahaha, Pak Agus bisa saja, saya tidak sebaik itu. Tapi karena Pak Agus ingin sekali memuji, ya saya gak maksa loh ya." Alex jadi malu, ia pun mengeluarkan dompet dari kantong celananya.


"Eh, gak usah repot-repot Pak. Saya tidak memuji, tapi ini kenyataannya saja kok," ucap Pak Agus cepat saat Alex handak membuka dompetnya. Ia langsung menolak secara halus, padahal dalam hatinya sangat bersorak gembira.


"Emang saya mau ngapain, saya cuma mau kasih liat foto istri saya saja sama kamu. Mau pamer kalau istri saya itu cantik," ucap Alex mengeluarkan foto dari dompetnya lalu menunjukkan pada pak Agus.


"Oalah, tak kirain mau kasih duit," gumam pak Agus malu, ternyata Alex dapat mendengar nya.


"Kan setiap bulan saya sudah kasih, masa di mau di kasih lagi," ujar Alex.


"Emangnya kamu gajian dari siapa?" tanya Alex.


"Dari Pak Alex," jawab pak Agus.


"Nah, tuh pintar. Intinya kan dari saya," kata Alex enteng.


"Suka-suka mu lah Pak, kau yang berkuasa di sini. Aku mah apa atuh, cuma rempeyek, gilingan yang dari rakyat jelatah," batinya malas. Pak Agus hendak kembali ke tempat asalnya.


"Kamu gak mau lihat foto istri saya?" tanya Alex, namun dengan nada seperti mengancam gitu.


"Hohoho, ya jelas mau lah Pak. Siapa tahu di jalan kita bertemu, kan saya bisa langsung menyapanya," jawab cepat Pak Agus, mana berani ia menolak. Ia pun langsung melihat foto Sherly sekilas.


"Udah gitu doang?" tanya Alex melihat reaksi pak Agus biasa saja." Gak ada pujian atas kecantikan istrinya saya gitu?"


"Cil oleh nie bos, jadi ketagihan bangat minta di puji. Kasih duit woy, baru mau gue." Sayangnya hanya di dalam hati saja.


"Hehehe, ia cantik banget. Sangat cocok sama Pak Alex," ucapnya terpaksa, bos nya saja pelit. Ia pun juga harus pelit pujian dong. Coba kalau langsung di kasih duit, pujian jelek pun di katain cantik. Orang item pun bisa di katain putih bersih berseri-seri. Yang penting duit sekarang mah.


"Iya dong, saya gitu loh." Alex kembali memasukkan foto istri ke dalam dompet.


"Ini buat Pak Agus, buat beli es teh," sambung Alex memberikan duit pada tangan pak Agus tanpa di buka.


Pak Agus pun langsung memasukkan nya ke saku bajunya.


"Hehehe, gak perlu sungkan-sungkan loh Pak Alex, saya jadi gak enak," kata Pak Agus langsung berubah mood nya.


"Gak apa-apa, sekali-kali. Sana, Pak Agus lanjutkan saja kerjanya, biar saya sendiri menunggu istri saya di sini," perintah Alex. Pak Agus pun mengangguk, ia pamit undur diri.


Pada saat sudah berdiri tegak di samping pintu, pak Agus diam- diam merogoh sakunya, penasaran berapa besar pemberian bosnya itu.

__ADS_1


"Ya elah, kirain lembaran merah atau biru. Ini mah mana cukup buat beli es teh. Di kasihnya 2 rb begini. Dasar bos pelit, sungguh terlena." Pak Agus menempelkan duit berwarna abu-abu itu pada keningnya.


Mobil silver berhenti tak jauh dari hadapan. Alex yakin jika itu adalah istrinya. Ia pun tersenyum lebar menyambut kedatangan istrinya itu.


"Selamat datang sayang." Tanpa malu, Alex memeluk erat istri. Padahal di sana ada supir taksi online yang belum masuk ke mobil.


"Tolong lah, hargai kami yang jomblo ini," batinnya sambil gigit jari.


Alex mengandeng tangan Sherly, kedua berjalan beringin. Pak Agus membukakan pintu dengan bibir tersenyum ramah.


"Selamat datang Bu, wah ternyata istrinya Pak Alex cantik sekali. Bidadari kalah ini mah," puji pak Agus pada Sherly.


"Terima kasih Pak."


Alex langsung menarik istrinya ke belakang tubuhnya.


"Kondisikan mata kamu, gak boleh liat-liat istri saya lebih dari 1 detik. Tutup mata atau tundukan kepala kamu saat istri saya datang. Mengerti," ucap Alex tegas.


"Eh, lain di mulut lain di hati. Tadi saja maksa liat foto istrinya, sekarang malah suruh tutup mata. Dasar plin-plan," ucap pak Agus dalam hatinya.


"Ayo sayang." Alex mengajak Sherly masuk, ia tak tau apa-apa, saat berjalan pun ia masih melihat arah pak Agus.


"Jangan di liat, cukup aku saja yang boleh kamu liat. Aku cembokur loh," ujar Alex menutup mata istrinya dengan tangannya.


"Kamu ini Mas, kan aku hanya melihat pak satpam itu aja. Wajah kasihan gitu, kamu gak apa-apain dia kan?"


"Dari orok wajahnya memang begitu, gak senang gak sedih. Tetep aja wajahnya melas," ketus Alex menjawab.


Saat Alex menggandeng tangan istrinya. Para karyawan berbisik-bisik.


"Siapa wanita itu?"


"Pak Alex menggandeng nya mesrah bingit."


"Apa jangan-jangan itu istrinya?"


Banyak tanda tanya dari para karyawan melihat bos mereka masuk-masuk langsung menggandeng seorang wanita muda, dan cantik. Tidak ada yang tau siapa wanita itu. Banyak yang berpikir jika yang di gandeng itu adalah istri dari bos mereka. Pujian pun mereka lontarkan melihat betapa cantiknya Sherly.


"Pak Alex menikah sama yang masih muda. Kayaknya masih anak kuliahan gitu ya?"


"Tapi Pak Alex ganteng gitu, siapa yang gak mau. Tua, muda kalau suaminya seperti pak Alex mah, aku juga mau."


Sherly hanya tertunduk malu, ucapan dari para karyawan itu terdengar dari telinganya.


"Kamu memang cantik, gak salah mereka berkomentar seperti itu. Dan aku pun ganteng, cocok lah untuk menjadi pasangan hidup kamu," ucap Alex saat keduanya berada di dalam lift.


Alex menyandarkan Sherly ke dingin, ia memepetkan tubuhnya ke tubuh istrinya.


"Sayang, aku kangen banget." Alex berkata manja, ibu jarinya mengusap bibir Sherly lembut lalu mengecup nya.


"Mas, ini di dalam lift."


"Memangnya kenapa, toh gak ada yang melihat ini," jawab Alex santai. Padahal ia tak tau jika para pengawas cctv semuanya sudah pada mimisan melihat tonton secara live itu dari layar komputer. Alex terus menciumi bibir istrinya bahkan sampai turun ke leher dengan tangan yang sudah masuk ke dalam baju yang di kenakan istrinya itu.


Ting ... pintu lift terbuka, namun Alex masih belum menghentikan aksinya.


"Astagfirullah ...." Mendengar suara ramai, Sherly langsung mendorong tubuh Alex. Betapa malunya dirinya saat di depan pintu lift banyak para karyawan hendak turun soalnya sekarang ini jam istirahat.


Alex langsung melotot horor pada semua karyawannya.


"Ah, lift nya rusak. Kita turun lewat tangga darurat saja yuk. Aku gak liat apa-apa loh," ucap salah satu karyawan itu seolah tak melihat apa-apa.


"Emangnya kamu liat apa? Kalau aku gak liat apa-apa. Yuk ah kita turun lewat tangga saja, lift nya sedang rusak."

__ADS_1


Sherly memukul lengan suaminya malu setelah seluruh karyawan itu pergi dari pintu lift. Alex hanya tersenyum saja membalasnya.


__ADS_2